Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 241


__ADS_3

Setelah Barra memakai baju yang sudah disiapkan oleh istrinya, dia segera duduk bergabung dengan Carissa untuk makan malam. Mereka berdua makan tanpa bicara. Hanya sesekali terdengar dentingan sendok dengan piring yang terdengar. Selesai makan, Carissa meminta pihak hotel untuk membereskan sisa makanannya. Sementara itu Barra terlihat sedang berbicaara dengan seseorang melalui sambungan telepon dan pergi ke balkon.


“Sekali lagi terima kasih Om Bram.” Ucap Barra setelah itu memutuskan sambungan teleponnya.


Barra bisa bernafas lega karena Astrid dan Mamanya sudah dibawah keluar pulau oleh anak buah Bram. Sebelum pernikahannya berlangsung, memang Barra sedikit khawatir akan kedatangan Astrid atau mamanya yang akan menghancurkan acara. Untung saja Papanya juga sudah mempersiapkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi dengan memperketat penjagaan dan memberikan foto Melly dan juga Astrid agar tidak sampai masuk ke ballroom.


Barra selesai menerima panggilan telepon dari Bram kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat istrinya sedang duduk di bibir ranjang dan terlihat seperti kebingungan.


“Ada apa?” Tanya Barra.


“Ehm, Kak Barra silakan tidur disini, biar aku yang tidur di sofa.” Ucap Carissa pelan.


Carissa berpikir tidak mungkin jika dirinya tidur satu ranjang dengan suaminya. Meskipun dirinya perlahan sudah bisa menerima Barra namun untuk tidur satu ranjang masih belum siap terlebih untuk melakukan kewajibannya. Carissa masih sedikit dihantui bayang-bayang perbuatan Barra kala itu.


“Nggak apa-apa kamu saja yang tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa.” Ucap Barra.


Sebenarnya Barra kecewa dengan ucapan Carissa yang tidak mau tidur satu ranjang bersama. Tadinya dia sudah merasa senang saat melihat perhatian istrinya. Dan Barra pikir Carissa sudah mulai bisa menerimanya. Akhirnya Barra mencoba untuk melapangkan hatinya bahwa istrinya memang belum sepenuhnya bisa menerima dan memaafkannya.


“Jangan! Kak Barra masih sakit. Jangan tidur di sofa.” Ucap Carissa.


Kemudian Barra berlutut di hadapan Carissa dan membuat perempuan itu sangat terkejut. Barra memegang lembut tangan istrinya dan menatapnya lembut penuh cinta. Namun Carissa membuang muka.


“Carissa, aku tahu kamu masih takut. Tapi percayalah aku tidak akan melakukan itu. Bukannya aku sudah berjanji dan meminta waktu pada kamu selama satu tahun untuk memperbaiki kesalahanku. Aku janji tidak akan menyentuh kamu selama waktu yang tel-“


“Kak! Maafkan aku. aku belum bisa menjadi istri yang baik.” Ucap Carissa cepat memotong perkataan suaminya.


Carissa tertunduk sedih disertai isakan karena dirinya merasa bersalah lantaran belum bisa jadi istri yang baik. Selama ini memang dia akui kalau dirinya egois. Namun entah kenapa dia masih takut jika mengingat perbuatan Barra saat itu.


“Hei, jangan menangis. Kamu mau menerima pernikahan ini dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku saja sudah seperti anugerah tersendiri bagiku.” Ucap Barra berusaha menenangkan Carissa yang masih terisak.


“Kak. Selama ini memang aku egois. Maafkan aku. aku bisa melihat cintamu yang begitu besar. Aku mencabut pernyataan kamu yang meminta waktu satu tahun itu. Tapi dengan syarat.” Ucap Carissa.

__ADS_1


“Apa?” Tanya Barra.


“Maaf, aku belum bisa memberikan hakku sebagai seorang istri. Aku mohon beri aku waktu. Aku sudah memaafkan kesalahan Kak Barra.” Ucap Carissa.


Barra yang mendengarnya sangat bahagia. Carissa sudah bisa memaafkannya tanpa perlu menunggu waktu satu tahun. Dan jika mengenai haknya sebagai istri, Barra tidak mempermasalahkannya. Dia mengerti kalau istrinya memang butuh waktu.


“Terima kasih Carissa. Aku sangat senang mendengarnya. Dan untuk hal itu, kamu tenang saja. Aku nggak akan memaksa. Aku akan memberi kamu waktu selama apapun kamu mau.” Ucap Barra. Dan Carissa hanya bisa mengangguk sambil menyeka air matanya.


“Ya sudah kalau begitu kita tidurnya di ranjang saja. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan melakukan sesuatu.” Lanjut Barra.


Akhirnya Carissa mengangguk setuju, meski tidurnya dengan posisi sama-sama menepi.


Keesokan paginya mereka berdua bangun dalam posisi yang masih sama dan tidak terjadi apapun. Carissa memilih untuk masuk ke kamar mandi terlebih dulu karena dirinya masih belum terbiasa berada satu kamar dengan seorang laki-laki.


Hari ini mereka berdua memutuskan pulang ke rumah. Barra menuruti keinginan istrinya yang memintanya untuk pulang dan tinggal di rumah Papanya. Karena Carissa kasihan dengan Papanya yang nantinya akan kesepian jika dirinya tinggal bersama suaminya. Sebenarnya sebagai seorang istri harusnya Carissa menurut dengan suaminya. Tapi beruntungnya Barra sangat mengerti, mengingat Papa mertuanya baru saja tinggal bersama putrinya selama beberapa tahun terpisah.


Selesai mandi dan melakukan sarapan bersama di dalam kamar hotel, Barra segera mengajak istrinya pulang. Karena sopirnya sudah menunggu.


Barra mencium tangan Papa mertuanya dengan takzim. Setelah itu bergantian pada Opa Angga dan Oma Viviane. Terakhir dengan Alex dan istrinya.


“Wah, pengantin baru langsung pulang saja nih pagi-pagi.” goda Alex.


Wajah Barra dan Carissa sama-sama bersemu merah karena malu. Memangnya kenapa nggak langsung pulang, lagi pula tidak ada yang bisa dikerjakan. Bahkan Barra juga belum menerima haknya sebagai seorang suami. Jadi lebih baik memang berkumpul dengan keluarga saja.


“Sudah ah Mas, jaangan ganggu mereka berdua. Tuh lihat mukanya merah kayak kepiting rebus.” Ucap Nara menimpali suaminya.


Sedangkan Charles yang memang irit bicara hanya diam saja tanpa berkomentar. Dia melihat wajah anak perempuannya sudah bahagia seperti ini saja membuatnya sangat lega, dibandingkan dengan sebelum menikah. Charles sangat khawatir jika anaknya menikah karena terpaksa atau tertekan. Tapi sayangnya melihat wajah cerah Carissa, Charles jadi lega.


Setelah itu Carissa masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan kopernya. Barra juga mengikuti langkah kaki istrinya. Ini adalah pertama kalinya Barra masuk kamar Carissa. Kamar yang begitu luas dengan ukuran hampir sama dengan kamarnya. Kamar itu juga terlihat sangat nyaman karena balkonnya langsung menghadap taman bunga yang ada di belakang rumahnya.


Selesai meletakkan kopernya, Carissa dan Barra kembali lagi turun dan bergabung dengan keluarganya yang sedang bercengkrama di ruang keluarga.

__ADS_1


“Kalian berdua mau bulan madu kemana?” Tanya Opa Angga.


“Kalian pilih saja tempat yang kalian mau. Karena Opa dan Oma yang akan membelikan tiket sekaligus membaiayai semua biaya akomodasinya. Anggap saja ini kado pernikahan kalian dari Opa dan Oma.” Tambah Oma Viviane.


“Ehm, maaf Oma, Opa. Mungkin saat ini kami belum membutuhkan itu semua. Kami menunda bulan madu dulu.” Ucap Barra merasa tidak enak.


“Benar Oma, Opa. Karena Viera juga sangat sibuk di butik. Bukankah sebentar lagi pembukaan butik baru Viera? Lagi pula Kak Barra juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Oma dan Opa nggak usah khawatir, pasti nanti kita akan berangkat bulan madu.” Lanjut Carissa.


Akhirnya Opa dan Oma mereka hanya bisa pasrah dengan kemauan cucunya. Sedangkan Charles juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Memang benar, butik baru Carissa sebentar lagi akan dibuka. Jadi, pasti akan membuat Carissa sibuk.


“Permisi Tuan. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan.” Ucap salah satu pembantu.


“Siapa Bi?” Tanya Charles.


“Seorang wanita Tuan. Bibi tidak tahu namanya. Bibi sudah mengusirnya karena Bibi kira orang itu salah alamat.” Ucap si pembantu.


“Memangnya dia ingin bertemu siapa Bi?” Tanya Charles dengan kening berkerut.


“Orangnya bilang ingin bertemu dengan Mas Andra.”


Deg


Semua orang terdiam dengan raut wajah terkejut. Kecuali Barra, Carissa, dan Xavier.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2