Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 179


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Kay sudah dibawa ke ruang bersalin dengan ditemani oleh Delia. semua keluarga sangat panik sekaligus bahagia. Panik karena melihat Kay yang sejak tadi meringis kesakitan dan bahagia saat tahu kalau Vito sudah sadar.


“Mom!!! Sakit…Mom! Kay nggak kuat Mom!” lirih Kay.


“Tenang ya Sayang. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Ingat suami kamu sudah sadar, dia sedang menunggu kelahiran anak kalian.” Ucap Delia menenangkan.


Kay yang sudah berada di ruang bersalin selama 6 jam dan kini sudah pembukaan 8. Hal ini termasuk cepat karena untuk pertama kalinya bagi Kay. Namun Kay seolah ingin menyerah karena tidak tahan dengan rasa sakit yang mendera. Namun setelah mendapat dorongan dan semangat dari Delia dengan mengatakan kalau suaminya sudah sadar, membuat Kay harus menahan rasa sakitnya yang hanya nunggu 2 pembukaan lagi hingga anaknya keluar.


Beberapa saat kemudian air ketuban Kay sudah pecah. Dokter segera membimbing Kay untuk segera mengejan dan mengeluarkan bayinya. Berulang kali Kay menarik nafas dan mengeluarkan sesuai dengan apa yang dokter arahkan. Delia juga terus ikut menenangkan dan memberi semangat untuk Kay.


Oe oe oe….


Setelah melalui proses panjang, perjuangan yang mempertaruhkan antara hidup dan mati, akhirnya sosok bayi mungil nan tampan berhasil lahir ke dunia ini dari Rahim seorang Mama muda yang bernama Kay.


Dokter segera meletakkan bayi mungil itu di atas dada Kay untuk dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Kay meneteskan air matanya kala melihat buah hatinya sudah lahir dengan selamat. Dia sangat bahagia karena sudah menyandang gelar seorang Ibu.


Begitu juga dengan Delia. wanita paruh baya yang sudah berstatus sebagai Nenek itu tampak bahagia bisa menyaksikan kelahiran cucu pertamanya secara langsung. meskipun dalam hatinya sempat merasakan kesedihan karena sang anak melahirkan tanpa didampingi suami tercinta. Terlebih karena suaminya yang sedang sakit. Namun, Delia bahagia karena bersamaan dengan Kay melahirkan, saat itu juga Vito menunjukkan pergerakan tanda dia sudah sadar.


Mungkin semua ini memang sudah direncanakan oleh Tuhan. Kita tidak akan tahu takdir Tuhan yang menurut kita menyedihkan, tapi sebenarnya Tuhan sudah menyiapkan akhir yang bahagia. Kalau sudah begini, sebagai makhluk Tuhan, kita harus banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.


Sementara itu, saat bayi mungil nan tampan sudah lahir ke dunia. Di saat itu juga Vito membuka matanya dengan sempurna. Bahkan pertama kali yang diucapkan oleh Vito saat sadar adalah nama istrinya.


Selama satu minggu koma, pria yang sekarang sudah menyandang gelar Papa itu hanya memikirkan dan memanggil nama istrinya dalam hati. Mungkin rasa cinta yang begitu besar pada sang istri hingga membuat otak Vito hanya terisi oleh satu nama yaitu Kay.


Sesaat sebelum sadar tadi, Vito sempat marah saat mendengar seseorang yang menjenguknya. Dia memang tidak bisa melihat siap orang itu. Tapi dia sangat hafal dengan suaranya. Ya, pria yang selama ini menjadi rivalnya. Padahal pertemuannya beberapa waktu yang lalu bersama Rey, Rey sudah berjanji tidak akan mengganggu istrinya lagi. Namun ternyata pria itu telah membohonginya dan telah memanfaatkan ketidak berdayaannya. Vito janji saat nanti sudah sembuh, dia akan membalas perbuatan Rey.


“Nak, kamu sudah sadar?” Tanya Gio yang sejak tadi menunggui Vito.

__ADS_1


Pria paruh baya itu yang telah menemani Vito saat Kay dilarikan ke ruang bersalin. Gio juga melihat dengan mata kepalanya sendiri saat anaknya menunjukkan pergerakan kecil. Bahkan saat membuka matanya. namun saat Vito sudah membuka matanya, dia masih enggan untuk mengucapkan sesuatu lagi setelah mengucapkan nama istrinya.


“Papa!” lirih Vito memanggil Papanya.


Gio sangat bahagia saat mendengar anaknya sudah benar-benar sadar. Dokter tadi sempat mengatakan untuk tidak terlalu membebani pasien dengan berbagai macam pertanyaan. Dokter menyuruh Gio untuk menunggu saja tanpa mengucapkan sesuatu. Karena dokter khawatir dengan luka yang dialami Vito di bagian otak sangat parah. Yang kemungkinan kecil akan mengakibatkan amnesia. Namun dokter tetap menyarankan agar banyak berdoa supaya semua itu tidak akan terjadi. Dan benar saja, Gio sangat bahagia saat Vito memanggilnya Papa. Itu berarti kondisi kesehatan anaknya baik-baik saja.


“Syukurlah nak kamu sudah sadar. Papa sangat bahagia.” Ucap Gio sambil menitikan air matanya.


“Papa kenapa menangis?” Tanya Vito yang masih terbaring di atas brankar.


“Papa menangis karena bahagia. Bahagia kalau anak Papa satu-satunya sudah sadar dan sembuh. Ditambah lagi, cucu Papa sudah lahir ke dunia ini dengan selamat.” Ucap Gio.


“Cucu? Apa maksud Papa?” Tanya Vito heran.


“Iya, cucu Papa. Anak kalian sudah lahir.” Jawab Gio.


Vito terdiam sambil berpikir. Cucu papanya sudah lahir. Anak kalian, berarti anakku dengan Kay. Vito teringat sesuatu saat sebelum sadar dia sempat mendengar Kay meringis kesakitan dan meminta tolong pada Rey. Jadi apakah saat itu juga istrinya akan melahirkan?


“Keadaan kamu masih lemah, istri kamu juga masih mendapatkan perawatan pasca melahirkan. Sabar, nanti kalian pasti bertemu.” Ucap Gio.


Vito sangat bahagia sekali mendengar istrinya sudah melahirkan. Dia menjadi lebih semangat untuk segera kuat demi melihat anaknya. Vito sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri. Dia ingin memeluk Kay dan mengucapkan terima kasih karena sudah melahirkan buah hatinya ke dunia ini dengan selamat.


Beberapa saat kemudian, Vito sudah dipindahkan ke ruang rawat inap sesudah mendapatkan pemeriksaan dari dokter. Kondisi Vito perlahan sudah membaik, hanya saja belum boleh banyak bergerak.


Kay sudah merasa kondisinya sudah pulih, meskipun masih merasakan sakit di area jahitannya pada jalan lahir, dia tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya yang sudah berpindah kamar dari ruangan ICU ke ruang rawat inap.


“Bagaimana Mom? Apa dokter mengizinkan Kay untuk menemui Mas Vito?” Tanya Kay pada Delia yang baru saja masuk ke ruang rawat Kay.

__ADS_1


Sebelum menjawab, tiba-tiba saja Radit sudah membawa kursi roda untuk Kay. Kay tampak berbinar, itu tandanya dia boleh bertemu dengan suaminya. Namun untuk anaknya, saat ini masih ada di ruangan khusus bayi. Dan belum boleh dibawa keluar ruangan kecuali datang langsung ruangan itu.


Kay sudah duduk di kursi roda dengan Radit yang mendorongnya menuju ruang rawat Vito. jarak ruang rawat Kay dan Vito tidaklah jauh, jadi tidak butuh waktu lama Kay sudah sampai di ruangan Vito.


Cklek


Delia membuka pintu ruangan Vito. disana tampak Vito sedang berbaring dengan didampingi oleh Gio. Mata Kay sudah berkaca-kaca bahkan sudah tumpah saat melihat suaminya sudah membuka mata.


“Mas!” panggil Kay, dan Vito menoleh.


“Sayang!” jawab Vito.


Radit mendorong kursi roda Kay mendekati brankar Vito. andai saja Kay sudah bisa berjalan dengan normal mungkin dia sudah berlari dan berhambur memeluk suaminya. Namun saat dia sudah mendekati suaminya, mereka berdua hanya bisa berpegangan tangan untuk menyalurkan rasa rindu yang selama ini tertahan dalam hati masing-masing.


“Sayang, terima kasih sudah melahirkan buah hati kita ke dunia dengan selamat.” Ucap Vito.


Kay hanya menganggukkan kepalanya sambil terus meneteskan air matanya. rasanya dia sangat bahagia melihat suaminya sudah sadar setelah beberapa hari koma.


“Mas cepat sembuh agar kita bisa segera pulang dan merawat anak kita sama-sama.” Ucap Kay.


“Iya Sayang. Aku akan cepat sembuh. Aku sudah tidak sabar ingin menggendong anak kita.” Jawab Vito.


Delia, Radit, dan juga Gio tampak bahagia melihat anak menantu mereka bahagia. Doa mereka bertiga sama, berharap setelah ini tidak akan ada badai lagi dalam rumah tangga anak dan menantunya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2