Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 212 Alex si pelupa


__ADS_3

"Lucas kenapa aku harus berdandan seperti ini, memangnya siapa yang akan datang ke rumah. Kalau tahu akan ada yang datang kenapa kita menyiapkan makanan. Kamu kenapa tak memberitahu aku dari siang sih "


Kat benar-benar binggung. Sebenarnya siapa yang akan datang. Suaminya hanya menyuruhnya untuk bersiap saja, tidak menjelaskan orang itu siapa. Biasanya kalau memang ada tamu pasti Lucas akan menjelaskan orangnya ini, bersama ini akan membahas ini, pokoknya semua Lucas akan mengatakannya, tapi ini seperti misterius sekali membuat Kat makin penasaran saja.


"Nanti juga kamu akan tahu siapa yang akan datang ke rumah. Kamu harus mempersiapkan segalanya mental dan juga sikap kamu. Aku tak akan marah kamu akan bersikap apa nanti pada tamu kita. Aku membebaskan mu sayang "


"Mental, aku harus siapin emangnya aku bakal ngadepin apa hantu, alien atau apa sih "


Kat malah jadi greget pada suaminya, karena suaminya ini malah bertele-tele dan tidak mau memberitahunya. Padahal kan sudah sangat penasaran sekali ingin tahu siapa yang akan datang. Jangan sampai yang datang malah musuh seperti Tamara, dulu pura-pura menjadi sahabat tapi pada akhirnya malah ingin meracuni Kat.


"Nanti juga kamu akan tahu orangnya akan datang sebentar lagi. Udah lebih baik kamu diam duduk manis di sini"


Lucas tersenyum melihat istrinya yang makin penasarannya, sepertinya akan marah padanya tapi sedang ditahan oleh istrinya itu. Bukannya Lucas ingin menutup-nutupinya, hanya saja takutnya istrinya malah tidak mau bertemu dengan perempuan itu kan bisa gawat, Lucas sudah mengancamnya tapi tiba-tiba istrinya tak mau bertemu.


"Baiklah aku malah jadi curiga padamh Lucas. Awas saja kalau yang aneh-aneh aku tak akan terima ya "


"Untuk apa curiga pada ak,u ini demi kebaikanmu sayang. Jangan terlalu lunak pada orang lain dan jangan terlalu baik jika disakiti"


Kat mencerna kata-kata dari suaminya. Maksudnya apa coba, Kat saja jarang keluar rumah paling kalau Alexander buat masalah ya ke sekolahnya atau ambil rapot anak-anak udah itu aja. Kat jarang banget keluar kalau ga sama suami dan anak-anaknya.


Entah kenapa Kat malas saja kalau misalnya pergi sendiri tanpa ditemani anak-anak atau suaminya. Rasanya tidak ada teman mengobrol dan juga tidak ada teman untuk memberikan pendapat, kalau misalnya membeli sesuatu Kat kan harus menentukan sendiri tapi kan kalau membawa suami atau anaknya bisa meminta pendapat pada mereka.


...----------------...


"Kakak "Panggil Alex dengan suara pelanya. Alex tahu kakaknya ini tidak suka kalau misalnya berisik bisa-bisa nanti Alex malah diusir, bukannya diterima di kamarnya ini. Bahkan kakaknya sekarang ingin tidur sendiri tidak mau bersama Alex, padahal dulu mereka tidur bersam. Tapi kata kakaknya, kakaknya mau mandiri dan Alex juga harus mandiri tidur sendiri.


"Apa Alex "jawabnya masih fokus dengan bukunya.


Alex mendekati Kakaknya dan duduk ditempat tidurnya. Pasti akan seperti ini kalau berbicara dengan Kakaknya tidak akan saling pandang.


"Tadi aku udah balas dendam loh, aku udah berhasil "


Daniel menurunkan bukunya dan menatap adiknya "Sama anaknya"


"Iya aku juga udah cerita kok sama ayah semuanya, tapi ayah ga marah kok sama aku malahan katanya bagus. Jadi sebenarnya kita itu boleh lukain orang atau enggak sih"


Alex benar-benar bingung. Kata mamanya jangan pernah sampai melukai orang lain, tapi tadi ayahnya membuktikan kalau Alex boleh melakukan itu kan. Bahkan Ayahnya tidak marah pada Alex hanya tersenyum.


"Ga boleh "


"Terus kenapa Ayah ga marahin aku. Kenapa ayah seperti biasa-biasa aja "


"Karena orang tuanya udah berani nyakitin Mama. Maka kalau ada orang yang menyakiti Mama, mereka harus menerima balasannya, tidak penting mereka mau muda atau tua kalau sudah menyakiti hati Mama berarti kita harus maju. Kita harus selalu melindungi Mama dalam keadaan apapun itu jangan pernah lengah "


"Gitu ya, masalah tentang kakak yang suka bedah-beda hewan apa Ayah sama mama tahu ? "


Tiba-tiba saja Alex ingat itu. Saat pertama kali melihat kakaknya membedah hewan dan juga memotong-motongnya menjadi kecil-kecil. Sudah beberapa kali sih sebenarnya Alex melihat kakaknya seperti itu dan Kakaknya juga tidak marah padanya hanya acuh saja.


Alex sedikit takut sih setelah melihat itu pada kakaknya. tapi lama-kelamaan Alex melupakannya, tapi sekarang malah ingat lagi setelah mendengar kata-kata kakaknya.


Daniel langsung menyimpan telunjuknya di bibirnya "Diam kalau kamu sampai bicara sama Ayah atau Mama maka aku tidak akan pernah memaafkanmu Alex. Aku tidak akan mau menganggapmu sebagai adik sampai kapanpun. Ingat itu aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku, kamu tahu aku kan"


Alex yang takut lebih mendekati kakaknya "Baiklah aku tidak akan bicara apa-apa dengan Mama ataupun Ayah, tapi sepertinya akan ada tamu ke sini. Ayah menyuruh Mama berdandan dan tidak seperti biasanya, memang sih Mama selalu cantik di depan Ayah tapi ini lebih cantik lagi" Alex mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Sepertinya Alex salah membahas hal ini dengan kakaknya, seharusnya Alex tadi tidak mengingat-ingat tentang kakaknya yang selalu membedah hewan-hewan itu.


Daniel mengurutkan keningnya "Memangnya siapa yang datang ke sini"


"Aku juga tidak tahu siapa itu yang datang mau mengintip"


Daniel tidak menjawab. Dia malah berjalan meninggalkan adiknya di kamar sendirian. Alex yang kesal langsung mengikuti kakaknya. Menyebalkan sekali kakaknya ini dingin sekali seperti es.


Apa harus bersikap seperti itu pada Adiknya sendiri. Padahal Alex ini adik kandungnya tapi kakaknya bersikap seperti itu padanya.


Mereka berdua diam menatap orang tuanya yang sedang berbicara dengan seseorang "Kakak itu adalah perempuan yang membuat Mama jatuh. Dia juga yang sudah membentak-bentak Mama, ternyata tamunya itu aku kira siapa dia tidak penting. Sungguh aku masih kesal dengan apa yang dia lakukan pada Mama "


"Pasti ini ulah Ayah kan meminta orang itu untuk minta maaf sama Mama "tebak Daniel yang sudah tahu bagaimana watak ayahnya itu.


"Pastinya, apalagi kalau bukan hal itu. Ayah kan posesif banget sama Mama, bahkan kalau kita yang ga nurut sama Mama atau bentak Mama, Ayah bakal langsung marah kan"


"Ya makanya jangan macam-macam" peringat Daniel.


Mereka berdua masih mengintip tidak mau pergi, ingin tahu apa saja yang mereka bicarakan. Apakah akan ada pertengkaran atau tidak.


Sedangkan Kat yang melihat ibu-ibu itu yang membentaknya ada di hadapannya, merasa kaget dan juga aneh kenapa ada di sini bersama suaminya pula. Tapi ibu-ibu ini terlihat diam tidak seperti waktu itu, saat pertama kali bertemu Kat dan memarahinya.

__ADS_1


"Sebelumnya Pak Lucas saya sebagai suaminya, meminta maaf atas ketidaksopanan istri saya karena telah membentak istri Pak Lucas, dan juga membuatnya sampai terjatuh"


Kat menatap suaminya, merasa tak suka kalau seperti ini. Padahal itu hanya masalah kecil seharusnya tidak usah dibesar-besarkan seperti ini.


Padahal Kat sudah melupakan itu semua. Dia tidak mau memperpanjang masalah ini. Kat juga sudah memaafkan kelakuannya.


Istri dari Dani itu menatap Kat, lalu kembali menundukan kepalanya "Mohon maaf Bu atas kesalahan saya waktu itu, memang sayang salah, saya telah salah sampai membuat Ibu jatuh lalu dengan tidak sopannya saya membentak-bentak ibu bahkan menunjuk-nunjuk ibu. Saya sungguh menyesal dengan apa yang saya lakukan "


Kat menghela nafasnya. Padahal kan tidak usah sampai seperti ini Kat rasanya ingin menghilang saja, ini hanya masalah kecil saja padahal.


"Ya sudah masalah itu kan sudah berlalu juga. Asal kamu tidak melakukan hal itu lagi pada orang lain. Kamu kan orang tua seharusnya kamu lebih bijak. Apalagi kamu punya anak dan harus dididik dengan baik juga kan, ubahlah sikapmu itu jangan terlalu arogan pada orang lain mungkin kamu punya segalanya tapi apakah pantas kamu seperti itu"


Kat tidak mau mengundang pertengkaran lagi, jadi lebih baik Kat menasehatinya saja daripada nanti kalau Kat menyahutinya dengan kata-kata yang menyakiti hatinya malah nanti jadi masalah dan akan jadi dendam juga kan.


"Iya memang saya salah Bu, saya mohon maaf. Saya menyesal telah melakukan hal itu pada ibu. Saya juga tidak akan pernah melakukan hal ini pada orang lain lagi "saat ibu-ibu itu akan bersujud di kaki Kat, Kat langsung menahannya dan membantu ibu-ibu itu untuk berdiri.


"Kenapa sampai harus begitu, jangan pernah bersujud padaku kamu bersujudlah pada Allah. Aku ini hanyalah manusia biasa sama seperti kamu. Jadi jangan melebih-lebihkan segalanya. Aku sudah memaafkan semuanya"


Kat menyenggol suaminya. Ini pasti ulah suaminya, suaminya pasti sudah mengancam kedua orang ini sampai-sampai mereka sangat ketakutan sekali. Bahkan Kat bisa melihat bulir-bulir keringat mereka. Padahal ruangan ini sangat dingin.


"Sepertinya masalah ini sudah sampai sini saja, tidak usah dibesar-besarkan aku tidak mau sampai ada nanti balas dendam balas dendam atau masalah yang menyangkut pautkan pada anak-anak. Anak-anak kita kan satu sekolah aku tidak mau kalau mereka sampai bermusuhan atau nanti malah balas dendam karena masalah ini "


Kat belum tahu saja. Kalau anaknya Alex sudah melukai anak perempuan mereka. Kalau sampai Kat tahu pasti dia akan sangat marah besar sekali.


"Iya Bu anak kita satu sekolah, sekali lagi saya minta maaf atas apa yang pernah saya lakukan"


"Ya aku memaafkanmu"Kat sungguh kasian pada mereka berdua. Suaminya ini sungguh keterlaluan sekali.


Lucas puas melihat itu semua. Apa yang dia mau sudah tercapai. Setelah sedikit basa-basi Dani dan juga istrinya pulang. Kat langsung berkaca pinggang menatap suaminya "Jadi ini yang katamu akan ada tamu, kenapa kamu harus lakuin itu sih itu cuma masalah kecil. Aku juga udah ga mempermasalahkan itu lagi"


"Masalah kecil kayak gimana sih, itu bukan masalah kecil itu masalah besar. Dia tuh harus diberi pelajaran biar ga kayak gitu lagi, apalagi dia berani tunjuk-tunjuk kamu, emangnya aku pernah tunjuk-tunjuk kamu ga pernah kan"


Lucas jadi sedikit emosi karena mendengar perkataan istrinya itu. Enteng sekali istrinya berbicara rasanya Lucas ingin sekali menerkam istrinya sekarang, tapi tidak mungkin Lucas tahu anak-anaknya sedang mengintip.


"Ya tapi kamu ga usah suruh dia untuk bersujud sama aku juga, untuk apa aku ga suka deh kayak gitu"Kat marah-marah pada suaminya.


Kenapa Kat sampai marah, Kat merasa kalau perminta maafan nya itu hanya karena mereka takut saja pada Lucas, bukan karena dari hati dalam mereka. Kat tidak mau ada musuh lagi dalam keluarganya, tidak mau ada orang yang menyerang keluarganya lagi, Kat ingin tenang seperti setelah Tamara tak ada hidupnya tenang sampai sekarang.


"Baiklah aku minta maaf aku memang salah. Aku hanya ingin dia minta maaf padamu saja, aku tidak suka istriku direndahkan seperti itu. Sampai dimarahi padahal kamu tidak salah" sekarang Lucas membela dirinya tidak mau disalahkan.


Lucas menggenggam kedua tangan istrinya dan menciumnya bertubi-tubi "Maafkan aku sayang. Aku tidak mau kalau terjadi sesuatu pada istriku yang cantik ini. Jangan marah lagi ya sayang. Aku tak bisa kalau kamu marah padaku"


Kat melepaskan pegangan suaminya itu, lalu melipat tangannya "Tetap saja aku kesal dengan kamu, bagaimana kalau semua ini ditiru oleh anak-anak. Aku tidak mau anak-anak menjadi angkuh sepertimu. Aku ingin mereka menjadi anak yang baik dan selalu memaafkan apapun kesalahan orang"


Kat kembali mengutarakan hal itu pada suaminya. Sudah beberapa kali Kat mengatakan ini. Tapi tetap saja rasanya Kat ingin mengulanginya lagi, karena suaminya pasti tak akan mendengarkannya.


"Ya kalau mereka mau jadi angkuh ya tidak masalah, mereka kan anak-anakku"


"Lucas " Panggil Kat dengan sangat geram sekali pada suaminya ini.


"Iya aku minta maaf. Aku minta maaf sudah jangan marah aku tidak bisa sampai kamu marah seperti ini, kita ke kamar yu. Lebih baik kita menghabiskan waktu didalam kamar saja sayang. Ayolah sayang aku ingin tidur denganmu dan memelukmu dengan erat sekali sayang bagaimana "


"Tidak kamu saja duluan, aku mau bicara dengan Daniel, ada sesuatu yang harus kami bicarakan. Ini sangat penting sekali "


Kat baru ingat kalau dia akan membicarakan sesuatu dengan anaknya, sampai lupa kan. Untung saja ingat kalau tidak pasti anaknya akan menunggu gara-gara suaminya mengatakan kalau akan ada tamu, ternyata ini tamunya yang Lucas ancam.


"Tapi kamu ga akan tidur sama Daniel kan, kamu nanti pulang ke kamar kan kamu ga akan tinggalin aku, ga akan biarin aku tidur sendiri kan sayang"


"Ga akan, aku mau ngobrol dulu sama Daniel kamu ke kamar dulu ya. Nanti aku nyusul kamu kok. Kamu ga usah takut aku tidur dengan Daniel dia ga akan mau "sambil membelai wajah suaminya.


Kat juga tidak mau marah-marah seperti ini pada suaminya. Kat tahu suaminya begitu peduli padanya, sangat menyayanginya dan tak mau istrinya terluka atau dibentak seperti itu tapi menurut Kat itu terlalu keterlaluan. Kasian mereka itu.


"Ya sudah aku tunggu di dalam kamar ya. Jangan lama-lama nanti aku kangen. Aku ga bisa tahan kangen sama kamu sayangku "


Kat mengusap wajah suaminya, " Kita setiap hari di rumah berdua setiap hari kita juga ketemu. Aku juga tak akan lama kamu ini ada-ada saja deh. Aku tak akan lama hanya beberapa menit juga "


"Tetep saja nanti aku kangen sayang, aku ga bisa tahan lama-lama "


Mulai manja Lucas ini. Kat suka tapi kadang juga kesal karena suaminya akan melarang Kat pergi kemana-mana bahkan untuk menemui anaknya saja akan sulit.


"Aku akan kekamar Daniel dulu, aku hanya akan sebentar sayang. Jangan menyusul ku"


"Minta cium dulu dong"

__ADS_1


Makin kemari makin tua suaminya ini malah makin seperti anak kecil saja. Kat mencium bibir suaminya cukup lama lalu pergi ke arah kamar anak sulungnya yang paling ujung. Entah kenapa Daniel ingin kamar itu dari pertama dia sudah mau pisah kamar dia ingin di situ. Tak mau ditempat lain padahal sama-sama saja tak ada bedanya juga.


Sebelum masuk Kat mengetuk pintunya dulu, setelah mendengar suara Daniel yang memperbolehkannya masuk Kat segera masuk. Kat juga mengajarkan pada anaknya kalau mau berkunjung ke rumah orang atau misalnya sedang di rumah orang dan akan pergi ke kamarnya harus mengetuk pintunya dulu ya maksudnya takutnya di dalam ada orang tidak mungkin kan tiba-tiba masuk ke dalam kamar orang tanpa permisi itu namanya tidak sopan.


"Bagaimana apakah mamah mau membantu Tamara. Aku sudah datang ke rumahnya"Kat langsung diberi pertanyaan oleh anaknya ini. Kat duduk di samping anaknya yang sedang membongkar mobil-mobilannya.


Seperti inilah anaknya kalau sedang bosan, membongkar-bongkar mainannya. Nanti dia susun kembali dan hasilnya juga bagus tidak ada yang salah.


"Terus bagaimana dengan keadaan rumahnya"


"Ya sangat memprihatinkan sekali Mama menurutku sih kurang layak untuk ditempati oleh mereka. Tapi aku tidak mau menyinggung mereka juga. Mungkin dengan sedikit bantuan kita dengan memberikannya seragam dan juga makanan itu akan lebih baik Mama" usul Daniel.


Kat setuju-setuju saja sebenarnya dengan apa yang anaknya mau kalau itu menyangkut kebaikan, Kat akan terus mendukung itu. Kat suka dengan sikap anaknya yang seperti ini. Semoga saja anaknya Daniel tidak seperti ayahnya. Kat tak mau kalau sampai anaknya sama dengan Ayahnya.


"Boleh Mama setuju dengan apa yang kamu pikirkan, nanti besok Mama kasih uangnya sama kamu buat beli seragam. Untuk masalah makanan nanti sore kita anterin ke rumahnya gimana"


"Tapi kayaknya dia ga mau deh kalau Mama datang"


"Kenapa emangnya. Dia ga suka ada tamu gitu masa sih ga suka sayang "


"Aku pancing neneknya kalau misalnya orang tuaku datang kemari gimana, neneknya kayak nolak gitu. Aku ga mau kalau sampai neneknya tiba-tiba marah sama aku atau sama Mama. Kita kan niatnya mau bantu masa tiba-tiba ke sana dia marah-marahin kan ga enak "


"Iya juga sih. Ya udah nanti kirim aja ke sana ya sama Pak sopir. Beli aja dulu seragamnya sesuai ukuran, bawa anaknya buat beli seragamnya jangan sampai nanti kamu salah ukuran kasihan kan. Kalau dia nolak kasih pengertian dulu sama kamu ya. Jangan paksa "


"Iya Mama, tapi apakah Mamah mengenal nenek-nenek itu maksudku dia seperti takut melihat wajah Daniel. Mama tahu sendiri kan wajah Daniel ini sangat sama dengan ayah. Apakah ayah pernah punya masalah dengan seorang nenek"


"Mama tidak akan tahu kalau belum melihat wajahnya, kalau mama melihat wajahnya mungkin mama akan tahu sayang "


"Benar juga ya, nantilah aku akan ambil fotonya diam-diam coba Mama lihat apakah mama mengenal nenek-nenek itu. Sepertinya dia memendam sesuatu tapi Daniel juga tidak tahu apa yang dia pendam. Pertama melihat Daniel nenek takut takut wajahnya menggambarkan kalau dia takut, padahal kita baru bertemu loh Ma"


"Baiklah nanti mamah akan lihat. Di mana adik mu kenapa dia tak ada disini. Alex biasanya mengganggumu dan tak mau pergi dari kamarmu ini"


"Baru saja dia masuk ke dalam kamarnya, mungkin akan mengerjakan tugasnya. Dia kan kalau masalah PR itu suka malas nanti kalau misalnya mau dikumpulin baru bilang mama atau ga ke sini minta bantuin. Alex itu suka nyebelin kalau masalah PR "


"Ya udah bongkar-bongkar mobilnya nanti aja, bisa dilanjutkan nanti kan sayang lebih baik kamu sekarang tidur. Udah malam nih , Mama mau ke kamar Alex dulu lihat dia apa sudah tidur "


Daniel menganggukan kepalanya membereskan mobil-mobilannya yang tadi dia bongkar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kat menyelimuti anaknya dan mencium keningnya. Setelah itu Kat tak lupa mematikan lampu juga.


Kat berjalan ke arah kamar paling tengah. Sama Kat juga mengetuk dulu pintunya ternyata anaknya Alex belum tidur" Mama tamunya apa sudah pulang"


"Sudah kamu tahu dari mana kalau ada tamu. Mama kan ga kasih tahu kamu "


"Tadi aku lihat dari balkon ada mobil pasti itu tamu. Karena aku tidak mengenal mobilnya, kalau misalnya Aunty yang kemari pasti aku tahu mobilnya yang mana"


Kat hanya menganggukan kepalanya saja "Apa ada PR nanti jangan tiba-tiba subuh-subuh bangunin mama untuk bantuin kamu ngerjain PR, coba ingat-ingat apa ada pr "


Alex diam sejenak sambil memikirkan apakah ada PR, lalu Alex menggelengkan kepalanya "Sepertinya sudah aku kerjakan Mama, aku tidak mau membuat mau pusing dan minum obat lagi maaf ya Alex sudah membuat mama pusing. Alex janji nggak akan buat masalah lagi deh"


"Benarkan kamu ga akan buat anak-anak perempuan itu menangis"


"Aduh kalau yang itu sih sulit ya mah "sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa sulit kasihan loh mereka sama kamu di kayak gituin. Kalau misalnya mereka jadi trauma bagaimana"


"Kenapa bisa trauma Ma, cuman biasa-biasa aja kok nggak sampai buat mereka berdarah-darah aku kan cuman jahili biasa aja "


"Iya Mama ngerti ga sampai kayak gitu. Tapi Mama nggak mau sampai anak perempuan itu malah takut nanti sama laki-laki, ya jangan terlalu jahil sama anak perempuan lah sayang "


"Terus sama anak laki-laki boleh gitu"


"Ga boleh juga, pokoknya Alex itu harus baik-baik ya nggak boleh kayak gitu, Mama nggak mau sampai Alex dicap anak nakal di sekolah. Alex kan di rumah baik masa di sekolah tiba-tiba nakal kayak gitu"


"Ya habis kadang mereka nyebelin mama"


"Ya udah nggak usah kamu hiraukan aja, kan kamu ke sana mau sekolah jadi di sekolah harus baik-baik ya"


"Iya Mah, Oh tunggu mama aku lupa besok harus bawa kerajinan dari korek api maksudnya gambar salah satu rumah adat terus ditempel-tempelin pakai korek api"


"Alex kenapa baru bilang sekarang harus cari di mana"


Kat langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur anaknya "Mama Mama jangan pingsan Alex lupa, Alex bener-bener lupa. Mama maafin Alex dong"


Kat hanya bisa memijat kepalanya saja, pusing dengan anaknya yang satu ini. Serba mendadak.

__ADS_1


__ADS_2