Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 183 Lea sudah ada


__ADS_3

"Bawa dia masuk ke dalam sini"


Tamara membuka lebar-lebar pintu dimana suaminya dan juga selingkuhannya mati. Tamara melihat jenazah Lea sahabatnya sudah ada disana. Tamara tersenyum senang melihat semua ini.


"Apakah tidak akan dimakamkan saja nyonya"


"Tidak usah ikut campur, ini masalahku yang terpenting aku sudah membayarmu kan. Tutup mulutmu rapat-rapat dan jangan sampai ada yang tahu kalau ada yang tahu mayat ini ada di sini karena kalian telah membawanya habis, kalau semua itu sampai bocor aku tidak akan pernah bertanggung jawab dan kalian yang akan dipenjara"


Tamara menatap orang-orang yang bekerja padanya. Ditatapnya wajah mereka satu-satu Tamara akan mengigat wajah-wajah mereka. Tapi Tamara juga sudah menyimpan berkas-berkas dari mereka.


"Baiklah nyonya, apakah sudah beres pekerjaan kami"


"Sudah beres, jangan sampai Bibi Merry tahu tentang masalah ini"


"Baik nyonya "


Mereka segera pergi, pintu pun langsung mereka tutup. Tamara menatap jenazah Lea. Tamara berjongkok dan mengusap wajah Lea.


"Kalau saja kamu tidak bermain-main denganku Lea mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi. Kamu adalah temanku satu-satunya, tapi kamu berani menghianatiku. Kamu sudah tahu kan aku siapa tapi kamu malah melakukan ini"


"Aku kecewa dengan kamu Lea, sangat-sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan. Aku tidak menyangka kalau kamu akan seperti itu padaku meracuniku seperti itu. Aku sungguh tak menyangka itu semua bisa terjadi dan kamu punya niat jelek padaku "


Tamara mengambil pisau dan menggoreskan ketubuh Lea. Tubuh Lea sudah penuh dengan luka tusukan sekarang ditambah lagi dengan luka goresan. Tamara tak peduli rasa marahnya pada Lea masih ada, dan masih sangat besar.


Tamara bangkit dan menendang tubuh Lea, "Aku akan kemari lagi, aku harus tidur selamat malam Lea "


Tamara keluar dari ruangan itu dan mengunci kembali pintunya. Tamara berjalan dengan cepat untuk segera sampai dikamarnya. Tapi malah berpapasan dengan bibi Merry.

__ADS_1


"Tamara kamu butuh apa"


"Tidak aku sedang tidak butuh apa-apa"


Tamara menubruk bahu bibi Merry dan menutup pintu kamarnya cukup kencang. Bibi Merry hanya bisa diam sambil menatap pintu yang tertutup itu "Sangat mencurigakan sekali. Sepertinya ada yang dia lakukan"


...----------------...


Tamara mengunci kamarnya, tak mau kalau sampai bibi Merry masuk lagi kedalam kamarnya dan mengecek semuanya.


"Aku harus waspada pada bibi Merry. Sepertinya dia akan ikut campur terus. Apakah aku harus mengeluarkan bibi Merry"


"Akan aku fikirkan lagi nanti, aku masih butuh tenaganya "


Tamara duduk dimeja riasnya menatap pantulan dirinya. Tamara tersenyum senang dengan rencananya yang berhasil. Tak sia-sia dirinya punya ide seperti itu dan membuahkan hasil yang begitu membuatnya bangga dan tenang.


Tamara terbangun dari tidurnya. Tamara menatap sekitar kamarnya "Aduh apa yang harus aku lakukan, aku harus segera bergerak kalau tidak bisa habis aku"


Tamara merenung cukup lama, tiba-tiba saja dia punya ide. Dengan cepat Tamara menghubungi orang kepercayaannya. Tak butuh waktu lama langsung diangkat dengan cepat.


"Hallo nyonya ada yang bisa aku bantu "


"Tentu saja ada. Makanya aku menelponmu, kalau tak ada kerjaan aku juga tidak akan mungkin menelponmu. Bagaimana kamu ini "marah Tamara. Seharusnya dia tak bertanya seperti itu pada dirinya. Bikin kes saja.


"Baiklah Nyonya. Apa yang bisa saya bantu, apa yang perlu saya lakukan nyonya " tanya seseorang di sebrang sana.


"Kamu sudah mendengarkan tentang kabar Lea sahabatku yang mati itu, kamu sudah tahu kan di mana dia berada di rumah sakit mana. Aku mau kamu ambil mayat Lea dan bawa kemari, tapi aku tidak mau sampai ada orang yang tahu bahkan orang Rumah Sakit pun tidak boleh tahu, bagaimanapun caranya aku ingin Lea ada di sini malam ini di rumahku"

__ADS_1


"Baik Nyonya. Saya tahu tentang berita itu tapi apakah Nyonya yakin ingin membawa mayat Nona Lea, maksudku sekarang kan sedang ditangani oleh Polisi. Apakah tidak akan bermasalah ke depannya" sepertinya orang di sebrang sana takut.


"Makanya aku menyuruhmu dan akan membayarmu. Aku tidak mau sampai polisi tahu, pokoknya semua orang jangan pernah tahu kalau Lea telah aku ambil. Aku ingin kamu mengerjakan tugasmu itu dengan baik. Aku akan bayar besar mau kamu pergi ke sana berapa orang pun aku tidak peduli, yang terpenting aku ingin Lea malam ini ada di hadapanku"


"Baiklah Nyonya, kami akan membuat rencana dulu karena kami tidak bisa gegabah langsung mengambil mayat dari nona Lea. Kami harus mematikan dahulu Cctv rumah sakit "


"Terserah. Tapi aku mau jangan sampai ada yang tahu bahkan data-data dari Lea pun harus lenyap. Pemeriksaannya semuanya juga sama. Pokoknya yang sudah mereka lakukan harus lenyap semuanya, aku ingin itu semua. Maka aku akan membayarmu sangat-sangat besar" Tamara makin banyak maunya.


"Baik nyonya akan kami lakukan, kami akan bergerak sekarang juga nyonya "


"Aku tunggu kalian, lewat bawah tanah saja aku akan menunggu kalian di sana. Jangan sampai ada orang rumahku yang melihat"


Setelah mengatakan itu Tamara langsung mematikan sambungannya. Sekarang Tamara bisa bernafas lega dan bisa sedikit tenang, semoga saja mereka berhasil melakukan apa yang dirinya mau.


Sebenarnya darinya bisa melakukan semuanya sendiri, tapi keadaannya sekarang sedang berbadan dua tak mungkin dirinya mencelakai anaknya sendiri untuk menggusur mayat itu sendiri dan membersihkan TKP.


Lalu menyumpal mulut-mulut orang yang ada di sana, itu akan sangat merepotkan saat tubuhnya seperti itu. Pasti akan membuat kandungannya terancam. Apalagi belas Lea yang telah meracuninya.


flashback off


"Lebih baik sekarang aku tidur dulu saja, sekarang pikiranku sudah tenang tidak ada lagi yang perlu aku pikirkan. Semuanya sudah baik-baik saja urusan Bibi Merry biar nanti aku kerjakan sendiri. Mungkin sekarang dia belum macam-macam, tapi nanti ke depannya pasti dia akan sangat berbahaya untukku . Tapi untuk sekarang aku masih butuh dia"


Tamara mengganti pakaiannya terlebih dahulu, setelah selesai semuanya dengan membersihkan wajahnya Tamara membaringkan tubuhnya. Tamara tersenyum senang mengingat Lea sudah ada di sini tak akan ada polisi yang curiga.


Tidak akan ada orang yang curiga lagi padanya dan tidak akan ada lagi pemeriksaan tentangnya. Bahkan kalaupun di tubuhnya ada sidik jarinya itu tidak akan ketemu. Lea saja sudah ada tangannya sekarang. Lea sudah menjadi miliknya dan Lea juga harus menghilang oleh dirinya.


Yang memulai adalah dirinya maka yang menyudahi pula harus dirinya tak boleh orang lain. Satu lagi semua ini tidak boleh terbongkar. Dirinya masih ingin hidup tenang dan aman.

__ADS_1


__ADS_2