
Hari ini Kay sudah diperbolehkan pulang. Setelah menjalani perawatan selama 3 hari akhirnya dokter sudah menyatakan kalau Kay sudah sembuh. Namun untuk Carissa, masih memerlukan beberapa waktu lagi untuk tetap berada di rumah sakit. Mengingat luka yang dialami cukup serius dan membutuhkan waktu sedikit lama untuk proses penyembuhannya.
Kay pulang dijemput oleh suaminya, karena Barra sedang sibuk di kantor. wanita paruh baya itu tampak bahagia karena sebentar lagi akan mempunyai menantu yang sejak dulu sangat dia idam-idamkan.
“Sayang kamu istirahat dulu ya.” Ucap Vito.
“Nggak Mas, di rumah sakit sudah cukup banyak waktuku untuk istirahat. Aku disini saja.” Jawab Kay kemudian duduk di ruang tengah.
Vito pun akhirnya menemani istrinya untuk bersantai di ruang tengah. Hari ini dia juga sengaja tidak pergi ke kantor, dan menyerahkan semua pekerjaannya pada Bram.
“Mas, aku senang sekali akhirnya Carissa akan menjadi menantu kita.” Ucap Kay.
“Iya, aku juga senang. Taapi sepertinya perjuanagn Barra akan sangat sulit mendapatkan hati Carissa meski mereka akan menikah.” Ucap Vito.
“Mas jangan bilang seperti itu. Kita doakan saja yang terbaik buat mereka. Aku sangat yakin kalau Barra pasti bisa memperjuangkan itu semua.” Ucap Kay.
Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba saja seorang art menghampiri dan mengatkan kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan majikannya. Kay dan Vito akhirnya menuju ruang tamu.
“Rey?” ucap Vito.
“Nyonya Keysa? Ayo silakan duduk kembali.” Ucap Kay.
Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu. Vito dan Kay tidak tahu maksud kedatangan Rey dan istrinya. Namun setelah Rey mengatakan bahwa kedatangannya adalah untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan oleh Dhefin pada Kay.
Kay dan Vito sangat terkejut saat mengetahui bahwa yang menyebabkan kecelakaan tempo hari adalah Dhefin. Memang saat itu Vito menyerahkan semuanya pada pihak berwajib. Hanya saja dirinya belum sempat untuk mendatangi kantor polisi untuk meminta keterangan tentang pelaku penabrakan itu.
“Maafkan aku Vit, aku gagal mendidik anakku. Aku gagal menjadi orang tua.” Ucap Rey.
Baik Vito maupun Kay tidak bisa lagi mengucapkan sesuatu. Mereka berdua masih tidak menyangka jika Dhefin sampai melakukan hal seperti itu.
“Aku mohon maafkan perbuatan Dhefin. Dia juga sudah menjalani proses hukum yang berlaku.” Ucap Rey.
“Maaf bukan aku tidak mau memaafkan perbuatan Dhefin. Aku hanya tidak menyangka saja kalau Dhefin sampai nekat seperti itu. Apa kamu tahu kalau Dhefin justru melukai mantan kekasihnya?” ucap Vito.
“Iya aku tahu. Dhefin sudah menyesali semua perbuatannya. Biarkan dia menjalani hukumannya.” Jawab Rey.
“Semoga saja mata hati Dhefin terbuka setelah kejadian ini.” ucap Vito.
__ADS_1
“Jadi apa Tuan Vito dan Nyonya Kay mau memaafkan kesalahan anak kami?” Tanya Keysa.
“Buat apa kita menaruh dendam pada Dhefin yang sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Kami memaafkannya.” Jawab Kay.
Rey dan istrinya merasa sangat lega setelah mendengar Vito dan Kay telah memaafkan kesalahan ankanya. Rey juga sudah berlapang dada agar Dhefin menjalani hukumannya sesuai prosedur yang berlaku. Setelah itu Rey dan Keysa berpamitan pulang.
***
“Bagaimana keadaan kamu Sayang?” Tanya Silvia yang kini sedang berada di ruang rawat Carissa.
“Rissa sudah sehat Ma, Pa. malah Carissa ingin cepat pulang.” Jawab Carissa.
“Ikuti saja perintah dokter. Kalau memang sudah sembuh total pasti kamu diperbolehkan pulang.” Ucap Adnan.
“Ma, Pa apa kalian masih menganggap Rissa sebagai anak Mama dan Papa?” Tanya Carissa sendu.
Semenjak tahu kebenaran bahwa dirinya hanyalah anak angkat dari Silvia dan Adnan, Carissa merasa sangat bersedih. Dia takut kehilangan kasih sayang dari kedua oraang tua angkatnya. Meski keluarga kandungnya selalu melimpahkan kasih sayang yang melebihi apapun. Carissa takut kedua orang tua angkatnya tidak akan lagi menganggap sebagai anaknya lagi.
“Sayang, kamu bicara apa sih? Mama dan Papa akan tetap menyayangi kamu sama seperti dulu. Dan selamanya akan menyayangi kamu. Walau kamu nanti tidak akan tinggal lagi serumah dengan Mama dan Papa.” Ucap Silvia yang sudah tidak tahan menahan air matanya terjatuh.
“Benar apa yang dikatakaan oleh Mama kamu. Kami akan selalu menyayangi kamu Nak. Kamu boleh tinggal di rumah Mama dan Papa jika nanti kamu merindukan tempat dimana kamu dibesarkan.” Ucap Adnan.
“Terima kasih Ma, Pa.” jawab Carissa.
Seharian ini Silvia dan Adnan menemani Carissa di rumah sakit. Itu semua karena permintaan Carissa sendiri. Charles pun mengijinkannya, karena dia juga hari ini sangat sibuk dengan dengan perusahaan. Dan mengurus administrasi kepulangan mertuanya yang sudah sembuh setelah beberapa hari dirawat karena sakit asam lambungnya kambuh.
***
Hari ini Barra sedang meeting dengan Xavier untuk membahas pembangunan proyek baru di kota Z. Barra terlihat tidak fokus.
“Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan ideku?” Tanya Xavier tiba-tiba.
Sejak tadi Xavier berbicara panjang lebar menuangkan ide pemikirannya. Dan saat menanyakan pendapatnya pada Barra, laki-laki itu tampak tidak konsentrasi.
“Bar!” panggil Xavier dengan nada tinggi.
“Iya maaf.” Jawab Barra.
__ADS_1
“Harusnya kamu bisa bersikap profesioanl. Jangan bawa-bawa masalah pribadi kamu saat bekerja seperti ini.” ucap Xavier kesal.
“Iya, maafkan aku.” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Barra.
“Iqbal, sebaiknya untuk meeting selanjutnya kamu saja yang datang, SENDIRI.” Ucap Xavier sambil menekankan kata sendiri.
Setelah itu Xavier segera keluar dari sebuah ruang VVIP sebuah restaurant dimana dirinya sedang meeting dengan Barra. Xavier sangat kesal dengan Barra yang sangat tidak profesional saat meeting akhir-akhir ini.
Pyarr
Xavier berjalan tergesa-gesa keluar dari restaurant dan tanpa sengaja dia menabrak seorang pelayan yang sedang membawa minuman. Kemudian minuman itu tumpah dan mengenai seseorang yang sedang berjalan dekat dengan pelayan itu.
“Maaf!” Ucap Xavier saat menyadari bahwa orang yang kena tumpahan minuman itu adalah adik Barra.
Jenny hanya mengangguk kemudian membersihkan noda minuman pada bajunya dengan menggunakan tisu. Karena nodanya sulit hilang, akhirnya Jenny pergi ke toilet.
“Maaf, akan saya ganti semuanya.” Ucap Xavier pada pelayan yang sedang memunguti pecahan gelas.
Kemudian Xavier mengikuti langkah kaki Jenny ke toilet. Dia merasa sangat bersalah. Karena kecerobohannya hingga menyebabkan orang lain kena dampaknya.
Xavier menunggu Jenny di luar toilet. Karena tidak mungkin dia masuk ke dalam toilet perempuan. Beberapa saat kemudian Jenny keluar dari toilet dan tersentak kaget saat melihat Xavier berdiri di depan toilet.
“Kak?” ucap Jenny bingung.
“Ehm, Maaf aku akan mengganti baju kamu yang kena noda.” Ucap Xavier.
“Nggak usah Kak. Nanti dicuci psti nodanya akan hilang.” Tolak Jenny.
“Ketik no ponsel kamu.” Ucap Xavier tanpa mempedulikan penolakan Jenny.
Setelah itu Xavier segera pergi meninggalkan Jenny setelah mendapatkan no ponselnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC