
Aku berjalan sendirian saat akan pergi ke kelas. Tak sengaja aku berpapasan dengan Pak Lucas. Aku ingin minta maaf padanya, tapi, baru juga aku memangilnya dia terus saja berjalan meninggalkan aku.
"Hai Kat kenapa malah ngelamun disini ? "
"Dian ! "
"Iya kenapa, memangnya kamu maunya siapa yang dateng Pak Lucas, Darwin atau siapa "
"Engga, yaudah ayo ke kelas saja "
"Emm, yaudah ayo jangan sedih dong "
"Aku ga sedih kok "
Dian langsung menarik tanganku sepertinya Pak Lucas memang benar-benar marah padaku. Harus bagaimana aku meminta maaf padanya ? Setelah aku berbicara dengan Chelsea aku sadar ternyata apa yang aku lakukan itu tidak benar. Seharusnya aku tidak seperti itu pada Pak Lucas. Seharusnya aku tidak berbicara itu padanya.
Saat pelajarannya pun, Pak Lucas tak seperti biasanya dia tak menatapku kembali. Dia tak bertanya padaku dia lebih pendiam dan juga kadang-kadang lebih galak pada yang lain.
Bell istirahat pun berbunyi. Dian langsung menarikku keluar dari dalam kelas, Dian sama sekali tidak berbicara. Aku hanya bisa mengikuti temanku itu saat kami akan melewati ruangan Pak Lucas kami melihat Pak Lucas sedang dipeluk oleh seorang perempuan.
Dian langsung mengajakku untuk bersembunyi. Kenapa kita bersembunyi seperti ini coba.
"Kita lihat apakah itu pacarnya Pak Lucas atau bukan. Aku baru lihat ada perempuan yang berani memeluk Pak Lucas seperti itu. Sudah diam saja di sini, kita lihat mereka berdua "
"Sepertinya kita tidak perlu tahu" ucapku pada Dian, karena memang tak perlu untuk apa rasanya tak enak saja.
"Itu harus, sudah kau diam saja kita menguping disini"
Aku mau tidak mau akhirnya mengikuti saran dari Dian. Sebenarnya sih aku juga ingin tahu siapa perempuan itu yang tiba-tiba memeluk Pak Lucas dan mencium pipinya juga.
"Abang ayo kita pulang kita makan siang di rumah" ucap perempuan itu dengan manja.
"Kamu ini siapa suruh datang kemari Abang tidak menyuruhmu untuk datang kemari ya. Lebih baik pulang"
"Iya aku tahu Abang tidak menyuruhku untuk datang, tapi sangat sulit sekali menghubungi Abang. Kau meninggalkanku. Saat bangun tidur saat aku membuka mata sudah tidak ada kau"
"Aku sudah bilang kan, aku harus mengajar kau saja yang kebo sudah dibangunkan tapi tidak bangun-bangun"
__ADS_1
"Kau ini alasan saja, tapi, daripada makan di rumah mending kita makan di kantinmu saja. Maksudku di kantin sekolah ini. Aku penasaran makanan apa yang dijual di sini. Apakah enak-enak, apakah aku akan suka makanan di sini, kalau suka aku akan setiap hari datang"
"Tidak bisa kau harus sekolah. Kau pasti sudah bolos sekolah, kan "
"Kau ini tidak tahu saja aku bagaimana, kadang aku bosan sekolah"
"Sebentar lagi kau lulus jangan bosan sekolah ataupun apapun itu jangan banyak alasan, "
"Akan aku pertimbangan. Sudahlah ayo aku sudah lapar sekali Abang "
Perempuan itu langsung menggandeng tangan Pak Lucas. Sekarang yang aku rasakan adalah hatiku perih entah kenapa tiba-tiba saja seperti ini.
Apakah selama ini Pak Lucas sudah mempunyai pacar, apakah selama ini Pak Lucas hanya mempermainkan aku saja. Kenapa seperti ini kenapa dia mendekati aku kalau sudah punya pasangan dan sepertinya juga perempuan itu seumuran denganku.
Tapi dia begitu cantik sekali, mereka begitu cocok. Apa sebenarnya mau Pak Lucas waktu itu mendekatiku. Satu lagi perempuan itu juga sama memangil Abang, aku kira hanya aku yang memangil sebutan itu untuk Pak Lucas.
"Kat kau baik-baik saja. Kenapa matamu merah seperti ingin menangis ? "
"Tidak kok ini hanya kelilipan saja, ya sudah kau ingin kita pergi ke mana"
"Kita ke kantin saja ya kita makan"
"Kenapa, apakah kau cemburu Pak Lucas bersama perempuan itu" sambil menunjuk mereka.
"Tidak aku sama sekali tidak cemburu"
"Ya sudah kalau kau tidak cemburu maka ayo kita pergi makan. Kenapa tiba-tiba kau tidak mau, memangnya kau tidak mau mengisi perutmu ayo cepat. Kalau kau memang tidak sakit hati melihat Pak Lucas dengan perempuan itu maka ayo pergi ke kantin"
"Ya sudah ayo, aku ga cemburu dan aku juga ga sakit hati kok lihat Pak Lucas sama perempuan lain. Itu pilihannya dan aku juga dari awal ga berharap kok untuk bisa sama Pak Lucas aku tahu diri "
"Iya iya, yaudah yu"
Aku mencoba untuk membuat Dian percaya, aku tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan temanku ini. Aku tidak mau dia sedih karena aku.
Saat kami datang ke kantin sudah banyak teman-temanku yang melihat Pak Lucas dan perempuan itu. Bahkan Pak Lucas menyuapi perempuan itu tanpa ada rasa canggung sedikit pun atau tidak enak dengan murid-muridnya.
"Kat sini duduk kok dari tadi berdiri terus"
__ADS_1
"Oh iya iya iya"
Aku mencoba untuk mengalihkan pandanganku. Aku tidak mau melihat Pak Lucas dan perempuan itu. Tapi, tetap saja aku ini penasaran apa saja yang mereka lakukan mataku kadang-kadang menatap mereka.
Mereka juga makan sambil bercanda bahkan Pak Lucas bisa tersenyum lebar di hadapan perempuan itu. Sedangkan bersamaku Pak Lucas tak pernah. Dia hanya bungkam memerintah dan dingin padaku. Beda saja tidak seperti pada perempuan itu sangat hangat.
"Aku lebih baik ke kelas saja ya, kau makan saja sendiri Dian, maafkan aku "
Aku tanpa mendengar jawaban dari Dian langsung pergi ke arah kelas. Aku tidak sanggup untuk melihat mereka lagi, rasanya hatiku makin terluka. Entah kenapa aku juga tidak tahu apa alasannya. Baru pertama kali aku merasakan hal ini karena Pak Lucas adalah laki-laki pertama yang mendekatiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dian Kat mana biasanya sama kamu"
"Ga ada Darwin, dia balik ke kelas ga tahu kenapa tiba-tiba pergi begitu saja. Padahal dia belum makan"
"Ga biasanya banget, apa ada yang nyakitin dia ? "
"Ga ada kok"
"Aneh ya"
Darwin duduk dan berhadapan langsung dengan Dian, dia tak sengaja menatap ke arah Pak Lucas yang sedang menyuapi perempuan itu.
"Pak Lucas itu sama pacarnya ya, kok muda banget sih kayaknya seumuran kita ya"
"Aku juga ga tahu sih ya. Mungkin pacarnya wajar aja sih dia dapetin yang muda dia saja ganteng. Mungkin bekas muridnya waktu ngajar di sekolah yang lain. Orang ganteng tuh kadang bisa dapetin apa yang dia mau gampang lah buat mereka"
"Iya juga sih, tapi kok wajah mereka mirip ya"
"Mungkin jodoh kali, biasanya kan kalau jodoh suka mirip"
"Terus-terus aku mirip ga sama Kat "
Dian menatap Darwin dari atas sampai bawah. Lalu menggelengkan kepalanya "Ga ada mirip-miripnya dari atas sampai bawah kaki itu Ga ada mirip-miripnya. Katherine itu ke bule-bulean sedangkan kamu bule kampung. Udah ah suka aneh-aneh saja, mau nyusul Katherine dulu ah, daripada bicara sama kamu bule kampung"
"Ehh Dian awas ya kamu"
__ADS_1
"Apaan sih nyebelin"
Dian malah berlari dia tidak mau mendengar sumpah serapah yang akan Darwin ucapkan, karena itu sudah kebiasaan Darwin seperti itu kalau sedang kesal.