Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 194


__ADS_3

Malam hari, sesuai janjinya tadi pagi kini Barra sudah pergi ke apartemen Astrid untuk mengajaknya jalan-jalan. Perempuan yang sudah menjadi kekasih Barra selama 3 tahun itu merupakan perempuan yang sangat mandiri dan pekerja keras.


Astrid adalah teman semasa kuliah Barra dulu, juga bersama Dhefin. Ketiganya sangat akrab namun Barra diam-diam menyukai Astrid tanpa sepengetahuan Astrid. Dan sejak tahu Astrid melamar kerja di perusahaan Papanya dan ditempatkan di bagian divisi keuangan, membuat Barra lebih mudah untuk mendekati Astrid. Hingga akhirnya mereka resmi berpacaran sejak 3 tahun yang lalu.


Dhefin yang mengetahui kalau Barra menjadi kekasih Astrid pun tampak terkejut sekaligus ikut senang melihat kebahagiaan mereka berdua. Awalnya Barra tidak menyangka kalau Dhefin juga ikut senang. Dia sempat mengira kalau Dhefin menyukai Astrid. Ternyata tidak. Jadi selama ini cinta Barra pada Astrid tidak bertepuk sebelah tangan.


“Mau kemana?” Tanya Barra saat sudah berada di dalam mobil.


“Aku mau belanja karena beberapa kebutuhanku sudah habis. Sekalian nanti kita makan malam.” Ucap Astrid.


Barra pun mengangguk tanda mengiyakan permintaan Astrid. Barra salut dengan kekasihnya yang hidup mandiri tanpa bantuan dari Om dan Tantenya. Karena Astrid sudah tidak memiliki orang tua lagi. Jadi selama ini meskipun gaji yang diterima oleh Astrid cukup untuk membiayai hidupnya, namun Barra tetap saja mencukupi kebutuhan Astrid. Awalnya Astrid sudah menolak namun karena Barra memaksa, akhirnya Astrid pun menerimanya.


Selama 3 tahun mereka berpacaran, Barra sama sekali tidak pernah mengajak Astrid ke rumahnya. Karena reaksi kedua orang tua Barra saat bertemu dengan Astrid saat di kantor sudah menunjukkan gelagat tidak suka terlebih Kay.


Barra pun tidak mau ambil pusing. Yang terpenting dia bahagia dan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya agar bisa menerima Astrid. Sementara Vito, meskipun ada gelagat tidak suka, namun pria paruh baya itu harus tetap professional. Mengingat kinerja Astrid di kantor juga bagus.


Selesai belanja barang kebutuhan Astrid, mereka berdua kini sudah ada di restaurant yang ada di mall itu. Mereka sudah memesan makanan pada pelayan restaurant. Sembari menunggu makanan datang, mereka berbincang-bincang santai.


“Bar, kapan kamu akan melamarku?” Tanya Astrid tiba-tiba.


“Kamu yang sabar ya. Aku pasti melamar kamu. Kamu tunggu saja waktunya yang tepat.” Jawab Barra sambil memegang lembut tangan Astrid.


“Bagaimana kalau kedua orang tua kamu tidak menyetujui hubungan kita?” Tanya Astrid sedih.

__ADS_1


Barra tidak sanggup melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Astrid. Astrid tahu kalau kedua orang tuanya tidak menyukainya. Tapi Barra masih berusaha untuk meyakinkan orang tuanya agar menyetujui hubungannya dengan Astrid.


“Jangan bilang seperti itu. Kamu sabar dulu ya.” Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Barra.


Tidak lama kemudian makan mereka pun tiba. Astrid dan Barra menikmati makan malamnya dengan hening. Karena keduanya masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Selesai makan malam, mereka berdua langsung pulang karena Barra sangat capek dan ingin segera istirahat. Namun saat di parkiran Barra tidak sengaja melihat perempuan yang tadi siang ia temui saat peragaaan busana. Perempuan itu baru saja masuk ke dalam mobil yang juga tidak asing menurut Barra.


“Kenapa? Lihat siapa?” Tanya Astrid.


“Ah, nggak kok. Ya udah ayo.” Ucap Barra kemudian.


Akhirnya Barra pulang mengantar Astrid ke apartemennya. Dia juga ikut masuk ke unit apartemen Astrid karena membawa banyak barang belanjaan.


“Ya sudah, aku pulang dulu ya. Kamu jangan lupa langsung istirahat.” Ucap Barra pada Astrid kemudian mengecup keningnya.


“Maaf, aku takut kelepasan.” Ucap Barra dan Astrid tetap mencoba untuk tersenyum.


“Iya, maaf karena aku hanya merindukan kamu saja.” Jawab Astrid.


Setelah itu Barra segera keluar dari apartemen Astrid dan segera pulang. Dalam perjalanan pulang, Barra memegang bibirnya yang habis berciuman dengan Astrid. Barra buka pria munafik. Dia juga pria normal. Memang sudah lama dia menjalin kasih dengan Astrid. Mereka juga tak jarang sering melakukan ciuman dan tidak lebih dari itu. Bahkan Astrid lah yang lebih sering memulainya daripada dirinya. Hanya saja kalau Astrid yang memulai terlebih dulu, Barra kurang begitu suka. Bukan berarti menolak. Entah dia takut kelepasan atau kurang suka dengan perempuan yang agresif.


Beberapa saat kemudian Barra sudah sampai di rumahnya. Saat dia masuk ke dalam, di ruang keluarga sudah ada kedua orang tuanya dan juga Jenny sedang santai sambil nonton TV.

__ADS_1


“Waktu weekend itu harusnya dipakai untuk berkumpul dengan keluarga. Bukan malah kelayapan tidak jelas.” Sindir Kay pada Barra.


“Barra habis menemani Astrid belanja Ma.” Jawab Barra sambil berusaha tetap tenang, karena dia tahu kalau mamanya kurang begitu suka dengan Astrid.


“Begitu terus alasan kamu. Selalu memanjakannya.” Ucap Kay lagi.


“Ma, Pa, Barra sangat mencintai Astrid. Dia juga perempuan baik-baik dan juga mandiri. Kenapa kalian selalu menentang hubungan Barra dan Astrid?” Tanya Barra.


“Kalau Mama nggak suka ya nggak suka. Nggak perlu pakai alasan.” Ucap Kay dan segera berdiri menuju kamarnya.


“Mama kamu sejak tadi mencari kamu tapi kamu nggak pulang-pulang. Dan saat pulang kamu pun bilang habis jalan dengan Astrid. Papa harap kamu bisa menjaga perasaan Mama kamu.” Ucap Vito kemudian menyusul istrinya masuk ke kamar.


Barra menghela nafasnya panjang. Dia bingung bagaimana melanjutkan hubungannya dengan Astrid, sementara kedua orang tuanya tidak suka dengan Astrid. Kemudian dia melirik Jenny yang masih duduk di sofa. Terlihat Jenny sangat cuek sambil mengendikkan bahunya.


“Cantikan juga Kak Carissa. Baik hati lagi.” Ucap Jenny tiba-tiba kemudian pergi meninggalkan Barra sendirian.


Ingatan Barra kembali pada sosok Carissa. Perempuan yang baru saja ia temui tadi pagi. dan saat di mall tadi dia juga tidak sengaja bertemu dengannya lagi. Benar kata Jenny kalau Carissa lebih cantic dari Astrid. Barra segera mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak mungkin dia berpaling dari Astrid hanya karena Carissa lebih cantik. Tapi Barra bisa meyakinkan kembali pada hatinya kalau cintanya sangat besar pada Astrid. Dia berjanji akan berusaha mendapatkan restu dari kedua orang tuanya agar bisa melamar Astrid.


Setelah itu Barra segera masuk ke kamarnya. Dia segera berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan tidak menunggu lama, mata Barra sudah terpejam dan siap lepas landas menuju alam mimpi.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2