
Beberapa hari sejak kejadian itu, Barra meilih untuk menjauhi Carissa sementara waktu. Memang benar yang dikatakan oleh Mamanya. Dirinya harus bersabar untuk mendapatkan hati Carissa. Dan dengan cara inilah Barra akan memenangkan hati Carissa. Sebenarnya dia tidak tahan untuk tidak dekat Carissa. Namun jika saat ini terlalu dekat dengan perempuan itu, yang ada malah Carissa beranggapan bahwa dirinya dicap sebagai perebut kekasih orang.
Sebenarnya tidak menjauh sepenuhnya. Hanya saja Barra berusaha bersikap biasa saja jika tanpa sengaja bertemu dengan Carissa. Secara Carissa saat ini sedang dekat dengan Jenny. Jadi terkadang tanpa sengaja mereka juga bertemu.
Sementara itu hubungan Carissa dengan Dhefin masih seperti biasa. Memang beberapa hari yang lalu sejak peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh Barra pada Dhefin. Laki-laki itu belum berani bertemu dengan Carissa karena masih ada luka memar di wajahnya. Dhefin beralasan sedang dalam perjalanan bisnis keluar kota. Dan Carissa pun mempercayainya.
Sekarang luka di wajah Dhefin sudah sembuh dan sudah tidak menampakkan bekasnya lagi. Jadi dia bisa bertemu kembali dengan Carissa. Dan Dhefin merasa lega karena selama beberapa hari berhasil menghindar dari Papanya. Ditambah lagi hari ini Papanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri. Jadi Papanya belum tahu menahu tentang masalah anaknya.
“Aku akan tetap membalaskan dendam mamaku padamu Bar. Gara-gara mama kamu, mamaku menjadi menderita selama menikah dengan Papa. Bahkan sampai mama meninggal. Nyawa harus dibayar nyawa.” Gumam Dhefin penuh amarah.
Dhefin kembali mengingat saat beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku kuliah. Saat itu dia sedang berkunjung ke rumah mendiang Opanya yang memang tidak ada yang menempati. Dan nantinya rumah itu memang akan menjadi milik Dhefin.
Dhefin masuk ke kamar mendiang mamanya. Dia melihat potret wajah mamanya yang menempel di dinding kamar. dan saat Dhefin tanpa sengaja membuka laci meja rias, disana ada sebuah buku yang diyakini sebuah buku diary yang tampak usang.
Dari situlah Dhefin menaruh dendam dengan Barra. Dia tidak terima karena mama Barra yang telah membuat mamanya hidup menderita. Dalam buku diary itu tertulis bahwa Stefi tidak pernah mendapatkan perhatian sedikit pun dari sang suami selama hamil. Hal itu dikarenakan masih ada nama wanita yang sangat dicintainya yaitu Kay.
Dhefin membaca buku diary itu sampai terakhir sebelum mamanya melahirkan dirinya setelah itu meninggal. Dia tidak bisa melihat perjuangan Papanya semenjak Mamanya meninggal yang sebagai orang tua tunggal sampai usianya genap 6 tahun. Hati Dhefin sudah terlalu ditutupi oleh dendam dan amarah.
***
“Mas? Sudah pulang?” Tanya Carissa saat melihat Dhefin datang ke butiknya.
“Sudah. Makanya aku langsung datang kesini. Karena aku sangat merindukan kamu.” Jawab Dhefin.
“Ayo kita jalan sekalian makan siang.” Ajak Dhefin.
“Iya bentar Mas aku bereskan ini dulu.” Ucap Carissa.
Setelah membereskan pekerjaannya, Carissa dan Dhefin segera pergi untuk makan siang. Mereka berdua pergi ke salah satu restaurant di kota J. dalam perjalanan, Dhefin terus menggenggam tangan Carissa erat. Entah kenapa dia sangat takut sekali kehilangan Carissa. Dhefin takut jika Barra akan mengatakan semuanya pada Carissa tentang kejadian tempo hari dengan Astrid. Jujur saja memang Dhefin sangat mencintai Carissa. Dan hubungannya dengan Astrid hanya hubungan suka sama suka dan saling membutuhkan.
__ADS_1
“Apaan sih Mas dari tadi pegang tangan terus.” Ucap Carissa.
“Aku takut saja kamu ninggalin aku.” jawab Dhefin.
“Iya, aku mau ninggalin Mas” Jawab Carissa dengan nada menggoda.
“Jangan gitu dong Sayang.” Ucap Dhefin.
“Aku mau ke toilet nanti kalau sudah sampai restaurant. Jadi ya aku harus ninggalin Mas dong.” Jawab Carissa tanpa beban.
Dhefin hanya mengacak rambut Carissa gemas. Dia juga merasa lega karena Carissa hanya bercanda. Dhefin akan berusaha agar Carissa tidak bertemu dengan Barra yang akan menyebabkan hubungannya dalam bahaya.
Sesampainya di restaurant, mereka berdua sudah duduk di salah satu kursi pengunjung. Dhefin memilih beberapa menu makanan untu makan siangnya. Sementara Carissa ameminta ijin untuk ke toilet sebentar.
Setelah Carissa keluar dari toilet dan akan kembali ke tempat dimana Dhefin berada, tanpa sengaja dia bertemu dengan Barra sedang bersama seorang laki-laki yang dulu sempat menolongnya saat di pesta.
“Iya.” Jawab Barra singkat dan datar.
Sedangkan Xavier yang berada di sebelah Barra terus memandang Carissa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Barra segera pergi dengan Xavier setelah menjawab sapaan dari Carissa. Carissa sedikit aneh dengan sikap Barra yang tidak seperti biasanya jika mereka bertemu. Entak kenapa dalam hati Carissa dia sedih dengan sikap Barra yang cuek seperti itu.
Kini Carissa sudah kembali duduk di samping Dhefin. Dia melihat Dhefin sedang memainkan gadgetnya yang entah sedang apa. Carissa pun tidak peduli. Karena saat ini dia sedang memikirkan sikap Barra yang berubah padanya.
“Eh sudah selesai? maaf aku nggak tahu kalau kamu sudah duduk di sampingku.” Ucap Dhefin.
“Iya Mas.” Jawab Carissa.
Tak berselang lama, pesanan makanan mereka sudah datang. Carissa dan Dhefin segera makan. Mereka berdua makan dengan hening. Carissa yang masih diam memikirkan Barra, sedangkan Dhefin entahlah apa yang sedang dipikirkan olehnya saat ini.
__ADS_1
***
“Kamu tuh jangan malas-malasan gitu El! Cari kerja sana. Sampai kapan kamu akan menganggur begini? Mama sudah nggak tahan tinggal di rumah kontrakan sempit ini.” ucap Melly.
“Iya Ma. Sabar dong Ma. Elvina juga bingung nih.” Jawab Elvina yang tak lain adalah Astrid.
Semenjak dirinya dipecat dari perusahaan Vito, Astrid memilih tinggal bersama dengan Mamanya di sebuah rumah kontrakan kecil. Karena dia tidak sanggup lagi membayar biaya sewa apartemennya. Sampai saat ini dirinya masih menganggur. Entah kenapa tiap kali melamar pekerjaan, selalu saja ditolak. Astrid tampak frustasi dengan keadaan ini.
Semenjak kebusukannya diketahui oleh Barra, Astrid sudah tidak pernah lagi bertemu dengan mantan kekasihnya. Dia juga seakan tidak punya muka lagi jika harus bertemu dengan Barra. Tapi demi Mamanya, dia juga berusaha bagaimana caranya untuk kembali mendapatkan Barra.
Astrid juga tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Dhefin, setelah kejadian saat itu. Astrid sebenarnya sangat membutuhkan Dhefin untuk dimintai pekerjaan. Namun Dhefin sangat susah dihubungi.
***
“Maaf Tuan. Dari informasi yang saya dapat, saat ini Tuan Rey sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri. Jadi saya tidak bisa menemui beliau.” Ucap Bram pada Vito.
Vito menghela nafasnya pelan saat mendapat kabar dari Bram. Dia ingin segera menyelesaikan kesalah pahaman ini dengan Rey agar Dhefin tidak menaruh dendam dengan keluarganya. Namun sayang sekali dia harus menundanya terlebih dulu sampai Rey pulang dari luar negeri.
“Baiklah. Pastikan Barra tetap aman dan jangan sampai bertemu dengan Dhefin lagi.” Ucap Vito.
“Baik Tuan.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1