
“Iya aku kenal. Kay adalah mantan kekasihku.”
Deg
Ketiga orang tersebut sangat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Rey. Kay yang merasa tidak enak hati dengan Stefi berusaha untuk memberi penjelasan.
“Ah maaf Stef, itu hanya masa lalu. Kamu tahu kan kalau sebentar lagi aku juga akan menikah.” Ucap Kay.
“Biasa aja Kay, lagian kita juga hanya dijodohkan dan tidak saling cinta.” Ucap Stefi kemudian.
Delia dan Radit dengan cepat menarik tangan Kay untuk secepatnya turun dari pelaminan. Karena tidak enak dengan tamu lain yang masih menunggu di belakangnya. Kay hanya menganggukkan kepalanya pada Stefi untuk segera pamit.
Tapi Kay sama sekali tidak menatap wajah Rey.
Kay nggak habis pikir kalau Rey akan mengatakan hal itu. Bukannya waktu perpisahan dulu Rey meminta Kay agar tetap menjadi temannya. Tapi mengapa Rey harus mengatakan bahwa Kay adalah mantan kekasihnya. Bukannya hanya cukup mengatakan teman saja.
Kay masih merasa tidak enak hati jika nanti akan bertemu dengan Stefi di lain kesempatan. Kay takut kalau Stefi menganggap dirinya masih mencintai Rey. Begitupun juga Rey. Padahal selama ini Kay tidak pernah mencintai Rey. Hanya Vito yang ada di hati Kay.
“Ayo lebih baik kita pulang saja!” ajak Radit pada istri dan anaknya.
Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan hotel. Kay meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Vito. Kemudian Kay menyimpan lagi ponselnya. Mungkin nanti setelah sampai rumah, Kay akan menghubungi Vito.
Beberapa saat kemudian Kay dan kedua orang tuanya sudah sampai rumah. Kay masuk ke kamarnya dan segera menghubungi Vito.
“Halo Kak?”
“Dari mana saja? Kamu tahu ada berapa panggilan yang masuk ke ponsel kamu?”
“Iya Kak. Maaf aku tadi ada acara-“
“Bisa nggak Kay kalau mau pergi kemana atau ada acara apapun kamu bilang ke aku?”
“I iya Kak, maaf”
“untung saja tadi aku hubungi Nathan. Dan Nathan bilang kalau kamu sedang pergi ke acara pesta pernikahan. Memangnya pernikahan siapa sih?”
“Rey” ucap Kay spontan dan segera menutup mulutnya.
__ADS_1
Vito meradang saat mendengar Kay menyebut nama pria masa lalunya. Kenapa Kay harus mengahdiri pesta pernikahan Rey. Apakah Kay sebenarnya memiliki perasaan pada Rey. Tapi dia memendam rasa itu.
“Maaf Kak, maksud Kay pernikahan Stef-“
Tut tut tut..
Vito memutus panggilannya dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia benar-benar kacau saat mendengar nama “Rey”. Vito takut jika Rey diam-diam merebut Kay darinya meskipun pria itu sudah menikah.
Malam ini juga Vito menghubungi seseorang untuk mencari tahu informasi tentang Rey. Dan Vito juga memutuskan untuk terbang ke kota B. dia takut sekali kehilangan Kay.
Sementara itu Kay merutuki kebodohannya karena tidak sengaja menyebut nama “Rey”. Kay benar-benar bingung menghadapi Vito. Dia berusaha menelepon kembali tapi Vito tidak mengangkatnya. Akhirnya Kay memutuskan untuk tidur saja. Mungkin besok dia akan mencoba menghubungi Vito lagi dan meminta maaf.
Keesokan paginya Kay sudah bangun dari tidurnya. Dia melihat ponselnya untuk mengecek pesan yang dikirim pada Vito apakah sudah ada balasan. Tapi sayangnya pesan itu dibalas oleh Vito. Bahkan dibaca saja belum. Tidak ambil pusing, Kay segera masuk ke kamar mandi.
“Mom, Kay langsung ke butik saja ya. Nanti Kay sarapan disana saja.” Pamit Kay padaa Delia yang sedang mempersiapkan makanan di meja makan.
“hati-hati Sayang!” jawab Delia dan mencium kedua pipi Kay bergantian.
Hari ini Kay harus segera menyelesaikan baju pengantinnya. Jadi dia harus pagi-pagi sekali datang ke butik.
Ceklek
Hhhppp…..
Saat baru masuk ruangannya tiba-tiba ada seseorang dari balik pintu membekap mulut Kay. Kaya sangat terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba ada di ruangannya itu. Kay berusaha minta tolong namun mulutnya tidak bisa berteriak. Orang itu melepaskan tangaannya yang tadi membungkam mulut Kay dan membalikkan tubuh Kay. Kay melotot tak percaya dengan orang yang saat ini ada di hadapannya.
“Kak Vit- hmmmpppp”
Dengan cepat Vito membungkam mulut Kay dengan bibirnya. Vito ******* bibir ranum Kay dengan kasar. Dia terus mengeksplor rasa manis pada bibir Kay. Bibir yang untuk kedua kalinya ia cium.
Vito tidak mempedulikan Kay yang terus memberontak. Dia sangat kacau sekali setelah mendengar kabar dari orang suruhannya bahwa memang benar Rey tadi malam melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis yang juga berasal dari kota ini. Awalnya Vito lega akhirnya Rey menikah meskipun secepat itu. Yang penting sudah bisa melupakan Kay. Namun saat orang suruhannya mengatakan bahwa pernikahan Rey adalah perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya, Vito jadi semakin takut jika nanti Rey masih berusaha merebut Kay dari tangannya.
“Awww”
Pekik Vito saat Kay menginjak kaki Vito. Dan seketika itu Vito melepaskan tautan bibirnya yang tadi sudah ******* bibir Kay dengan kasar. Nafas Kay tersengal. Dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Setelah mampu menormalkan pernafasannya, Kay meraih tisu yang ada di atas mejanya untuk mengelap lipstiknya yang belepotan akibat ulah Vito. Kemudian dia berjalan menuju tempat duduknya.
__ADS_1
“kenapa? Kamu nggak suka aku datang kesini?” Tanya Vito datar.
Kay diam saja. Dia tidak menyangka kalau sikap Vito benar-benar berubah. Tidak seperti saat masih berstatus adik kakak dulu.
“Suka Kak.” Jawab Kay.
“tapi kenapa kamu tidak bersemangat? Apa karena kamu masih bersedih setelah ditinggal mantan kekasih kamu menikah?” Tanya Vito sinis.
“Kak, aku datang ke pesta itu karena undangan Stefi. Dia anak dari teman Mommy. Aku juga nggak tahu kalau mempelai prianya itu Rey. Aku juga datangnya nggak sendirian. Aku datang sama Daddy dan Mommy.” Ucap Kay panjang lebar.
Vito diam saja. Dia mengacak rambutnya kemudian duduk di sofa yang ada ruangan Kay. Meskipun Kay sudah menjelaskan yang sebenarnya, Vito masih saja cemas dengan pemikirannya sendiri.
Kay mengambil ponselnya dan menghubungi satpam untuk membelikan makan buat dirinya dan juga Vito. Kay yakin kalau Vito belum makan.
“Nih Kak, minum dulu!” Kay memberikan segelas air putih pada Vito.
Tanpa menjawab, Vito segera mengambil gelas itu dan meminumnya dengan sekali tegukan langsung habis.
“Apa Kak Vito masih meragukan Kay?” Tanya Kay, dan lagi-lagi Vito tidak menjawabnya.
Kay menarik nafas panjang. Benar-benar pusing dengan sikap Vito yang seperti ini.
“Kak Vito diam itu berarti jawabannya iya. Kak Vito masih meragukan Kay. Baiklah Kak, aku tidak lagi melanjutkan design baju pengantin kita. Kita batalkan saja pernikahan ini!” ucap Kay dan segera pergi meninggalkan Vito.
Deg
Vito terkejut dengan perkataan Kay. Apakah Kay mengatakan itu dengan serius. Dengan cepat Vito berdiri dan menarik tubuh Kay ke dalam pelukannya.
“Aku mohon Kay jangan katakan itu lagi. Aku sangat mencintaimu. Jangan batalakan pernikahan kita. Aku tidak meragukan perasaan kamu. Maafkan aku!!” ucap Vito masih dengan memeluk tubuh Kay dengan erat.
.
.
.
*TBC
__ADS_1