Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 198


__ADS_3

Setelah beberapa jam meeting dengan kliennya, akhirnya telah diputuskan bahwa perusahaan Vito yang diwakili Barra akan bekerja sama dengan perusahaan milik Charles Darendra. Barra tadi sempat dibuat kesulitan selama meeting, karena pendapat yang diberikan selalu ditolak oleh sang pemilik perusahaan. Pria berwajah kaku bak mayat hidup itu seakan membuat Barra ingin menyerah saja. Namun dia mengingat pesan Papanya agar kerjasama kali ini yang tak lain dengan perusahaan milik Tuan Darendra harus berhasil. Barra pun berusaha sabar, dan akhirnya kesabarannya membuahkan hasil.


“Sekali lagi selamat dengan kerjasama yang akan kita jalin Tuan Barra!” ucap Alex sambil menjabat tangan Barra, dan Barra tersenyum menanggapinya.


“Untuk selanjutnya, kemungkinan yang sering meeting dengan anda kalau tidak saya ya Xavier. Karena Tuan Charles hanya ikut hari ini saja. Sekalian saya meminta anda untuk mengajari keponakan saya ini berbisnis.” Ucap Alex lagi.


“Baik tuan terima kasih. Dan untuk Tuan Xavier, anda tidak perlu sungkan untuk datang ke kantor kami.” Ucap Barra.


Barra dapat bernafas lega setelah mendengar penjelasan Alex kalau Tuan Charles tidak akan ikut campur tangan lagi untuk urusan kerjasama berikutnya. Barra tidak bisa membayangkan bagaimana jika terus bertemu dengan Tuan Charles. Dapat dipastikan akan ada perdebatan kolot dengan pria paruh baya seusia papanya itu.


Kini Barra dan Iqbal sudah kembali lagi ke perusahaan. Beberapa jam lagi jam kantor akan usai. Sebelum masuk ke ruangannya, Barra menyempatkan diri untuk berbelok ke ruangan bagian divisi keuangan dimana kekasihnya bekerja disana.


Cklek


Barra melihat Astrid tampak terkejut akan kedatangannya secara tiba-tiba taanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Dia tersyum lucu melihat keterkejutan kekasihnya.


“Sorry tadi aku ada meeting di luar. Padahal tadi aku ingin mengajak kamu makan siang di luar.” Ucap Barra yang kini duduk di meja kerja Astrid.


“Nggak apa-apa. Aku ngerti kok. Aku tadi makan siang di kantin bersama teman-teman.” Ucap Astrid sambil tersenyum pada Barra.


“Ya sudah aku balik dulu ya. Aku tadi hanya ingin melihat kamu karena aku merindukan kamu. Nanti kalau pulang, tunggu aku di tempat biasanya ya.” Ucap Barra sambil mengacak rambut Astrid sebelum meninggalkan ruangannya.


“Baiklah.” Jawab Astrid.


Barra sudah masuk ke ruangannya dan betapa terkejutnya dia ternyata disana ada papanya yang sedang duduk di kursi miliknya.


“Papa? Kok bisa ada disini? Bukannya Papa tadi juga keluar kota?” Tanya Barra.


“Memangnya kamu berharap perjalanan Papa memakan waktu berhari-hari dan tidak pulang?” bukan jawaban yang diberikan Vito, melainkan pertanyaan.


Barra baru ingat kalau perjalanan Papanya keluar kota memang tidak jauh dari kota J, dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan saja. Meeting yang dia lakukan tadi juga cukup lama, jadi benar saja dia tiba bersamaan dengan Papanya. Barra hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendapat pertanyaan dari papanya.


“Apa kamu berharap begitu? Jadi kamu bisa bebas melakukan apa saja, termasuk mendatangi salah satu karyawan di divisi keuangan?” Tanya Vito lagi, namun Barra hanya terdiam.

__ADS_1


“Papa harap kamu bisa bersikap profesional saat berada di kantor. Papa tunggu hasil meeting kamu dengan Tuan Charles.” Ucap Vito dan segera beranjak meninggalkan ruangan Barra.


Vito tadi memang hanya sebentar meninjau proyek yang ada di kota sebelah, jadi dia sampai kantor hampir bersamaan dengan kedatangan Barra. Kemudian dia masuk ke ruangan Barra ternyata kosong. Vito menanyakan keberadaan putranya pada Iqbal, dan Iqbal pun menjawab kalau Barra masih berada di ruangan bagian divisi keuangan.


***


Jam pulang kantor pun tiba. Barra segera keluar dari kantor dan menghampiri Astrid yang sedang menunggunya. Kali ini Barra langsung mengantar Astrid pulang ke apartemennya karena Barra sangat lelah dan butuh istirahat. Astrid pun sangat pengertian, karena memang hari ini pekerjaan Barra sangat padat.


Sesampainya di rumah, Barra segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Barra mengisi bathupnya dengan air hangat terlebih dulu dan menuangkan aroma therapy ke dalamnya. Setelah selesai, dia segera melepas pakaiannya kemudian masuk ke dalam bathup dan mulai berendam. Barra menutup matanya sambil menikmati senyuhan air hangat dengan wangi aroma therapy yang menusuk indra penciumannya. Saat Barra menutup matanya, tiba-tiba saja muncul sosok gadis yang kemarin sempat dia temui.


“Carissa!” ucap Barra seketika dan matanya terbuka lebar.


“Gila, kenapa juga aku mengingat perempuan itu.” Gerutu Barra.


Setelah itu dia segera berdiri dan membilas tubuhnya ke menggunakan shower. Kamudian dia keluar kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Dan bersiap untuk turun makan malam bersama keluarganya.


***


Sementara itu di tempat yang berbeda, Carissa juga sedang makan malam bersama mama dan papanya. Namun ada satu lagi seseorang yang ikut makan malam bersama dengan Carissa dan keluarganya. Carissa sangat senang karena makan malam kali ini ditemani sang kekasih.


“Lancar Om. Hanya saja akhir-akhir ini agak sibuk dan sering keluar kota.” Jawab Dhefin.


Ya, Dhefin adalah kekasih Carissa. Hubungan mereka sudah terjalin selama kurang lebih satu tahun. Dhefin sangat kagum dengan sosok Carissa yang begitu lemah lembut, mandiri, dan juga sangat dewasa. Hubungan mereka berdua sudah mendapat lampu hijau dari kedua orang tua Carissa dan juga Papa Dhefin. Namun keduanya tidak ingin terburu-buru untuk menikah. Mereka masih menikmati kesibukan masing-masing.


Setelah makan malam, Carissa dan Dhefin memutuskan untuk bersantai di teras depan rumah sambil menikmati udara malam hari.


“Maaf Ris, kemarin aku tidak bisa menemani kamu karena Papa mendadak mnyuruhku pergi keluar kota.” Ucap Dhefin.


“Ya, nggak apa-apa kok Mas.” Jawab Carissa.


“Oh iya, selamat buat kamu karena menang dalam peragaan busana kemarin. Aku ikut bangga dengan prestasi yang kamu raih.” Ucap Dhefin.


Carissa tersenyum mendapatkan ucapan selamat dari kekasihnya. Inilah yang disukai Carissa dari seorang Dhefin. Selalu mendukung apapun yang dia lakukan selagi itu baik dan berbau hal positif. Dhefin bahkan tidak pernah mengekang dirinya.

__ADS_1


“Minggu depan sepertinya aku free dan weekend tidak harus lembur dan bepergian keluar kota. Bagaimana kalau kita jalan? Sekalian aku juga akan bertemu dengan sahabat lamaku. Nanti akan aku kenalkan kamu dengannya.” Ucap Dhefin.


“Iya, aku ngikut saja kemana Mas mau mengajakku asal tidak menculikku.” Jawab Carissa menggoda Dhefin.


“Maunya sih aku culik sekalian dan tidak aku pulangkan. Namun sayang yang diculik belum siap.” Jawab Dhefin sambil mencubit pipi Carissa gemas.


“Bukannya kita sudah sepakat ya Mas? Kok kesannya hanya aku saja yang meminta menunda hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.” Ucap Carissa sambil cemberut.


“Hei kok cemberut gitu sih. Aku hanya bercanda Sayang. Maafkan aku. iya memang kita yang sepakat kok. Pekerjaanku juga masih begitu padat. Aku juga nggak mau kita buru-buru nikah dan kamu sering aku tinggalin ke luar kota. Sudah jangan cemberut lagi dong. Aku minta maaf.” Ucap Dhefin merasa bersalah.


“Iya, Mas nggak apa-apa kok. Aku maafin.” Ucap Carissa.


Setelah obrolannya dengan Carissa, Dhefin memutuskan untuk pulang karena waktu sudah malam. Dia berpamitan dulu pada kedua orang tua Carissa.


“Ya sudah aku pulang dulu ya Sayang. Jangan merindukan aku.” Pamit Dhefin sambil menggoda Carissa.


“Ih pede banget sih. Ya sudah buruan sana pulang. Hati-hati di jalan.” Ucap Carissa.


“Loh kok jadi ngusir sih?”


“Iya, biar aku segera merindukan kamu Mas.”


“Ciee udah pinter ngegombal nih sekarang.” balas Dhefin dan berhasil mendapat cubitan di perutnya dari Carissa.


.


.


.


*TBC


Tuh kan😂😂

__ADS_1


Semoga masih setia ya sama cerita ini. yah meskipun sdh ketebak. tp dijamin tetap seru lho. percaya deh✌️✌️😂😂


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya🤗😘😘


__ADS_2