
Kay dan Vito terkejut sekaligus sangat senang saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Delia.
“Mommy nggak bohong kan?” Tanya Vito dan Delia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Seketika Vito memeluk lagi tubuh mommynya dengan erat. Kemudian melepaskannya. Kini Vito beralih menatap Kay sambil tersenyum manis. Vito menghampri Kay dan segera memeluknya.
“tunggu!!” cegah Radit dengan cepat.
“tidak ada adegan peluk-pelukan. Status kalian saat ini sudah berubah. Bukan lagi kakak adik.” Ucap Radit pada Vito dan Kay.
Vito perlahan menurunkan tangannya yang sudah siap memeluk Kay dengan wajah masam. Namun Kay justru tertawa geli melihat ekspresi Vito seperti itu.
“Ya sudah, kami semua akan antar kamu ke bandara. Dan datanglah kesini lagi dengan Papa kamu.” Ucap Radit.
Vito tidak percaya dengan ucapan daddynya. Padahal niat Vito tadi ingin pulang lebih cepat karena merasa tidak nyaman dengan sikap mommynya. Dan sekarang mommynya sudah memberi restu tapi malah dirinya diusir dan disuruh pulang. Dan apa tadi, mommy dan daddynya akan ikut mengantar ke bandara. Bukankah biasanya dia pergi sendiri atau kadang berdua dengan Kay saja.
“Kenapa kamu diam?” Tanya Radit.
“Nggak ko’ Dad. Biasanya Vito ke bandara cukup dengan Kay saja nggak apa-apa. Mommy dan Daddy tidak perlu ikut mengantar.” Ucap Vito.
“karena daddy sangat tahu apa yang akan kalian lakukan jika berdua. Mau ke bandara sendiri atau kita antar?” ancam Radit.
Akhirnya Vito hanya mengangguk pasrah. Meskipun begitu, Vito sangat senang sekali akhirnya hubungannya dengan Kay sudah mendapat restu. Setelah ini dia akan menghubungi papanya untuk pulang ke Indonesia dan melamarkan Kay untuk dirinya.
Sedangkan Nathan hanya terbengong tidak percaya dengan situasi yang saat ini sedang terjadi. Nathaan tidak menyangka kalau Vito mencintai kakaknya, bahkan akan melamar kakaknya. Lalu selama ini hubungan kakak adik yang terjalin antara vito dan kakaknya apakah hanya modus belaka? Nathan tidak terlalu memikirkannya. Yang terpenting saat ini kakaknya bahagia.
Setelah itu semuanya sudah bersiap untuk pergi ke bandara mengantar Vito. Nathan memutuskan tidak ikut karena dia ada jam kulaih pagi. Kini di dalam mobil ada Radit yang duduk di kursi depan di samping Vito yang menyetir mobilnya.
Sementara itu Kay duduk di kursi belakang bersama Delia. Vito hanya hanya mampu menghela nafas panjang karena tidak bisa dekat dengan Kay walaupun hanya ingin berpegangan tangan saja dia tidak bisa.
Beberapa hari kemudian Kay sudah kembali sehat. Dia sudah kembali lagi ke butik untuk mendesign baju-baju yang sudah dipesan beberapa pelanggannya. Dan hari ini juga Kay sudah berjanji akan bertemu dengan Rey,
__ADS_1
Di salah satu café yang yang cukup terkenal di kota B, Kay sedang menunggu Rey sambil meminum jus alpukat yang sudah dia pesan.
“Sudah lama Kay nunggunya? Maaf aku telat.” Ucap Rey yang baru saja datang.
“Eh nggak ko’, aku juga baru sampai.” Ucap Kay gugup.
Setelah memesan minuman untuk Rey, kini mereka berdua terdiam. Kay bingung bagaiman cara mengatakan pada Rey tanpa melukai perasaan Rey. Sedangkan Rey sepertinya sudah bisa membaca keadaan. Dia tahu apa yang akan dikatakan oleh Kay saat ini.
“Ehm, Rey sebelumnya aku minta maaf. Aku-“ ucap Kay dan dengan cepat dipotong oleh Rey.
“Aku tahu Kay kalau selama ini kamu tidak pernah mencintaiku. Aku tahu siapa orang yang sejak dulu ada di hati kamu. Aku nggak mau egois. Meskipun aku sangat mencintimu tapi kalau kamu tidak mencintaiku, rasanya sangat percuma jika hubungan ini terus dilanjutkan.” Ucap Rey.
“Maafkan aku Rey!” ucap Kay.
Rey menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Dia harus menguatkan hatinya, terlebih lagi dia harus ikhlas melepaskan Kay.
“Nggak apa-apa Kay. Tapi aku mohon setelah ini jadikan aku sebagai temanmu jangan pernah mencoba untuk membenci atau menjauhiku!” pinta Rey dan Kay hanya mengangguk.
Kay terdiam dengan permintaaan Rey. Dia melirik ponselnya yang saat ini ada di dalam tas yang sedikit terbuka. Kay tahu kalau saat ini Vito mendengarkan semua pembicaraannya dengan Rey. Karena Vito tadi sudah memintanya untuk menyambungkan teleponnya jika berbicara dengan Rey.
Kemudian Kay mengangguk samar menuruti permintaan Rey. Lagian ini yang terakhir kalinya dan setelah itu sudah tidaak ada lagi hubungan diantara mereka berdua. Anggap saja ini salam perpisahan.
Setelah Rey memeluk tubuh Kay, Rey memutuskan untuk pergi dulu. Pergi dengan membawa luka yang saat ini sedang bersarang di hatinya. Rey kembali menekan kuat dadanya yang terasa sesak. Lebih baik sakit di awal daripada dipertahankan dan akan semakin membuatnya terluka.
Rey memutuskan untuk pulang ke kota J. ke rumah oraang tuanya. Rey memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Karena memang hanya itulah satu-satunya pilihan dia saat ini. Rey yang belum pernah melihat siapa wanita yang telah dijodohkan dengannya sekan tidak peduli. Apakah dia nanti akan cinta dengan wanita itu apa tidak, baginya menerima perjodohan itu adalah cara yang tepat untuk menyembuhkan luka di hatinya sekaligus cara melupakan Kay.
Selepas kepergian Rey, Kay mengambil ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan dari Vito. Kay ragu ingin mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Dia takut Vito akan memarahinya. Tapi dia harus bisa menerima konsekuensi yang telah ia ambil tadi.
“Kak?” paanggil Kay saat ponselnya sudah menempel di telinganya.
Hening
__ADS_1
“Kak Vito masih disitu kan?” panggil Kay lagi.
Terdengar hembusan nafas kasar dari Vito. Itu tandanya Vito sejak tadi mendengarkannya.
“Sudah puas kamu setelah berpelukan dengan pria lain?” Tanya Vito dingin.
“Maafin Kay Kak. Kay tidak punya pilihan lain. Itu pertama dan terakhir kalinya Kay lakukan untuk Rey. Sebelumnya Kay tidak pernah-“
“Banyak alasan!”
Tut tut tuttt….
Vito segera menutup panggilan teleponnya. Dia sangat kesal sekaligus cemburu. Bagaimana tidak cemburu, sejak hubungannya diketahui oleh mommy dan daddynya, Vito sudah tidak pernah lagi mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Kay. Bahkan berpegangan tangan saja sangat susah apalagi berpelukan. Dan apa tadi, Kay justru berpelukan dengan pria lain saat dirinya sedang jauh.
Brak
Vito memukul meja dengan keras. Kepalanya seakan mau pecah. Vito ingin segera memiliki Kay seutuhnya. Namun dia harus bersabar lagi menunggu kepulangan papanya ke Indonesia minggu depan.
Ceklek
Pintu ruangannya terbuka. Vito tahu siapa orang yang selalu membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu. Yaitu Arsa. Arsa melihat muka Vito yang tidak baik justru malah tersenyum geli. Arsa tahu apa yang sedang dirasakan oleh Vito saat ini.
“Lagi kangen Kay boss?? Samperin dong!” goda Arsa dan mendapat pelototan mata dari Vito.
.
.
.
*TBC
__ADS_1