Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 207


__ADS_3

Barra kini sudah berjalan menuju parkiran dengan diikuti oleh Carissa di belakangnya. Karena tidak ingin kejadian seperti tempo hari, Carissa segera masuk ke dalam mobil Barra dan duduk tepat di samping Barra. Tak lama kemudian Barra melajukan mobilnya.


Barra melihat jam pada ponselnya masih menunjukkan pukul 20.15. Barra ingat kalau tadi dia tadi belum sempat menghabiskan makan malamnya karena buru-buru pergi ke rumah sakit. Sekarang dia merasa perutnya lapar.


“Apa kamu tidak keberatan jika aku ajak makan dulu? Kalau kamu masih sibuk, aku antar pulang dulu aja kalau gitu.” Tanya Barra.


“Nggak apa-apa Kak aku temani. Lagian jarak rumah sakit ke rumahku jauh.” Jawab Carissa.


Akhirnya Barra membelokkan mobilnya ke restaurant yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Carissa pun juga ikut turun meskipun dia tidak makan.


Seorang pelayan datang dengan membawakan buku menu pada Barra. Kemudian dia memesan makanannya.


“Kamu mau pesan apa?” Tanya Barra.


“Nggak usah Kak. Aku udah makan tadi.” jawab Carissa.


“Ya udah mbak nambah lemon tea hangat saja.” Ucap Barra.


Akhirnya Carissa pun tidak bisa menolak. Hanya minum lemon tea saja baginya tidak masalah.


“Mau kemana memangnya Mama dan Papa kamu?” Tanya Barra.


“Mau ke rumah tante.” Jawab Carissa.


“Ini sudah malam loh. Kok mereka tega meninggalkan anak cantiknya sendirian di rumah. Ah, maaf maksudku anak gadisnya.” Ucap Barra dan dengan cepat meralatnya.


Carissa pun tersipu malu mendengar Barra memujinya.


“Nggak apa-apa. Di rumah masih ada bibi, jadi aku nggak sendirian Kak.” Jawab Carissa.


Akhirnya pesanan Barra datang. Kemudian Barra segera menikmati makanannya. Dengan ditunggui seorang perempuan cantik. Meskipun Barra terlihat tenang menikmati makan malamnya, tapi jujur saja saat ini jantungnya seperti mau lompat karena sedang ditunggui oleh perempuan cantik seperti Carissa.


Selesai makan, Barra segera membayarnya dan langsung pulang. Dia merasa tidak enak jika harus berlama-lama di restaurant karena tugasnya mengantar Carissa pulang.

__ADS_1


Dua puluh lima menit perjalanan menuju rumah Carissa, mereka berdua hanya diam saja karena tidak ada hal lain yang dibicarakan. Setelah itu mobil Barra sudah berhenti tepat di depan rumah Carissa. Nampak Carissa kesusahan melepaskan seatbeltnya, akhirnya Barra membantu melepaskannya.


Tanpa mereka sadari, posisi mereka berdua sangat dekat dan begitu intim. Andai saja ada orang yang melihat, mungin orang itu berpikiran kalau Barra dan Carissa sedang mesum didalam mobil.


Carissa dapat merasakan hembusan nafas Barra menyapu wajahnya. Entah kenapa dia merasa sangat gugup dan bulu kuduknya juga ikut merinding. Barra sadar akan posisinya, bukannya segera manjauhi tubuh Carissa, Dia justru menatap wajah Carissa yang sedang melihat ke arah luar. Pandangan Barra tertuju pada bibir ranum Carissa. Dia jadi teringat dengan ucapan Dhefin yang sering bercumbu dengan Carissa.


Tiba-tiba saja Barra merasa sangat marah ketika membayangkannya. Setelah dia melepas seatbelt Carissa, perempuan itu lantas menghadap ke depan lagi. Dia pikir Barra sudah kembali ke tempatnya semula namun ternyata tidak. Barra masih berda di posisi yang sama. Dan dengan cepat laki-laki itu menyambar bibirnya. Carissa sangat terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Barra. Barra pun masih menikmati rasa manis pada bibir Carissa tanpa mempedulikan Carissa yang berusaha memberontak. Akhirnya Carissa memberanikan diri menggingit bibir Barra dan benar saja Barra langsung melepasnya.


Barra melihat wajah Carissa yang sudah berderai air mata. Tanpa mengucapkan apapun, Carissa segera keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Barra melihat Carissa berlari menuju rumahnya sambil menunduk mengusap air matanya.


Barra menjambak rambutnya frustasi. Dia menyesali perbuatan bodohnya dengan mencium paksa Carissa. Namun Barra teringat akan perbuatannya baru saja. Dia masih merasakan manis bibir Carissa. Dan Barra juga merasa kalau tadi itu adalah ciuman pertama Carissa. Jadi apa yang dikatakan oleh Dhefin itu tidak benar. Lantas apakah dirinya yang berhasil mengambil ciuman pertama Carissa.


Akhirnya Barra memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena sudah malam. Mungkin besok dia akan meminta maaf pada Carissa.


***


Dan benar saja. Keesokan paginya Barra mendatangi butik milik Carissa setelah menanyakan alamatnya pada Jenny. Kebetulan sekali hari ini weekend.


Barra akan datang ke rumah sakit setelah dari butik Carissa. Karena sejak semalam pikiran Barra dihantui rasa bersalah akan perbuatannya yang tiba-tiba mencium Carissa.


Carissa tampak terkejut melihat kedatangan Barra ke butiknya. Tapi dia tetap menghargainya sebagai tamu. Kemudian Carissa meminta karyawannya untuk keluar dan mempersilakan Barra masuk. Barra membawakan sebuket bunga mawar putih yang masih segar. Dia memberikannya pada Carissa yang sedang duduk di sofa berseberangan dengannya.


“Maafkan aku Carissa. Maafkan atas perbuatanku semalam.” Ucap Barra.


“Sudahlah Kak, nggak usah dibahas lagi. Aku sudah melupakannya. Anggap saja kejadian semalam tidak pernah ada.” Ucap Carissa membuang muka.


Barra tidak percaya dengan ucapan Carissa. Semudah itukah perempuan itu melupakan kejadian semalam. Dirinya saja sampai saat ini masih teringat jelas. Bahkan rasanya masih bisa dia rasakan sampai saat ini.


“Maaf!” ucap Barra lagi. Dan segera beranjak dari duduknya untuk pergi dari ruangan Carissa.


“Aku harap kita tidak akan bertemu lagi.” Ucap Carissa menahan langkah kaki Barra.


“Kenapa? Apa kamu membenciku karena perbuatanku semalam? Bukannya aku sudah meminta maaf dan kamu juga memaafkannya Carissa? Lantas kenapa kamu berharap kita tidak akan bertemu lagi?” Tanya Barra.

__ADS_1


“Karena ada hati yang harus aku jaga Kak.” Jawab Carissa.


Seketika hati Barra terasa nyeri. Dia tahu posisinya bukan siapa-siapa Carissa. Dia sadar kalau Dhefin kekasih Carissa. Tapi bolehkah dia sedikit berharap rasa pada Carissa.


“Iya. Aku tahu. Tapi salahkah kalau aku menaruh perasaan pada kamu? Nggak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawaban kamu. Aku hanya memberitahu kamu.” Ucap Barra dan segera keluar dari ruangan Carissa.


***


Hari minggu Kay sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena keadaannya sudah membaik. Selama itu pun Barra tidak pergi kemana-mana. Dia hanya menemani mamanya istirahat di rumah. Pikirannya masih dipenuhi oleh Carissa. Bahkan Barra sampai melupakan Astrid.


Keesokan paginya, seperti biasa Barra memulai aktivitasnya. Dia berangkat ke kantor tanpa harus mendatangi apartemen Astrid. Entah Barra lupa atau memang karena sedang memikirkan Carissa.


Sesampainya di kantor, tepatnya di ruangannya. Dia sudah melihat Astrid sudah menunggunya disana dengan wajah yang tampak berbinar.


“Astrid? Sejak kapan kamu disini?” Tanya Barra heran.


“Beberapa menit yang lalu.” Jawab Astrid.


“Kemana saja kamu akhir-akhir ini?” Tanya Barra tegas.


“Maaf, aku mengambil cutiku tanpa memberitahu kamu. Aku pulang ke rumah om dan tanteku untuk memberikan uang yang mereka minta. Setelah itu mereka sangat berterima kasih padaku dan mengajak aku jalan-jalan.” Ucap Astrid tanpa dosa.


“Dengan cara menon-aktifkan ponsel kamu?” Tanya Barra tegas.


“Bukan begitu Bar. Aku hanya ingin menikmati liburanku saja.” Jawab Astrid.


“Ya sudah kamu bisa kembali ke ruangan kamu. Hari ini aku sangat sibuk.” Usir Barra kemudian.


Barra nggak habis pikir dengan Astrid yang seenaknya sendiri tiba-tiba muncul begitu saja tanpa merasa berdosa dengan perbuatannya yang telah menghilang tanpa kabar selama beberapa hari.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2