Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 202


__ADS_3

Pagi ini Barra berangkat ke kantor seperti biasanya. Karena sudah tidak begitu sibuk dan tidak harus berangkat sangat pagi, jadi dia menjemput Astrid terlebih dulu. Barra sengaja tidak memberitahu Astrid kalau akan menjemputnya karena dia akan memberi kejutan.


“Surprisse!!” ucap Barra saat baru saja membuka pintu apartemen kekasihnya.


Barra memang tahu passcode pintu apartemen Astrid, jadi dia tidak perlu memencet bel lagi. Dan saat Barra baru masuk, saat itu Astrid juga sedang berada di balik pintu bersiap akan pergi ke kantor.


“Ngagetin aja sih.” Ucap Astrid sedikit datar.


Barra heran dengan sikap Astrid yang tidak seperti biasanya. Kemudian dia meraih Astrid dan memeluknya. Barra dapat menghirup aroma wangi dari tubuh Astrid.


“Maaf. Maaf beberapa hari ini aku memang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu.” Ucap Barra merasa bersalah.


“Iya. Nggak apa-apa.” Jawab Astrid.


“Tapi kenapa masih cemberut gitu? Nanti jelek lho. Ya sudah ayo kita berangkat. Keburu telat nih.” Ucap Barra dan menggandeng tangan Astrid.


Dalam mobil, Barra masih melihat Astrid yang masih cemberut. Dia juga bingung ada apa dengan kekasihnya itu.


“Semalam aku hubungi kamu tapi kamu sedang sibuk. Lagi teleponan sama siapa?” Tanya Barra.


Astrid tidak menjawab pertanyaan Barra. Dia justru mengalihkan pandangan ke arah jendela smabil mengusap sudut matanya yang berair. Barra yang mengetahui Astrid menangis, akhirnya menepikan mobilnya.


“Hei kenapa? Cerita ke aku, ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanya Barra cemas.


“Maaf, semalam aku nggak bisa angkat telepon kamu, juga nggak balas pesan kamu. Karena tanteku.” Ucap Astrid, sedetik kemudian air matanya meluncur begitu saja.


“Astrid sudah jangan menangis. Ada apa memangnya? Kamu cerita ke aku.” ucap Barra yang semakin cemas melihat Astrid menangis.


Akhirnya Astrid menyeka air matanya sebelum menceritakan masalahnya. Semalam tantenya menghubungi dirinya dan memintanya uang karena usaha Omnya sedang bangkrut.


Astrid sudah menolaknya karena memang dirinya tidak memiliki uang sebesar permintaan tantenya. Barra sedikit banyak tentang kelakuan tante dan omnya yang selalu meminta uang pada Astrid. Barra juga tahu kalau Astrid sengaja tinggal di apartemen karena sudah tidak tahan dengan om dan tantenya yang selalu memerasnya dengan alasan karena telah merawatnya sejak kecil.


“Sudah, tenang ya. Jangan bersedih. kamu jangan pikirkan lagi tentang om dan tante kamu.” Ucap Barra.


“Tapi tante mengancam kalau aku tidak memberikan uang sesuai permintaanya, dia akan membuat hancur karirku Bar. Bahkan tante mengancam akan mengirim aku ke luar pulau di tempat nenekku. Aku nggak mau Bar.” Ucap Astrid bersedih.


“Kamu jangan khawatir. Aku selalu melindungimu. Tante kamu tidak akan bisa melakukannya.” Ucap Barra lagi.


“Tapi tanteku sangat licik Bar. Aku nggak mau menyeret kamu ke dalam masalah keluargaku. Bagaimana kalau kedua orang tua kamu tahu, pasti meeka akan sangat membenciku.”

__ADS_1


“Memangnya tante kamu minta uang berapa?” Tanya Barra.


“200 juta.”


“Ya sudah, kamu jangan pikirkan lagi. Nanti akan aku transfer, biar tante kamu tidak berulah lagi.”


“jangan Bar, aku sudah bilang kalau aku nggak mau membawa kamu ke dalam masalah keluargaku.”


Barra tetap bersikukuh membantu Astrid dengan memberikan uang sesuai permintaan tantenya. Mungkin hanya ini yang bisa dilakukan oleh Barra. Karena dia tidak mau melihat kekasihnya bersedih lagi. Astrid pun akhirnya mengalah dan menerima bantuan dari Barra. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanannya ke kantor.


Dan benar saja, sampai di kantor, Barra masuk ke dalm ruangannya. Dia meminta Iqbal untuk masuk ke ruangannya.


“Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Iqbal.


“Tolong kamu transfer uang ke rekening ini senilai 200 juta.” Ucap Barra sambil memberikan no rekening pada Iqbal.


Iqbal menerima rekening itu dan melihat nama yang tertera di dalamnya yaitu atas nama Elvina Astrid Rahadian. Iqbal bingung kenapa harus mentransfer uang sebanyak itu ke no rekening yang dia tahu pasti kalau itu adalah kekasih dari atasannya.


“Maaf Tuan, bukannya saya lancang. Tapi buat apa mentransfer uang sebanyak itu?” Tanya Iqbal.


“Sudah, kamu nggak perlu banyak Tanya. Ikuti saja perintahku.” Ucap Barra tegas.


Setelah Iqbal keluar dari ruangannya, Barra melanjutkan pekerjaannya. Dan beberapa saat kemudian dia mendapat pesan dari kekasihnya.


“Terima kasih banyak ya Sayang. Entah aku harus membalas apa atas semua kebaikan kamu.”


“Cukup balas dengan cinta kamu saja.”


“Ih, gombal. Ya udah lanjutin pekerjaan kamu.”


Barra tersenyum saat berbalas pesan dengan Astrid. Namun dia harus kembali serius dengan pekerjaannya. Meskipun kekasih bekerja di tempat yang sama, Barra tetap profesional.


***


Sementara itu di tempat yang sama, namun berbeda ruangan. Tampak dua orang pria paruh baya sedang duduk berhadapan.


“Saya melihat ada laporan uang keluar senilai 200 juta Tuan.” Ucap Bram.


“Apa kamu tahu, siapa yang menerima uang itu?” Tanya Vito.

__ADS_1


“Atas nama Elvina Astrid Rahadian, Tuan.” Jawab Bram.


Vito mengeratkan rahangnya. Dia yakin kalau Barra lah yang mentransfer uang itu karena nama itu adalah nama kekasihnya. Vito benar-benar geram dengan Barra yang sudah dibutakan oleh cinta. Memang Vito belum tahu pasti akan digunakan apa uang itu. Tapi tetap saja tindakan Barra sudah diluar batas.


“Baiklah, terima kasih atas laporan kamu. Aku menanti kabar dari baru dari kamu tentang orang yang kamu selidiki kemarin.” Ucap Vito.


“Baik Tuan. Beri saya waktu 3 hari lagi.” Ucap Bram tegas.


***


Sementara itu kini Carissa sedang berada di butiknya. Gadis itu tampak sibuk membuat pola baju yang sepertinya akan dia buat.


“Sibuk banget ya, samapi Mama datang tidak peduli.” Ucap Silvia yang baru saja masuk ke ruangan Carissa.


“Eh Mama, maaf Rissa sibuk jadi tidak tahu kalau Mama datang.” Jawab Carissa.


“Bagus sekali Sayang design gaun itu. Ada yang pesan?” Tanya Silvia.


“Oh ini buat Carissa sendiri Ma. Karena dua minggu lagi Mas Dhefin ngajak Rissa menghadiri pesta ulang tahun perusahaan salah satu rekan bisnisnya.” Jawab Carissa.


Silvia mengangguk. Akhirnya ibu dan anak itu saling berbincang, dengan Carissa yang sambil membuat pola gaun untuk dirinya sendiri. Sedangkan Silvia, wanita paruh baya itu selalu menemani anaknya di butik selagi suaminya tidak sedang perjalanan keluar kota. Ibu dan anak itu selalu kompak dalam segala hal. Tidak hanya Silvia, Adnan sang Papa juga begitu menyayangi Carissa. Karena Carissa anak satu-satunya.


***


Sementara itu saat jam makan siang, Barra ingin mengajak Astrid untuk makan siang diluar namun Astrid menolaknya dengan alasan dia akan bertemu dengan tantenya dan akan menyerahkan uang yang diminta. Awalnya Barra mau menemani, namun Astrid menolaknya dengan alasan tidak mau membawanya ke dalam masalah keluarganya.


Drt drt drt


Ponsel Barra bergetar dan ada notif pesan masuk. Dia segera mengambil kunci mobilnya dan segera pergi menuju restaurant untuk makan siang. Barra mengembangkan senyumnya saat Jenny mengirim pesan dan mengatakan kalau dia sedang makan siang di restaurant yang letaknya dekat dengan kantor. tapi bukan makan siang dengan Jenny yang membuat Barra semangat, melainkan karena seseorang yang diajak Jenny makan siang. Yaitu Carissa.


.


.


.


*TBC


Duhhh babang Barra mulai plin plan deh. pastiin deh bang mau pilih Astrid atau Authornya? #eh🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2