
Setelah dari café, Vito mengajak istrinya pulang. Sedangkan Kay mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang Evan. Lagipula dia tidak akan bertemu dengan Evan lagi. Jadi Kay merasa aman. Mungkin lain kali akan menanyaknnya lansung pada suaminya.
Kini mobil yang Vito kendarai sudah sampai rumah. Vito membawa barang belanjaan yang tadi dibeli Kay. Vito tampak mengkerutkan keningnya karena melihat belanjaan istrinya yang lumayan banyak.
“Sayang kamu belanja sebanyak ini?” Tanya Vito.
“Iya, Mas. Memang stok bahan makanan sudah habis semua.” Jawab Kay.
“bukan begitu Sayang, kamu tadi bawa dari supermarket dan memasukkannya ke dalam mobil sendirian?” Tanya Vito.
“Iya Mas, tadi aku bawa troli terus aku masukkan ke mobil.” Jawab Kay.
“Sayang, maafkan aku. kamu kenapa nggak bangunin aku tadi. kamu jadi bawa barang-barang ini sendirian. Kamu kan nggak boleh ngerjain berat-berat.” Ucap Vito merasa bersalah.
Kay menghela nafasnya, kemudian dia meyakinkan suaminya kalau dia tidak apa-apa dengan membawa kantong belanjaan itu. Setelah mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Tak terasa usia kandungan Kay sudah lima bulan. Hari ini adalah jadwal Kay memeriksakan kandungannya. Vito ikut mengantarnya karena jadwalnya bertepatan dengan jam makan siang. Vito penasaran sekali dengan jenis kelamin calon buah hatinya. Harusnya sudah bisa dilihat sejak usia 4 bulan, tapi sayangnya si jabang bayi malu, jadi alat kelaminnya tidak bisa terlihat. Vito berharap kali ini si calon buah hatinya bisa terlihat jenis kelaminnya.
“Sayang? Kenapa kamu kesini?” Tanya Vito yang terkejut melihat kedatangan istrinya ke kantor.
“Aku bawain Mas makan siang. Setelah itu kita berangkat ke rumah sakit. Jadi Mas nggak perlu bolak-balik kantor, rumah, dan ke rumah sakit.” Ucap Kay.
Vito akhirnya mengalah saat mendengar penjelasan istrinya. Kemudian Kay menyiapkan bekal makan siangnya untuk suaminya. Hari ini Kay membawakan bekal makanan cukup banyak karena akan membaginya dengan kakaknya yaitu Arsa. Namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerja Vito.
“Masuk!” ucap Vito.
“Evan? Ada apa? Tumben?” Tanya Vito heran saat mel;ihat kedatangan Evan.
Bukannya menjawab, pandangan Evan justru mengarah pada wanita cantik berperut buncit yang sedang menyiapkan makanan di meja yang ada di ruang kerja Vito. Vito melihat arah pandang Evan seketika geram.
“Ada perlu apa kamu datang kesini?” Tanya Vito lagi.
“Ah, iya aku tadi kebetulan mampir saja. Apa nggak boleh aku mampir ke perusahaan temanku sendiri?” jawab Evan.
Vito bingung mau menjawab apa. Karena tiba-tiba saja dia merasa tidak nyaman saat Evan terus memandang istrinya tanpa berkedip. Sementara Kay yang tahu akan kehadiran Evan, dia tampak sekali gugup. Tapi beruntunglah dia tidak sendirian. Karena ada sang suami yang menemaninya.
“Mas, Ayo nanti keburu siang kita ke rumah sakitnya!” ajak Kay.
__ADS_1
“Wah, bau apa ini? sepertinya enak sekali.” Tanya Evan dengan tidak tahu malunya.
Kay dan Vito saling pandang. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengajak Evan makan siang bersama. Evan sangat senang diajak makan siang bersama.
Kay tampak canggung saat mengunyah makanannya. Karena posisinya saat ini duduk disamping suaminya dan berhadapan langsung dengan Evan. Kay merasa sejak tadi Evan selalu memperhatikannya.
“Enak sekali masakan istri kamu Vit. Sudah cantik, jago masak lagi.” Puji Evan.
Vito tampak diam tak menanggapi ucapan Evan. Dia fokus mengunyah makanannya. Sedangkan Evan masih saja memandangi Kay.
“Sorry Van, aku sama istriku mau ke rumah sakit. Jadi lain kali bisa kita sambung lagi pertemuan kita.” Usir Vito secara halus.
“Ok, baiklah. Terima kasih Nona cantik atas makan siangnya.” Ucap Evan kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Vito.
“Ayo Sayang, kita berangkat sekarang.” ajak Vito pada Kay.
Dalam perjalanan Vito hanya terdiam. Entah mengapa dia sangat terganggu dengan ucapan Evan yang seolah tertarik dengan istrinya. Tapi Vito buru-buru menepis perasaan itu. Dia berharap tidak akan terjadi sesuatu.
Kini Kay sudah tidur di atas brankar ruang praktik dokter Nugraha. Tampak sekali dokter spesialis kandungan itu memeriksa keadaan janin dalam perut Kay dengan jeli.
“nah, ini sudah kelihatan jenis kelaminnya. Yaitu laki-laki.” Ucap Dokter Nugraha.
Sebenarnya Vito tidak maslah mau berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Tapi Vito sangat ingin jika yang anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki. Vitoi sangat bahagia akhirnya doanya terkabul.
“Buat Ibu Kayola, tetap jaga kesehatannya ya. Jangan stress, karena tekanan darah Ibu sedikit tinggi.” Ucap Dokter Nugraha.
“Iya Dok.” Jawab Kay.
Selesai memeriksakan kandungannya dan menebus beberapa obat dan vitamin, Vito segera mengajak istrinya pulang.
“Sayang, apa ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu? Ceritalah!” ucap Vito.
Kay masih bergeming. Apakah lebih baik dia menceritakan sesuatu yang selama ini mengganjal hatinya. Tapi bagaimana jika suaminya marah dan berdampak pada kerjasamanya dengan temannya itu.
“Sayang?” panggil Vito lagi.
“Mas, janji ya jangan marahi Kay!” ucap Kay dan Vito mengangguk tersenyum.
__ADS_1
“Mas, sebenarnya aku sangat tidak nyaman dengan Evan.” Ucap Kay lirih.
Vito yang mendengar ucapan Kay baru saja sedikit heran. Vito mencoba menetralkan amarahnya agar tidak meledak setelah mendengar cerita Kay selanjutnya. Padahal dirinya sendiri juga merasakan hal yang sama dirasakan oleh istrinya.
“Tidak nyaman bagaimana Sayang?” Tanya Vito.
“Sepertinya Evan menyukaiku.” Ucap Kay lirih.
Ciiitttttttt
Vito mengerem mobilnya mendadak saat mendengar ucapan Kay baru saja. Jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memerah. Vito lupa saat ini sedang membawa istrinya yang sedang hamil. Dan untung saja Kay memakai seat beltnya. Kemudian Vito menepikan mobilnya, dia akan meminta penjelasan lebih mengenai Evan pada istrinya.
Kemudian Kay menceritakan saat pertemuan pertamnya dengan Evan saat di pesta dulu. Kay juga bilang bahwa saat dirinya mengambil minum dan tanpa sengaja disana juga ada Evan. Dan tiba-tiba saja Evan mengatakan kalau istri Evan dulu adalah mantan kekasih Vito, kemudian Evan bilang kalau sebentar lagi itu akan terjadi pada Kay.
Vito mencengkeram setir mobilnya dengan kuat sebagai pelampiasan amarahnya. Vito dapat mencerna perkataan Evan yang sangat menginginkan istrinya. Setelah itu Kay melanjutkan lagi ceritanya saat bertemu Evan di supermarket, saat itu Evan menawarkan bantuan untuk menemaninya belanja. Namun Kay menolaknya. Dan Kay juga mengatakan kalau Evan baru mengetahui bahwa Kay sedang hamil, dan tiba-tiba saja dengan lancangnya tangan Evan akan menyentuh perut Kay tapi tidak jadi karena istrinya memanggilnya.
Vito benar-benar sangat marah. Kenapa dia tidak mengetahui semua itu. Dan kenapa istrinya baru sekarang menceritakan padanya.
“Kenapa kamu tidak menceritakan Kay?? Katakan!! Kenapa kamu menyembunyikan semua ini? kenapa??” ucap Vito penuh amarah sambil memegang kedua bahu Kay. Bahkan tanpa sadar Vito meremas kedua bahu istrinya.
Kay tidak mampu menjawabnya. Dia merasa sakit dengan perbuatan suaminya.
“Maafkan Kay Mas. Mas tadi janji tidak akan marah.” Ucap Kay yang sudah berderai air mata.
“Suami mana yang nggak marah jika istrinya mendapat perlakuan seperti ini dari pria lain? Hanya suami bodoh Kay!!” teriak Vito.
Aarggghhhhhh
Vito berteriak kencang di dalam mobil sambil memukul keras setir mobilnya. Kay sangat terkejut dan baru kali ini melihat amarah suaminya yang begitu menakutkan. Seketika nafas Kay terasa sesak, dia merasa kesusahan mengambil pasokan oksigen di sekitarnya, dan tiba-tiba badannya semakin melemah. Akhirnya pingsan.
Vito yang menelungkupkan kepalanya pada setir mobil tiba-tiba terdiam saat sudah tidak mendengar isakan yang keluar dari mulut istrinya.
“Kay!!! Sayang!! Bangun Sayang, maafkan aku.” ucap Vito dengan suara bergetar saat melihat kondisi istrinya sudah pucat dengan mata terpejam.
.
.
__ADS_1
.
*TBC