Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 250 Ketakutan Vio


__ADS_3

Vio terbangun dari tidurnya sudah ada saudara kembarnya yang sedang duduk dan tersenyum padanya. Vio sebenarnya enggan untuk bertemu dengan Valeria, bukan apa-apa selalu saja pembahasan tentang itu itu dan itu lagi. Pasti Valeria akan menjelek-jelekan suaminya lagi. Tak ada pembahasan lain sekali itu.


"Vio selamat sebentar lagi kamu akan jadi ibu, aku senang banget deh dengar kabar kamu sedang mengandung sekarang. Aku sebentar lagi punya keponakan semoga saja nanti kembar, aku pasti akan membantu kamu nanti mengurus mereka. Saat mendengar kabar ini aku langsung kesini "


Vio tersenyum dan menggenggam tangan saudaranya itu "Makasih ya, kamu udah datang kemari jauh-jauh. Aku kira kamu ga akan datang kesini, aku kira kamu belum dikasih tahu "


"Iya, sama-sama gimana perasaan kamu mau jadi ibu, pasti senang banget kan. Kamu nanti akan disibukan dengan anak-anak kamu. Pasti akan seru deh"


"Senang dan takut juga sih, aku takut aja nanti saat melahirkan "


"Kenapa harus takut, seharusnya kamu senang dong. Semuanya pasti akan baik-baik aja kok"


"Iya cuman takut aja, aku takut aku nanti nggak bisa urus mereka dan aku nggak selamat. Bisa kamu janji sama aku nanti, aku cuman pengen anak aku nanti diurus sama kamu aja nggak mau sama orang lain, jika suatu saat terjadi sesuatu sama aku"


"Janji apa, kalau susah aku ga bisa. Aku ga mau ya yang aneh-aneh"


"Kalau misalnya aku ga selamat tolong kamu nanti menikah dengan Daniel dan urus anak aku. Tolong kamu pasti akan bisa mengurus anakku dengan baik. Aku ga mau kalau sampai anak aku diurus sama yang lain, aku takut mereka ga sayang sama mereka kalau kamu pasti aku yakin kamu akan sayang sama anak aku dan Daniel nantinya. Bisa kan kamu janji sama aku "


Valeria langsung bangkit "Kamu ini apa-apaan sih bicara kayak gitu, kamu ini baru hamil tiba-tiba udah bicara kayak gitu. Aku ga akan pernah mau nikah sama Daniel, jadi kamu itu harus hidup ga usah deh mikirin yang belum terjadi. Aku yakin kamu selamat kamu akan baik-baik saja kamu akan mengurus mereka"


Vio menarik tangan kembarannya itu untuk duduk kembali "Aku cuman takut aja, makanya aku bicara kayak gitu, kamu janjian sama aku. Aku takutnya suatu saat aku ga sempat bicara ini sama kamu, makanya aku bicara sekarang-sekarang. Aku ga mau kalau misalnya Daniel nanti nikah sama yang lain. Lebih baik sama kamu aja kan nanti"


"Ga aku ga akan pernah bisa janji sampai kapanpun. Pokoknya aku ga mau. Kamu tenang aja kamu bakal selamat kok kamu aja baru hamil beberapa minggu tapi pikirannya udah melenceng jauh. Udah ah aku ga suka deh kalau bicara kayak gini. Seharusnya kamu itu ketemu sama aku bicara yang baik-baik, bicara yang seneng-seneng bukan malah bicara tentang maut"


"Iya iya maaf aku cuman lagi ketakutan aja, banyakan ibu hamil yang melahirkan dan gak selamat aku cuman takut. Semoga saja aku selamat ya, tapi hal terburuknya kalau misalnya aku ga selamat tolong kabulkan permintaan terakhir aku itu ya, aku minta sama kamu satu hal itu aja "


"Ya pokoknya jangan fikirannya kemana-mana aja banyak berdoa aja. Banyak kok rumah sakit yang bagus udah ah nyebelin deh kalau kayak gini. Aku tuh datang kemari mau kasih selamat sama kamu, bukannya malah bicaranya kayak gini. Kamu sepertinya harus banyak jalan-jalan deh jangan dirumah terus jadi fikirannya itu kemana-mana ngelantur "


"Ya bukan gitu. Aku cuman takut aja, itu aja sih "


"Udah ah aku males mau ikut tidur aja di sini, kalau bicara terus sama kamu malah akan kemana-mana. Kamu itu pikirannya terlalu negatif ga pernah positif, kalau emang belum siap hamil ya udah ga usah hamil"


Valeria langsung berbaring di samping kembarannya itu. Bahkan dia membelakanginya. Valeria tidak mau berbicara lagi dengan Vio dia itu selalu saja seperti itu, berbicara yang tidak-tidak dari dulu. Apalagi sekarang sedang mengandung pasti bicaranya kemana-mana.


Sepertinya Vio harus banyak diajak jalan-jalan dari dulu dia suka sekali tinggal di rumah, jadi pikirannya tuh di situ-situs saja nanti Valeria akan coba bicara sama Daniel agar mengajak kembarannya ini jalan-jalan. Jangan didiamkan terus di rumah kalau seperti itu ya seperti inilah.


...----------------...


Ayu yang sudah siap akan makan dikagetkan dengan Alex yang baru datang. Alex langsung duduk dan memberikan sebuah makanan pada Ayu "Ini aku beli rujak katanya kalau ibu hamil suka makan rujak. Tenang aja ga terlalu pedes kok, dijamin enak rasanya"


Ayu mengambilnya dan membukanya, menggiurkan sekali pasti rasanya akan pedas, manis, asam dan itu akan enak sekali. Ayu sudah membayangkannya tapi tiba-tiba rujaknya itu diambil oleh Alex "Nanti makan rujaknya sekarang makan dulu, ini kan untuk camilan bukan buat makan siang"


Ayu hanya menganggukan kepalanya, Alex mengambilkan nasi dan juga sayur untuk Ayu. Alex benar-benar melayani Ayu. Sampai-sampai Ayu tidak menyangka kalau yang ada di hadapannya ini adalah Alex yang sama, Alex yang pernah dulu menyiksanya.


Karena perubahan ini sangat cepat sekali, Ayu takut Alex hanya akan menjebaknya saja supaya Ayu percaya. Lalu setelah itu Alex akan memukulnya lagi seperti dulu. Baru memikirkannya saja Ayu sudah takut sekali.


"Ayo sekarang makan, semuanya habiskan ya kamu harus banyak makan. Kamu jangan bengong terus. Kalau kamu terus bengong ga akan pernah kenyang"


"Iya aku sekarang makan kok "


Selama makan Ayu menatap Alex, lalu kembali fokus pada makanannya seperti itu terus-menerus karena Ayu masih belum percaya dengan tingkah Alex yang sekarang, masih merasa aneh saja kalau yang ada di hadapannya ini adalah Alex yang sama.

__ADS_1


"Ada apa, apakah ada yang salah di wajahku apakah ada kotoran. Atau mungkin sekarang wajahku tidak setampan dulu, ayo coba bicarakan padaku aku ingin tahu"


Ayu langsung mengalihkan pandangannya lalu kembali fokus makan "Tidak semuanya baik-baik saja, tak ada yang berubah"


"Baiklah kalau ada apa-apa bicara padaku jangan sungkan-sungkan. Aku tidak akan marah aku juga tidak akan memukulmu. Tenang saja aku sudah berjanji akan berubah"


Ayu lagi-lagi menganggukan kepalanya. Ayu lebih baik fokus saja pada makanannya. Kalau terus menatap Alex tak akan beres-beres makannya. Yang ada Alex akan terus bertanya padanya.


...----------------...


"Ini Bu data dari Violetta dan juga tuan Daniel, semuanya sudah lengkap. Bahkan mereka berdua sudah menikah dan akan segera mempunyai anak"


"Baiklah, terima kasih untuk kerjamu yang bagus ini. Dia sedang hamil Vio sedang hamil, itu adalah kabar yang bagus aku bisa menghancurkannya sekalian kan"


"Iya Bu Nona Vio sedang hamil dan sepertinya itu akan lebih mudah, kita lebih baik menghabisi dia saja. Pasti Tuan Daniel akan sangat terpuruk dan dia akan sangat kehilangan sekali. Mungkin saja dengan cara itu dia akan merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang dia sayangi"


"Tentu saja itu akan lebih mudah untukku menghabisinya. Ide yang bagus juga tidak mungkin kan kalau dua-duanya meninggal, harus ada salah satu yang terpuruk agar aku bisa menikmatinya"


"Kita mau bergerak kapan, apakah sekarang saja"


"Tidak nanti saja. Ada saatnya aku akan bergerak, kita biarkan saja dulu mereka sekarang bahagia nanti setelah saatnya kita habisi mereka aku tidak akan pernah melepaskan mereka, mereka telah menghancurkan keluargaku, meskipun bukan Daniel yang melakukannya tetap saja aku akan membalaskan semua rasa sakit ini pada Daniel dan juga Violetta, dulu mungkin aku tidak bisa tapi sekarang aku akan bisa. Aku yakin aku akan bisa menghabisi Vio dan membuat Daniel gila "


"Baiklah aku akan menunggu perintahmu, aku akan siap melakukannya kapan pun kamu butuh aku "


"Tentu tunggu saja tidak akan lama lagi, aku sedang memilih antara Vio atau anaknya. Sepertinya seru juga kalau misalnya menghilangkan nyawa anaknya aku akan memikirkan dulu semuanya, jangan terburu-buru sesuatu yang dilakukan terburu-buru nanti malah akan gagal"


Laki-laki itu keluar dan meninggalkan perempuan yang menatap foto Daniel dan juga Violetta, dia meremas foto itu sampai hancur dan melemparkannya begitu saja "Lihat saja hidup kalian yang sempurna akan hancur, hidup kalian yang sangat bahagia itu akan aku hancurkan. Tidak akan pernah aku biarkan salah satu dari kalian hidup. Aku akan membalas semuanya rasa sakit itu akan terbalaskan. Sekarang aku sudah punya segalanya dan aku bisa menghabisi mereka"


...----------------...


Alex mengambil satu persatu lintahnya dan melemparkannya begitu saja, lalu membunuhnya dengan kakinya sendiri. Darahnya banyak sekali, setelah itu Alex membawa tubuh Rena yang sudah tak bernyawa ini Alex akan menguburnya di sini saja Alex tidak mau ada bukti apapun itu.


Alex tidak akan gegabah, Alex tidak mau sampai semua ini ketahuan. Apalagi sampai orang tuanya tahu bisa-bisa Alex akan dihapus dari ahli waris. Satu lagi Ayu tahu pasti dia makin tak percaya pada Alex. Sekarang kan Alex sedang mengembalikan kepercayaan Ayu.


Setelah menggali makam untuk Rena, Alex langsung memasukkannya begitu saja, lalu menutupnya kembali dengan tanah yang tadi tidak terlalu dalam sih, tapi ya sudahlah tidak peduli takkan ada yang datang juga ke sini tidak akan ada yang tahu juga kan.


Ini tempat terpencil. Kalau pun ketemu nanti dalam keadaan sudah menjadi tulang, dan tak mungkin juga kan sidik jarinya ketahuan. Bukan satu kali atau dua kali Alex melakukan ini, sudah beberapa kali dan semuanya aman-aman saja tak ada yang sampai ketahuan.


"Ternyata dengan lintas saja dia bisa mati, padahal aku sudah menyiapkan permainan yang lain tapi ya sudahlah aku juga harus pulang sekarang. Pasti Ayu sudah menungguku di rumah jangan sampai dia menunggu lama-lama, kasian Ayu sedang mengandung aku harus selalu terlihat baik dihadapan Ayu "


Sebenarnya, Alex bisa saja memaksa Ayu seperti dulu lagi, tapi kalau misalnya melakukan hal yang sama, sama saja dengan bohong. Ayu tidak akan mau dengannya sampai kapanpun.


Jadi sekarang Alex menggunakan cara yang lain, semoga saja cara yang ini bisa berhasil kan dan membuat Ayu luluh padanya, memang kesalahannya ini sangat besar sekali.


Bahkan sulit untuk dimaafkan, wanita mana sih yang mau diselingkuhi atau begini saja mana ada sih orang yang mau diselingkuhi tidak ada kan.


Alex mengambil barang-barang yang sudah tadi dia gunakan, lalu menyimpannya di tempat aman. Tdi saat pulang kerja Alex langsung ke sini tadinya ingin menghabisi Rena hidup-hidup, tapi ternyata dia sudah mati duluan tidak seru kalau seperti ini.


Oh iya Alex juga lupa, dia kan tidak memberi makan Rena, jadi wajar lah dia mati dengan cepat, apalagi lintah-lintah itu pasti menyedot darahnya dengan sangat banyak sekali, Alex sampai lupa memberi makan Rena tapi ya sudahlah dia juga sudah mati kan.


Selama perjalanan Alex membeli berbagai macam makanan untuk istrinya. Alex ingin membahagiakan Ayu ingin memperlihatkan pada Ayu kalau dia ini sudah berubah, kalau Alex ini sudah menjadi baik.

__ADS_1


Alex langsung masuk ke dalam rumah dan Ayu ternyata sedang menonton televisi. Alex langsung mencium kening Ayu sampai-sampai Ayu kaget dengan apa yang Alex lakukan.


Tapi Alex tak ambil pusing dia menyimpan seluruh makanan di meja "Ini aku belikan makanan ringan untukmu, siapa tahu nanti kamu malam lapar. Pastikan ibu hamil itu akan lapar terus "


Ayu bangkit dan menatap Alex "Ini ada tanah merah kamu habis dari mana, kamu nggak lakuin yang aneh-aneh kan"


"Oh ini pakaianku tadi aku tidak sengaja jatuh, jalan benar-benar licin kamu tahu sendiri kan tadi hujan"


Ayu tidak percaya begitu saja, masa jatuh seperti ini. Seharusnya celananya juga kotor kan di bagian pantatnya tapi tidak ada ini tidak kotor. Hanya kotor dibeberapa bagian saja. Ayu yang tidak mau menambah-nambah masalah akhirnya menganggukan kepalanya saja.


"Begitu ya, ya sudah sekarang kamu mandi. Agar lebih segarkan "


"Iya aku mau mandi sekarang Ayu. Ya sudah aku ke kamar mandi dulu ya, kamu makan aja ini ya"


"Iya "


Ayu duduk lagi dan melihat apa saja yang Alex belikan. Ayu membuka satu persatu makanan itu lalu mencicipinya juga. Ayu tidak sabar untuk memakan semua ini sepertinya semuanya enak-enak. Selama di sini kan Ayu hanya makan makanan yang disediakan saja.


...----------------...


Daniel yang sudah pulang dari kantornya langsung membersihkan dulu dirinya, lalu dia duduk di kursi dan menatap keluar jendela, apakah Daniel harus berhenti membunuh.


Apakah Daniel harus menjadi orang baik sekarang, Daniel akan punya anak tidak mungkin kan dia harus terus begini dan Daniel juga tidak mau seperti ayahnya meneruskan apa yang pernah ayahnya lakukan.


Daniel juga takut kalau nanti tiba-tiba Vio tahu, kalau sampai Vio tahu sudahlah pasti Vio akan meninggalkannya. Daniel tidak mau sampai itu terjadi, Vio belum tahu Daniel yang sebenarnya.


Selama ini Daniel mencoba untuk menyembunyikannya dari Vio, tapi lambat laun semua itu akan ketahuan kan sepintar-pintarnya kita menyembunyikan sesuatu pasti suatu saat akan ketahuan. Tidak mungkin tertutupi terus menerus.


Daniel tahu ayahnya itu seorang pembunuh berantai, pernah melihat ayahnya waktu itu dan dia menjadi mengikutinya seperti ini, sepertinya memang Daniel harus berhenti, Daniel tidak mau nanti anaknya mengikutinya juga anaknya harus menjadi orang baik-baik.


Jangan sampai anaknya nanti mempunyai banyak masalah dan itu pasti akan sangat menyusahkannya sekali, jangan sampai kelakuan ayahnya itu turun temurun pada anaknya.


Tiba-tiba saja ada yang duduk di pangkuan Daniel, ternyata istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamar "Ada apa sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, apakah aku boleh tahu apa yang sedang kamu fikirkan sayang "


Daniel memeluk istrinya dengan erat dan menghirup dengan rakus wangi tubuh istrinya, yang tak pernah membuatnya bosan "Tidak, aku hanya ingin sedang bersantai saja sayang melihat keluar jendela sepertinya menyenangkan. Aku tidak pernah seperti ini makanya aku ingin mencobanya. Ternyata menyenangkan juga"


Vio mengecup bibir suaminya tidak sampai **********. Vio menatap mata suaminya dengan dalam-dalam "Jika suatu saat terjadi sesuatu padaku, tolong kamu berjanji padaku untuk tidak pernah melakukan apa-apa, untuk tidak pernah berubah harus menjadi Daniel seperti ini jangan sampai kamu berubah ya. Jadilah Daniel yang selalu aku kenal"


"Maksud kamu apa sayang. Jangan berpikir yang tidak-tidak kamu akan selalu bersamaku, kita akan mengurus anak kita sama-sama. Kenapa kamu takut nanti saat melahirkan ya "


"Entah kenapa aku punya firasat buruk saja, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi dan itu sangat besar sekali nanti, aku akan meminta sesuatu padamu tapi tolong kabulkan"


"Sudah, aku tidak mau mendengar apapun, kita akan selalu bersama. Jangan pikirkan apapun itu. Nanti kita akan pulang ke rumah baru kita saat kamu sudah melahirkan saat anak kita sudah lahir. Aku ingin kamu di sini dulu saja agar banyak orang yang menemani kamu juga, di sini juga kan ada Mama kalau ada apa-apa bisa langsung bantu kamu. Kalau kita pindah sekarang takutnya kamu malah kesepian dan gak ada temen ngobrol"


"Aku terserah kamu saja, mau kapan kita pindah ke sana aku akan ikut. Aku tak akan banyak menuntut sama kamu Daniel "


Daniel kembali memeluk istrinya, dia tak mau melepas pelukannya ini. Daniel sepertinya harus memperketat lagi penjagaan untuk sang istri, tidak boleh sampai ada yang lengah firasat istrinya tidak boleh diabaikan begitu saja, Daniel tidak mau sampai terjadi apa-apa pada istrinya ini.


"Sayang apakah kamu ingin makan sesuatu "tanya Daniel ingin mencairkan suasana yang canggung ini.


"Emm, aku belum mau tapi nanti jika aku mau pasti aku akan bilang sama kamu Daniel. Sekarang aku masih mual dan rasannya tak enak saja kalau makan apa-apa itu " jawab Vio, lalu Vio mengecup pipi Daniel.

__ADS_1


__ADS_2