Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 159


__ADS_3

Bukannya bertanya pada Kay, bagaimana bisa tahu tentang Nadia. Vito justru keluar dari dengan langkah sedikit berlari. Dia mencari tempat di pinggir jalan kemudian segera memuntahkan semua isi dalam perutnya. Entah kenapa gangguan emosi yang Vito rasakan saat ini tiba-tiba saja membuatnya kembali merasa mual. Seperti yang ia alami setiap pagi, hari ini Vito kembali merasakan badannya lemas, pusing, dan mual. Padahal kemarin dia bersyukur kalau morning sicknessnya sudah sembuh. Tapi kenapa hari ini datang lagi. Apakah karena sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya.


Kay segera menyusul suaminya keluar mobil. Dia memijit tengkuk suaminya yang masih terus memuntahkan isi perutnya. Kemudian Kay mengambil air mineral di dalam mobil untuk diberikan pada Vito.


“Ini Mas minum dulu!” ucap Kay.


Vito hanya diam, tapi tangannya terulur merai botol air mineral pemberian istrinya. Kemudian dia meminumnya. Setelah itu Kay mengajak suaminya kembali masuk ke mobil. Tapi Kay meminta Vito untuk duduk di kursi penumpang, karena Kay lah yang akan menyetir.


“Kita pulang saja!” ucap Kay saat sudah duduk di bangku kemudi.


“Jangan, katanya kamu mau belanja, nanti aku tunggu di dalam mobil saja.” Ucap Vito dengan suara lemah.


Akhirnya Kay menuruti perkataan suaminya. Lagipula dia memang harus belanja karena stok bahan makanan di rumah sudah habis. Dalam perjalanan ke supermarket, mereka berdua tampak diam. Vito memilih memejamkan matanya meskipun tidak mengantuk. Dia hanya ingin menghindari pertanyaan dari istrinya yang tadi belum sempat ia jawab. Vito memilih waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada sang istri karena kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk diajak berdebat.


Akhirnya setelah beberapa menit, mobil yang Kay kendarai tiba juga di supermarket. Kay segera memarkirkan mobilnya. Dia melihat suaminya memejamkan matanya, jadi Kay memilih segera keluar mobil tanpa mengucapkan satu patah kata.


Kini Kay sedang mendorong troli belanjaan. Dia memilih beberapa sayuran segar, daging, dan bahan makanan lainnya. Saat Kay sedang memilih daging segar, tiba-tiba saja ada seseorang dari belakang memegang pundaknya, dan membuat Kay sangat terkejut.


“Hai Nona cantik! Kita bertemu lagi.” Sapa Evan.


“Ehm, iya.” Jawab Kay gugup.


Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Evan kemarin malam, Kay merasa sangat tidak nyaman. Apalagi tatapan mata Evan yang seperti tatapan mata liar dan penuh *****.


“Sendirian saja Nona?” Tanya Evan lagi.


“Ah, tidak aku bersama Mas Vito.” jawab Kay berusaha rileks.


Tampak Evan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Vito tapi nihil. Tidak ada Vito disini. Apalagi menemani istrinya berbelanja. Apa mungkin Kay sedang membohonginya agar dirinya tidak bisa mendekati Kay.


“Mas Vito menunggu di mobil.” Ucap Kay kemudian.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu aku akan menemanimu berbelanja.” Ucap Evan.


Kay semakin bingung. Kenapa perlakuan Evan seperti ini. Kay benar-benar sangat tidak nyaman. Mau menolak pun tidak berani, mengingat Evan adalah rekan bisnis suaminya. Tapi tetap saja, perbuatan Evan sudah diluar batas.


“Nggak perlu repot-repot, saya bisa sendiri.” Tolak Kay secara halus.


Kemudian Kay mengacuhkan Evan, dia melanjutkan mendorong trolinya. Kay mengambil susu ibu hamil dan memasukkannya ke dalam troli.


“Kamu sedang hamil Nona?” Tanya Evan.


Lagi-lagi Kay dibuat terkejut dengan panggilan Evan. Kay tidak tahu kalau sejak tadi Evan masih mengikutinya dari belakang.


“ii..iya.” jawab Kay.


Kini tatapan mata Evan turun ke tubuh Kay bagian bawah yaitu perut. Evan menelisik pakaian yang digunakan Kay memang sangat longgar. Kemarin juga saat pesta Kay juga memakai pakaian longgar. Jadi Evan tidak tahu kalau wanita di hadapannya kini tengah hamil. Sebuah senyum smirk keluar dari sudut bibir Evan. Dan dengan lancang tangannya terulur ingin memegang perut Kay. Kay semakin gugup, dia memundurkan langkahnya.


“Van, aku sudah selesai belanjanya.” Ucap seorang wanita yang juga mendorong troli belanjaannya.


Kini Kay sudah menyelesaikan belanjanya. Dia segera membawa belanjaannya ke dalam mobil sambil mendorong trolinya karena belanjaannya sangat banyak.


“Sayang, sudah selesai?” Tanya Vito yang baru terbangun saat mendengar pintu mobilnya tertutup.


“Sudah.” Jawab Kay singkat dan segera melajukan mobilnya.


Vito merasa keadaannya sudah membaik setelah tertidur beberapa menit di dalam mobil tadi. dia memutuskan untuk menjelaskan semuanya pada Kay.


“Menepilah!” perintah Vito pada Kay.


Setelah menepi, Vito keluar dari mobil dan menggeser tempat duduk Kay. Jadi sekarang yang menyetir adalah Vito. Kay hanya diam dan menurut saja. Kemudian Vito melajukan mobilnya menuju sebuah café yang tidak begitu ramai pengunjung.


Kini Vito dan Kay sudah duduk berhadapan setelah pelayan café memberikan dua gelas es lemon tea.

__ADS_1


“Sayang, dengarkan penjelasanku.” Ucap Vito.


“Penjelasan apa?” Tanya Kay.


“Aku dan istri Evan tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Dulu aku dan Nadia hanya sebatas teman dekat saja. Perasaanku padanya juga tidak lebih dari seorang teman. Aku dekat dengannya dulu itu karena aku ingin melupakan kamu. Kamu yang saat itu menurutku sesuatu yang tidak mungkin bisa aku miliki karena hubungan kita hanya sebatas kakak dan adik. Jadi aku memilih untuk dekat dengan Nadia. Tapi nyatanya aku tidak pernah bisa mencintai wanita itu. Masih saja kamu yang selalu ada di hati ini. sejak dulu, sekarang, dan selamanya.” Ucap Vito panjang lebar.


Sedikit demi sedikit Kay mencerna perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Dia percaya kalau suaminya memang sangat mencintainya. Namun apa yang dikatakan Nadia bersama temannya kemarin kalau Vito juga mencintai Nadia, apakah semua itu benar. Kemudian Kay menanyakannya. Dia juga menceritakan tentang pertemuannya yang tidak sengaja dengan Nadia saat di toilet kemarin.


“semuanya itu tidak benar. Mungki hanya perasaan Nadia saja yang menganggap aku mencintainya. Tapi saat tiba-tiba Evan hadir, begitu cepatnya Nadia berubah pikiran dan pergi meninggalkan aku kemudian dia menjalin hubungan dengan Evan. Aku biasa saja karena aku sama sekali tidak pernah ada perasaan terhadapnya. Dan kemarin aku terkejut saat bertemu dengan Nadia karena aku tidak tahu kalau Nadia dan Evan adalah suami istri.” Ucap Vito.


Kay akhirnya percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Hatinya sedikit lega karena suaminya tidak pernah menjalin hubungan dengan Nadia. Tapi masih ada yang mengganjal hati Kay yaitu tentang sikap Evan padanya. Namun saat Kay ingin menceritakan pada suaminya, tiba-tiba Vito memintanya untuk menjelaskan tentang pertemuannya dengan Rey semalam.


“Mas, dulu saat pertemuanku terakhir dengan Rey aku sudah berjanji kalau mulai saat itu kita hanya berteman dan tidak lebih. Mas juga dengar kan saat itu. Lagipula Rey juga sudah menikah. Percayalah aku tidak akan berpaling dari Mas. Kecuali dengan….” Ucap Kay sengaja menggantung.


“Dengan siapa kamu akan berpaling dariku? Jadi selama ini kamu sudah berniat akan selingkuh dariku?” Tanya Vito dengan wajah memerah.


“Dengan dia.” Ucap Kay kemudian sambil mengelus perutnya dan tersenyum.


Seketika amarah Vito mereda. Bisa-bisanya dia terbawa emosi saat membahas tentang anak dalam kandungan istrinya. Kemudian Vito berdiri dan melangkah mendekati istrinya. Vito berjongkok sambil mengelus perut istrinya kemudian menciumnya.


“Anak Papa yang pintar ya! Jangan buat Papa mual-mual lagi dong Sayang!” ucap Vito mengajak anaknya berbicara.


Kay hanya menggelangkan kepalanya melihat tingkah konyol sang suami.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2