
Keesokan harinya, Vito dan Kay sudah bangun pagi-pagi sekali. Kay sudah tidak ingin lagi membahas tentang Rey. mungkin suatu saat kalau bertemu dengannya, Kay akan meminta suaminya minta maaf pada Rey.
Hari ini juga Vito sudah mulai kembali bekerja. Sudah cukup lama waktu yang dia habiskan untuk berbulan madu. Meskipun perusahaan itu miliknya sendiri, tapi Vito tetap harus profesioanl. Dia juga kasihan dengan asistennya yang sangat sibuk dan kuwalahan saat ia tinggal beberapa hari.
“Sudah siap? Ayo kita pulang sekarang.” Tanya Vito pada Kay.
“Sudah Mas.” Jawab Kay.
Setelah itu mereka berdua segera pergi meninggalkan apartemen.
Pagi ini Vito ada meeting penting yang mengharuskan dia untuk daatang sendiri dan tidak boleh diwakilkan. Vito akan mengantar Kay pulang dulu, setelah itu dia segera berangkat ke kantor. beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah.
“Sayang, aku langsung saja yak arena pagi ini ada meeting penting.” Ucap Vito.
“Iya Mas, hati-hati.” Balas Kay.
Setelah itu Vito mengecup kening istrinya sebelum berangkat ke kantor. jujur saja, Vito sebenarnya ingin selalu di dekat istrinya tapi bagaimana lagi, pekerjaannya juga sangat penting. Jadi mau Vito harus bisa memilih mana yang lebih penting saat ini. Lagipula, istrinya juga tidak akan kemana-mana, dan kalau sudah pulang kerja nanti dia juga bisa sepuasnya menikmati kebersamaannya dengan sang istri.
Selepas kepergian suaminya, Kay segera masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada Papanya yang tampak santai di ruang tengah sambil membaca koran dengan ditemani secangkir kopi.
“Pagi, Pa!” sapa Kay.
“Eh Kay, Pagi juga. kemana Vito?” Tanya Gio.
“Mas Vito langsung ke kantor Pa. Karena pagi ini ada meeting.” Jawab Kay.
Setelah itu Kay segera masuk ke kamarnya. Hari ini Kay akan membersihkan kamarnya yang selama beberapa hari ini ia tinggal. Ya meskipun tidak kotor, karena memang tiap hari sudah dibersihkan oleh pembantunya.
Selesai membersihkan kamarnya, Kay segera keluar dari kamarnya. Seteah itu dia masuk ke ruang kerja suaminya. Sebelumnya Kay sudah meminta ijin pada Vito untuk meminjam ruang kerjanya yang akan dia gunakan untuk menggambar design baju-baju butiknya. Dan Vito pun tidak keberatan sama sekali. Justru Vito merasa tidak enak dengan Kay karena harus menumpang tempat di ruang kerjanya.
Akhirnya Vito akan mengusahakan untuk membuatkan ruangan khusus buat istrinya menggambar design baju.
Di dalam ruangan itu Kay tidak hanya menggambar saja, dia juga melakukan panggilan video dengan Desi sang asisten. Kay ingin tahu kabar butiknya selama ia tinggal.
“Iya Non Kay. Apa kabar Non?” Tanya Desi saat panggilan video itu baru tersambung.
“Baik, Des. Bagaimana kabar kamu Des? Butiknya juga bagaimana?” Tanya balik Kay.
__ADS_1
“Saya baik Non. Butik juga semakin ramai. Banyak pelanggan yang kangen dengan Non Kay.”
“Iya Des, maaf banget aku belum bisa pulang sementara waktu. Nanti kalau Mas Vito sudah nggak terlalu sibuk, aku akan pulang. Sementara ini, aku akan mengirim hasil designku lewat email saja. Nanti baru persiapkan semua bahan-bahannya.”
“Iya Non beres. Eh Non, beberapa hari yang lalu Mas Rey datang kesini.”
“Rey?” Tanya Kay lagi dan Desi hanya mengangguk.
Kay baru ingat kalau Rey sekarang sudah menjadi suami Stefi. Dan Stefi adalah salah satu pelanggannya. Mungkin Rey datang ke butik untuk menemani istrinya. Begitu pikir Kay.
“Apa dia menemani Stefi memesan baju lagi?” Tanya Kay.
“Stefi? Saya nggak tahu Non siapa itu Stefi. Mas Rey kesini datang sendirian.”
Deg
Kay sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Desi. Untuk apa Rey datang ke butiknya. Bukankah sekarang dia sudah beristri, tapi ada apa. Dan tempo hari Kay juga melihat Rey di bandara juga sendirian tanpa istrinya.
“Oh gitu ya Des. Mungkin dia mau memesankan baju buat istrinya.”
Karena tidak ingin terlalu membahas terlalu panjang, Kay memutuskan sambungan panggilan videonya dengan Desi. Kay juga meminta Desi untuk selalu memberikan kabar apapun yang berkaitaan dengan butiknya.
Setelah itu Kay meletakkan ponselnya. Niatnya yang tadi ingin menggambar design baju pengantin, justru Kay sekarang sedang memikirkan tentang ucapan Desi tadi.
“Kenapa Rey datang ke butik mencariku?” gumam Kay.
***
Sementara itu saat ini Vito sedang meeting dengan kliennya. Vito merasa jengah sekali karena sejak tadi meetingnya tak kunjung selesai. Tapi bukan itu sebenarnya yang membuat Vito jengah. Dia tidak menyangka kliennya barunya yang ingin mengajak kerja sama dengan perusahaannya adalah Evan. Yang tak lain adalah teman seangkatan Vito saat masih duduk di bangku kuliah dulu. Vito yang sudah paham dengan perangai Evan jadi merasa malas jika harus bekerja sama dengan perusahaan milik Evan. Tapi Vito harus tetap professional. Karena sebenarnya perjanjian kerja samanya dengan Evan sudah disepakati oleh Arsa yang sudah ia percaya untuk menangani perusahaan selama ia pergi berbulan madu.
Arsa yang memang tidak tahu kalau Evan adalah salah ssatu teman kuliah Vito dulu, jadi dia menerima kerjasama itu setelah melihat prospek dari perusahaan milik Evan yang juga saling menguntungkan.
“Aku nggak nyangka kalau CEO dari perusahaan ini adalah kamu Vit. Senang bekerja sama dengan kamu. Lain kali aku akan mengundang kamu makan malam. Kamu bisa mengajak istri kamu, bukankah kamu pengantin baru?” ucap Evan.
“Iya, tapi aku nggak bisa janji.” Jawab Vito.
Setelah itu Evan menjabat tangan Vito kemudian pamit undur diri dengan ditemani oleh seorang wanita yang berstatus sebagai sekretarisnya.
__ADS_1
“Ada apa bos?” Tanya Arsa selepas kepergian kliennya.
“Evan adalah teman seangkatanku waktu kuliah.” Jawab Vito.
Arsa hanya mengangguk saja, tapi dia dapat melihat raut wajah Vito yang memancarkan kegelisahan saat mengetahui klieenya adalah Evan. Akhirnya Vito mengatakan pada Arsa agar lebih berhati-hati saja dengan Evan. Bukan maksud berburuk sangka, hanya saja Vito sedikit tahu kalau Evan adalah orang yang licik. Jadi apa salahnya jika sedia paying sebelum hujan. Dan akhirnya Arsa mengangguk mengerti.
Selesai meeting, Vito kembali ke ruang kerjanya. Di meja nya sudah ada beberapa dokumen yang harus ia periksa dan ia tanda tangani. Niat Vito yang tadi ingin segera pulang setelah selesai meeting, harus ia tunda dulu karena masih ada pekerjaan yang menantinya.
Vito melirik jam tangannya menunjukkan pukul 12 siang. Dan bertepatan dengan waktu istirahat, tapi sejak tadi dokumen yang ia periksa belum juga selesai. Akhirnya dia mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya via video call.
“Sayang?” panggil Vito.
Vito heran saat panggilan videonya sudah tersambung tapi tidak tampak wajah istrinya. Tapi Vito juga tidak curiga karena dia bisa melihat background kamarnya. Jadi pasti Kay juga sedang berada di dalam kamar.
“Sayang? Kamu dimana sih?” panggil Vito lagi.
“Sebentar Mas, aku masih ganti baju karena habis mandi.” jawab Kay.
“Tunggu! Coba tunjukkan Sayang, aku nggak percaya.”
Glek
Vito menelan salivanya saat melihat istrinya sudah selesai betganti pakaian tapi masih mengancingkan bajunya yang masih tersisa bagian atas. Dan itu nyata menampakkan dua buah favoritnya. Ditambah lagi rambut Kay yang masih basah.
“Sayang-“
Tut tut tut…..
.
.
.
*TBC
😂😂😂
__ADS_1