
Delia kini sedang berada di kantin rumah sakit untuk mengisi tenaganya pasca melakukan donor darah pada Viviane beberapa saat lalu. Memang ya persahabatan mereka kompak sekali. Bahkan sampai golongan darah pun sama. Beruntungnya tadi kondisi kesehatan Delia juga memungkinkan untuk melakukan donor darah. Kalau tidak, entah apa yang terjadi. Stok darah yang sama di rumah sakit juga kebetulan kosong, sementara untuk menghubungi kerabat atau saudara juga membutuhkan waktu yang lama. Hingga akhirnya nyawa sahabatnya bisa segera tertolong.
Kini Delia sedang menikmati makanannya sendirian di kantin. Meskipun dengan pikiran yang sedang berkecamuk. Tetapi dalam hatinya ada sedikit kelegaan karena Viviane sudah melewati masa kritisnya. Tiba-tiba datang seseorang yang duduk di depan Delia, dan membuyarkan lamunannya.
“makasih ya Del, udah donorin darah buat Viviane” ucap sang pemilik suara yang tak lain adalah Radit. “iya sama-sama. Udah sewajarnya aku tolong sahabatku” jawab Delia sekenanya.
Beberapa menit berlalu, keduanya saling terdiam dan sama-sama merasa canggung. Tidak tau lagi apa yang dibicarakan.
“maaf” ucap Delia tiba-tiba. “tidak perlu minta maaf, kamu tidak sal-“ ucap Radit tapi langsung dipotong oleh Delia. Radit berpikir Delia meminta maaf atas kejadian beberapa minggu yang lalu.
“maaf, memang aku yang salah. Tadi aku membiarkan Viviane pergi menyeberang jalan sendirian disaat aku sedang memarkirkan mobil. Dia terburu-buru karena melihat gaun yang ingin dia beli untuk acara pertunangan kalian. Di saat aku sudah keluar dari mobil, kecelakaan itu sudah terjadi dan tak bisa dihentikan lagi. Aku sangat menyesal maaf-…” ucap Delia menjelaskan sambil tertunduk dan menangis.
Radit yang melihatnya sangat tidak tega. Dia segera menggenggam kedua tangan Delia untuk memberi kekuatan bahwa semua baik-baik saja. Dan Delia hanya bisa terdiam. “sudah-sudah Del, kamu nggak usah merasa bersalah lagi. Sekarang yang terpenting Viviane sudah melewati masa kritisnya justru aku sangat berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan nyawa Viviane, orang yang aku cintai. aku nggak tau apa yang akan terjadi jika Viviane tidak secepatnya mendapatkan donor darah.” Ucap Radit tanpa sadar semakin melukai perasaan Delia. Sedangkan Delia hanya melengos.
Delia merasa canggung karena Radit belum juga melepas genggaman tangannya. “ya sudah lebih baik kita lihat kondisi Viviane sekarang” ucap Delia sambil melepas genggaman tangannya dan beranjak pergi. Radit hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan mengikuti Delia. Dalam perjalanannya dia menyadari akan ucapannya tadi. Radit benar-benar merutuki kebodohannya. Dasar mulut tidak bisa dikondisikan. Sesaat sebelum dekat dengan ruang rawat Viviane, Radit meraih tangan Delia. "Del, maaf atas ucapanku barusan ya.. maksud aku tadi aku sangat khawatir saja pada keadaan Viviane" ucap Radit bingung harus menjelaskan bagaimana lagi. "hmmm" jawab Delia cuek. buat apa Radit menjelaskannya lagi. nyatanya memang sudah jelas. siapa juga sih yang tidak khawatir jika tau kekasihnya mengalami kecelakaan dan harus segera mendapatkan donor darah. semua orang juga khawatirlah bukan hanya Radit saja.
Sampai di depan ruang rawat Viviane, Delia terlihat masih belum membuka matanya. Mungkin masih terkena efek obat bius tadi. Tetapi kedua orang tua Viviane bersama tantenya sudah ada di sana. Akhirnya Delia lebih baik memutuskan untuk pulang saja. Dia ingin beristirahat karena badannya sangat lelah.
__ADS_1
“om, tante Delia pamit pulang dulu ya.. besok Delia akan kesini lagi untuk melihat keadaan Viviane” pamit Delia. “iya nak Delia, lebih baik nak Delia pulang saja beristirahat. Kami semua sangat berterima kasih pada nak Delia sudah menolong Vivi” ucap ibu Viviane. “iya sama-sama tante” jawab Delia sambil mencium tangan kedua orang tua Viviane dan segera pulang.
Delia akhirnya pulang. Dia tidak menyadari kalau Radit mengikutinya dari belankang. Saat akan masuk mobilnya, tiba-tiba “Ehm…sekali lagi makasih ya Del, maaf sudah merepotkan” ucap Radit. “iya nggak apa-apa” ucap Delia.
Delia segera masuk mobil dan saat akan menutup pintu mobil, tangan Radit menahannya. “Aku juga nggak akan mengabulkan permintaan kamu tempo hari untuk tidak bertemu aku lagi” ucap Radit langsung menutup pintu mobil dan segera berjalan meniggalkan Delia dengan segala kebingungannya.
Keesokan harinya sebelum berangkat ke kampus, Delia menyempatkan diri dulu untuk ke rumah sakit melihat keadaan Viviane. Delia datang dengan membawa buah-buahan. Saat akan masuk ke kamar ruang rawat Viviane, dia mengetuk pintu dulu. Tetapi tidak sahutan orang dari dalam sehingga dia memutuskan langsung masuk saja.
Sekitar satu minggu Viviane dirawat di rumah sakit, akhirnya dia sudah diperbolehkan pulang. Dan selama itu pula Radit selalu menjaganya meskipun bergantian dengan orang tua Viviane, tetapi radit juga tidak pernah absen.
Selama beberapa hari di apartemen, kedua orang tua Viviane menjaga putrinya. Tetapi tidak bisa lama, karena masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan mereka akan datang lagi nanti saat acara pertunangan putrinya dengan Radit.
Setelah mengantar kepulangan orang tuanya, kini Radit dan Viviane sudah berada di apartement. Mereka sedang bersantai sambil nonton film. Selama sakit, Viviane sudah meminta ijin ke dosen pembimbing skripsinya. Saat sedang bercengkrama tiba-tiba bel apartemen berbunyi.
“ting…tong..” “biar aku saja yang buka, kamu disini saja” ucap Radit sambil berjalan untuk membukakan pintu.
__ADS_1
“ceklek’ “Deliaaa…” “Radit…” ucapa mereka bersamaan. Delia sangat terkejut dengan keberadaan Radit di apartemen Viviane. Dia piker sudah kembali ke kota J, ternyata belum.
“silakan masuk Del, Viviane ada di dalam” ucap Radit mempersilakan.
“hai Vi, apa kabar?” Tanya Delia sambil berpelukan dengan Viviane. “kamu lihat sendiri kan? Aku sudah sangat baik sekarang” jawab Viviane.
“oh iya Vi, nihh..!” Delia menyerahkan sebuah paper bag. “apa ini Del?’ Tanya Viviane penasaran.
Dan Viviane segera membukanya. Dia sangat terkejut sekaligus sangat senang, karena yang di dalam paper bag itu adalah sebuah gaun yang beberapa hari lalu ingin dia beli saat sebelum kecelakaan. “ya ampun Del… maksih banyak ya” ucap Viviane sambil memeluk delia lagi.
“iya sama-sama. Ini hadiah dariku untuk pertunangan kalian” jawab Delia
Sementara Radit hanya diam membisu, tidak tau apa yang dipikirkannya…
*TBC
_author newbie_💕💕
__ADS_1