
Bruk
"Bisa tidak Daisy kalau jalan itu hati-hati, jangan melamun seperti itu. Atau mungkin mata kamu udah jelek, mau aku beliin kaca mata aja"
Daisy mengambil buku-bukunya yang terjatuh lalu menatap Adiba yang berdiri dengan angkuh di hadapannya "Sepertinya harusnya aku yang berbicara seperti itu padamu Adiba. Kamu yang menyenggol aku tapi tiba-tiba kamu yang marah padaku apa tidak salah. Kamu ini waras kan. Apa tidak salah"
"Tetap saja kamu yang salah, bukan aku kamu yang salah. Bukannya minta maaf malam seperti ini. Ayo cepat minta maaf dan aku kesalahanmu"
"Dasar orang gila lihat tuh bajumu basah, apa asi mu keluar makanya punya anak itu beri asi. Bukannya didiamkan seperti itu. Sakit sendiri kan jadinya "
Daisy langsung saja pergi, tak mau melayani Adiba yang gila. Kalau dirinya meladeninya akan sama-sama gila kan lebih baik pergi saja. Malas juga bertengkar dengannya yang ada akan dirinya yang disalahkan nanti.
Teman-temannya juga pasti akan membela Adiba, dirinya selalu saja salah dihadapan teman-temannya. Mereka selalu saja membela Adiba. Menyebalkan sekali kan teman-temannya ini.
"Aduh, sialan kenapa harus keluar saat aku di kampus sialan. Emang ga bisa nanti aja gitu. Aku malu kan kalau gini terus, pasti aku bakal diolok-olok gara-gara ini akhh nyebelin banget deh "
Adiba segera berlari ke arah kamar mandi, dia mengeluarkan semua asinya dia tidak peduli dengan sakit yang dia rasakan yang terpenting semuanya keluar. Karena memang ini sangat sakit tapi dirinya tidak mau menyusui anaknya tidak mau sampai *********** ini nanti kendur.
Enak saja, tubuhnya rusak gara-gara harus menyusui anaknya Sela. Untuk apa ada susu yang dijual kalau harus bersusah-susah juga dirinya menyusui.
"Aw sakit sekali, kenapa sakit sekali aduh-aduh sakit sekali. Emang ya nyebelin banget aku ga mau kayak gini lagi. Aku ga mau deh punya bayi yang kayak Sela yang bisanya buat aku kesakitan aja. lahiran sakit, ini sakit lah semuanya aja sakit "
Adiba terus saja merintih, dia kembali membenarkan pakaiannya dan keluar dari kamar mandi, menatap pantulan tubuhnya di kaca. Kenapa berantakan sekali kenapa dirinya begitu berantakan.
"Huff, aku lelah sekali kapan aku bisa bekerja dan menghabiskan waktu dengan bebas. Kuliah ternyata melelahkan sekali ya. Seharusnya dulu aku tak usah kuliah saja, harusnya aku mencari pundi-pundi uang agar aku cepat kaya"
Adiba segera keluar dan ingin menemui teman-teman yang pasti sudah menunggunya dari tadi. Benar saja teman-temannya sudah menunggunya di kantin. Mereka sedang asyik berbicara dan juga bercanda.
"Maafkan aku karena telah membuat kalian menunggu, udah kalian pesankan makanan buat aku. Aku udah lapar banget nih "
"Iya iya kita ngerti kok namanya juga ibu muda, pasti banyak banget kan printilan-perintilan yang harus dibawa buat nampung asinya dan yang lain-lainnya, oh ya tentang makanan kamu udah dipesenin sekalian ya bayarin yang kita. Sekali-kali traktir lah "
Teman-teman Adiba yang yang lain langsung tertawa mendengar itu semua, mereka terbahak-bahak mendengar itu tidak ada yang tidak tertawa. Mereka semua tertawa Adiba dengan kesal pergi dari tempat itu. Teman-temannya ini selalu saja membuatnya menjadi lelucon karena masalah dirinya sudah punya anak.
Memangnya mereka tak akan punya anak, sampai-sampai terus saja seperti ini pada dirinya. Mereka juga akan merasakan bagaimana nanti punya anak.
Adiba langsung saja pulang dari kampusnya, tidak mau lagi berkumpul dengan teman-temannya yang ada mereka terus akan mengolok-ngolok dirinya. Saat pulang dia menemukan anaknya Sela sedang diasuh oleh seorang pelayan.
Tapi ya sudahlah dirinya tidak peduli, dirinya juga dan juga Toni sudah bercerai. Apa gunanya juga dirinya mendekati anaknya itu tidak ada gunanya juga. Yang ada malah membuatnya lelah saja harus mengurusnya dan menimang-nimang seperti itu.
"Kamu sudah pulang, tidak biasanya jam segini kamu pulang. Biasanya kamu pulang malam terus. Ada gerangan apa nih pulang siang-siang"
"Kenapa sih Bu. Adiba pulang jam segini salah malam juga salah sebenarnya mau ibu itu apa. Kayaknya tuh Adiba serba salah banget dimata ibu ga ada benar-benarnya. Anak pulang tuh bukannya disambut malah ditanya-tanya kayak gini. Jadi makin males deh pulang kayak gini "
"Mau ibu itu kamu urus Sela, kamu emang nggak kasihan lihat dia malah diurus sama pelayan, sama perempuan lain bagaimana nanti kalau dia sudah besar malah menyayangi pelayan itu. Bukan menyayangi kamu. Kamu harus sadar kalau kamu itu udah punya anak, kamu tuh punya seseorang yang harus kamu sayangi meskipun kamu nggak suka sama Toni tapi setidaknya anggap anak kamu itu. Kasian dia, dia juga butuh seorang ibu Adiba"
Adiba malah menggaruk kepalanya dan acuh, dia duduk dan membuka tudung makanan dan langsung menyantap masakan. Adiba tidak peduli dengan apa kata-kata ibunya itu, tadi yang mengatakan kalau dirinya harus menyayangi anak itu.
Memangnya kalau dirinya mengurus anak itu nanti kalau sudah besar, dia akan menyayanginya tidak juga kan tidak menjamin apa-apa. Yang ada malah sebaliknya mungkin. Apalagi sudah banyak tangan begitu yang mengasuhnya pasti mereka akan mengaku-ngaku dan anaknya akan sayang orang lain.
__ADS_1
"Adiba apa kamu mendengarkan apa yang Ibu katakan, kenapa kamu malah makan Ibu sedang bicara denganmu. Apa kamu sudah tak punya sopan santun lagi. Apa dengan ibu kuliahkan kamu menjadi seperti ini"
"Ya sudah kalau ibu mau bicara ya bicara saja, aku tidak melarang ibu untuk bicara, dari tadi aku membiarkan ibu untuk bicara lalu apalagi. Aku sudah bilang kan aku tidak mau mengurus Sela sampai kapanpun. Memangnya dia akan menyayangiku nanti suatu saat nanti. Tidak akan pernah menjamin Bu bisa saja dia malah membenciku, dan tak menganggapku sebagai ibunya "
"Mana ada anak membenci ibunya. Jika kamu mengurusnya dengan baik dia tak akan membencimu Adiba, kenapa kamu tak berubah- berubah. Lihat ibu apakah nenek pernah membenci itu tidak kan, dia menyayangi ibu di mengurus ibu "teriak Airin yang kesal dengan anaknya.
"Bu please deh jangan kayak gini. Aku tuh lagi capek aku tuh lagi mau makan di kampus aku tuh diolok-olok sama mereka sama asiku yang terus keluar terus. Di sini aku terus aja diceramahin sama Ibu. Kapan sih aku bisa tenang di rumah biarin aku tenang dong Bu. Jangan terus diceramahin kayak gini. Aku tuh capek diceramahin ibu terus menerus. Setiap hari loh ibu ceramahin aku. Atau ibu mau ganti profesi jadi ustazah"
"Bukannya begitu, Ibu hanya ingin kamu menjadi Ibu yang benar untuk Sela, setidaknya menjadi seorang ibu tidak menjadi seorang istri pun tidak masalah. Sayangi anak kamu, jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti. Jika kamu tua siapa yang akan mengurusmu, siapa yang akan ada untuk kamu Adiba"
"Ibu juga masih ada, kenapa harus memikirkan itu semua. Itu masa depan yang akan lama terjadi. Masih ada ibu yang bisa menemaniku dan mengurusku, jadi kenapa harus berfikir jauh-jauh sih Bu. Udah dong Bu biarkan aku tenang untuk makan sehari aja ga dengerin celotehan ibu ini aku lagi cape banget Bu "
"Ibu tidak akan pernah bisa menemanimu terus. Bagaimana kalau ibu terlebih dahulu dipanggil Allah, kamu akan bersama siapa. Kamu ini sudah dewasa kamu juga bisa memikirkan bagaimana nanti masa depan kamu. Kamu ga bisa terus bergantung pada ibumu ini, ibu sudah tua nak ibu, kapan saja Allah bisa memanggil ibu"
Airin sudah menangis, dia sudah pusing harus berbicara apalagi pada anaknya ini. Kenapa anaknya ini keras sekali. Kenapa anaknya ini sudah sekali diberi tahu. Padahal ini demi kebaikan hidupnya sendiri tapi anaknya tak mau dengar malah seperti itu.
"Nanti aku akan menikah lagi Bu. Ibu tenang saja dan aku akan mempunyai anak, dan anak itu yang akan mengurus ku bukan Sela. Sudahlah Bu ini hidupku jadi ibu jangan terlalu mengatur-ngatur hidupku lah. Mau bagaimanapun aku hidup ya ini pilihanku. Ibu hanya perlu mengikutinya saja. Kalau ibu sayang sama aku Ibu enggak usah terus ungkit-ungkit masalah Sela, dia itu bukan anak yang aku inginkan dia itu anak yang lahir dalam kesalahan seharusnya dia tuh nggak lahir"
Adiba berhenti sejenak mengigat tentang kejadian itu, lalu kembali bicara "Kalau bukan karena Daisy aku tak akan seperti ini Bu, ini semua gara-gara Daisy. Emang tu anak pembawa sial banget. Dia yang dilecehkan aku yang kena juga, aneh banget ga sih harusnya tanggung sendiri aja kalau dilecehkan gitu ga usah bawa-bawa aku. Memangnya aku bakal gila saat dilecehkan tentu saja tidak. Malahan aku akan bangkit aku bukan Daisy yang manja "
Plak Airin yang marah menampar anaknya, dia tidak suka dengan kata-kata anaknya itu "Kamu bilang dia bukan anak yang tidak diinginkan, jika sela boleh memilih mungkin dia tidak akan pernah mau dilahirkan olehmu. Karena dia tidak bisa memilih makanya dilahirkan olehmu. Bahkan ibu sekarang tidak bisa memegang cucu ibu sendiri. Toni
tidak membolehkan Ibu untuk mengambilnya Ibu juga ingin mengasuh Sela, ibu ingin dekat dengan cucu ibu tapi ini malah jauh, ibu ingin bersamanya Adiba kamu ngerti ga sih apa mau ibu "
Adiba melempar piring yang dia pakai tadi, lalu menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca "Aku kecewa dengan apa yang ibu lakukan demi membela anak itu Ibu berani-beraninya menampar aku seperti ini. Demi ingin memiliki anak itu ibu membuat aku sedih seperti ini. Baiklah aku akan pergi dan tidak akan pernah pulang kemari lagi, silahkan ibu asuh dia, aku tak peduli lebih baik aku pergi dari pada setiap hari mendengar celotehan ibu yang menyebalkan sekali"
"Silakan Ibu tidak peduli Ibu tidak akan pernah peduli. Mau kamu kembali lagi kemari atau tidak Ibu tidak akan pernah peduli. Ibu sudah terlalu kecewa dengan kamu Adiba, kamu mengambil jalan hidup yang salah seorang anak itu tidak tahu apa-apa dia hanya dilahirkan dan tidak tahu tentang orang tuanya yang seperti apa, dia hanya butuh kasih sayang saja. Kenapa hanya kasih sayang saja kamu tak bisa memberikannya pada anakmu sendiri "
Malang sekali nasib cucunya ini, harusnya dia disayangi bukan nya di diamkan seperti itu. Sekarang cucunya malah diurus oleh orang lain. Padahal dirinya neneknya masih ada. Kenapa tak diberikan padannya saja.
Apa mungkin Toni berfikir kalau dirinya tak akan bisa menjaga cucunya sendiri. Padahal dirinya ingin sekali menjaga cucunya itu. Ingin selalu memeluk cucunya. Tapi bagaimana berbicara pada Toni agar dibolehkan dirinya mendekati Sela. Dirinya sangat menyayangi sekali cucunya.
...---------------...
Adiba mendatangi satu persatu rumah temannya, tapi tidak ada satupun temannya yang mau menampungnya. Mereka tidak mau dengan alasan kalau orang tua mereka tidak mengizinkannya, padahal hanya beberapa hari saja. Kenapa mereka semua begitu pelit padanya. Padahal mereka kan berteman.
Kalau saja mereka mau menginap di rumahku, bahkan beberapa bulan aku tak pernah melarang mereka. Aku selalu menampung mereka tapi saat aku sedang butuh bantuan semuanya tiba-tiba tidak mau dan tidak menerima dirinya ini.
"Saat aku sedang susah seperti ini tidak ada yang membantuku, mereka tidak mau menampung ku. Padahal aku hanya ikut hidup saja di rumah mereka hanya ikut tidur saja apa salahnya. Kenapa saat mereka sedang butuh padaku aku harus membantu mereka kenapa hidup ini tidak adil sekali, dasar ya mereka itu tak tahu malu sekali "
"Sekarang harus pergi ke mana. Aku sudah marah-marah pada ibu tidak mungkin kan aku kembali lagi ke sana, yang ada ibu akan makin keras kepala dan makin menjadi-jadi memberitahuku ini itu ini itu. Aku pusing sekali setiap hari diingatkan Sela Sela dan Sela, harus mengurus anak itu mengurus anak ini harus seperti ini, seperti itu. Aku ini seperti robot saja diatur-atur hidupnya. Aku tidak mau seperti itu"
Adiba menggaruk kepalanya. Memikirkan bagaimana caranya dirinya mendapatkan tempat tinggal sekarang. Tidak mungkin kan dirinya tidur di jalanan itu tak mungkin.
"Bagaimana ini, aku tidak memegang uang sedikitpun, sedangkan aku masih diberi uang sama Ibu terus mau pergi ke mana. Seharusnya aku tidak bilang kalau akan pergi dari rumah, sekarang malah pusing sendiri kan. Malah jadi binggung sendiri masa iya mau jual ponsel, oh tidak bisa ini adalah barang berharga buat aku"
Adiba duduk di pinggir jalan. Dia menatap mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, bingung harus ke mana. Pulang lagi malu, harga dirinya mau disimpan di mana, kalau sampai dirinya pulang. Baru saja beberapa jam dirinya pergi masa sudah pulang lagi ke rumah.
Gengsi dong, nanti yang ada ibunya malah menertawakan nya dan berfikir kalau ucapannya itu bohong. Akh pokoknya memalukan kalau sampai pulang lagi kerumah.
__ADS_1
"Apa aku harus menelpon Daisy, tapi untuk apa aku menelponnya tidak ada gunanya juga dia tidak akan pernah bisa menolongku. Dia juga tidak akan menampung ku di kamarnya, sama saja dengan bohong kalau aku pulang. Udah rumah kita kan berdekatan. Ya maksudku di lingkungannya, sama aja bohong kan ist harus bagaimana ini aku sudah sangat pusing sekali"
Adiba mengeluarkan ponselnya mencari kontak temannya, siapa tahu ada yang mau menampungnya. Adiba memberi pesan ke sana kemari tapi semuanya menolaknya, malah menyuruhnya untuk ngekos saja, mau ngekos gimana uang saja ga punya, bukan ga punya ga akan cukup.
"Aku harus ke mana sekarang, kepalaku sakit sekali memikirkannya semua ini bingung rasanya, aku ingin rasanya menghilang dari dunia ini "
"Tunggu tunggu tunggu, bukannya aku punya pacar ya, pacar baruku itu kenapa aku tidak ingat dasar Adiba pelupa. Seharusnya dari tadi aku pergi ke apartemennya saja mungkin aku tidak akan luntang-lantung seperti ini. Kenapa sampai tak terpikirkan ya "
Adiba segera memberhentikan taksi. Dia memberikan alamat apartemen pacar barunya itu. Semoga saja dia ada di apartemen itu. Tapi tidak masalah kalau dia tidak ada juga karena dirinya tahu sandinya apa. Jadi tak usah binggung dan khawatir seperti ini.
Senyum manis Adiba sudah terbit lagi, sudah dapat tempat tinggal ga usah takut lagi. Kalau ada pacarnya sudah aman kan semuanya, makan juga akan ditanggung tak usah memikirkan apa-apa lagi.
Adiba langsung saja masuk setelah memasukkan kata sandi, dia melihat pakaian yang berantakan. Ada apa ini kenapa tiba-tiba berantakan seperti ini. Apa pacarnya itu habis membeli pakaian.
Adiba terus mendengarkan suara ******* yang terdengar dari dalam kamar, saat pintu dibuka ternyata pacarnya sedang melakukan hubungan suami istri dengan perempuan lain. Adiba hanya bisa mematung melihat itu. Tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang
"Kamu ya "teriak Adiba dengan melengking sekali.
"Kenapa Adiba, kamu mau lihat aku sama dia lagi main. Sini dong lebih dekat biar jelas. Kamu suka lihat yang kayak gini kan "
"Kamu mau khianati aku, aku bahkan udah rela bercerai sama suami aku cuma buat bisa sama kamu. Terus sekarang kamu tiba-tiba sama perempuan lain maksudnya apa hah, jelasin semuanya sama aku. Pakai baju kamu itu, dan kamu perempuan ****** bangun kamu ga berhak ada disana "
Pacar baru Adiba itu hanya tersenyum sinis, lalu membelai perempuan yang tadi sedang bermain dengannya "Memangnya aku benar-benar mencintaimu. Memangnya aku benar-benar ingin menikahimu tidak, kamu hanya menjadi taruhan saja di antara geng kami. Kamu lupa kalau dalam geng kita itu tidak ada kata pacaran, lalu tiba-tiba kamu mau saja pacaran denganku. Itu hanya untuk taruhan saja aku sudah berhasil memacari mu lalu ya sudah lepaskan saja, aku juga tak suka padamu apalagi kamu udah pernah nikah dan punya anak. Aku ga siap urus anak orang lain "
"Gila ya. Aku tidak mau dipermainkan seperti ini semua hidupku sudah hancur gara-gara kamu, enak saja kamu berbicara seperti "
Adiba membuka sepatunya dan melemparkannya ke arah laki-laki itu "Sialan dasar kamu Adiba, perempuan sialan, pergi kamu dari apartemen ku sekarang juga cepat pergi "
"Kamu yang lebih sialan, masih untung aku melempar sepatu bukan melempar televisi mu itu ke wajahmu, dan kamu juga hei perempuan yang sedang dipakai. Seharusnya kamu berpikir sebelum menikah seharusnya jangan melakukan hal seperti itu. Tidak punya harga diri kamu, kalian berdua memang bejat dasar laki-laki dan perempuan gila kalian memang cocok untuk dipersatukan. Kalian sama-sama gila"
Pacar baru Adiba itu langsung bangkit dan akan mengusir Adiba, tapi Adiba segera berlari tak lupa dia juga malah menghancurkan televisi yang terpajang di sana. Dia melemparkan gelas yang tadi dia temukan di atas meja dan dilemparkan ke arah televisi itu.
"Ini belum seberapa yah, lihat saja aku akan membalas semuanya. Kamu telah mempermainkan aku seperti ini maka aku akan membalasnya dengan sangat-sangat menyakitkan lagi lihat saja. Aku tak akan main-main dengan kata-kataku itu "
bruk Adiba menutup pintu dengan sangat keras, dia kecewa. Sangat kecewa memang dirinya selingkuh dari Toni dengan beberapa pria, tapi dirinya tidak menyangka akan disakiti seperti ini, apakah sesakit ini disakiti. Apakah Toni pernah merasakan apa yang pernah dirinya rasakan, pasti pernah lah dia selalu saja Adiba sakiti setiap saat.
Adiba mencoba untuk menghapus air matanya yang tadi mengalir, dia tidak mau terlihat cengeng. Dirinya tidak mau terlihat cengeng. Apapun yang terjadi dirinya harus kuat. Baiklah mungkin ini karma yang harus dirinya terima karena sudah menyakini Toni, dan tidak mau menjadi istri yang baik untuknya.
Toh mau bagaimana lagi rumah tangganya juga sudah hancur, semuanya tidak akan pernah bisa kembali lagi kan. Dirinya juga tidak akan pernah bisa memperbaiki semuanya lagi, meskipun sekarang bersujud-sujud pada Toni untuk bisa kembali padanya itu tidak akan pernah mungkin.
Dirinya tidak akan mungkin mau bersujud pada laki-laki itu, ya sudahlah mungkin ini sudah jalan hidup nya, mungkin inilah pelajaran hidup untuknya jangan gegabah dalam melakukan apa-apa dan harus berpikir dulu sebelum melakukannya.
Seharusnya dirinya menyelidiki para pacar-pacarnya itu, bukannya malah percaya percaya saja pada mereka. Sekarang hanya penyesalan saja yang dirinya punya tidak ada yang lain lagi.
Adiba melihat sebelah kakinya yang tak mengunakan sepatu, sakit sekali apakah ada sesuatu yang melukai kakinya. Adi duduk sejenak dan melihat kakinya yang berdarah.
"Ya ampun ada-ada saja sedang susah seperti ini malah ditambah lagi kesusahannya. Apakah tak akan berhenti-berhenti karmaku ini menyedihkan sekali menjadi aku ya "
Adiba membersihkan kakinya dan melihat kakinya terkena apa, ternyata terkena batu yang tajam. Hebat juga ya batu bisa membuatnya terluka "Perih banget kaki aku, terus gimana aku pulang kalau kaki kayak gini, kakiku ga bisa diajak jalan lagi deh kayaknya. Cape juga pulang jalan kaki "
__ADS_1
Adiba mencari uang disaku celananya tapi tak ada, tak ada uang tersisa lagi semuanya sudah habis. Tak ada yang tersisa lagi. Kenapa sial sekali hidupnya ini. Kenapa harus ada karma di dunia ini.