
Beberapa hari setelah Kay kecelakaan dan kesalah pahaman antara Kay dan Vito sudah selesai, keduanya tampak semakin terlihat romantis dan juga kompak dalam merawat Barra. Meskipun ada campur tangan dari Bi Lastri yang menjadi pengasuh Barra. Vito pun sudah mengembalikan perusahaan milik Evan seperti semula. Evan juga mendatangi langsung kantor Vito untuk mengucapkan permintaan maaf serta terima kasih telah mengembalikan perusahaannya. Vito pun bersikap lapang dada terhadap Evan. Dia juga meminta maaf karena sempat menuduh Evan ikut bekerja sama dengan Melly dalam kecelakaan itu.
***
“Mas, nanti malam kita makan di luar yuk!” ajak Kay saat suaminya akan berangkat kerja.
“Tumben kamu minta makan di luar, biasanya juga tidak mau meninggalkan Barra.” Jawab Vito.
“Sekali-kali kan Mas,” ucap Kay.
“Baiklah, apapun akan aku turuti demi istri tercinta.” Ucap Vito kemudian.
Kay tersenyum mendengar sang suami menurutinya. Kemudian dia mengantar Vito ke depan seperti biasa. Dan disana sudah ada Bram yang siap membukakan pintu mobil. Kay mencium tangan suaminya dengan takzim dan Vito mengecup kening Kay.
Selepas kepergian suaminya, Kay masuk ke rumah dan menghampiri Barra yang sudah selesai dimandikan oleh Bi Lastri. Kay sangat bersyukur memiliki pengasuh seperti Bi Lastri. Selain orangnya sangat sayang dan perhatian dengan Barra, Bi Lastri juga perhatian pada dirinya. Kay menganggap Bi Lastri seperti ibunya sendiri, hanya saja Bi Lastri versi sabar, sedangkan Mommynya versi cerewet.
***
Sore hari saat jam pulang kantor, Vito segera pulang ke rumah. Beruntung hari ini jadwalnya tidak terlalu padat. Jadi dia bisa pulang tepat waktu. Mengingat tadi pagi istrinya mengajak makan malam di luar.
“Bram, setelah ini kamu langsung saja pulang. Bersantailah. Nanti aku makan malam sama istriku pergi berdua saja.” Ucap Vito pada Bram yang sedang menyetir.
“Baik Tuan!” jawab Bram.
Sesampainya di rumah, Bram langsung pulang ke apartemennya dengan membawa mobil Vito. Vito memang sengaja memperbolehkan Bram membawa mobilnya.
Sedangkan Vito sudah masuk ke rumah. Kedatangannya sudah disambut oleh anak istrinya yang sedang bersantai di ruang tengah. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Rasa lelah setelah seharian berkutat dengan dokumen yang memusingkan kini lenyap sudah saat melihat tawa dari anak dan istrinya.
“Halo jagoan Papa!” sapa Vito pada Barra.
“Halo Papa!” jawab Kay dengan menirukan suara anak kecil.
Vito tahu kalau dirinya tidak mungkin langsung menyentuh Barra dengan kondisi masih belum mandi dan berganti pakaian. Vito segera masuk ke kamar dan membersihkan diri. Kay sudah menyiapkan bajunya sejak tadi.
__ADS_1
Setelah mandi barulah Vito turun dan menghampiri istri dan anaknya yang ada di ruang tengah. Vito menggendong Barra dan menciuminya. Bau khas bayi membuat Vito ketagihan untuk terus menciumi bayi mungil itu.
“Mas, aku bersiap dulu ya.” Ucap Kay dan Vito mengangguk.
Vito masih bermain-main dengan Barra sembari menunggu istrinya bersiap untuk keluar makan malam. Mskipun bayi itu masih belum bisa merespon ucapan orang sekitarnya, Vito terlihat sangat aktif mengajak bicara Barra seolah bayi itu mengerti. Dan respon Barra pun hanya tertawa sambil menjulurkan lidahnya. Vito semakin dibuat gemas oleh tingkah lucu Barra.
Beberapa saat kemudian, Kay sudah selesai bersiap. Kini bergantian Vito yang mengganti pakaiannya. Kay pun memanggil Bi Lastri untuk menjaga Barra sebentar karena akan pergi makan malam di luar.
Kay dan Vito kini sudah siap untuk pergi. Sebelumnya Kay sudah berpamitan pada Papanya. Barulah sekarang mereka berangkan ke salah satu restaurant yang sudah dipilih Kay. Vito pun tidak menanyakan alasan kenapa istrinya ingin makan di restaurant itu, dia hanya mengikuti kemauan istrinya.
Mobil yang mereka tumpaangi kini sudah tiba di restaurant. Kay dan Vito segera masuk dan memesan makanan.
“Mas mau makan apa?” Tanya Kay sambil memegang buku menu.
“Apa saja.” Ucap Vito tapi dengan suara yang mendadak dingin.
Kay sempat heran dengan perubahan mimik wajah suaminya. Pandangan Vito bukan pada dirinya melainkan pada seseorang yang berjalan menuju mejanya.
“Apa kamu sengaja mengajak dia makan disini?” Tanya Vito penuh penekanan.
“Jadi kamu sudah merencanakan semua ini?” Tanya Vito tidak terima dan hendak berdiri, tapi Kay buru-buru mencekal tangannya.
“Apa Mas lebih suka mengijinkan Nino datang ke rumah? Lagi pula jika aku bilang pada Mas kalau kita makan malam bersama Nino, apa Mas mau? Nggak kan? Mas tenang saja. Aku sam Nino kan hanya berteman sejak dulu. Dia juga yang meminta aku datang bersama Mas. Tolong hargai dia Mas. Bukannya Mas sudah janji tidak akan mengulang perbuatan seperti kemarin.” Ucap Kay sedikit memelankan suaranya di akhir kalimatnya, hingga membuat Vito pasrah dan merasa bersalah pada Kay.
“Iya-iya maaf.” Ucap Vito.
“Selamat malam! Maaf aku sedikit terlambat.” Ucap Nino yang baru saja datang dan kini sudah duduk di hadapan Kay dan Vito.
“Iya, nggak apa-apa No. kita juga baru tiba. Iya kan Mas?” Tanya Kay basa-basi pada Vito.
Mendapat pelototan mata dari sang istri, sontak membuat Vito memaksakan tersenyum pada Nino.
“Hmmm iya benar.” Jawab Vito.
__ADS_1
Sebenarnya Vito tahu laki-laki yang sedang duduk di hadapannya ini. dia adalah salah satu laki-laki yang pernah mendapat ancaman darinya saat dulu berniat mendekati Kay. Kay yang tidak tahu menahu tentang itu dia hanya bersikap biasa saja. Dari sorot mata Kay pun memang hanya menganggap Nino hanya temannya. Jadi Vito tidak perlu khawatir.
Akhirnya makan malam mereka bertiga berlangsung dengan cukup santai. Vito yang awalnya bersikap dingin pada Nino kini sedikit mencair sejak Nino mengatakan pada Kay untuk meminta hadir di acara pernikahannya beberapa hari lagi. Vito merasa aman karena Nino sudah tidak menaruh hati lagi pada istrinya.
Nino sudah menyelesaikan makan malamnya, dan meminta ijin untuk pulang terlebih dulu. Sebelumnya dia sudah membayar tagihannya.
“Maaf ya aku tinggal duluan. Kalian jangan lupa datang.” Pamit Nino.
“Iya, kami pasti datang. Terima kasih traktirannya.” Ucap Kay.
Selepas kepergian Nino, Kay dan Vito pun segera pulang. Tapi sebelumnya meminta ke toilet dulu. Vito pun akhirnya mengantarkan istrinya ke toilet.
Saat Kay akan masuk ke toilet wanita, matanya menangkap sosok pria yang sedang berdiri di depan toilet wanita. Vito mengikuti arah pandang istrinya tampak terkejut saat melihat pria yang sangat dia kenal. Apalagi berada di depan toilet wanita.
“Bram! Ngapain kamu berdiri disini?” Tanya Vito.
Bram yang tiba-tiba mendapat pertanyaan dari seseorang yang menghampirinya sangat terkejut. Dia bingung harus menjawab apa. Terlebih kini dirinya ada di depan toilet wanita. Belum sempat Bram menjawab pertanyaan tuannya, muncullah sosok perempuan yang baru saja keluar dari toilet.
“Sudah, Mas. Ayo kita pul-, Non Kay, Tuan Vito?” ucap Desi gugup.
Kay yang melihat keterkejutan ketiga orang di depannya hanya bisa tersenyum geli. Desi dan Bram dengan muka merah karena malu terpergok oleh suaminya. Dan Vito yang bingung dengan melihat kedekatan antara bodyguardnya bersama dengan Desi.
“Kalian??” Tanya Vito.
“Iya Mas, mereka berdua pacaran.” Bisik Kay sambil memegang tangan suaminya.
“Kok bisa?” Tanya Vito heran.
.
.
.
__ADS_1
*TBC