Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 268


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, Barra segera mengajak Jenny pulang bersama istrinya juga. Jenny masih merasakan kepalanya pusing sambil menahan isakannya yang dia tahan sejak tadi. Jenny benar-benar tidak ingat apa yang sudah terjadi padanya. Hingga berakhir harus menikah dengan Iqbal, asisten kakaknya.


Carissa yang duduk di jog belakang bersama Jenny juga tidak berani bersuara karena melihat aura kemarahan sang suami. Sedangkan melihat adik iparnya yang menahan tangisnya membuat Carissa ikut merasakan kesedihannya. Kemudian tangannya terulur memeluk Jenny.


Sesampainya di rumah Jenny segera lari masuk ke kamarnya namun barra menghentikan langkahnya.


“Kamu harus nikah dengan Iqbal secepatnya. Aku nggak mau Mama dan Papa menanggung malu akibat aib yang kamu buat.” Ucap Barra sarkas.


Jenny tidak dapat lagi menahan tangisnya. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan kakaknya yang tidak sesuai dengan kenyataannya.


“Kak. Aku berani bersumpah kalau aku dan Kak Iqbal tidak melaku-“


“Cukup!! Kamu jangan membantah Kakak Jen! Semua bukti sudah kuat tentang apa yang telah kamu lakukan dengan Iqbal. Apa kamu lupa dengan ber-“


“Mas cukup!! Jenny lebih baik kamu masuk kamar.” cegah Carissa cepat.


Carissa tidak ingin melihat pertengkaran suaminya dan adik iparnya. Dia tidak tega melihat Jenny jadi sasaran kemarahan sang suami. Dia sebagai wanita juga ikut merasakan sakit, terlepas dari perbuatan yang telah dilakukan oleh Jenny dan Iqbal.


“Mas, sudah. Tenangkan diri kamu. Jangan terbawa emosi.” Ucap Carissa.


Barra hanya terdiam dengan amarah yang masih memenuhi hatinya. Dia teringat dengan kondisi sang istri yang tengah hamil. Tidak berusaha sekuat mungkin agar tidak meluapkan amarahnya pada sang istri.


“Maafkan aku Sayang. Aku benar-benar tidak menyangka dengan kejadian ini.” ucap Barra sambil memeluk istrinya.


Sementara itu Iqbal yang kini sudah mengunci dirinya di dalam kamar. dia merasakan seluruh tubuhnya remuk terutama bagian wajahnya setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari Papanya.


#Flashback on.

__ADS_1


Tadi sore Iqbal menyambut kedatangan temannya dari luar kota yang akan tinggal beberapa hari di kota J karena urusan pekerjaan. Malam harinya Iqbal mengantar temannya untuk check in di salah satu hotel yang masih milik keluarga Vito.


Setelah itu Iqbal berpamitan pada temannya untuk pulang karena waktu sudah malam. Namun tanpa sengaja Iqbal melihat gelagat aneh seorang pria sedang membopong seorang perempuan masuk ke dalam kamar hotel. Iqbal berusaha tidak peduli namun entah kenapa terlintas bayangan seorang perempuan yang selama ini singgah di hatinya. Iqbal mengingat kembali bahwa perempuan yang sedang dibopong tadi mirip dengan Jenny.


Iqbal membatalkan niatnya untuk pulang. Dia ingin memastikan kalau perempuan itu bukan Jenny. Kemudian Iqbal mengikuti pria tadi namun sudah kehilangan jejak. Perasaan Iqbal semakin cemas. Dia takut kalau perempuan itu benar-benar Jenny.


Keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya. Iqbal menemukan pria tadi baru saja keluar dari salah satu kamar. Iqbal sangat yakin kalau di dalam kamar itu pasti ada seseorang yang selain perempuan itu. Dengan cepat Iqbal lari menuju resepsionis untuk meminta kartu akses agar bisa masuk kamar yang mencurigakan tadi.


Setelah mendapatkannya, Iqbal segera masuk kamar tersebut. Darahnya mendidih saat melihat dengan jelas kalau perempuan yang tidak sadarkan diri itu benar Jenny. Dan seorang pria dewasa yang tempo hari pernah ia temui bersama dengan Jenny kini sedang mengungkung tubuh Jenny sambil melepaskan kancing baju Jenny.


“Brengsekkk!!!!” teriak Iqbal.


Iqbal segera menarik tubuh pria itu dan dengan cepat melayangkan beberapa pukulan ke wajah pria itu. Iqbal terus memukuli pria itu membabi buta hingga pria itu tersungkur tepat di sebelah Jenny dengan hidung yang terus mengeluarkan darah.


Bruk


#Flashback off.


Iqbal masih berdiam diri menahan luka lebam pada wajahnya. Dia masih tidak menyangka dengan kemarahan Papanya sambil memukulinya tadi tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dulu. Dan yang paling membuat Iqbal tidak percaya adalah dia diminta untuk menikahi Jenny. Iqbal sudah tidak mempunyai pilihan lain. Entah bagaimana kehidupannya selanjutnya.


Keesokan harinya, Kay dan Vito memilih pulang sebelum acara pesta ulang tahun keponakannya dimulai setelah mendapat kabar kurang baik tentang anak perempuannya. Sejak dalam pesawat Kay tak henti-hentinya menangis. Dan Vito hanya bisa menenangkannya.


Sesampainya di rumah, Bram sudah ada di depan pintu. Sepertinya Bram sudah tahu kepulangan majikannya. Jadi dia memilih untuk menunggunya di depan rumah.


“Bram?” sapa Vito heran.


Pria paruh baya itu segera berlutut di hadapan majikannya untuk meminta maaf atas semua perbuatan yang yang dilakukan oleh anaknya. Vito yang selama ini melihat kebaikan Bram, tidak tega untuk tidak memaafkannya.

__ADS_1


“Bangunlah Bram. Jangan seperti ini. mari kita bicarakan di dalam. Ucap Vito.


Kemudian Vito dan Kay masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh Bram. Pria itu masih tertunduk dengan rasa bersalah.


“Tuan maafkan perbuatan anak saya pada Nona Jenny. Saya jamin Iqbal akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Besok Iqbal akan menikahi Nona Jenny agar segera menutupi aib keluarga besar Tuan dan Nyonya. Tuan dan Nyonya jangan khawatir. Saya dan istri saya akan memperlakukan Nona Jenny seperti apa yang saya lakukan pada Tuan dan Nyonya.” Ucap Bram.


Hati Kay yang mendengar ucapan Bram merasa teriris. Bukan dia tidak menyetujui Janny menikah dengan Iqbal. Selama ini Kay dan juga suaminya sudah sangat percaya pada Iqbal. Mungkin mereka berdua melakukan itu karena sesuatu hal. Namun yang membuat Kay tidak terima kenapa Bram akan memperlakukan Jenny layaknya seorang majikan.


“Jangan bilang seperti itu Bram. Aku hargai keputusan kamu. Namun kamu jangan memperlakukan Jenny sebagai majikanmu jika nanti dia sudah menjadi menantu kamu. Perlakukanlah dia seperti anak kamu sendiri dan sayangi dia seperti anak kamu sendiri.” Ucap Vito mewakili isi hati istrinya.


“Baik Tuan.” Jawab Bram.


Barra dan Carissa saat ini belum tahu kalau Mama dan Papanya sudah pulang. Karena saat ini mereka sedang berada di dalam kamar Jenny. Sejak semalam Jenny terus saja menangis. Dan setelah dibujuk oleh Carissa, Barra sudah bisa meredam emosinya. Dan saat ini sedang menenangkan Jenny.


“Jenny nggak mau nikah dengan Kak Iqbal Kak. Jenny nggak cinta sama Kak Iqbal.” Isak Jenny dalam pelukan Barra.


“Sudah tenanglah. Ini adalah jalan terbaik. Semua orang yang melihat kejadian di hotel itu sudah tahu tentang kejadian semalam. Apa kamu mau nama besar keluarga kita dicap buruk dengan kejadian ini.” ucap Barra dan semakin membuat Janny terisak.


“Tapi Jenny nggak melakukan apapun dengan Kak Iqbal Kak. Percayalah Kak.” Ucap Jenny karena dia merasa tidak terjadi sesuatu diantara dirinya dan Iqbal.


“Melakukan atau tidak melakukan. Ini semua demi kebaikan keluarga kita Jen. Tolong mengertilah. Kakak sangat yakin kalau Iqbal adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab.” Ucap Barra dan Jenny tak mampu lagi menjawabnya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2