
Kay masuk ke kamarnya dan melihat suaminya sedang duduk di sofa tunggal yang ada di dalam kamarnya. Pria itu sepertinya memang sedang menunggu istrinya yang ingin meminta penjelasan tentang sesuatu yang terjadi dengan Barra.
“Mas, kenapa Mas menampar Barra?” Tanya Kay yang sudah duduk di samping suaminya.
Tebakan Vito benar. Istrinya sudah tahu kalau dirinya tadi habis menampar Barra, anaknya sendiri. Sekarang Vito harus menjelaskan semuanya pada istrinya.
“Barra mentransfer uang senilai 200 juta pada wanita ular itu.” Ucap Vito datar.
“Maksud Mas wanita ular siapa?” Tanya Kay bingung.
“Siapa lagi kalau bukan Astrid.” Jawab Vito.
Kay sungguh terkejut mendengarnya. Buat apa anaknya mengirim uang yang jumlahnya tidak sedikit itu pada Astrid. Lantas, apa hanya gara-gara uang saja, suaminya sampai tega menampar anaknya hingga tidak mau pulang ke rumah.
“Bukan masalah uangnya saja, Sayang. Ini lebih dari uang. Kamu juga nggak setuju kan kalau Barra menjalin hubungan dengan Astrid?” Tanya Vito.
“Iya, Mas. Lalu apa lagi masalahnya jika bukan karena uang?” Tanya Kay.
Vito pun menjelaskan tentang hasil penyelidikan Bram. Beberapa hari yang lalu saat dirinya akan berkunjung ke salah satu pembangunan proyek di luar kota, tanpa sengaja dia bertemu dengan Astrid yang juga pergi ke suatu tempat. Tapi karena arah jalan mereka berbeda akhirnya Vito meminta Bram menyelidiki Astrid.
“Lalu bagaimana hasil penyelidikan Bram?” Tanya Kay penasaran.
“Berdasarkan hasil penyelidikan Bram, tadi siang Astrid pergi ke bank untuk mencairkan uang yang diberikan oleh Barra. Kemudian membawanya ke salah satu tempat yaitu ke rumah tahanan khusus wanita. Bram belum tahu pasti maksud kedatangan Astrid kesana. Namun yang pasti Bram tahu kalau rumah tahanan itu adalah tempat dimana Melly menjalani hukumannya. Kemungkinan besar antara Astrid dan Melly ada hubungan. Entah hubungan apa. Tapi menurut data pribadi Astrid, dia adalah anak yatim piatu. Makanya, aku sangat marah saat tahu Barra berhubungan dengan perempuan itu.” Ucap Vito panjang lebar.
“Tapi Mas kan bisa mengatakan pada Barra dengan baik. Tidak harus dengan kekerasan” ucap Kay.
“Biarkan saja. Biar dia tahu kesalahannya. Dan jangan pernah ceritakan semuanya pada Barra selagi informasi itu belum jelas. Yang terpenting saat ini kita harus berusaha menjauhkan Barra dengan perempuan itu.” Ucap Vito.
“Kenapa Mas tidak pecat saja dia?” Tanya Kay.
“Sayang, tidak semudah itu. Kamu sabar ya. Ya sudah ayo kita tidur. Sudah malam.”
__ADS_1
***
Sementara itu Barra kini sedang bermalam di butik. Laki-laki itu tidak bisa tidur. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Dia masih tidak terima dengan perlakuan Papanya. Hanya karena Astrid, Papanya harus berbuat kekerasan padanya.
Tadi sore juga Barra menghubungi Astrid, namun kekasihnya itu tak kunjung mengaktifkan ponselnya. Mau langsung datang ke apartemennya juga takut dia terkejut melihat pipinya yang masih memar bekas tamparan papanya. Akhirnya Barra hanya bisa berdiam diri di kamar yang ada di butik.
Pagi harinya, Barra bangun tidur dengan badan yang kurang fit. Pasalnya semalam dia tidak bisa nyenyak tidurnya. Namun hari ini dia ada jadwal meeting dengan Xavier. Terpaksa Barra harus ke kantor. namun sebelumnya dia harus pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya.
Barra sampai rumah di saat mobil Papanya sudah tidak ada di garasi. Dia merasa aman karena tidak harus bertemu dengan Papanya. Kemudian dia masuk ke rumah langsung menuju kamarnya.
“Barra!” panggil Kay.
“Iya, Ma. Maaf Ma, Barra buru-buru.” Ucap Barraa berusaha menghindari mamanya.
Namun Kay segera mengikuti langkah Barra menaiki tangga dan masuk dalam kamarnya. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Kay duduk di bibir ranjang Barra menunggu anaknya selesai mandi. Kay juga sudah menyiapkan baju kerja untuk anaknya.
“Mama! Ada apa Mama di kamar Barra?” Tanya Barra sambil membuang muka. Dia tidak mau mamanya melihat pipinya yang masih merah bekas tamparan papanya.
“Barra buru-buru Ma. Maaf!” ucap Barra dan segera mengambil baju gantinya.
“Sayang. Jangan seperti ini. menurutlah sama Papa kamu.” Ucap Kay sendu.
Barra yang tadi hendak berganti baju pun terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mamanya.
“Apa maksud Mama? Apa Mama juga meminta Barra untuk menjauhi Astrid? Maaf Ma, Barra tidak bisa.” Ucap Barra dan segera meninggalkan mamanya menuju ruang ganti.
Kay pun dengan cepat keluar dari kamar Barra dan masuk ke kamarnya. Dia menangis sendiri dalam kamarnya. Kay merasa sakit melihat bekas tamparan di pipi Barra yang dilakukan oleh suaminya. Namun yang lebih sakit adalah Barra sudah berani membangkang dan tidak mau menuruti kemauannya.
Selesai Barra berganti pakaian dia melihat kamarnya sudah kosong. Dia pikir mamanya sudah turun dan menunggunya di bawah. Namun saat dia turun, dia tidak melihat keberadaan mamanya disana. Karena waktunya sudah siang, akhirnya Barra segera berangkat ke kantor.
Sampai di kantor, Barra segera masuk ke ruangannya. Dia melihat ponselnya. Ternyata pesan yang dikirim pada Astrid sejak semalam belum terkirim. Dan dapat dipastikan kalau ponsel Astrid masih tidak aktif. Barra membuang nafasnya kasar. Saat ini lebih baik fokus dengan pekerjaan dulu.
__ADS_1
Sebelum jam makan siang tiba, Barra memutuskan untuk keluar terlebih dulu. Dia menyerahkan pekerjaannya pada Iqbal. Dan memintanya untuk menyusul ke kantor Xavier nanti selepas makan siang.
Barra melajukan mobilnya menuju kantor sahabatnya yaitu Dhefin. Dia hanya ingin menceritakan masalahnya pada Dhefin. Dan beberapa saat kemudian, Barra sudah sampai di kantor Dhefin.
Cklek
Barra tiba-tiba saja masuk ke ruangan Dhefin tanpa mengetuk pintu. Karena tadi dia sudah bertanya pada sekretarisnya kalau Dhefin sedang berada di ruangannya. Dhefin yang sedang asyik melamun sambil memegang sebuah foto kecil dalam pigora pun dengan cepat memasukkannya ke dalam laci saat melihat kedatangan Barra.
“Ck kebiasaan. Masuk tanpa mengetuk pintu.” Dhefin berdecak kesal berusaha menghilangi kegugupannya.
“Kamu juga nggak lagi ngapa-ngapain kan? Gitu aja kaget.” Ucap Barra kesal.
“Bagaimana kalau saat kamu masuk tanpa mengetuk pintu, aku sedang mesum dengan Carissa? Kan itu namanya mengganggu kemesraan orang.” Ucap Dhefin.
Barra terdiam mendengar perkataan Dhefin. Mesum dengan Carissa? Apakah Dhefin sering melakukan itu dengan Carissa. Mengapa dirinya tidak terima membayangkan Carissa bercumbu dengan Dhefin. Padahal nyatanya mereka adalah sepasang kekasih. Tapi kenapa dirinya seperti terbakar api cemburu. Niat datang ke kantor Dhefin untuk curhat justru mendapatkan pengakuan sang sahabat tentang kegiatannya selama dengan Carissa.
“Woy malah bengong lagi. Kenapa tuh muka? Ternyata Astrid bar-bar ya mainnya.” Ucap Dhefin menggoda.
“Sudahlah nggak penting.” Ucap Barra dan segera keluar dari ruangan Dhefin.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya...
biar authornya tambah semangat, love u all😘😘
__ADS_1