Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 201 jangan ikut campur terlalu dalam


__ADS_3

"Daniel kemari cepat makan dulu, ayo jangan lari-lari terus "


"Iya mamah, lihat mamah aku punya teman namanya Sela dia lucu ya" ucap Daniel dengan ceria. Memang selama ini Daniel tak punya teman. Dekat rumah Kat juga tidak ada anak kecil jadi selama dirumah ya bersama Kat saja mainnya.


Kat menatap anak perempuan yang bersembunyi dibelakang Daniel, Kat menarik tangannya dengan lembut "Hallo cantik, sini Sela jangan takut "


"Hallo Tante"


"Cantiknya, sini duduk makan sama-sama dengan Daniel ya. Jangan malu oke "


Anak perempuan itu dengan patuh menganggukan kepalanya dan duduk disamping Daniel. Kat menyuapi Sela, dia makan dengan lahap.


"Nyonya "


"Adiba duduklah disini, kemari bergabung dengan kami "


Adiba langsung menundukan kepalanya duduk di samping Kat dan menatap anaknya yang sedang disuapi oleh Kat. Ini adalah pemandangan pertama yang dia lihat maksudnya secara dekat anaknya tidak pernah mau didekati olehnya.


"Kenapa bibi itu ada di sini "tanya Sela sambil menyembunyikan tubuhnya di belakang Kat.


"Ini Bibi Adiba ingin melihat kamu makan dan juga Daniel. Jangan takut dia baik kok "


"Tapi, kata Ibuku dia jahat" jawab Sela dengan polos.


Kat langsung menatap Adiba lalu kembali menatap Sela "Tidak ada yang jahat di sini, semua orang di sini baik. Termasuk bibi ini dia tidak jahat mungkin bibi ini hanya sedikit tegas itu saja, jadi jangan takut yah duduk lagi di sebelah Daniel. Kita makan lagi ya Tante akan suapi kamu lagi "


"Baiklah"


Sela kembali duduk disebuah Daniel dan kembali disuapi oleh Kat. Mereka makan dengan lahap. Tidak ada yang melarang juga karena memang Zeline juga tidak melarang maka para pelayanan di sana hanya diam saja saat Sela disuapi oleh Kat.


"Habis, kalian berdua pintar makannya. Ini sekarang minum dulu ya nanti setelah itu boleh main tapi jangan lari-lari. Nanti malah muntah, jadi mainnya duduk saja ya main robot atau boneka saja ya "


"Iya mamah"


"Iya Tante"


Mereka mengambil air minum mereka masing-masing dan menekuknya dengan pelan-pelan. Setelah itu Daniel menggandeng tangan Sela untuk bermain kembali. Mereka hanya bermain dengan robot-robotan yang dibawa oleh Daniel tadi dan juga menyusun rumah-rumahan.


"Terima kasih Nyonya karena sudah mau menyuapinya. Aku begitu bahagia melihatnya. Apalagi kalau aku bisa menyuapinya juga"


"Apakah dia Sela anakmu, maaf aku bertanya seperti itu memang aku tahu siapa nama anakmu tapi aku tidak tahu rupanya"


Adiba langsung menganggukan kepalanya "Iya dia anakku, tapi aku tidak dekat dengannya dari awal aku mendekatinya dia tidak mau. Bahkan dia takut padaku jadi aku hanya bisa melihatnya dan kejauhan, aku ingin mengurusnya, Aku ingin menjadi Ibu aku ini sepertimu Nyonya. Aku memang bersalah dulu karena tidak mau mengurusnya tapi aku sadar semua itu salah tapi semuanya sudah terlambat"


Kat mengenggam tangan Adiba "Jika sedang berdua seperti ini panggil aku seperti dulu saja Katherine, tak usah ada kata nyonya, aku merasa aneh saja saat dipanggil seperti itu olehmu. Kamu dekati perlahan-lahan saja jangan terburu-buru aku yakin nanti hati Sela akan luluh apalagi kamu adalah ibunya"


"Baiklah Kat. Maaf aku dulu sangat jahat padamu. Bahkan aku sampai mau merebut suamimu sungguh aku minta maaf. Aku malu dengan kelakuanku yang dulu itu. Saat aku menyadari semuanya aku merasa sangat tidak punya muka, sungguh sekarang saja aku masih sangat malu untuk bertatap muka denganmu"


"Tak masalah aku dari dulu sudah memaafkanmu kok. Mau aku bantu untuk kamu dekat dengan anakmu Sela, siapa tahu aku bisa membantumu "


Adiba langsung mendongakan kepalanya dan menganggukan kepalanya dengan cepat juga "Aku mau, tolong bantu aku, aku ingin sekali dekat dengan anakku. Tidak masalah dia tidak memanggilku Ibu asalkan dia mau ada di sampingku asalkan dia tidak takut padaku. Mungkin nanti secara perlahan dia akan tahu siapa aku dan mengenali aku, seperti yang kamu bilang tadi Kat "


"Aku akan bantu kamu sebisanya ya, tapi sebenarnya siapa yang mengurus anak mu Sela selain suamimu, yang dipanggil ibu oleh Sela "


"Ada seorang pelayan juga yang memang sengaja Tuan Liam khususkan untuk menjaga anakku Sela karena Toni mantan suamiku harus bekerja, dia tidak mungkin kan membawa anak terus-menerus. Makanya menyuruh salah satu pelayan di sini dia itu namanya Fia, dia pekerja lama disini "


"Baiklah, tapi kenapa Fia harus menghasut anak kecil seperti Sela. Seharusnya Fia tak boleh seperti itu. Didikan Fia itu sangat jelek sekali. Sepertinya dia juga ingin menghancurkan mu, apa mungkin kalian pernah bertengkar "


"Entahlah mungkin memang takdirku sudah seperti ini, harus dibenci oleh anak sendiri. Bahkan ditakuti oleh anak sendiri. Kadang Ibuku suka menangis ingin dekat dengan Sela tapi tidak bisa sulit sekali. Memang kami satu lingkungan tapi rasanya kami jauh sangat jauh sekali. Aku juga tak pernah punya masalah dengan Fia. Mungkin dia memang membenci ku saja"


"Aku juga akan berbicara dengan mantan suamimu, bukannya aku mau ikut campur tapi aku hanya merasa semua ini tidak benar. Seharusnya anak tidak boleh dijauhkan dari seorang ibu, meskipun dulu sikapmu sangat jelek tapi setidaknya perkenalkan pada anakmu itu kalau kamu adalah ibunya jangan memisahkan seperti itu kan. Kasian juga dengan Selanya "

__ADS_1


"Iya padahal aku hanya ingin Sela tahu saja, itu saja tak lebih. Aku tidak akan mengambil hak asuhnya. Aku hanya ingin dekat dengannya ingin bisa merawatnya. Ya setidaknya aku bisa memberinya uang jajan, menyuapinya seperti kamu tadi rasanya aku akan bahagia sekali Kat. Hidupku akan sangat bahagia dan tak ada beban "


"Iya aku mengerti, bagaimana kalau aku ada di posisimu aku juga tidak akan pernah bisa tahan, aku juga akan selalu menangis sepertimu"


"Memang pilihanku waktu itu salah ingin menjadi orang kaya secara instan, tanpa mau bekerja dan malah mencari laki-laki kaya. Bahkan aku juga bodoh menghancurkan masa depan Daisy hanya demi memuaskan nafsu mereka semua, aku memang salah di sini aku sangat-sangatlah salah dari berbagai sisi pun aku memang salah. Tapi aku masih bersyukur diberi hidup oleh mereka, aku sudah menghancurkan anak mereka dengan sangat hancur. Tapi mereka masih baik padaku "


"Dan kamu juga aneh kamu juga masih baik sama aku Kat.Padahal di sini aku bukanlah orang baik aku pernah jebak adik ipar kamu, aku pernah jebak kamu aku pernah jahat sama kamu tapi sepertinya kamu itu nggak punya rasa dendam sama sekali sama aku"


"Aku ga mau simpan dendam terlalu lama dan benci sama orang terlalu lama, karena itu akan membuat aku tidak enak hati terus menjadi memikirkan semua itu. Aku ingin hidup senang maka aku harus melupakan semua itu. Aku sudah bahagia dengan Lucas dan juga anak-anakku lalu untuk apa aku memendam kebencian pada orang lain, tidak ada gunanya juga kan. Lebih baik memaafkan daripada terus membenci itu akan lebih baik Adiba "


Adiba malah menangis, rasanya Adiba masih tak pantas saja kalau ada disini. Keluarga ini Adiba hancurkan satu persatu tapi mereka masih mau menerima Adiba dan percaya pada Adiba.


Kat langsung memeluk Adiba dengan erat, Adiba makin keras saja menangisnya, sampai-sampai anak anak mereka yang sedang bermain menghampiri mereka berdua dan Daniel memeluk mamahnya.


"Ada apa dengan Bibi ini kenapa menangis apa Bibi terluka"tanya Daniel dengan polos .


Adiba mengelengkan kepalanya dan mengusap pipi Daniel yang gembul "Tidak Bibi tidak kenapa-napa, hanya saja Bibi sedang bercerita dengan ibu kamu jadi malah menangis seperti ini "


Adiba menatap anaknya yang berdiri cukup jauh darinya. Kat membawa Sela ke tengah-tengah mereka "Sini tidak usah takut, tidak akan ada yang menyakitimu cantik"


Adiba yang melihat anaknya menganggukan kepalanya langsung memeluk Sela dengan erat. Sela juga tidak memberontak "Anakku, aku begitu merindukan mu, aku begitu ingin memelukmu setiap hari seperti ini. Tolong jangan takut dengan Ibu tolong jangan takut, maafkan Ibu yang dulu maafkan Ibu yang tidak mau menyusui mu, tidak mau mengurusmu maafkan Ibu. Ibu sungguh menyesal Sela ibu sangat menyesal sekali dengan apa yang pernah ibu lakukan maafkan ibu nak, maafkan ibu "


Sela yang memang belum mengerti apa-apa dia hanya diam, dipeluk seperti itu. Sela hanya menyenderkan kepalanya saja tapi tidak menangis saat dipeluk oleh Adiba, karena melihat ada Kat di sini dan juga ada Daniel.


Adiba melepaskan pelukannya, mencium seluruh wajah anaknya dan Adiba tersenyum bahagia bisa memeluk anaknya seperti ini, menatap wajahnya sedekat ini pula "Kamu bisa berjanji kan tidak akan pernah takut dengan Bibi, bibi tak jahat sayang mana mungkin bibi jahat Tolong jangan takut dengan bibi"


Sela menatap Kat terlebih dahulu, dan Kat menganggukan kepalanya tanda setuju "Tentu aku tidak akan takut dengan Bibi, asalkan Bibi tidak jahat seperti yang Ibuku katakan. Ibuku banyak sekali membicarakan tentang bibi "


"Aku tidak akan pernah jahat, aku tidak akan pernah jahat Sela. Mana mungkin aku akan jahat pada anakku sendiri"


"Anakku"


Adiba tidak menjawabnya dia kembali memeluk Sela dengan erat. Tanpa mereka sadari ada orang yang melihat kejadian ini, orang itu hanya menatapnya lalu pergi begitu saja. Kalaupun dia mengambil Sela itu tidak akan pernah bisa karena ada menantu kesayangan Nyonya Zeline yang pasti kalau tersenggol sedikit semua keluarga akan marah.


----------------


Kat sudah ada didalam kamar bersama Daniel yang tertidur disampingnya. Daniel sudah lelah main jadi dia tadi mengajak Kat untuk tidur "Sayang"


"Hemm, kamu dari mana saja Lucas. Jam segini baru masuk kedalam kamar "


"Aku mengobrol di depan dengan penjaga dan juga Nabil, aku tidak melakukan apa-apa sayang. Hanya sekedar berbicara saja tak lebih kok"


Lucas memeluk perut istrinya yang buncit dan mengusap-usap perutnya itu "Kenapa anak kita ini menendang-nendang terus, apa dia tidak suka kalau Ayahnya mengusap perut ibunya seperti itu. Apakah dia marah sayang dengan apa yang aku lakukan "


"Bukan begitu berarti dia suka diusap perutnya oleh kamu, makanya dia tendang-tendang dia respon usapan kamu "


"Aku kira anakku yang kedua ini benci padaku, karena saat kamu mengandung Daniel dia tak seaktif ini malahan Daniel itu kalau aku usap perutmu akan diam. Tapi saat didiamkan malah tidak bisa diam kebalikannya kan"


"Mana mungkin anak yang belum lahir benci sama ayahnya sendiri. Kamu ini bagaimana sih suka ada-ada saja "


"Hehehe iya juga ya, tapi ya siapa tahu anak kedua ku ini memang sudah tak suka dengan ayahnya"


Lucas mencium perut buncit itu dan mengajak bicara anaknya yang masih ada didalam perut "Halo anak Ayah apa kabar, di sana apa kamu gerah apa kamu bisa bergerak dengan leluasa. Lalu apakah kamu mendengar ayah "


"Dengarkan ya dengan baik-baik Ayah sudah tidak sabar menunggu kamu untuk keluar. Ayo cepat keluar lihatlah kakak kamu selalu main sendiri, kamu harus menemani kakakmu bermain"


"Mamamu juga sudah sangat berat mengandung mu, ayo keluar anak ayah yang pintar jagoan keluar ya "


"Kamu ini ya belum waktunya anak kita keluar tapi kamu sudah paksa buat dia keluar "


"Kan aku semangati dia aja sayang"

__ADS_1


"Hemm, tapi jangan dipaksa"


"Ga akan sayang, kata kamu kan tadi ajak bicara maka aku ajak bicara"


"Iya iya gimana kamu aja deh. Oh ya ada yang ingin aku tanyakan. Kenapa Adiba bisa kerja di sini maksudnya jadi pelayan dia kan kuliah kenapa nggak kerja di perusahaan kamu aja. Kenapa malah jadi pelayan coba jauh banget tahu"


Lucas menegakan badannya, "Itu adalah bentuk hukuman buat Adiba, agar dia bisa berpikir sekarang kamu lihat kan perubahannya sangat drastis, kalau dia terus di atas dia tidak akan pernah berubah sampai kapanpun, dia akan menjadi angkuh dan malah akan lebih-lebih dari yang dulu. Biar kan saja dia seperti ini"


"Tapi kan dia kuliah capek-capek, tapi kenapa harus jadi pelayan. Ya maksudku berikan dia pekerjaan yang layak, yang sesuai saja "


"Nanti kalau dia sudah layak maka aku akan memberikannya. Aku hanya ingin menguji saja dia akan berapa lama dia berubah menjadi orang baik dan nanti akan aku angkat derajatnya, akan baik seperti itu apa akan berubah lagi menjadi perempuan angkuh. Aku hanya ingin memberi dia pelajaran aku tidak mau dia terus menghancurkan keluargaku. Di sini aku serba salah sayang, papih tidak mau menghabisi Adiba. Bahkan aku pun tidak boleh karena balas budi, kalau saja dia bukan anak om Tora sudah habis dia. Karena dia sudah menghancurkan keluarga ku "


"Iya aku mengerti, kamu juga tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara membunuh teruskan. Mungkin ini sudah cocok untuknya tapi jika dia terus berkelakuan baik seperti ini lebih baik kamu pekerjakan dia di kantor, kasihan kan dia kuliah lama-lama tapi ujung-ujungnya malah jadi pelayan. Dan satu lagi kenapa bisa anaknya Sela itu diasuh oleh orang lain maksudku tidak dikenalkan dengan ibunya sendiri. Atau mungkin kenapa tidak diasuh oleh neneknya saja. Kan neneknya masih ada "


"Kalau masalah itu yang aku dengar dari Papi memang sudah kemauan dari Toni, Toni tidak mau sampai anaknya Sela mengenal ibunya. Toni sepertinya masih dendam pada Adiba karena perlakuannya dulu, kamu tahu sendirikan bagaimana Adiba itu "


"Tapi aku merasa kasihan sekali. Aku ini seorang ibu aku mengerti dan aku bila ada di posisi Adiba aku akan sangat sedih, dan stress dijauhkan dari anakku sendiri. Meskipun dia dulu salah kan setidaknya beri kesempatan untuknya merawat anaknya, kalau dia tak benar baru jangan pernah dekatkan lagi "


"Entahlah aku tidak mau terlalu ikut campur masalah orang lain sayang dan kamu juga jangan terlalu ikut campur. Nanti malah akan rumit "


"Tapi aku mau Adiba dekat saja dengan anaknya, apakah aku tidak boleh berbicara dengan Toni, atau dengan Fia perempuan yang mengasuh Sela. Sepertinya Fia juga tak benar mendidik Sela "


"Coba kamu berbicara dulu dengan Mami, apakah akan baik kedepannya atau tidak. Takut-takut malah nanti jadi masalah besar"


"Hemm, aku akan bicara dengan mamih nanti"


"Sekarang jangan membahas tentang orang lain, tapi bahas tentang anak kita. Aku sudah menyiapkan nama yang baik dan bagus untuknya, pasti kamu akan suka"


"Siapa namanya "


Lucas membisikan sebuah nama pada Kat "Nama yang bagus aku suka"


"Pasti kamu suka, karena aku yang memberi namanya"


"Hemm, tidak juga kalau tidak cocok aku tidak akan mengiyakannya karena aku merasa cocok dan nama itu bagus makanya aku setuju"


"Kamu ini banyak alasan"


"Tidak, aku sama sekali tak banyak alasan"


"Masa sih "sambil mengigit telinga istrinya.


"Lucas sakit"


"Tapi enakkan"


"Tau ah"


Lucas melihat anaknya yang tertidur dengan nyenyak dia dengan perlahan memindahkan Daniel ke tempat tidur sebelah, agar ada penghalangnya lalu Lucas kembali kearah istrinya dan memeluknya "Rasanya aku tidak mau berbagi dengan siapapun meskipun itu dengan anakku sendiri"


"Kamu ya"


"Aku tidak bisa sayang. Bahkan aku cemburu saat kamu menyusuinya dan rasanya aku tidak rela"


"Lalu anakmu akan diberi apa"


"Ya diberi susu, tapi aku mencoba untuk tidak cemburu sebisa mungkin aku menahannya"


"Kamu ini kadang-kadang ya"


"Kenapa sayang. Emangnya aku salah cemburu dengan Daniel dia kan laki-laki"

__ADS_1


"Ya tetap saja dia anakmu"


Lucas malah tertawa mendengar jawaban istrinya. Hari ini rasanya Lucas ingin selalu berbicara dengan istrinya. Sudah lama kan mereka tak seperti ini.


__ADS_2