Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 204 Sela sudah tahu


__ADS_3

"Toni tolong jangan bawa dulu Sela. Aku mohon jangan bawa dia dulu ya. Aku masih ingin bersamanya "


Fia mencoba mengulur-ngulur waktu agar bisa memberi pesan pada Sela. Sela harus mengikuti apa maunya. Jangan sampai Sela mau dengan Adiba. Enak saja sudah besar Adiba yang enak.


"Kenapa Fia dia kan anakku. Aku ingin dia menginap mumpung aku ga ada kerjaan. Aku bebas membawa Sela tak usah ada izin dari mu "


"Lebih baik besok saja kamu bawa, sekarang jangan dulu ya. Aku ingin jalan-jalan bersama Sela atau kamu mau ikut jalan-jalan juga "


Toni mengurutkan keningnya dengan bingung, kenapa tiba-tiba tidak boleh dibawa biasanya juga dia akan membiarkan Toni untuk membawa anakmu sendiri. Emangnya salah kalau memang anaknya tidak kan.


Tak ada yang salah kalau Toni membawa anaknya. Toni melongok kedalam kamar tapi belum ada. Toni tidak mau masuk takut ada gosip yang tak enak.


"Boleh kita bicara dulu berdua. Jangan sampai Sela tahu, hanya sebentar aku janji padamu "


"Baiklah ayo bicara mumpung Sela lagi mandi kan. Oh ya memangnya Sela benar sudah bisa mandi sendiri Fia ? "


"Emm, sudah aku sudah mengajarkannya untuk bisa mandi sendiri. Dia kan harus belajar. Baiklah begini apakah kamu akan memberitahu Sela tentang siapa ibunya ?"


"Iya lambat laun Sela harus tahu siapa sebenarnya ibunya. Aku tak akan mungkin terus menyembunyikannya. Sela harus tahu semuanya dia berhak tahu dan Adiba juga berhak untuk dipanggil ibu oleh Sela anaknya dia darah dagingnya kan. Adiba adalah yang melahirkannya "


"Tapi tolong jangan dulu, aku minta tolong jangan beritahu Sela dulu. Kasian dia pasti dia akan kaget. Dia tahunya aku ibunya bukan Adiba. Fikirkan semua itu dulu ya "


"Kenapa tidak boleh, dia berhak mengetahui ibunya Fia, dia harus tahu siapa ibunya yang sesungguhnya. Aku sudah berfikir apa yang aku lakukan dulu mungkin salah dengan tidak memberitahu Sela siapa ibunya. Aku tidak mau di kemudian hari ini semua menjadi masalah. Aku tidak mau nanti Sela tiba-tiba marah padaku karena baru mengetahuinya setelah sekian lama, jadi mumpung masih kecil kan lebih enak memberitahunya dan Sela pasti akan mengerti"


Fia malah mengelengkan kepalanya tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Toni. Sela intinya tidak boleh tahu tentang siapa ibu kandungnya. Sela hanya punya ibu satu yaitu dirinya sendiri.


"Tapi kan aku yang mengurusnya. Kenapa Sela harus tahu ibunya, Sela sudah menganggapku seperti ibunya jadi lebih baik dia tidak tahu saja. Di sini saja semua orang diam kan tidak ada yang memberi tahu Sela kalau Adiba adalah ibunya. Semua orang diam dan mereka menganggap aku adalah ibunya Sela "


"Ya karena itu permintaanku dulu pada semua orang agar tidak membongkar siapa ibunya Sela. Waktu itu aku sangat marah dengan Adiba makanya aku melakukan itu. Tapi sekarang sudah bertahun-tahun kan kamu lihat sendiri Adiba sudah sangat berubah sekali aku ingin Sela tahu siapa ibunya, sudah jangan pernah melarangku "


"Lalu dengan aku bagaimana, aku bagaimana nasibnya aku ini sudah tua dan aku tak mungkin menikah dan mempunyai anak. Sela adalah harapanku satu-satunya"


Toni memegang bahu Fia dengan erat "Kamu tenang saja Sela tidak akan melupakan kamu, dia pasti akan terus mengingat kamu. Sela hanya perlu tahu siapa Ibu kandungnya saja. Dia juga tetap akan memanggil Ibu pada kamu tidak ada yang berbeda dan tidak ada yang berubah, kamu bisa tenang dan tak usah ketakutan seperti ini"


Fia melepaskannya dengan kasar "Tetap saja ada perubahannya semuanya tak akan sama lagi. Sela akan lebih dekat dengan ibunya bukan dengan aku. Aku pasti akan Sela lupakan dia akan melupakanku selama-lamanya "


"Tolong jangan egois ini adalah keputusanku, keputusanku tidak akan pernah bisa dirubah. Sela adalah anakku sedangkan kamu hanya orang yang mengasuh Sela saja. Aku berterima kasih padamu karena telah menyayangi anakku dengan sepenuh hati dan juga mau mengurusnya. Tapi tolong jangan ganggu gugat tentang apa yang mau aku rencanakan, kamu bukan siapa-siapa hanya orang yang dititipkan olehku untuk mengurus Sela. Mengertilah aku tidak mau bertengkar seperti ini. Kalau ada yang sampai mendengarnya akan sangat malu sekali "


Fia malah menangis mendengar semua itu. Fia bingung harus melakukan apalagi dan harus berbicara bagaimana lagi dengan Toni. Kenapa harus datang Nyonya Katherine kalau saja dia tidak datang mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi. Mungkin Sela akan tetap menjadi anaknya dan tidak akan pernah tahu siapa ibunya.


"Ayah aku sudah siap. Apakah aku sudah benar ayah memakai pakainnya "


"Sudah sayang, anak ayah memang pintar sekali " Toni menggandeng tangan anaknya Sela. Sedangkan Fia tidak bisa mencegah Sela untuk pergi. Fia tahu kalau dia tidak punya hak untuk melakukan itu, jadi nanti kita lihat saja apakah Sela akan tetap memanggilnya ibu atau tidak. Fia begitu hancur kalau sampai Sela tidak memanggilnya dengan kata ibu dan tidak menganggapnya ibunya lagi.


Kalau tahu akan seperti ini lebih baik Fia cuti pulang dulu dan membawa Sela. Mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Toni tak akan berubah fikiran dan Sela tak akan bertemu dengan nyonya Katherine.


"Ayah kenapa ibu menangis dan kenapa juga Ayah tidak membawa ibu untuk menginap di tempat ayah, padahal kalau bersama ibu akan lebih seru ayah. Kita akan tidur bertiga "


"Ibu tadi tidak menangis, dia hanya kelilipan saja. Tidak bisa bawa ibu Ayah sudah bilang kan ini pembicaraan kita berdua. Jadi Ibu tidak ikut biarkan saja ibu istirahat. Ibu kan sudah bekerja pasti lelah kalau ikut dengan kita "


"Baiklah ayah"


Untungnya Sela tak lagi berbicara dan menanyakan tentang Fia. Toni tenang kalau sampai bertanya lagi apalagi yang harus Toni katakan.


Toni membuka pintu kamarnya dan memasukkan anaknya, lalu kembali menguncinya lagi di dalam sudah banyak camilan. Toni sengaja membelinya memang setiap hari membelinya tapi ini lebih banyak lagi.


Sela dengan senang langsung mengambil makanan-makanan itu dan memilih salah satu untuk dimakan olehnya.


"Jadi apa yang ingin kita bicarakan ayah, apakah begitu penting ayah. Atau pun ini rahasia "


"Begini Ayah ingin membicarakan sesuatu, Ibu Fia itu bukan Ibu kamu dia hanya Ibu asuh" Toni langsung saja berbicara seperti itu. Karena tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.


"Emangnya Ibu aku dan ibu asuh bedanya apa ayah. Aku binggung ayah tolong jelaskan ayah "


"Kalau ibu asuh itu yang mengasuh mu, sedangkan ibu kamu ibu kandung kamu adalah yang melahirkan kamu jadi berbeda "


Sela masih terlihat bingung dengan apa yang ayahnya katakan. "Jadi bagaimana ayah, aku masih binggung sekali "

__ADS_1


"Jadi ibu kamu itu adalah Bibi Adiba, orang yang selama ini selalu kamu takuti yang kamu bilang kalau kamu takut bertemu Bibi Adiba. Dia adalah ibu kandung kamu "


"Lalu kenapa Bibi Adiba tidak mengurusku tidak menyayangiku seperti Ibu Fia kenapa Ayah. Lalu kenapa Bibi Adiba juga seperti tidak menganggapku dia juga acuh dan tidak mengatakan kalau dia itu ibunya aku. Kenapa bibi Adiba hanya diam saja kalau bertemu dengan aku "


Tuh kan menjadi pertanyaan untuk anaknya, masih kecil saja anaknya sudah mempertanyakan kenapa Adiba itu hanya diam saja padahal ini adalah kemauan dirinya sendiri kemauan Toni.


Toni sudah melarang Adiba bahkan mengancamnya untuk tak mendekati anaknya. Memang benar dirinya salah karena telah melakukan ini hanya karena ingin balas dendam saja pada Adiba.


"Jadi begini Sela ayah akan beritahu kamu, kalau ibu kamu itu ya Bibi Adiba kalau ibu Fia itu bukan Ibu kamu dia hanya Ibu asuh, jadi mulai sekarang bisa kan Sela untuk dekat dengan Bibi Adiba dan panggil dia dengan sebutan mama"


"Lalu dengan ibu Fia bagaimana ayah "


Sela sudah menangis, entah apa yang dirasakan oleh Sela. Toni juga tidak tahu. Apakah benar kata-kata yang dikatakan Toni ini apakah ada kesalahan. Toni juga bingung harus menjelaskannya bagaimana tapi inilah yang keluar dari mulutnya.


"Ibu Fia akan tetap menjadi ibu kamu, tapi kamu juga harus tahu kalau Bibi Adiba itu adalah ibu kamu dan nenek Airin itu adalah nenek kandung kamu. Mau Ayah ajak bertemu dengan mereka"


Sela masih diam, dia masih menangis bahkan makanannya sudah tergeletak begitu saja. Sela dengan perlahan menganggukan kepalanya "Tapi sebentar ayah, kenapa ibu selalu bilang kalau Bibi Adiba itu jahat kenapa galak dan sebagainya kenapa ayah, aku jadi takut dengan bibi Adiba itu, aku sangat takut sekali malahan padahal dia tak melakukan apa-apa padaku Ayah "


"Maka jika Ibu berbicara seperti itu lagi kamu tidak usah percaya dan mengikutinya. Belum tentu yang dikatakan ibu kamu itu benar. Mungkin ibu kamu hanya takut saja kalau kamu salah mengenal orang Sela"


"Tapi kan dia orang yang melahirkan ku seperti yang ayah bicarakan tadi. Lalu kenapa Bibi Adiba tidak mengurus ku ayah kenapa " kembali Sela mempertanyakan itu.


"Suatu saat kamu akan tahu kenapa Bibi Adiba tidak mengurusmu. Ayah tidak bisa membicarakannya sekarang yang penting kamu sudah tahu kalau Bibi Adiba itu adalah ibu kamu ya, ibu yang melahirkan kamu "


"Tapi ayah_"


"Mau bertemu sekarang atau nanti sayang, ayah akan membawamu. Kalau kamu tidak mau Ayah tidak akan memaksamu "


"Sekarang saja aku ingin bertemu dengannya, aku ingin melihatnya Ayah "


Toni langsung menggendong anaknya dan berjalan ke arah rumah paling pojok dan lumayan paling besar. Toni mengetuk pintunya dengan perlahan pintu segera dibuka oleh Adiba. Bahkan Adiba kaget saat melihat Sela dan juga Toni ada di hadapannya. Adiba masih diam menatap anaknya bahkan mata Adiba sudah berkaca-kaca.


"Apakah kami boleh masuk, emm ada yang ingin aku bicarakan aku tak akan lama hanya sebentar saja "


Adiba langsung tersadar, dia membuka pintu dengan lebar "Tentu saja boleh kenapa aku tidak membolehkan kalian untuk masuk, ayo masuk kemari masuklah "


Airin yang melihat ada Toni dan juga cucunya langsung mendekat dan tak menyangka kalau Airin bisa melihat cucunya sedekah ini. Meskipun mereka satu lingkungan tetap saja Airin harus melihat cucunya dari jauh karena sebuah perjanjian yang sudah mereka buat waktu itu.


"Ayo masuk-masuk jangan di luar. Kenapa tidak dibawa masuk dari tadi, ayo sini masuk rumah nenek"


Mereka semua masuk ke dalam rumah, bahkan Airin sangat sibuk sekali membuatkan jus, membawa camilan, buah-buahan dan memberikannya ke arah Sela "Ini makan ya nenek sudah membawa banyak makanan buat kamu, semoga aja Sela suka ya dengan makanan yang nenek bawa ini "


"Terima kasih nenek"


"Sama sama Sela"


"Aku sudah berbicara dengan Sela, dia sudah tahu kalau Adiba ibunya aku tidak akan menutup-nutupinya lagi "Toni langsung saja to the point dan tidak bertele-tele untuk berbicara dengan dua wanita ini.


Adiba yang mendengarnya begitu senang dan bahagia bahkan air mata kebahagiaan itu sampai jatuh. Adiba langsung memeluk Sela dengan erat sekali "Maafkan ibu Sela maafkan Ibu, Ibu sangat menyesal dengan apa yang ibu lakukan, tolong maafkan ibu sayang, ibu akan menebus semua kesalahan Ibu padamu tolong maafkan Ibu Sela. Ibu benar-benar menyesal sekali"


Sela ikut menangis, mendengar Adiba menangis seperti itu dan meminta maaf padanya. Memang kan anak kecil kalau ada yang menangis suka ikut menangis.


Adiba melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Sela "Ibu akan berubah, ibu akan selalu menyayangi kamu maafkan Ibu. Ibu sangat menyesal dengan apa yang pernah ibu lakukan. Ibu tidak akan pernah melakukan itu lagi Sela. Tolong maafkan Ibu ya ibu begitu menyayangi kamu Sela "


"Lalu kenapa Bibi waktu itu tidak mau merawat ku. Kenapa harus Ibu Fia saja yang selalu ada disampingku dan merawat ku bibi "


"Iya Ibu salah Ibu salah, Ibu minta maaf atas apa yang pernah ibu lakukan. Tolong maafkan Ibu Sela "


Sela dengan polosnya menganggukan kepalanya, Adiba kembali memeluk anaknya dengan erat "Kalau misalnya Sela belum bisa memanggil ibu dengan sebutan Ibu tak masalah, asalkan Sela tahu kalau Ibu ini adalah ibu kandung Sela ya. Ibu tidak akan memaksa, ibu akan menunggu sampai Sela siap "


Sela diam hanya memeluk Adiba sangat erat sekali, semua orang tidak ada yang tahu perasaan Sela bagaimana. Sela hanya bungkam dan mengikuti apa yang ayahnya katakan.


Adiba kembali melepaskan pelukannya dan memangku anaknya lalu melihat Toni "Terima kasih karena kamu sudah berbaik hati mengatakan ini semua pada Sela. Aku sungguh berterima kasih dan aku minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan dulu. Aku memang salah aku memang ibu yang tidak baik aku memang benar-benar seharusnya tidak pernah dimaafkan, tapi kamu dengan baik membawa Sela kemari. Sekali lagi terimakasih Toni "


"Aku hanya tidak mau ada kesalahpahaman nanti di kemudian hari, aku tidak mau ada masalah nantinya makannya lebih baik diberitahu sekarang saat Sela masih kecil. Mungkin sekarang dia tidak tahu apa-apa tapi setidaknya dia tahu siapa ibunya. Untuk masalah masa lalu Sela nanti akan tahu saat dewasa, yang terpenting sekarang adalah Sela tahu siapa ibunya yang sebenarnya, siapa yang melahirkannya aku tidak mungkin terus menjadi laki-laki egois dengan menutupi semua ini. Aku tidak mau nanti saat dewasa Sela malah membenciku karena tidak mau memberitahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya"


Adiba menganggukan kepalanya dengan cepat. Adiba menciumi pipi anaknya dengan gemas rasanya ini adalah hari paling bahagia untuknya. Bisa diakui oleh anaknya sendiri dan juga mantan suaminya bisa dengan lapang memberikan anaknya, maksudnya membawanya ke rumah ini.

__ADS_1


"Bolehkah Sela menginap di sini Toni. Aku tidak akan melakukan apa-apa aku janji padamu. Jika sampai aku melakukan itu atau membuat Sela menangis kamu boleh mengambilnya dan jangan pernah mendekatkan dia lagi padaku, seperti janji kita diawal "


"Tentu aku membawanya kemari untuk itu, dekat lah saja dulu kamu dan juga Sela. Aku akan memberi waktu untuk kalian berdua saling mengenal. Semoga dengan cepat Sela bisa memanggilmu dengan sebutan ibu dan dia bisa menerima keberadaan mu dalam hidupnya"


"Terimakasih Toni "


Sela menatap ayahnya lalu Toni mengusap pipinya dengan lembut "Sela di sini ya bersama mama, ayah ada di kamar seperti biasa tidak akan ada yang terjadi. Sela berbicara dulu saja dengan mama apapun yang mau Sela tanyakan bisa langsung ditanyakan pada mama ya. Jangan pernah takut mamah baik, Sela lihat sendirikan bagaimana mamah sekarang tidak seperti fikiran Sela waktu itu "Toni mencoba untuk memberikan pengertian pada anaknya. Pasti anaknya akan mengerti dan mau bersama Adiba.


"Baik ayah, aku mengerti ayah "


Sela dengan patuh mengikuti apa kata-kata dari ayahnya. Toni pamitan keluar karena dia tidak mau lama-lama di sini bukan kenapa-napa takut ada pembicaraan yang tidak enak saja kan. Apalagi mereka adalah mantan suami istri.


Airin yang melihat cucunya begitu pintar memangku cucunya dan menatap wajahnya dengan lekat "Kau ini sangat mirip dengan ibumu, wajah kalian begitu mirip. Nenek bahkan tidak bisa membedakan kamu dengan ibu kamu saat kecil maun lihat fotonya. Nenek banyak sekali mengambil foto ibu kamu saat kecil "


"Tentu nenek, aku ingin lihat "


Airin menurunkan cucunya dan mengambil album foto Adiba yang dulu. Lalu Airin duduk di bawah dan memperlihatkannya pada cucunya ini "Benarkan apa yang dikatakan nenek kamu mirip kan dengan ibu kamu, wajah kalian itu memang tidak bisa dibedakan. Kalian mirip sekali dan nenek begitu senang melihatnya"


Sela mengusap foto itu dan melihat Adiba lalu kembali menata foto itu sambil tersenyum "Iya mirip sekali berarti aku emang anak tante Adiba ya, kami memiliki wajah yang sama saat masih kecil "


"Iya kalian ini anak dan ibu makanya wajah kalian sangat mirip sekali"


Sela masih saja tersenyum"Mau Ibu buatkan susu, atau mungkin Sela ingin sesuatu "


Sela hanya menganggukan kepalanya saja, Adiba langsung pergi ke arah dapur dan membuat susu dan juga membawa cemilan yang lainnya. Pokoknya hari ini Adiba dan juga ibunya Airin begitu bahagia sekali mengeluarkan semua yang ada di dalam lemarinya. Cemilan semuanya dikeluarkan memang mereka selalu membeli itu takut-takut nanti tiba-tiba Sela datang kemari dan ingin makan sesuatu dan benar kan sekarang sudah terwujud kalau Sela datang kemari.


Sela ada dihadapan mereka, harapan mereka selama ini tak sia-sia. Akhirnya penantian lama itu datang juga Sela datang kerumah ini dan mengetahui siapa dirinya dan juga ibunya.


Adiba kembali lagi sambil membawa susu dan memberikannya pada Sela "Emm Sela mau kan tidur bersama ibu, kalau tidak tak masalah ibu tak akan memaksa Sela "


Sela diam cukup lama, dia seperti memikirkan sesuatu. "Emm, baiklah bibi aku mau tidur bersama bibi, aku kalau tidur sendirian tidak bisa. Aku akan terus bangun kalau tidurnya sendiri "


"Baguslah ibu senang sekali, nanti kita tidur sama-sama ya "


Sela kembali hanya menganggukan kepalanya dan melihat-lihat lagi foto yang tadi. Sela begitu anteng melihat album itu, satu persatu dibuka dan pasti kalau Sela tak tahu itu siapa langsung bertanya pada Airin neneknya.


Sedangkan diluar tanpa mereka sadari ada orang yang sedang mengintip, orang itu menangis melihat keakraban Sela dan dengan 2 wanita itu. Kenapa harus secepat ini, kenapa tak ada penolakan dari Sela.


Benar kan seharusnya dari tadi dirinya menahan Sela agar tidak pergi kemana-mana pasti tak akan seperti ini. Sela pasti akan ikut dengan Ayahnya dan dikembalikan padannya lagi.


"Kenapa bisa langsung dekat seperti itu, apakah Adiba memberikan sesuatu pada Sela, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat ini. Aku benar-benar tak terima dengan semua ini " gumam Fia yang mengintip.


Kembali Fia menatap kearah dalam rumah, untung saja gordennya belum ditutup jadi mempermudah untuk melihat semua ini. Melihat bagaimana ekspresi Sela. Nanti kalau misalnya ada sesuatu yang terjadi pada Sela, Fia bisa berbicara pada Toni kan agar tak didekatkan lagi dengan Adiba.


"Aku masih tidak habis pikir kenapa secepat ini. Padahal aku dulu sangat lama sekali untuk pengenalnya untuk dekat dengannya tapi dengan Adiba kenapa langsung dekat, hanya beberapa jam saja"


Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya "Fia kamu sedang apa, kenapa kamu disini mengintip seperti akan mencuri saja. Sedang apa kamu malam-malam seperti ini tak baik mengintip seperti ini "


"Shut jangan keras keras, diem jangan ganggu aku. Ini urusanku bukan urusan mu "


Fia menarik orang itu dan membawanya jauh dari rumah Adiba dan juga ibunya "Kamu jangan mengagetkanku seperti itu, kamu akan menggagalkan semua rencanaku "


"Ya terus kamu lagi apa sampai-sampai harus kayak gitu, ga baik ah kayak gitu didepan rumah orang"


"Aku lagi lihat Sela. Toni bawa Sela ke rumah Adiba. Padahal aku udah bilang jangan bawa dia tapi kekeh Toni bawa dia, aku kesal dengan kelakuan Toni itu yang semena-mena "


"Ya udah sih Sela itu kan anaknya Toni dan juga Adiba. Lalu apa salahnya kalau Sela lagi bawa ke rumah Adiba. Bagus dong mereka jadi saling tahu kan lagian kamu juga kan cuman buat ngasuh dia aja. Apalagi kamu juga di gaji sama Tuan Liam enak gaji kamu tuh berlipat-lipat "


Fia menggelengkan kepalanya dengan cepat "Tetap saja aku meskipun digaji rasa sayangku ini sangat dalam pada Sela ,aku tidak rela kalau melihat Sela dengan orang lain meskipun itu dengan ibu kandungnya, aku sungguh tak bisa seperti ini "


"Mulai sekarang coba kamu relakan Sela, Sela tidak mungkin lupa dengan kamu, kasihan kan Adiba juga pengen kenal dengan anaknya pengen dekat pengen dipanggil ibu juga sama seperti kamu "


"Tetep aja aku nggak bisa nerima itu semua, rasanya sulit banget berat banget kalau kamu mau tahu "


"Nanti juga kalau udah lama-kelamaan kamu juga akan terbiasa dan melepaskannya, kamu juga akan merelakannya dan membiarkan Sela bahagia dengan Adiba "


Fia hanya diam saja, lalu setelah itu dia langsung pergi meninggalkan temannya itu. Fia tak terima dengan kata-kata temannya itu. Lebih baik pergi dari pada mendengarkan ceramahnya.

__ADS_1


__ADS_2