
Setelah bertemu dosen pembimbing skripsinya, Viviane segera mengahmpiri Radit. mereka langsung menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Selain untuk makan siang, Viviane bermaksud untuk ke toko buku membeli beberapa buku referensi buat penyusunan skripsinya. Viviane merupakan mahasiswa yang berprestasi, sehingga untuk skripsinya harus maksimal. Maka dari itu dia membutuhkan banyak referensi.
Mereka berdua saat ini sedang makan di salah satu foodcour sebuah mall. Viviane merupakan cewek yang tidak hobby shopping seperti kebanyakan cewek lainnya jika kakinya sudah menginjakkan kaki ke mall pasti naluri shoppingnya mereka sudah meronta-ronta. Tapi tidak untuk Viviane. Dia akan belanja pakaian jika memang sudah merasa butuh. Itulah yang membuat Radit makin jatuh cinta pada Viviane. Tentunya Viviane juga kekasih yang setia dan penyabar.
Di sela-sela kegiatan makan mereka, tanpa sengaja dari kejauhan Radit melihat Delia yang berada di tempat yang sama dengan seorang cowok. Sepertinya cowok yang sama yang dia lihat di kampus tadi pagi saat mengantarkan Delia. Sepertinya Delia dan cowok itu juga akan makan siang tetapi tempat duduk mereka jauh. Radit terus memperhatikan kemesraan Delia dari jauh. Delia terlihat sedang menenteng kantong belanjaan sangat banyak dan cowok itu juga membantu membawakannya.
Wajah Delia juga sangat ceria. Melihat itu semua Radit merasa tidak terima. Dia tidak ikhlas melihat Delia bahagia dengan cowok lain. Kenapa Delia bisa tertawa lepas seperti itu. Sedangkan jika bertemu dirinya berbeda. Yang ada selalu gugup dan katakutan. Memangnya dirinya hantu sampai-sampai Delia enggan menatapnya karena takut. Huhh... Radit saja tidak tahu kenapa Delia sangat gugup jika bertemu dengannya. Bukan karena takut seperti melihat hantu atau tukang kredit😂😂, tetapi hati Delia yang tidak bisa dikondisikan.
“ck…dasar cewek matre! Carinya yang tajir, wajah good looking. Ga punya harga diri. Pasti sudah hilang kesuciannya” batin Radit mencemooh sambil terus memperhatikan Delia. Bukan tanpa alasan dia bilang seperti itu. Memang kenyataannya jaman sekarang sudah beda jauh dengan jaman dulu. Dimana seorang gadis yang memegang dan menjaga penuh kesuciannya. Bahkan berteman dengan lawan jenis pun bisa menjaga jarak. Tapi jaman sekarang. Sekali dekat dengan laki-laki seakan sudah merelakan segalanya. Itulah penilaian Radit yang ditujukan untuk Delia. Terkesan memang cewek munafik.
*Author said:” yang munafik ya loe dit. Sebelum nge'judge orang itu ngaca dulu. Ga sadar loe, siapa yang ngerusak Viviane? Loe sendiri kan?” huhhh gemes banget deh. Untung Ganteng ckckck😂😂
“sayang….” Panggilan Viviane menyadarkan lamunan Radit.
“ehm… iya sayang kenapa?” Tanya Radit
“habis makan siang anterin aku ke book store ya, aku masih butuh buku buat referensi nih” ucap Viviane sambil mengunyah makanannya.
“iya… mau kemana aja aku antar ko” balas Radit.
__ADS_1
“sayang…. Siapa itu sahabat kamu yang kapan hari kita bertemu? Apakah kamu yakin dia sahabat yang baik buat kamu” lanjut Radit
“hah? Maksudnya Delia? Ya emang dia sahabat baikku, paling mengerti aku” bingung Viviane dengan pertanyaan Radit yang tiba-tiba
“kamu perlu berhati-hati sama dia. Belum tentu dia baik sungguhan. Sepertinya dia bukan sahabat yang baik buat kamu” ucap Radit
“apa’an sih kamu sayang ko’ tiba-tiba bahas Delia yang tidak-tidak. Kan aku udah lama sama dia. Aku udah kenal dia luar dalam lho sayang” balas Viviane agak sewot menanggapi sikap Radit
“aku ngomong gini karena aku nggak mau orang yang aku sayangi ini dimanfaatin oleh orang yang mengaku-ngaku sebagai sahabat” ucap Radit agak meninggikan suaranya.
“iya-iya aku akan berhati-hati. Yuk sayang kita langsung ke book store ya” akhirnya Viviane mengalah dan segera mengalihkan perhatian Radit agar perdebatan mereka terputus.
Akhirnya mereka berdua memutuskan pergi ke book store setelah menyelesaikan makan siangnya. Mereka berdua melewati meja dimana Delia sedang makan siang bersama Ade. Hanya saja posisi Ade membelakangi. Jadi hanya Delia yang bisa melihat. Sementara Viviane fokus sama HPnya dan bergelayut di tangan Radit.
Sesaat pandangan Radit dan Delia bertemu. Tatapan mata Delia pada Radit masih sama sangat teduh. Tapi berbeda dengan Radit, dia menatap Delia dengan tatapan dingin penuh kekecewaan. Delia semakin bingung dengan Radit. Kenapa tatapannya seperti itu. Seperti dirinya sedang melakukan kesalahan.
Akhirnya setelah makan siang, Delia dan Ade memutuskan langsung pulang. Karena Delia hari ini sibuk dengan pesanan baju online nya. Makanya dia tadi membawa kantong belanjaan banyak. Karena dia baru saja mengambilnya dari agen langganan dia yang ada di mall itu.
Delia dan Ade saat ini sedang berada dalam mobil. Iya, Ade menjemput Delia menggunakan mobil. Karena dia tau kalau Delia tadi bilang ambil banyak belanjaan. Dalam perjalanan Delia hanya diam saja sambil menatap ke arah luar sibuk dengan pikirannya sendiri. Ade melihat adiknya tidak seperti biasanya hanya diam saja. Tidak mau mengganggu. Mungkin adiknya sedang ada masalah. Nanti pasti akan cerita sendiri. Pikirnya begitu karena sudah tahu kebiasaan adik tercintanya itu.
__ADS_1
Sampai di kamar, Delia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya dulu. Lagi dan lagi. Pikirannya berkecamuk bila bertemu dengan Radit. Apalagi melihat tatapan tajamnya. Delia merasa heran. Kenapa jika bertemu Radit terasa beda. Tidak seperti saat bertemu dengan temannya yang lain, biasa-biasa saja. Andai dia punya keberanian, pasti sudah dia colok tuh mata Radit. Atau minta tolong Viviane saja suruh pakai kaca mata kuda aja tuh cowoknya. Batin Delia sambil geleng-geleng tersenyum bayangi tingkah konyolnya.
“Arghhhh.... Radit!!! Bisa nggak sih kita nggak usah pakai acara ketemu. Entah sengaja atau tidak sengaja? Kehadiran kamu bikin jantungku tidak sehat tau” gerutunya Delia kesal dan menuju kamar mandi.
Setelah menyelesaikan acara mandinya, Delia segera turun dan makan malam bersama keluarganya. Usai makan, kini Delia sedang duduk santai berdua dengan abangnya. Karena kedua orang tuanya beristirahat dulu.
“udah balik nih nyawanya” tanya Ade tiba-tiba
“Apa'an sih abang ini. Emangnya aku habis mati suri” jawab Delia cemberut
“Lhahh bukannya gitu. Tadi sepulang dari mall diem terus, abang kirain mati suri. Jalan pun kaya' mayat hidup” goda Ade
“Ishhh tega nih abang. Masa ada mayat hidup cantik gini?” jawab Delia percaya diri.
“Huuhh dasar!!” Ade mengacak rambut Delia.
Akhirnya setelah bersantai, tidak terasa waktu sudah malam. Kemudian mereka masuk kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
*TBC
__ADS_1
*big hug dari _author newbie_💕💕