Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 45 Menunjukkan Keburukan


__ADS_3

“Perjalanan hidup sesorang itu tidak semudah yang orang lain harapkan. Setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Tantangan, ujian, dan cobaan yang dihadapi setiap orang pun juga berbeda. Seseorang bisa saja berubah. Baik itu berubah menjadi lebih baik maupun sebaliknya. Namun sifat pada diri seseorang tidak bisa berubah sampai kapan pun. Karena sifat merupakan watak asli seseorang yang sudah ada dari mereka lahir, yang sudah diturunkan dari orang tua. Ketika kita menjumpai perubahan sikap seseorang, yakinlah itu bukan sifatnya yang berubah. Bisa saja pergaulan yang salah lah yang membuat dia kehilangan jati diri.”


***


“ting…tong…” pintu terbuka


“Radiittt???”


Delia tidak menyangka akan kehadiran seseorang yang sedang berdiri di hadapannya kini. Baru saja dia dibuat salah tingkah akan kekonyolannya yang tidak sengaja melakukan panggilan video. Sekarang orang itu kini sudah ada di apartemennya. Delia berusaha menormalkan kegugupannya.


“Ada apa dit?”


“yang jelas aku tidak salah pencet bel apartemenmu” sindir Radit sambil mengerlingkan mata


“eh.. ehm silakan masuk” Delia malu sekali Radit menyindirnya


Kini mereka berdua sudah masuk. Delia segera mendudukkan dirinya di karpet yang ada di bawah sofa ruang tamu. Dia tidak ingin duduk satu sofa dengan Radit, jadi lebih baik mendahuluinya untuk duduk di karpet. Pasti Radit akan mengikutinya.


Radit yang mengerti maksud Delia mengapa duduk di karpet, dia tersenyum tipis. Radit segera mendudukkan dirinya di karpet dan segera membuka martabak manis yang dibawanya tadi.


“Yuk makan bareng, aku tadi nggak sengaja lewat sini makanya aku mampir. Sekalian beli martabak manis ini” Radit beralasan


“eh iya maksih. Harusnya nggak perlu repot-repot. Tunggu sebentar aku buatkan minum” Delia berdiri namun dicegah Radit


“nggak usah Del, ini aku udah bawa minuman. Es vanilla kesukaan kamu. Aku bawa 2 ini”


“memangnya tau darimana kamu kalau aku suka es vanilla?”


“eh itu aku asal nebak aja sih, kalau salah dan kamu nggak suka nggak usah diminum. Atau kamu mau apa aku belikan sekarang”

__ADS_1


Radit sebenarnya sudah tahu kalau Delia suka minum es vanilla pada saat pertemuan pertamanya dulu sewaktu dia masih berpacaran dengan Viviane. Dan setiap kali Radit berjumpa Delia di kantin pun selalu ada cup es vanilla di hadapannya. Dari situ lah Radit tahu kalau es vanilla adalah minuman kesukaan Delia.


“nggak usah. Aku akan minum. Aku suka ko’”


Akhirnya mereka berdua makan martabak manis sambil ngobrol ringan. Radit terlihat santai dan tidak ingin cepat-cepat pulang. Dia tidak akan takut kalau tiba-tiba Surya datang. Itu tidak mungkin karena Surya sedang asyik bergumul ria dengan jalangnya.


Setelah selesai makan, Delia membereskan sisa-sisa makanan dan minumannya.


“ehm aku nggak ganggu waktu kamu kan Del?”


“nggak ko’.”


“ya kali aja Surya tiba-tiba datang kesini”


“oh.. nggak. Kak Surya sedang ada pekerjaan di luar kota”


Radit tersenyum tipis mendengar ucapan Delia. Polos sekali Delia, hingga mudah dikelabuhi oleh kekasihnya sendiri.


“maksudnya?” Delia bingung dengan pertanyaan Radit


Radit masih saja menyunggingkan senyumnya melihat reaksi kebingungan Delia. Kemudian Radit mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya. Dia akan menunjukkan kebenaran yang seharusnya diketahui oleh Delia. “saatnya belang kamu diketahui oleh kekasihmu sendiri Sur” batin Radit.


Radit membuka galeri ponselnya yang berisi beberapa bidikan foto Surya yang sedang bercumbu dengan seorang wanita. Kemudian memperlihatkan pada Delia. Dan Delia menerima dengan wajah semakin bingung.


“begitu kah yang katanya pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan?”


Delia membelalakkan matanya saat melihat foto seorang laki-laki sedang berciuman dengan seorang wanita yang berpakaian mini. Memang tidak terlihat jelas wajah Surya melihat kea rah kamera karena mengambilnya secara sembunyi-sembunyi. Meskipun begitu Delia sepertinya hafal dengan gestur lelaki itu. Seketika dadanya sesak, air matanya sudah mengalir tanpa diperintah. Radit menunggu reaksi Delia selanjtnya. Delia pasti memeluknya dan mengucapkan terima kasih padanya.


“begini kah cara kamu mengadu domba hubunganku dengan kak Angga biar kami putus?” ucap Delia sambil menyerahkan ponsel Radit.

__ADS_1


Radit melongo tidak percaya dengan kata-kata Delia.


“aku tahu kamu tidak suka dengan kak Angga. Tapi tidak begini caranya Dit”


Delia meluapkan marahnya pada Radit. sungguh tidak menyangka Radit akan menggunakan cara licik seperti ini dengan mengedit foto Angga seakan-akan telah berselingkuh di belakangnya. Meskipun dalam hati Delia belum yakin sepenuhnya dengan perasaannya terhadap Angga, namun melihat foto-foto yang diberikan Radit membuatnya merasakan sakit. Sakit mengetahui Radit telah menghancurkan rasa kepercayaannya terhadap Angga. Atau entahlah Delia juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Dia menolak percaya foto itu adalah foto Angga, karena selama ini hubungannya dengan Angga baik-baik saja.


“Del dengerin pejelasanku dulu. Kamu tidak mengenal siapa Angga sebenarnya”


“Cukuppp!! Sekarang juga kamu pergi dari sini. Aku benci kamu. Jangan pernah menemui aku lagi” ucap Delia sambil menangis dan meninggalkan Radit yang masih diam di ruang tamu.


Akhirnya Radit pulang dengan membawa rasa penyesalan mendalam. Niatnya ingin menunjukkan sifat asli Surya justru melukai hati Delia. Apalagi Delia tadi mengatakan membenci dirinya dan tidak mau bertemu lagi dengannya.


“Arghhhhh siallll” Radit memukul setir mobilnya. Dan segera pergi meninggalkan apartemen Delia.


***


Di sebuah apartemen minimalis dimana Viviane tinggal. Sudah hampir 2 tahun ini dia melakukan semua aktivitasnya disini. Saat ini dia sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati sejuknya udara di pagi hari.


Viviane memikirkan kehidupan yang sudah dia alami selama kurang lebih 2 tahun ini. Banyak sekali perubahan jika dibandingkan dengan kehidupannya dulu. Inikah yang dinamakan kebebasan. Kebebasan yang diberikan oleh kekasihnya. Viviane benar-benar merasakan makna sebenarnya dari sebuah kebebasan.


Terbesit rasa penyesalan dalam hatinya. Menyesal telah mengabaikan orang yang mencintainya dan juga ia cintai. Tapi itu semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Rasanya meratapi penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi. Tetapi dia harus tetap melanjutkan hidupnya.


Hanya satu harapan Viviane, semoga nanti saat dia sudah menyelesaikan pendidikannya dan pulang kembali ke negaranya, Radit mau memaafkan semua kesalahan yang selama ini sudah dia perbuat. Dan berharap Radit mau menerima dirinya kembali. Viviane yakin, pasti Radit masih menyimpan utuh hatinya untuk dirinya seorang. Dia hanya perlu meminta maaf dengan benar pada Radit saat dia pulang nanti.


Akhirnya Viviane menutup jendelanya dan mengambil tas beserta bukunya yang terletak di meja. Dia segera pergi ke kampusnya dulu sebelum melakukan research ke sebuah perusahaan.


Tahun ini Viviane menjalani tugas akhirnya sebagai syarat untuk bisa lulus. Viviane berharap research yang dia lakukan berhasil dan bisa secepatnya lulus.


*TBC

__ADS_1


Selamat hari raya Idul Adha bagi yang menjalankannya🙏🙏


Salam sayang dari _author newbie_😘💕💕


__ADS_2