
"Hari ini kau akan pindah sekolah. Jadi kau tidak usah masuk sekolah hari ini Kat "
Aku yang sedang makan memberhentikan makanku, lalu menatap Ayahku "Aku tidak mau pindah sekolah Ayah, aku masih mau sekolah di sana aku tidak mau kemana-mana"
"Cobalah kau mengerti Katherine ini demi kebaikanmu"
"Demi kebaikanku atau demi kebaikan Ayah atau demi kebaikan ibu atau demi kebaikan Dimas atau Ayah tidak mau sampai abang mengambil harta Mamahku"
"Apa yang kau maksud, tak ada harta Mamah mu disini " teriak Ibu tiriku.
"Diam Lisa " bentak Ayahku.
"Baiklah, Ayah akan memberikan semua apa yang harus kau miliki. Mamamu memang menitipkan harta padaku untukmu. Aku telah mengelolanya Katherine, agar kau nanti kedepannya bisa mengelolanya juga"
"Tapi kenapa Ayah tak pernah bilang padaku dari awal. Kenapa Ayah tidak pernah menceritakan itu. Kenapa aku harus tahu dari Abang, kenapa aku harus tahu saat aku menguping Ayah berbicara dengan Abang. Kenapa dan kenapa juga Ayah menjauhkan aku dari Mami Zeline kenapa? "
"Mereka bukanlah keluarga baik. Kau tidak tahu siapa mereka kau hanya baru bertemu mereka beberapa bulan saja kan"
"Tapi, dia adalah sahabat Mamaku pasti dia baik. Kenapa Mamaku bisa bersahabat dengannya berarti dia orang baik bukan seperti yang Ayah katakan. Mungkin Ayah sendiri yang jahat"
"Katherine jaga ucapanmu pada Ayahmu. Kau jangan gegabah memberikan harta pada anak sekecil ini, maksudmu harta apa yang Jovanka titipkan nanti kita akan bahas semuanya mas"
Katherine yang tak mau mendengar pertengkaran mereka segera pergi dari tempat ini. Dirinya tak mau berurusan dengan Ayahnya lagi. Ayahnya tak pernah mengerti.
Ayahnya keras kepala sekali, Ayahnya tak mau mengalah sekali. Kenapa Ayah begitu coba, padahal dirinya berhak untuk mengetahui semuanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa yang kau maksud dengan harta dari Jovanka. Harta apa yang dititipkan Jovanka sampai-sampai kita harus mengembalikannya pada Katherine, apa maksudmu" tanya Lisa dengan kesal pada suaminya.
"Kau tahu sendiri kan bagaimana usaha ku waktu itu. Usaha kita bangkrut dan disaat itulah Jovanka meninggal bersama kedua orang tuanya. Lalu dia membuat surat wasiat tentang semua hartanya akan diberikan pada Katherine dan orang yang akan mengasuh Katherine akan mendapatkan harta itu maksudnya mengelolanya dulu, tapi setelah Katherine berumur 17 tahun harta itu harus jatuh pada Katherine " Ayah Kat diam sejenak lalu meneruskan kata-katanya.
"Harus dia yang mengelola semuanya. Kenapa waktu itu aku memperebutkan hak asuh Katherine dari Zeline karena ini. Aku tahu kau tidak akan pernah mau hidup sengsara. Makanya aku melakukan ini aku sudah bilang kan kau harus baik-baik pada Katherine, karena semua harta yang kita miliki ini adalah harta Katrine. Kita tidak punya apa-apa kita hanya mengelola perusahaannya saja"
Lisa mengelengkan kepalanya, "Aku tidak akan pernah rela jika harta ini diberikan pada Katherine. Kau tahu sendiri kan anak kita juga ada yang lain. Ada Dimas, ada Chelsea juga, mereka juga berhak mendapatkan semua harta ini. Kau yang sudah mengelolanya maka harta ini harus dibagi rata dengan anak-anakku dan juga anakmu. Jangan Katherine saja yang menerimanya, yang mengelolanya kau kan, kalau dari awal Katherine yang mengelolanya baru aku tidak akan mengambilnya, tapi ini dari awal dia masuk rumah ini sampai dia berumur 17 tahun kau kan yang mengelolanya"
"Tetap saja meskipun aku yang mengelolanya itu adalah harta dari Jovanka untuk anaknya Katherine. Aku tidak bisa mengkhianatinya lagi, aku sudah pernah menghianati ibunya tidak mungkin aku menghianati anaknya juga. Jangan kau membuat aku untuk menjadi laki-laki licik dan tidak bertanggung jawab seperti ini. Semua harta ini sudah milik Katherine dan aku tidak mau membuat Katherine kecewa lagi. Dia sudah tahu kalau aku sudah menyelingkuhi Mamanya aku tidak mau dia makin kecewa padaku. Tolong kau jangan egois Lisa, semua ini milik Katherine bukan kita. Seharusnya kita malu sudah menumpang pada anak itu, kita sudah memakai uangnya, kita sudah mengelola perusahaannya"
"Kau tak adil "
Lisa langsung saja pergi meninggalkan suaminya, dia tak mau hartanya jatuh pada perempuan itu, pada Katherine semua ini demi anak-anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa ini " tanyaku pada Dian.
"Lihatlah ada pembunuhan di hari yang sama tapi di jam berbeda "
Aku mengambil ponsel Dian dan menatap berita itu, yang pertama adalah berita pembunuhan di sebuah bangunan terbengkalai. Bukannya ini adalah bangunan yang dirinya pakai untuk berteduh.
Ini kan orang yang akan memperkosa nya, lalu berita kedua malam hari, ada seorang laki-laki yang ditusuk didalam mobilnya.
__ADS_1
"Kat kenapa kau malah melamun "
"Tidak, aku seperti mengenal tempat ini kau tahu Dian aku kemarin hampir diperkosa"
"Apa " teriak Dian dengan kaget.
"Lalu kau bagaimana, kau tidak apa-apa kan kau tidak jadi diperkosa kan " bisik Dian.
"Tidak, ada seorang laki-laki memakai jaket hitam, topi hitam, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Karena mataku waktu itu buram dia membunuh kedua laki-laki itu di hadapan ku, tapi dia tidak melakukan apa-apa padaku. Yang makin membuatku aneh tiba-tiba aku ada bersama Pak Lucas, tapi dia masih mengenakan pakaian mengajar saat aku bangun "
"Mana mungkin Pak Lucas laki-laki tampan seperti itu dia seorang pembunuh. Kau berfikir kalau Pak Lucas pembunuhnya" tanya Dian padaku.
"Aku tidak berpikir kalau Pak Lucas yang membunuhnya, tapi yang aku anehkan kenapa Pak Lucas bisa tiba-tiba ada dan menolongku itu saja yang membuatku bingung"
"Mungkin hanya kebetulan saja, yang penting kau tidak apa-apa kan, makanya kau jangan pulang sendirian aku kemarin sudah berteriak untuk kau berteduh dulu, tapi kau malah terus saja berlari dan meninggalkan aku"
"Ya karena aku tadinya ingin cepat-cepat pulang"
"Ingin cepat-cepat pulang atau ingin menghindari Pak Lucas"
"Ya mungkin aku ingin menjauhi Pak Lucas , karena aku juga tidak mau terlalu dekat bersama guru. Nanti malah ada yang cemburu lagi"
"Tapi enak kalau dekat sama guru kalau ada apa-apa kamu bisa minta tolong sama dia. Apalagi Pak Lucas ganteng. Siapa tahu jodoh kamu kali"
"Ga akan mungkin "
__ADS_1
Aku membuka bukuku dan memikirkan tentang Abang, dia sudah memenuhi pikirannya, dari kata-katanya yang ingin menjadikannya pasangannya, tapi hatiku tidak bisa menerima itu hatiku tidak mencintai Abang.
Memang aku nyaman tapi aku belum bisa menerima Abang, aku masih takut. Aku takut kalau dia bukan Lucas kakaknya Daisy. Takutnya dia hanya mengaku-ngaku saja. Sepertinya aku harus sedikit menjauhinya tapi bagaimana caranya.