Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 236


__ADS_3

“Permisi Non, ada tamu yang ingin bertemu dengan Non Jenny.” Ucap salah satu karyawan butik.


“Siapa?” Tanya Jenny.


“Saya kurang tahu. Laki-laki tampan.” Jawab si karyawan itu.


“Baiklah suruh saja masuk.” Ucap Jenny akhirnya. Karena dia juga tidak merasa ada janji dengan seseorang. Terlebih dengan seorang laki-laki tampan. Memangnya ada di dunia ini laki-laki cantik.


“Hai!” sapa Xavier yang baru saja masuk ke ruangan Jenny.


“Eh, Kak. Ehm iya. Hai..” jawab Jenny gugup. Ternyata benar apa yang dikataakan oleh karyawannya tadi kalau tamunya adalah laki-laki tampan.


“Apa aku ganggu waktu kamu?” Tanya Xavier membuyarkan lamunan Jenny.


“Eh, nggak. Silakan duduk Kak.” Ucap Jenny masih gugup.


Xavier duduk di sofa sambil memberikan paper bag buat Jenny yang berisi baju. Xavier juga sedikit gugup saat bertemu dengan Jenny langsung seperti sekarang ini. karena jujur saja Jenny sangat cantik jika dilihat dari jarak dekat seperti ini.


“Kakak harusnya nggak perlu repot-repot menngganti bajuku.” Ucap Jenny tidak enak.


“Nggak apa-apa. Aku kan sudah janji.” Jawab Xavier.


Jenny pun akhirnya menerima baju pemberian dari Xavier. Padahal dulu dirinya juga tidak sengaja menumpahkan kuah soto ke baju Xavier. Namun Jenny tidak menggantinya. Dan sekarang Jenny berniat akan menggantinya tapi Xavier menolaknya.


Setelah berbincang-bincang sebrntar, Xavier pamit pulang pada Jenny karena dia juga masih sibuk dengan pekerjannya.


***


Hari pertunangan Carissa dan Barra semakin dekat. Keduanya juga tidak pernah bertemu lagi setelah pertemuanya malam itu. Mengingat hubungan keduanya tidak selayaknya pasangan calon pengantin seperti biasanya. Barra memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya, sementara Carissa juga sudah kembali ke butiknya. Bahkan untuk urusan cincin pernikahannya, Carissa pasrah pada calon mama mertuanya.

__ADS_1


Saat ini Carissa sudah berada di butiknya. Sebenarnya tidak ada kegiatan yang dia lakukan disana. Hanya saja dia merasa bosan jika terus saja di rumah, Papa dan Kakaknya juga sedang sibuk di kantor.


Charles sebenarnya sudah melarang Carissa untuk pergi ke butik. Pria paruh baya itu tidak ingin anak perempuannya kecapekan. Namun Carissa tetap bersikukuh untuk pergi ke butik. Dan rencananya Charles akan memindahkan butik milik Carissa dekat dengan kediamannya, agar mudah dijangkau. Dan yang pasti butik itu akan lebih besar daripada butik yang sekarang.


“Sayang!” sapa Silvia yang baru saja masuk ke ruangan Carissa.


“Mama! Rissa kangen sama Mama.” Jawab Carissa dan berhambur ke pelukan ibu angkatnya.


“Bagaimana kabar kamu Sayang? Mama dan Papa juga sangat merindukan kamu.” Tanya Silvia.


“Rissa sehat Ma.” Jawab Carissa.


Kedatangan Silvia ke butik Carissa tidak hanya rindu pada anak angkatnya itu. Dia juga ingin membahas tentang pertunangan Carissa yang baru dia tahu beberapa hari yang lalu.


“Mama dan Papa senang mendengar kabar pertunangan kamu dan Barra. Akhirnya sebentar lagi kalian akan bersatu.” Ucap Silvia bahagia.


Carissa merespon ucapan Mamanya dengan wajah yang muram. Entah kenapa Mama dan Papanya justru sangat bahagia mendengar kabar pertunangan itu. Padahal Mamanya juga tahu tentang masalahnya dengan Barra.


“Ma, ini bukan menyangkut dendam atau benci. Mungkin jika kesalahan Kak Barra tidak sefatal itu, Rissa pasti akan memaafkannya. Namun ini beda Ma. Rissa masih takut dan trauma atas perbuatan Kak Barra saat itu.” Ucap Carissa yang kini sudah menangis sesenggukan.


“Sayang, maafkan Mama. Mama tidak bermaksud menghakimi kamu. Iya Mama juga dapat merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi apa salahnya jika kamu memberi kesempatan buat Barra untuk memperbaiki kesalahannya. Mama yakin kalau Barra adalah laki-laki bertanggung jawab. Ini semua hanya soal waktu Sayang.” Ucap Silvia.


“Iya Ma. Carissa akan memberi kesempatan buat Kak Barra. Carissa juga butuh waktu untuk menghilangkan trauma itu.” Ucap Carissa. Namun dia tidak mengatkan soal Barra yang meminta waktu selama satu tahun. Biarlah itu menjadi rahasia mereka berdua.


Silvia kini sudah lega setelah mendengar bahwa Carissa mau memeberi kesempatan buat Barra memperbaiki kesalahannya. Meskipun Carissa bukan anak kandungnya, Silvia juga berharap nanti anaknya bisa hidup bahagia dalam rumah tangganya. Terlebih dengan Barra. Laki-laki yang sudah lama sangat diidamkan sebagai menantunya.


***


Nanti malam adalah acara pertunangan Barra dan Carissa. Acara itu akan digelar secera sederhana di rumah Charles. Jadi tidak ada persiapan yang mewah untuk acara tersebut. Mungkin hanya mempersiapkan jamuan makan malam saja untuk keluarga Barra.

__ADS_1


Hari ini Carissa tidak diijinkan oleh Papanya pergi ke butik. Charles tidak mau anaknya nanti capek saat acara tiba.


Pagi ini tidak ada yang Carissa lakukan selain rebahan saja di kamar. dan sekarang dia sedang duduk di sebuah kursi taman yang ada di belakang rumah. Carissa memilih untuk merilekskan tubuhnya dengan melihat hamparan taman bunga yang begitu menyejukkan mata dan hatinya. Sementara orang-orang sedang sibuk di dapur mempersiapkan acara nanti malam.


“Opa cariin daritadi ternyata disini.” Ucap Angga yang kini sudah duduk di samping Carissa.


“Eh, Opa. Iya Viera bosan Opa di kamar terus. Mau ikut bantu di dapur juga nggak diperbolehkan oleh Tante Nara.” Jawab Carissa.


“Bagaimana perasaan kamu sekarang? apa kamu sudah bisa menerima kehadiran Barra?” Tanya Opa Angga.


Carissa terdiam dengan pertanyaan Opanya. Niatnya datang ke taman ini untuk refreshing justru malah mendapatkan pertanyaan yang membahas tentang Barra. Carissa juga bingung bagaimana menjawabnya. Bukankah Opanya yang meminta dirinya untuk menikah dengan Barra.


“Maaf Opa. Sebelumnya apa boleh Viera bertanya sesuatu?” Tanya Carissa dan diangguki oleh Opa Angga.


“Kenapa Opa meminta Viera dan Kak Barra menikah?” Tanya Carissa.


Angga tahu kalau cucunya pasti menanyakan alasan ini. pria tua itu menatap lurus ke depan sebelum menjawab pertanyaan cucunya. Dia kembali menerawang tentang bayangan masa lalunya. Meskipun masa lalu itu pahit, namun dia harus menceritakan pada cucunya.


Angga menceritakan pada Carissa tentang perjuangan panjangnya mendapatkan sang istri. Angga mengatakan kalau kejadian yang dialami oleh Omanya hampir sama dengan Carissa. Jika dulu Viviane sempat mendapatkan pelecehan seksual dari orang lain, hingga menyebabkan keguguran. Dan ternyata janin itu adalah miliknya. Namun saat Opanya akan bertanggung jawab meski janin itu sudah tidak ada, tapi Omanya menolak dan pergi meninggalkannya.


Perjuangannya mencari keberadaan Omanya saat itu juga penuh liku karena Opanya sangat mencintai wanita itu. Meski sebenarnya Omanya juga masih menyimpan rasa yang sama, namun trauma dan rasa takut yang membuatnya memilih menjauh dari Opanya.


“Viera, Opa tidak ingin kejadian itu terulang kembali pada cucu Opa. Jadi Opa menyetujui Barra untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Opa yakin kalau kalian saling mencintai. Saat ini hanya terhalang oleh rasa trauma kamu. Dan rasa trauma itu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Harapan Opa dan Oma hanya ingin anak cucu kami bahagia sebelum ajal menjemput. Sudah cukup kami melihat Papa kalian ditinggal oleh wanita yang dia cintai. Kami tidak ingin kamu mengalami hal yang sama.” Ucap Opa Angga.


Carissa berhambur ke pelukan Opanya sambil terisak. dia ingin mewujudkan keinginan Opa dan Omanya agar melihat cucu-cucunya hidup bahagia. Untuk urusan dengan Barra, biarlah dia dan Barra sendiri yang mengatasinya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2