Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 13 Dejavu


__ADS_3

Hari ini hari terakhir Radit berada di kota kelahirannya. Karena nanti siang dia sudah harus kembali membantu pekerjaan papanya. Semalam papanya menelpon, menyuruh agar segera balik karena papanya akan ada pertemuan penting dengan klien sekaligus pulang menemui istri tercintanya.


Sejak pagi tadi Radit sudah berada di apartemen Viviane. Hari ini Viviane juga free tidak ada jadwal bimbingan. Dan semenjak Viviane memasuki semester 8, dia memutuskan untuk resign dari kerjaannya. Agar bisa fokus dengan skripsinya. Untuk kebutuhan sehari-harinya Radit lah yang mencukupi. Sebenarnya dia tidak mau, tetapi memgingat sifat Radit yang tidak suka penolakan akhirnya Viviane menerimanya.


Sekarang Radit sedang bermanjaan dengan Viviane di dalam kamar dengan menghadap ke balkon kamarnya. Radit memeluk Viviane dari belakang, tangannya melingkar di perut Viviane sambil memberi kecupan lembut di leher Viviane.


“Sayang, nanti aku pulangnya agak lama ya. Mungkin 3 bulan lagi baru bisa pulang” ucap Radit pada Viviane. “yahhh bakal kangen dong kalau lama pulangnya” rengek Viviane. “Sabar ya sayang, nanti waktu kepulanganku, aku mau kita tunangan dan setelah kamu lulus baru kita menikah” ucap Radit menenangkan. Viviane agak terkejut dengan rencana yang dikatakan Radit bahwa mereka akan bertunangan 3 bulan lagi dan setelah lulus akan menikah. Bukan Viviane tidak mau tetapi dia ingin sekali melanjutkan studinya S2. Jadi dia tidak mau terburu-buru untuk menikah. Tetapi dia tidak berani mengatakannya pada Radit. Mungkin tidak sekarang tapi nanti dia akan mengatakannya.


Melihat reaksi Viviane hanya diam saja, Radit langsung membalikkan tubuh Viviane agak mereka bisa berhadapan.

__ADS_1


Radit mengangkat dagu Viviane, “sayang, kamu mau kan menikah denganku?” tanya Radit. Belum sempat Viviane menjawab, Radit sudah meraup bibir seksi Viviane dengan rakus. Mereka terus berpagut seakan memiliki banyak stok oksigen. Hingga tatapan Radit berupa tatapan penuh gairah. Sesaat Radit melepaskan pagutannya. “Sayang.. Aku ingin kamu...” lirih Radit sambil melepas blouse atasan Viviane.


Viviane pun merasakan juga merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya pertanda menerima ajakan Radit. Dengan mata terprjam, Viviane hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk melanjutkan permainan yang lebih dalam. Radit memagut bibir Viviane lagi, hingga decapan-decapannya terdengar seisi kamar.


Radit melepas ciumannya dan beralih ke leher jenjang Viviane. Kecupan lembut itu berubah menjadi ganas hingga membentuk banyak kiss mark. Viviane hanya melenguh, mendesah menahan gairahnya. Viviane pun juga mengikuti arus permainan Radit yang semakin memabukkan.


Hingga tiba-tiba Viviane tanpa sengaja melihat jam dinding di kamarnya. Dia baru ingat kalau Delia akan datang ke apartemennya jam 9. Buru-buru Viviane melepaskan diri dari jeratan Radit. Tapi tidak dengan Radit. Viviane berusaha menghentikannya. “ baby... Nanti kita lanjut lagi ya karena Delia sebentar lagi mau kesini, dia mau antar barang pesananku” bisik Viviane di telinga Radit. Sebenarnya Radit tidak peduli dengan alasan Viviane, dia menulikan pendengarannya. Tapi saat Viviane menyebutkan nama Delia, Radit langsung menghentika aktifitasnya. Pikirannya mendadak kacau hanya dengar nama Delia disebut.


Delia tadi tidak berpikir akan apa yang terjadi di dalam apartemen Viviane. Ketika tau pintunya terbuka, dia langsung masuk. Dan saat sudah sampai di depan pintu kamar Viviane, Delia tidak percaya dengan suara-suara laknat yang dia dengar. Dia merasa dejavu. Mengingat peristiwa penghianatan yang dialaminya beberapa tahun silam. Saat ada sosok laki-laki yang baru saja keluar dari kamar Viviane dengan tampilan yang acak-acakan, dia semakin terkejut dan segera melarikan diri.

__ADS_1


Buru-buru Radit mengejar Delia. Tapi sebelum itu, dia berpesan pada Viviane kalau dia akan keluar sebentar dan melarangnya untuk keluar sebelum dia kembali lagi. Dengan langkah cepat setengah berlari, Radit mengejar Delia. Seakan tau kemana arah Delia pergi, Radit langsung menuju basement apartemen. Dan benar dugaannya, tepat disamping sebuah mobil dia mendengar suara seseorang sedang menangis tetgugu.


“Tuhan.... Mengapa rasanya sakit sekali. Mengapa engkau mengingatkan aku kejadian seperti ini lagi. Ini salahku Tuhan bukan salah mereka karena aku yang telah lancang dan berani mencintai kekasih sahabatku sendiri” Ucap Delia sambil terus terisak dan menahan kuat rasa sesak di dadanya.


“deg” Radit mendengarkan itu semua. Mendengarkan semua pengakuan Delia yang selama ini ia pendam sendirian. Radit semakin kacau. Tidak tau apa yang harus ia perbuat. Dia juga bingung dengan perasaannya pada Delia. Apakah sama?.


Radit akhirnya datang mendekati Delia. Dia sangat tetkejut dan tidak menyangka akan kehadiran Radit saat ini. Dia langsung berdiri dan mengusap air matanya berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan yang sesungguhnya. Delia langsung meraih handle pintu mobilnya untuk masuk dan segera meninggalkan Radit. Tapi dengan cepat meraih tangannya dan langsung memeluk Delia. Pelukan yang hangat dan menenangkan, sampai membuat dia terbuai.


Setelah sadar akan kesalahannya, dia langsung melepaskan diri dari pelukan Radit. “maaf... Jika kamu sudah mendengarkan semua tadi, anggap saja kamu tidak mendengarkannya. Dan mulai detik ini juga aku berharap tidak bertemu denganmu lagi, dan aku akan menjaga jarak dengan Viviane. Maaf!” Delia segera masuk mobil dan meninggalkan Radit yang masih terdiam. Saat mobil Delia sudah jauh dari pantauannya, dia baru menyadarinya. “aku nggak akan membiarkan kamu menjauhi diriku DELIA” gumamnya

__ADS_1


*jempolnya jangan lupa ya guys, biar _author newbie_ tambah semangat😘😘


__ADS_2