Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 20 sudah dilihat aku bangga


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku sudah menjemput Katherine dan untungnya aku tidak terlambat. Dia tanpa aku suruh langsung masuk ke dalam mobil "Kau sudah sarapan"


"Sudah Abang, aku sudah sarapan"


"Baiklah sekarang kita pergi ke sekolah"


Aku melajukan mobil dengan kecepatan yang rendah. Aku tidak mau terburu-buru karena aku ingin melihat karya seni ku yang sudah aku pajang itu. Saat aku melewati taman kota begitu macet karena para pengemudi banyak yang turun melihat karya seni ku yang terpajang indah di sana.


"Abang ada apa sepertinya ada masalah, kenapa mereka pada turun"


"Entahlah, aku tidak tahu. Apakah kau ingin tahu apakah kau ingin melihat"


"Apa kita tidak akan telat"


"Kau tidak usah takut selagi aku ada di sampingmu, semuanya akan baik-baik saja. Ayo jika kau penasaran mereka melihat apa kita lihat ada apa"


Katherine langsung menganggukan kepalanya. Dia langsung keluar dan aku mengikutinya dari belakang tentunya kami mencoba untuk menerobos. Angin segar menerpa wajahku aku melihat karya seni ku yang begitu indah dan juga sangat mewah ini. Semua orang memfoto karya seni ku ini.


Aku tak bisa memperlihatkan rasa senang ku ini. Aku hanya bisa menahan rasa senang ku ini. Aku tak boleh membuat mereka curiga.


"Abang lihatlah patung ini begitu cantik seperti manusia sungguhan, tapi kenapa dia tidak memakai pakaian"


"Mungkin orang yang membuatnya suka karya seninya telanjang"


"Memang ada yang seperti itu, tapi matanya kenapa begitu merah"


"Entahlah aku tidak tahu Katherine"


"Kenapa di taman kota ada sebuah patung tiba-tiba seperti ini ya. Padahal aku sering lewat sini tapi tidak ada patung lilin ini "


"Aku juga tidak pernah melihatnya. Apakah kau tidak mau memfoto karya seni ini, katanya kau suka ayo foto"


Katherine dengan polosnya melakukan apa yang aku suruh. Dia memfoto karya seni ku itu bahkan beberapa kali, tapi tiba-tiba perempuan itu menangis. Menangis darah ternyata patung lilin ku itu mulai merasa sedih.

__ADS_1


Orang-orang tiba-tiba saja makin mendekati patung itu. Mereka penasaran apakah itu darah sungguhan atau bukan. Lalu tiba-tiba keluar darah juga dari kaki perempuan itu deras sekali.


Katherine yang paling dekat dia berteriak histeris karena terciprat darah itu. Dia langsung memeluk ku dengan erat aku hanya bisa menyembunyikan kebahagiaanku ini saat Katherine memelukku.


"Kenapa dia berdarah. Kenapa ada darahnya apakah dia manusia Abang, apa dia manusia"


"Aku tidak tahu Kat, ayo kita pergi ke sekolah. Jangan memikirkan ini ayo"


Aku melepaskan pelukanku pada Kat dan menarik tangannya untuk pergi dari sini. Orang-orang juga sudah berteriak histeris dan polisi juga sudah berdatangan. Mereka telat mengetahui kalau patung yang aku pajang ini adalah manusia.


Katherine terus saja melihat ke arah patung itu. Patung itu masih saja terus berdarah, darahnya bahkan sudah mengalir begitu banyak.


"Abang apakah itu ulah dari pembunuh berantai"


"Kurasa tidak, cara membunuhnya berbeda kalau pembunuh berantai biasanya akan membunuh orang dengan cara yang sama. Aku lihat sih di film-film seperti itu Kat " aku mencoba berbohong pada Kat.


"Aku mulai takut untuk pergi ke mana-mana sendiri "


Katherine menatapku, wajahnya begitu pucat aku segera memberhentikan laju mobilku. Aku melihat tadi ada warung biar aku belikan dulu air minum untuknya. Sepertinya dia syok bagaimana kalau dia mengetahui kalau aku yang melakukannya, apa dia tidak akan pingsan.


Setelah membeli air mineral aku masuk kembali dan membukakan dulu tutup botolnya dan memberikan pada Kat. Tanpa banyak bicara Kat langsung menerimanya dan meneguk air minum itu.


"Kalau aku tahu itu manusia aku tidak mau melihatnya. Itu sangat menakutkan sekali tiba-tiba dia menangis darah, tapi saat tadi patung itu menarik perhatianku. Dia cantik bahkan seperti manusia sungguhan dan ternyata memang benar-benar manusia sungguhan. Apakah ada orang setega itu melakukan itu pada orang lain apalagi ini perempuan"


"Dunia ini luas kita tidak akan pernah bisa memprediksi orang baik dan jahat. Kita juga tidak akan tahu siapa yang sudah melakukan ini dan tega melakukannya pada seorang perempuan. Seperti apa yang aku katakan bisa saja orang yang melakukan itu adalah orang terdekat kita"


"Maksud Abang apa orang terdekat, seperti apa"


"Apakah kau pernah mengenal lebih dalam teman-temanmu"


Kat langsung menggelengkan kepalanya "Maka dari itu kau jangan terlalu percaya pada teman-teman mu. Bisa saja mereka adalah pembunuh itu, pembunuh berantai itu"


"Memangnya di zaman sekarang masih ada pembunuhan yang dilakukan oleh anak SMA ya"

__ADS_1


"Bisa saja, nyatanya ini sudah ada. Bahkan kau sudah melihatnya dengan nyatakan kalau pembunuh psikopat itu ada di dunia ini. Mereka ada dan hidup berdampingan dengan kita, tapi kita tidak tahu siapa dia dan di mana dia. Kita hanya perlu waspada saja apalagi kau Kat, kau terlalu polos terlalu cepat percaya pada orang lain "


"Termasuk Abang"


"Tidak, kau hanya perlu percaya padaku saja. Kita dibesarkan bersama jadi tak ada yang perlu dicurigai dari aku, karena itu tidak akan pernah terjadi Kat. Aku tidak mungkin membunuh orang lain"


"Aku tidak mengatakan kalau Abang membunuh orang lain"


"Ini hanya untuk membuatmu percaya padaku, kalau aku tidak mungkin membunuh orang lain,"


"Hemm aku harus waspada"


Kat menatapku dengan sengit, apakah dia mulai mencurigai ku. Tidak masalah aku bisa memanipulasi siapapun. Jangan katakan aku Lucas kalau aku tidak bisa membuat orang lain percaya padaku dan membuat dia menurut padaku.


"Pulang sekolah kau langsung pergi ke ruanganku. Kita pulang sama-sama seperti biasa jangan pernah pulang sendirian"


"Hemm, apakah kau bisa meluangkan waktu untuk kita makan di luar"


"Kau mengajakku makan sama-sama"


"Ehh, ya seperti itu lah"


"Tentu aku akan meluangkan waktu untukmu. Kapan di mana tempatnya kau beritahu aku, kita berangkat sama-sama"


"Tidak, kita berangkat sendiri-sendiri saja Abang. Biar Abang tidak bolak-balik"


"Tak masalah itu untukku"


"Aku kan yang mengajak Abang untuk pergi keluar makan di luar, maka biar aku pergi sendiri saja. Abang tidak usah khawatir aku pasti akan baik-baik saja"


"Baiklah, nanti kau telepon diriku saja. Aku akan selalu ada waktu untuk mu"


Katherine dia hanya mengganggukan kepalanya. Dia memegang air mineral itu dengan erat. Kenapa dia sepertinya dia mulai takut denganku.

__ADS_1


__ADS_2