
Kini Kay, Vito, Bram, dan juga Desi tengah bersiap-siap pulang ke kota J. Keadaan Kay dan juga Bram sudah membaik. Sedangkan Desi, diminta oleh Kay sekalian ikut ke kota J untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam pembukaan butiknya yang baru nanti. Karena kemarin Arsa sempat mengabarkan bahwa sudah mendapatkan tempat yang strategis untuk membuka butik.
Sedangkaan Vito sudah meminta Bram agar memperketat penjagaan buat istrinya. Vito tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat sudah kembali ke kota J. karena sampai saat ini baik Vito dan Bram maupun pihak kepolisian masih belum menemukan titik terang siapa pelaku penusukan terhadap Bram tempo hari.
“Sayang, hati-hati ya! Jangan lupa jaga kesehatan dan jangan terlalu stress.” Ucap Delia sambil memeluk Kay dan Kay mengangguk.
“Vito jaga istrimu dengan baik!” tambahnya.
“Baik Mom.”
Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan take off. Vito duduk dengan istrinya. Sedangkan Desi dan Bram agak menjauh dari sepasang suami istri itu. Desi memilih untuk menutup matanya saja setelah pesawt sudah take off. Lagipula tidak ada yang bisa diajak bicara lebih baik digunakan untuk tidur.
Perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya mereka berempat sudah tiba di kota J. kemudian mereka segera pulang ke rumah. Sesampainya, disana sudah disambut oleh Gio. Pria paruh baya itu tampak khawatir sekali saat mendengar kejadian buruk yang menimpa Kay. Gio ingin sekali ikut Vito terbang ke kota J, namun Vito melarangnya.
“Sayang bagaimana keadaan kamu Nak? Apa ada yang terluka? Bagaimana keadaan calon cucu Papa?” Tanya Gio cemas.
“Kay nggak apa-apa Pa. dan calon cucu Papa juga sehat.” Jawab Kay.
Gio dapat bernafas lega karena Kay baik-baik saja. Sebenarnya Vito juga sudah mengabarkannya pada Papanya kalau yang terluka adalah Bram. Tapi Pria yang sebentar lagi akan dipanggil Kakek itu tetap khawatir dengan keadaan anak menantunya.
Setelah itu Kay menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Desi diminta Kay untuk sementara waktu tinggal di rumahnya. Nanti jika sudah pembukaan butiknya, Kay akan mencarikan apartemen buat Desi.
Sedangkan Bram juga masuk ke dalam kamarnya. Dia sedang menghubungi salah satu temannya untuk dimintai bantuan mencari siapa orang yang telah berani melakukan percobaan pembunuhan pada majikannya. Bram menceritakan dengan detail tentang kasus yang dialaminya.
“Aku minta dalam waktu 2x24 jam kamu sudah mendapatkan informasi yang aku minta.” Ucap Bram tegas dan segera menutup sambungan teleponnya.
Keesokan harinya Vito sudah bisa memulai aktivitasnya kembali selama beberapa hari tidak pergi ke kantornya. Untung saja ada Arsa yang bisa menghandle semua pekerjaannya.
“Mas, nanti aku akan pergi melihat rukonya.” Ucap Kay saat sedang sarapan bersama suaminya.
“Iya Sayang. Hati-hati ya. Selalu kabari aku nanti kalau ada apa-apa.” Jawab Vito.
“Bukannya sudah ada Bram yang selalu memberikan semua informasi pada Mas?” ucap Kay lagi sedikit cemberut.
“Tapi sayang, aku kan ingin istriku ini yang memberitahukan apapun. Jangan ngambek dong!” ucap Vito sambil mencubit pipi Kay dengan gemas.
Selepas sarapan, Kay mengantar suaminya sampai depan rumah. Seperti biasa Kay mencium tangan Vito dengan takzim, kemudian Vito mengecup kening istrinya.
Pemandangan keharmonisan sepasang suami istri itu dapat Desi saksikan langsung saat dia sedang duduk di teras rumah. Desi ikut merasakan bahagia melihatnya.
__ADS_1
Setelah itu Kay masuk kembali ke rumah. Dia menuju kamarnya untuk bersiap-siap sebelum pergi meninjau lokasi tempat dimana dia akan membuka butik baru.
Saat ini Kay, Desi, dan Bram sudah berada di dalam mobil. Desi duduk di samping Bram yang sedang menyetir. Sedangkan Kay duduk di belakang sambil memainkan gadgetnya. Jadi di dalam mobil terasa sangat hening. Sama sekali tidak ada pembicaraan.
Kay sangat kagum dengan bangunan kokoh di depannya kini. Bangunan luas berlantai 2 yang akan dia gunakan untuk membuka butik itu menurut Kay terlalu besar. Padahal dia sudah mengatakan pada suaminya untuk mencari tempat yang strategis saja sudah cukup. Tidak perlu besar dan mewah. Tapi kalau sudah terlanjur begini mau tidak mau, Kay harus setuju.
Kay masuk ke dalam. Disana tampak beberapa orang sedang membersihkan ruko itu. Ada yang mengecat, membersihkan lantai, dan memasang beberapa ornament yang diperlukan. Kay juga naik ke lantai 2 yang tidak menggunakan tangga, melainkan lift. Sungguh suaminya sangat pengertian sekali. Tahu kalau istrinya sedang hamil dan tidak mau kelelahan, Vito mengganti tangga yang menghubungkan antara lantai satu dengan lantai dua menggunakan lift.
Kay naik ke lantai dua dengan diikuti oleh Desi dan juga Bram. Di lantai dua itu ada sebuah ruangan khusus yang akan ia gunakan sebagai ruangan pribadinya. Kay ke sana dan dibuat takjub lagi. Ruangan itu cukup luas dan sangat berbeda dengan ruangan di butiknya yang ada di kota B. dan juga di dalam ruang kerja Kay itu dilengkapi dengan ruangan tersembunyi yang ternyata adalah sebuah kamar lengkap dengan kamar mandinya.
“kalau ini sih bukan butik. Tapi rumah.” Gumam Kay.
Setelah puas melihat-lihat ruangan. Kay kembali lagi ke lantai satu.
“Des, tolong kamu beli makan siang buat para pekerja ini.” ucap Kay sambil memberikan uang pada Desi.
“Baik Non.” Jawab Desi.
“Bram, tolong kamu antar Desi pergi beli makan siang. Dia kan baru kali ini menginjakkan kakinya di kota J. jadi dia pasti kebingungan mencari tempat makan.” Ucap Kay.
“Tapi Nyonya, bagaimana dengan Nyonya disini?” Tanya Bram sekaligus menolak secara halus.
Dia merasa kesal saja karena Bram tidak mau mengantarnya meskipun tidak secara terang-terangan. Desi juga cukup tahu diri, karena memang keberadaan Bram adalah melindungi Kay.
“Bram! Antar Desi. Aku akan tetap disini. Lagian banyak pekerja disini.” Perintah Kay dengan nada tegas.
Dengan berat hati akhirnya Bram mengantar Desi membeli makanan ke salah satu resto. Desi juga terlihat kesal melihat wajah Bram yang sepertinya tidak ikhlas mengantar.
Kay kini sedang duduk di salah satu kursi yang ada di depan butik sambil memainkan ponselnya. Dia ingin menghubungi suaminya tapi sayangnya panggilan itu tidak dijawab oleh Vito. akhirnya Kay hanya mengetikkan pesan kalau dirinya kini sedang berada di butik. Setelah itu Kay memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
“hai Nona Kay! Apa kabar?” ucap seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Kay.
Kay sangat terkejut dengan keberadaan Evan. Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba ada disini. Kay sangat gugup. Dia takut jika Evan berbuat macam-macam padanya.
“Ii..iya saya baik.” Jawab Kay gugup.
“Kenapa gugup Nona. Tenang saja aku nggak akan macam-macam. Tapi Cuma satu macam saja.” Ucap Evan menyeringai dan kini sudah duduk di hadapan Kay.
“Apa maksud anda?’ Tanya Kay.
__ADS_1
“bukankah dulu aku pernah mengatakan kalau istriku adalah mantan kekasih suami kamu Nona. Sekarang itu juga akan berlaku untuk kamu Nona cantick.” Ucap Evan sambil mengulurkan tangannya berusaha menyentuh perut Kay.
“Jauhkan tangan anda!!” sentak Kay dengan berani.
“Wow, aku suka sekali dengan wanita galak.” Jawab Evan menyeringai.
Kay benar-benar gugup dia bisa melihat beberapa pekerja di dalam terlihat sangat sibuk dan tidak bisa melihat dirinya yng sedang ketakutan. Kay bingung bagaimana cara meminta tolong. Apalagi Evan kini dengan memainkan rambutnya.
“Aku sudah mengatakan pada Vito kalau aku minta kita bertukar pasangan. Vito bisa bercinta dengan istriku, dan kamu bisa bercinta denganku Nona.” Ucap Evan.
Kay melayangkan tangannya segera menampar Evan. Tapi Evan dengan cepat menangkap tangan Kay kemudian menciumnya.
cup
“Tunggu saja saatnya tiba Nona cantik.”
Evan segera pergi karena melihat sebuah mobi berhenti tidak jauh dari posisinya. Evan tahu kalau itu adalah bodyguard Kay.
“Non ini makan—Non Kay kenapa?” Desi sangat panik melihat Kay yang menangis dengan tubuh bergetar.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..
Like
Komen
Vote
Gift
Happy reading😘😘🤗
__ADS_1