
Keesokan paginya Kay bangun lebih dulu. Dia melihat tangan kekar suaminya masih memeluk perutnya dengan posesif. Sedangkan Barra masih terlelap dalam tidurnya. Kay melihat kancing dasternya yang masih terbuka. Semalam memang suaminya sedang main-main disana untuk alasan tidak bisa tidur. Kay sampai lupa untuk menutup kancingnya lagi karena sudah terlelap lebih dulu. Padahal Kay juga sempat menyusui Barra beberapa kali, tapi dia tidak ingat sama sekali.
Kay pelan-pelan melepas rengkuhan tangan suaminya dari perutnya. Karena dia sudah tidak tahan menahan gejolak untuk buang air kecil. Kay bernafas lega karena mudah sekali keluar dari jeratan tangan sang suami. Dia segera turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
“Sayang….!” Lirih Vito pelan saat menyadari seseorang yang semalam dia peluk tidak ada di atas tempat tidur.
Setelah membuka mata dan mendengar gemericik air dalam kamar mandi, Vito baru tahu kalau istrinya bangun lebih dulu. Kemudian dia menggeser tubuhnya mendekati Barra yang masih pulas tidur.
Vito mengendus bau bayi pada tubuh Barra. Dia terus menciuminya. Bau bayi memang sungguh seperti candu. Walaupun belum mandi tapi tetap saja baunya sedap dank has.
“Mas, jangan diciumi terus. Nanti Barra bangun. Ini masih pagi.” ucap Kay setelah keluar dari kamar mandi.
“Aku suka sekali dengan baunya yang sedap.” Jawab Vito tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya.
Kay akhirnya membiarkannya saja. Kemudian dia keluar kamar dan segera beraksi di dapur untuk memasak. Kegiatan masak memasak sudah biasa dilakukan oleh Kay. Pembantu yang dipekerjakan oleh Papanya hanya bertugas membersihkan rumah saja. Dan itupun tidak tinggal menetap. Melainkan pulang pergi setiap hari.
Saat Kay hampir menyelesaikan masakannya, tiba-tiba dia mendengar suar tangisan Barra. Kay melihat suaminya sedang menggendong Barra yang sedang menangis.
“Sayang, sepertinya dia haus. Nih kamu beri asi dulu.” Ucap Vito sambil menyerahkan Barra.
“Sebentar Mas, aku cuci tangan dulu. Palingan dia nangis gara-gara tidurnya terganggu sama ulah Papanya.” Gerutu Kay yang masih bisa didengar oleh Vito.
“Sayang, mama kamu sekarang kok semakin galak ya. Padahal Papa nggak salah apa-apa kan tadi?” ucap Vito seolah mengajak anaknya bicara.
“Sini, sekarang Mas mandi dulu setelah itu sarapan.” Ucap Kay.
Setelah menyusui anaknya, Kay meletakkan Barra pada stoller untuk dijemur. Karena sinar ultraviolet pada pagi hari sangat baik untuk kulit. Kemudian tiba-tiba saja Gio datang menghampiri Kay yang sedang menjemur Barra.
“Biarkan Barra sama Papa saja. Kamu urus dulu suami kamu.” Ucap Gio.
“Eh, iya Pa.” jawab Kay.
__ADS_1
Setelah meninggalkan Barra berjemur dengan ditunggui Papanya, Kay segera masuk ke kamar. dia menyiapkan baju kerja suaminya setelah itu mengajaknya sarapn bersama. Kay dengan setia meladeni suaminya. Kay adalah istri yang sangat berbakti pada suaminya. Meskipun kini dia masih direpotkan dengan anaknya yang masih kecil, namun dia tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri.
Selesai sarapan, Kay mengantar suaminya ke depan untuk segera berangkat ke kantor. dan bertepatan dengan datangnya seorang baby sitter yang akan merawat Barra.
“Selamat pagi Bu. Apa benar ini kediaman Tuan Vito?” Tanya seorang wanita berusia sekitar 40 tahun.
“Iya benar.” Jawab Kay.
“perkenalkan saya Lastri, baby sitter yang akan membantu nyonya merawat anak Nyonya.” Ucapnya memperkenalkan diri.
“Oh iya Bi Lastri. Saya Kay, dan ini suaminya saya Mas Vito.” ucap Kay menyambut uluran tangan Bi Lastri.
Vito mengangguk dan sekilas melirik baby sitter itu. Sepertinya memang orangnya sangat sabar dan penyayang terhadap anak dan dapat dipercaya. Kemudian dia menyerahkan semuanya pada istrinya. Dan dia berangkat ke kantor.
Selepas kepergian suaminya ke kantor, Kay mempersilakan Bi Lastri masuk. Kay juga menunjukkan kamar Bi Lastri selama tinggal disini. Kay mendapatkan baby sitter seperti Bi Lastri melalui agen yang memang menyediakan jasa sebagai baby sitter. Kay juga sudah tahu kinerja Bi Lastri dari kepala yayasan yang merekomendasikan Bi Lastri. Kay juga mendapatkan saran dari sang Mommy untuk mencari baby sitter yang sudah sangat berpengalaman dan usianya yang sudah tidak muda. Delia masih ingat dengan saran mertuanya kalau mencari baby sitter harus yang sudah berpengalaman dan berusia di atas 35 tahun. Delia pun sama dengan pemikiran mertuanya agar tidak terjadi sesuatu hal buruk jika Kay mencari seorang baby sitter yang masih muda.
Mengingat jaman sekarang pelakor sudah tidak pandang bulu.
Hari ini juga Bi Lastri sudah mulai bekerja. Kay sudah berpamitan pada Bi Lastri kalau hari ini dia kan keluar untuk berbelanja keperluan Barra yang sudah hampir habis. Kay sudah menyetok asi yang sudah ia simpan dalam lemari pendingin buat berjaga-jaga saat meninggalkan Barra.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh suaminya, Bram kini sudah berada di rumah. Pria tampan berwajah kaku nan dingin itu sedang duduk di teras menunggu majikannya.
“Ayo Bram kita berangkat sekarang!” ajak Kay.
“Tapi ini masih jam 9 Nyonya. Supermarket buka jam 10.” Ucap Bram memberitahu.
“Aku tahu. Tolong antar aku ke butik dulu sebentar setelah itu baru antar aku ke supermarket.” Ucap Kay.
“Baik Nyonya.” Jawab Bram patuh.
Jarak butik dan rumah tidaklah jauh dan juga tidak terhalang dengan kemacetan. Cukup 15 menit, mobil yang dikendarai Bram sudah sampai di depan butik. Butik itu pun juga baru buka jam 9 tadi. jadi belum ada pelanggan yang datang.
__ADS_1
Kay masuk ke dalam butik dengan diikuti oleh Bram. Kay melihat butiknya yang selama ini ia tinggalkan. Ini adalah pertama kalinya Kay kembali ke butiknya semenjak dia dirawat di rumah sakit sampai melahirkan.
“Pagi Des!” sapa Kay pada asistennya yang terlihat sedang sibuk.
“Eh, Non Kay! Pagi Non. Maaf saya nggak tahu kalau Non Kay mau datang kesini.” Ucap Desi terkejut.
“Tenang saja, aku kesini cuma mampir saja.” Jawab kay.
“Silakan Non. Non mau minum apa? Biar saya pesankan.” Ucap Desi mempersilakan Kay tapi pandangan matanya sempat melirik Bram.
“Nggak usah Des. Aku hanya sebentar saja. Karena sebentar lagi akan belanja diapers Barra.” Ucap Kay.
“bagaimana kabar Barra Non? Maaf belum sempat main lagi kesana.” Ucap Desi.
“nggak apa-apa. Barra semakin menggemaskan. Makanya buruan nikah biar segera punya yang seperti Barra.” Ucap Kay menggoda Desi.
Uhuk uhuk
Tiba-tiba saja Bram yang sejak tadi berdiri di belakang Kay terbatuk. Lebih tepatnya tersedak ludahnya sendiri.
Pandangan Kay dan Desi sontak menuju ke arah Bram yang mukanya memerah. Desi pun dengan sigap mengambil air mineral untuk diberikan pada Bram. Saking gugupnya Bram dan juga Desi saat memberikan minuman, tangan mereka bersentuhan dan menimbulkan gelenyar aneh. Dan secara reflek Desi menghindar dengan sentuhan tangan Bram, hingga air mineral yang dipegang Desi pun terjatuh ke lantai.
Kay sempat tercengang dengan ulang kedua manusia di depannya. Pertama heran dengan Bram yang tiba-tiba tersedak saat dirinya sedang berbicara dengan Desi. Dan yang kedua, melihat Desi dan Bram sama-sama gugup saat memegang gelas air mineral. Kay semakin curiga dengan kedua manusia beda jenis kelamin di hadapannya itu.
“Des, Bram, kalian berdua?” Tanya Kay ragu.
.
.
.
__ADS_1
*TBC