
Mereka bertiga kini sudah duduk di ruang vvip sebuah restaurant ternama. Jenny merasa tidak enak karena harus berada diantara dua laki-laki yang sangat dia kenal. Kalau bersama Xavier mungkin sudah terbiasa karena mereka berdua sedang dekat. Namun jika dengan Iqbal yang tak lain asisten kakaknya, Jenny merasa tidak nyaman saja.
Mengingat dulu pernah terpakasa makan siang bersama laki-laki dingin itu. Cukup membuat Jenny kesal. Terlebih dia masih ingat saat itu Iqbal mengatainya kurus.
Tak ada yang pembicaraan diantara mereka bertiga saat menunggu makanan pesanannya datang. Iqbal yang sikapnya datar sejak tadi hanya diam. Namun sesekali mencuri pandang pada Jenny yang sesekali tersenyum hangat pada Xavier.
“Mungkin memang sudah digariskan Tuhan jika si kaya pasti berjodoh dengan si kaya.” Gumam Iqbal dalam hati.
Iqbal mempunyai pikiran seperti itu karena dia melihat dengan kenyataan yang ada di depan matanya. atasannya sendiri yaitu Barra berjodoh dengan Carissa yang notabene putri dari pengusaha terkenal yang mempunyai kedudukan sama dengan Papa Barra. Sedangkan Papa dan Mamanya sendiri juga bukan dari kalangan orang atas. Mamanya dulu juga asisten di butik Kay, sementara Papanya bodyguard dari Vito. jadi tidak mungkin jika suatu saat dirinya bisa bersanding dengan orang dari kalangan atas. Siapapun itu, bukan hanya Jenny. Membayangkannya saja Iqbal tidak mau.
“Permisi, selamat menikmati!” ucap salah satu pelayan yang baru saja menyajikan makan siangnya.
Setelah itu mereka bertiga segera menikmati makan siangnya. Dan entah kenapa Jenny yang biasanya sangat menjaga pola makannya karena takut gemuk, kini dia tidak terlalu memikirkannya. Dia makan semua makanan yang ada tanpa memikirkan akibatnya jika nanti akan gemuk. Sedangkan Xavier yang melihat Jenny makan tak seperti biasanya merasa heran. Apakah Jenny benar-benar lapar atau sedang kerasukan.
Sementara itu Iqbal justru tersenyum tipis melihat Jenny yang tidak jaim saat makan. Seperti yang dia tahu saat dulu pernah makan siang bersama. “Apakah Nona takut saya katai kurus lagi?” tanya batin Iqbal.
“Jen, makannya pelan-pelan. Memangnya kamu lapar sekali ya?” tanya Xavier.
“Eh, nggak ko’ Kak. Makanannya enak sekali.” Jawab Jenny sambil mengunyah makanannya.
Uhuk uhuk…
Tiba-tiba Jenny tersedak. Dan dengan cepat Iqbal menyodorkan segelas air putih. Jenny terkejut namun dia berusaha biasa saja kemudian meminumnya. Sedangkan Xavier sedikit terkejut dengan perlakuan Iqbal pada Jenny. Namun dia segera menepis rasa curiganya. Dia memakluminya karena wajar saja jika Iqbal peduli pada Jenny. Mengingat Iqbal adalah asisiten dari Barra. Jadi hal itu sudah lumrah.
Hari pun berlalu. Sudah satu bulan lebih kedekatan antara Xavier dan Jenny terjalin. Mereka berdua juga sering keluar jalan-jalan walau hanya makan atau nonton. Barra sebenarnya masih kurang setuju jika adiknya dekat dengan iparnya sendiri. Bukan karena masalah Xavier yang pernah membahayakan nyawa istrinya, namun entah kenapa Barra tetap tidak ingin jika suatu saat nanti Jenny menjadi istri Xavier.
Sedangkan Jenny sendiri, ini adalah pertama kalinya dekat dengan seorang laki-laki selama hidupnya. Dia memang sangat senang dengan kedekatan ini. hanya saja yang namanya hati seorang perempuan itu juga membutuhkan kepastian. Semenjak Xavier meminta kesempatan untuk dekat dan Jenny menyetujuinya, sejak saat itu sampai sekarang Xavier tak kunjung mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya. jadi Jenny merasa seperti digantung. Apa kedekatan selama ini bisa disebut dengan pacaran jadi statusnya sudah sebagai kekasih. Jenny benar-benar tidak tahu akan hal itu. Setahu dia dari teman-temannya yang sudah memiliki kekasih, mereka bersikap mesra dan juga saling mengungkapkan perasaannya.
***
Sementara itu pasangan Barra dan Carissa semakin hari tampak semakin mesra setelah kepulangannya dari honeymoon bulan lalu. Saat ini Barra dan Carissa sudah memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri yang sudah dibeli oleh Barra dua minggu yang lalu. Meski rumah itu tidak semewah rumah orang tuanya, namun Barra dan Carissa sangat nyaman tinggal disana.
__ADS_1
Pagi ini seperti biasa, Carissa pergi ke butik diantar oleh suaminya sekalian berangkat ke kantor. Carissa mencium punggung tangan suaminya sebelum masuk ke butik.
“Nanti kita makan siang di luar ya Sayang. Aku jemput jam 11.30” Ucap Barra.
“Iya Mas. Hati-hati!” jawab Carissa.
Setelah keduanya berpisah, Barra menuju kantornya sedangkan Carissa masuk ke butiknya. Carissa masuk ke ruangannya memulai aktivitasnya seperti biasa. Dia mengambil pensilnya dan siap membuat beberapa design baju yang akaan siap diproduksi. Carissa memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. entah kenapa beberapa hari ini rasa pusing itu muncul tiba-tiba dan juga hilang tiba-tiba.
Tanpa terasa Carissa sudah lama duduk di kursi kerjanya sambil menggoreskan pensilnya hingga menjadi sebuah hasil yang sangat bagus.
Tok tok tok
“Permisi Non. Diluar ada tamu yang ingin bertemu dengan Non Rissa.” Ucap salah satu karyawan Carissa setelah diijinkan masuk.
“Siapa?” tanyanya heran.
“Saya kurang tahu Non. Soalnya dia tidak menyebutkan nanamya.” Jawabnya.
“Ya sudah suruh masuk saja.” Perintah Carissa.
Ya, Dhefin mantan kekasih Carissa kini sudah berada di butik milik mantan kekasihnya. Dhefin masih belum percaya jika akhirnya Carissa menikah dengan Barra yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Lebih tepatnya mantan sahabat. Meski demikian, namun Dhefin masih menyimpan rapat perasaannya terhadap Carissa.
“Maaf Tuan. Mari saya antar ke ruangan Nona Rissa.” Ucap si karyawan.
“Ah iya baiklah.” Jawab Dhefin.
Tak lama kemudian Dhefin menaiki tangga menuju lantai dua yaitu ke ruangan Carissa. Karyawan Carissa itu membukakan pintu dan mempersilakan Dhefin masuk.
“Silakan Tuan!” ucapnya.
“Baik. Terima kasih.” Jawab Dhefin.
__ADS_1
Sedangkan Carissa yang sedang duduk, samar-samar mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal. Hati Carissa mendadak cemas jika benar orang itu yang sedang berada di depan pintu ruangannya.
“Ma….mas Dhefin!” ucap Carissa terbata.
“Selamat siang Carissa!” sapa Dhefin ramah.
Dhefin melangkah mendekat ke arah Carissa dan mengulurkan tangannya. Carissa menyambut uluran tangan Dhefin dengan perasaan gugup. Bahkan dia tidak menjawab sapaan Dhefin. Kegugupan Carissa bukan karena masih menyimpan rasa pada pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Namun Carissa takut jika suaminya tahu semua ini.
“Bagaimana kabar kamu Risaa?” tanya Dhefin yang kini sudah duduk di depan Carissa.
“Baik Mas.” Jawab Carissa tanpa melihat Dhefin.
“Selamat atas pernikahan kamu.” Ucap Dhefin dan menjedanya sebentar.
“Maaf. Maafkan aku Rissa. Maaafkan atas semua kesalahanku selama ini. kedatnganku kesini hanya untuk itu. Aku mohon maafkan aku.” ucap Dhefin sendu.
“Sudahlah Mas. Aku sudah melupakan itu semua. Tidak perlu diungkit lagi. Aku sudah mengikhlaskan semuanya.” Jawab Carissa dengan mata berkaca-kaca mengingat penghianatan Dhefin dan tindakan cerobohnya yang hampir menghilangkan nyawanya.
“Aku udah menerima semua hukumanku. Aku lega saat mendengar kalau kamu selamat dari kecelakaan itu. Namun satu hal, aku masih menyimpan rasa itu dalam hatiku.” Ucap Dhefin sambil menunjuk dadanya sendiri.
“Keluar kamu dari sini!!!”
.
.
.
*TBC
Bagi yg kurang berkenan dengan sekelumit kisah Jenny silakan diskip aja ya. Othor pernah bilang kan kalau hanya selingan sebelum menuju end yg tinggal beberapa bab lagi. terima kasih sudah mengikuti sampai sejauh ini🤗🤗😘😘😘
__ADS_1
Happy reading🤗🤗
jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, vote, dan giftnya❤️❤️❤️❤️