
Pagi-pagi sekali Kat sudah menemani Daisy mandi, meski menunggu diluar tak masalah. "Daisy apakah kau baik-baik saja"
"Iya aku baik-baik saja "
Kat menyiapkan pakaian Daisy, dirinya sendiri sudah mandi tadi duluan sebelum Daisy bangun. Daisy keluar dari kamar mandi dengan senyum tipisnya.
Dia mengambil pakaian yang disiapkan Kat tadi, setelah selesai Kat menyisir rambut Daisy "Sudah, ayo kau harus sarapan "
"Tidak, aku malu"
"Kenapa malu, kan ada aku yang menemanimu. Ayo cepat kita makan dulu kau harus makan sepertinya tadi malam kau juga tidak makan kan"
Daisy hanya diam saja, tapi dengan lembut Kat membawa Daisy keluar kamar. Kat menarik kursi untuk Daisy.
Semua keluarga juga sudah ada disana dan senang melihat Daisy mau bergabung, rapi Daisy masih menundukan kepalanya.
"Kamu mau makan apa Daisy, biar aku ambilkan "
Tapi Daisy tak menjawab dia malah diam saja, dengan sabar Kat mengambilkan makanan untuk Daisy "Aku ambilkan ini ya untukmu, kalau begitu kita makan dikamar mu saja ya "
Kat membawa dua piring dengan satu tangan dan tangan satunya lagi menarik tangan Daisy. Zeline yang melihat itu kembali menangis lagi.
__ADS_1
"Mas bagaimana kenapa Daisy menjadi seperti itu "
"Dia masih trauma sayang, kita akan membawanya ke dokter nanti"
"Apa dia tak akan marah "
"Ini demi kebaikannya sayang, sudah kamu jangan terus menangis. Kamu dari kemarin belum makan sekarang makan dulu nanti temui Daisy dan Kat ya "
Zeline hanya menganggukan kepalanya saja. Mengikuti apa yang suaminya suruh meski hatinya masih tak tenang memikirkan anaknya.
Kenapa semua ini harus terjadi pada anaknya, kenapa begitu. Anaknya adalah anak baik, kenapa harus dia kenapa tidak yang lain saja.
...----------------...
"Aku malu jika bertemu dengan keluargaku, kamu juga kalau tahu yang sesungguhnya pasti akan benci sama aku, kamu ga akan terima aku. Kamu akan malu punya temen kayak aku gini "
"Kenapa harus malu mereka itu keluarga kamu, ga usah ada yang kamu takutin. Semuanya akan baik-baik saja. Meskipun aku ga tahu masalah kamu apa tapi aku ga akan pernah benci kamu kok Daisy. Justru kamu itu beruntung tahu ga sih ada di keluarga ini"
Daisy mendongakkan kepalanya dan menatap Kat dia menatap Kat lekat sekali "Kalau kamu ada di posisi aku mungkin kamu akan lebih terpuruk lagi, aku ditinggalin sama Mama, aku tuh dari kecil tinggal sama ibu tiri yang sering banget nyakitin aku, kakak yang sering nyakitin aku, adik yang sering nyakitin aku dan ayah yang ga pernah peduli sama aku sama sekali. Kamu itu beruntung punya keluarga ini. Seharusnya kamu ga usah malu apapun itu masalah kamu, jadi meskipun masalah itu berat tapi keluarga kamu selalu ada untuk kamu "
"Aku tanya satu hal sama kamu. Apa keluarga kamu marah saat tahu tentang kejadian ini"
__ADS_1
Daisy menggelengkan kepalanya "Kalau begitu kamu harus bisa melupakan itu semua. Mungkin berat masalah kamu, mungkin itu ga akan pernah bisa kamu lupain tapi setidaknya kamu masih punya keluarga yang bisa support kamu. Yang bisa selalu ada buat kamu. Aku ga akan pernah benci masalah apapun yang terjadi sama kamu, mau masalah itu seberat apapun aku ga akan pernah benci sama kamu. Kenapa aku harus benci sama kamu ga ada alasannya juga aku benci saja kamu "
"Aku udah ga suci lagi. Mana ada nanti laki-laki yang mau sama aku. Bahkan bukan satu laki-laki aja yang pakai aku tapi 6 sekaligus, aku diperkosa Kat, aku dilecehkan " teriak Daisy, akhirnya dia berbicara juga pada Kat.
Kat langsung mendongakan kepalanya dan menatap Daisy dengan kaget jadi ini masalah yang Daisy pendam, kenapa ini bisa terjadi pada Daisy.
"Kamu diem kan. Aku tuh ga ada masa depannya, aku tuh ga punya masa depan, ga akan pernah ada laki-laki yang mau sama aku dan kalau aku hamil gimana siapa ayah dari anakku nanti"
"Jodoh itu ada di tangan Tuhan, jika laki-laki itu benar-benar mencintaimu dia akan menerima masa lalumu, kekuranganmu apapun itu. Soal masalah anak kau tidak usah takut jika kau tidak mau mengurusnya berikan saja padaku, aku yang akan merawatnya dengan baik dan kau tidak usah mengakui anak itu sebagai anakmu. Aku janji akan mengurusnya dengan baik tanpa dia tahu siapa ibunya, jadi kau tidak perlu takut lagi untuk hal apapun dalam situasi apapun aku akan selalu ada disampingmu"
Daisy malah menangis " Tapi tetap saja anak itu akan tahu siapa ibunya, dia juga akan membuat keluarga ini malu "
"Sudah aku bilang jangan memikirkan hal yang belum tentu. Kita ke rumah sakit dan cek semuanya ya aku akan temani kamu. Terus kita cek apa kamu hamil atau engga, kita cek ya aku ga akan pernah tinggalin kamu. Kamu bisa pegang janji-janji aku ini, lebih baik sekarang kamu makan karena kamu juga butuh energi kan. Kamu ga mungkin kayak gini terus terpuruk dan takut. Aku tahu ini sulit aku pun kalau ada di posisi kamu mungkin aku akan lebih parah, tapi setidaknya kamu harus bangkit demi diri kamu sendiri itu yang utama. Kamu ga bisa kayak gini terus mungkin pelaku di sana akan senang melihat kamu kayak gini, jangan buat mereka memang Daisy "
"Kalau mereka sebarin videonya gimana, mereka videoin aku"
"Kita punya hukum, mereka bisa dihukum seberat-beratnya. Masalah video itu bisa diurus oleh kakakmu orang tuamu, mereka bisa mengurusnya Daisy, kau tidak usah takut dengan semua hal itu bukan kau yang salah di sini, kau adalah korban bukan pelaku"
Daisy memeluk Kat dengan erat, sangat erat sekali dia tak tahu harus menceritakan keluh kesahnya pada siapa. Tapi setelah menceritakan ini pada Kat semuanya hatinya merasa sedikit tenang.
Meskipun ada rasa yang masih mengganjal, rasa trauma takut pada laki-laki dan takut tidak akan pernah ada yang menerima dirinya.
__ADS_1
Mungkin dirinya juga tidak akan menikah karena ini akan selalu ada dalam benaknya, sampai kapan pun juga tak akan pernah bisa dirinya lupakan.