Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 247


__ADS_3

Kabar kembalinya Alana, Mama kandung Carissa dan Xavier suah sampai di telinga kedua orang tua Barra dan juga orang tua angkat Carissa. Mereka semua ikut bahagia mendengarnya. Dan akhir pekan ini keluarga besar Charles mengadakan syukuran untuk istrinya dengan mengadakan makan malam di sebuah restaurant. Charles pun mengundang besannya dan juga orang tua angkat Carissa.


Saat ini Carissa sedang membuat kue di dapur dengan Mamanya. Sambil menunggu suami mereka masing-masing pulang kerja, Alana mempunyai ide mengajak anaknya membuat kue. Memang Carissa masih di rumah. Untuk urusan butik, dia serahkan pada orang kepercayaannya. Lagipula butik baru yang akan dibukakan oleh Papanya kemungkinan 2 minggu lagi akan diresmikan.


“Kenapa kamu pilih buat brownies Sayang?” Tanya Alana di sela-sela kegiatannya membuat adonan.


“Ehm, Kak Barra suka Ma.” Jawab Carissa pelan.


“Wah benar-benar istri idaman. Sampai kue kesukaan suaminya tahu.” Puji Alana.


“I iya Ma. Sudah lama Viera tahu. Dulu saat Kak Barra dan mama Kay berkunjung ke rumah mama Silvia kebetulan pas Viera sedang buat Brownies. Dan saat itu Viera baru tahu dari mama Kay kalau Kak Barra suka Brownies.” Terang Carissa.


“Mama bangga mempunyai anak yang sangat perhatian dengan suaminya. Mama berharap rumah tangga kalian selalu bahagia.” Ucap Alana.


“Iya Ma. Terima kasih.” Jawab Carissa.


Alana melihat wajah Carissa tiba-tiba berubah sendu, akhirnya wanita itu menuntun anaknya untuk duduk di kursi meja makan. Sebelumnya Alana sudah memasukkan adonan kue itu ke dalam oven.


“Sayang, Mama sudah tahu semuanya dari Papa tentang hubungan kamu dengan Barra sebelumnya.” Ucap Alana dan Carissa mendongak menatap mamanya.


“Memang semua itu tidak gampang untuk melupakan kejadian yang telah kamu alami. Tapi sebelumnya mama mau tanya dulu ke kamu. Apakah sebelumnya kalian saling mencintai?” Tanya Alana.


“Nggak tahu Ma. Viera bingung dengan perasaan Viera pada Kak Barra sebelumnya. Kalau Kak Barra bilang memang sudah mencintai Viera sejak lama. Bahkan sejak Kak Barra masih mempunyai kekasih.” Jawab Carissa.


“Lantas, apa kamu juga merasakan hal yang sama? Hanya saja kamu tidak mau mengakui karena saat itu status kamu juga sudah mempunyai kekasih?” Tanya Alana.


Pertanyaan mamanya sangat tepat dan mengena. Memang Carissa akui ucapan Mamanya benar. Namun saat itu dirinya selalu berusaha untuk menepis perasaan itu karena ingin mempertahankan hubungannya dengan Dhefin.


“Sayang, kamu tahu nggak kalau cinta itu datangnya tidak bisa dipaksakan, tidak bisa dihindari, tidak tahu kapan, dan hadirnya cinta tidak membutuhkan alasan. Mungkin kamu dulu juga memupnyai perasaan yang sama namun berusaha menepisnya karena kalian sama-sama memiliki kekasih. Begitu kan?” ucap Alana.

__ADS_1


“Iya Ma. Bagaimana Mama bisa tahu?” Tanya Carissa heran dan Alana hanya tersenyum.


“Bararti benar. Kalian sebelumnya saling mencintai. Sebelum peristiwa naas itu terjadi.” Ucap Alana.


Carissa tampak gusar kala sang mama mengingat peristiwa naas itu. Selama ini dirinya sudah berusaha menjalani pernikahannya sebaik mungkin dan menjadi istri yang baik pula. Namun tidak dipungkiri kalau trauma itu masih ada.


“Kamu trauma dengan kejadian itu kan?” Tanya Alana dan Carissa mengangguk sedih.


“Sayang, dengarkan Mama. Mama akan membantu anak mama yang cantik ini mengatasi trauma itu. Sebenarnya tidak sulit juga.” ucap Alana dan membuat raut wajah Carissa dihinggapi rasa penasaran.


“Bagini, kalian kan saling mencintai sebelumnya. Sebenarnya itu modal kamu untuk mengatasi trauma itu. Kamu cukup bersikap seperti biasa. Layakanya pasangan suami istri pada umumnya, terlebih kalian masih pengantin baru.” Ucap Alana.


“Maksud Mama bagaimana?” Tanya Carissa.


“Ya seperti biasa saja. Jangan ada lagi kecanggungan. Lebih banyak berkomunikasi dengan suami kamu. Dan juga sering-sering kontak fisik. Dalam artian kamu jangan menjaga jarak. Mama yakin kalau cinta itu tidak akan menyakiti. Jadi jangan berpikiran kalau kalian sedang kontak fisik, Barra akan melakukan kejadian naas itu lagi. Barra pun pasti mengerti dan bisa menjaga sikapnya. Dan lakukan dengan hati jangan ada rasa terpaksa atau tertekan.” Ucap Alana.


“Iya Ma. Viera akan lakukan. Terima kasih Ma.” Jawab Carissa.


Selesai membuat kue, Carissa memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dia akan mandi sekaligus menyiapkan air hangat untuk suaminya yang sebentar lagi juga pulang. Setelah beberapa menit, Carissa sudah tampak segar dan kini sedang mematut dirinya di depan cermin. Dia teringat dengan ucapan Mamanya tadi. jadi mulai sekarang dia akan menjalankan saran mamanya.


Cklek


Barra membuka pintu kamarnya. Wajah lelahnya hilang seketika saat mencium aroma segar dari tubuh istrinya yang baru selesai mandi. namun Barra tidak bisa berbuat apa-apa selain menahannya. Sebenarnya dia ingin sekali mengendus tubuh istrinya namun dia ssadar kalau istrinya masih belum mau.


“Mas sudah pulang!” ucap Carissa dan segera meraih tas yang ada di tangan Barra.


Barra menyerahkan tasnya begitu saja namun tubuhnya diam mematung. Apakah dirinya terlalu sibuk bekerja hari ini hingga membuat saraf pendengarannya terganggu. Rasanya dia memang salah dengar kalau istrinya memanggil dengan sebutan “Mas”. Bagi Barra panggilan itu sederhana namun sangat luar biasa dampaknya.


“Mas mau mandi sekarang? aku sudah menyiapkan air hangatnya.” Ucap Carissa.

__ADS_1


Lagi-lagi Barra mempertajam pendengarannya. Apakah benar baru saja yang memanggil itu istrinya. Ini nyata kan. Bukan mimpi.


Carissa yang melihat suaminya hanya terdiam juga bingung. Sebenarnya dia juga reflek mengganti panggilannya pada sang suami. Dan sekarang suaminya terdiam. Apa suaminya tidak suka dengan panggilan itu.


“Ma..maaf kalau panggilan itu tidak nyaman. Aku akan memanggil Kak Barra saja seperti biasanya saja.” Ucap Carissa dan segera menyadarkan Barra.


“Tunggu! Jadi benar kamu memanggilku dengan sebutan “Mas”?” Tanya Barra dan Carissa mengangguk.


“Jangan diganti. Aku sangat suka. Ya sudah aku akan mandi. nanti airnya keburu dingin.” Jawab Barra bersemangat dan segera masuk kamar mandi. bahkan sepatunya lupa tidak dilepas dulu.


Setelah mandi, Carissa segera mengajak suaminya untuk makan malam. Karena kedua orang tuanya dan juga Xavier sudah menunggunya di bawah.


Alana dan Charles melihat raut wajah berbeda dari pasangan pengantin baru itu juga ikut bahagia. Mereka lega akhirnya perlahan-lahan Carissa bisa menghilangkan rasa traumanya.


“Ma, Pa Barra mau meminta ijin untuk mengajak Carissa menginap di rumah besok. Apa boleh?” Tanya Barra tiba-tiba.


“Kenapa harus meminta ijin boleh atau tidak. Viera itu sudah jadi istri kamu jadi itu hak kamu mau kamu ajak kemana saja.” Ucap Charles.


“Ehm, iya Pa. ya sudah besok rencananya akan mengajak Carissa menginap di rumah. Karena setelah menikah kita belum pulang kesana. Mama juga sering menanyakan Carissa” Ucap Barra.


Carissa merasa sedikit bersalah. Memang sebelumnya ini adalah keinginannya untuk tinggal di rumah orang tuanya sendiri setelah menikah. Harusnya dia yang mengikuti suaminya kemana akan tinggal.


“Maaf Mas.” Jawab Carissa lirih dan hanya bisa didengar oleh Barra.


Barra tidak menjawab. Laki-laki itu hanya memegang lembut tangan istrinya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2