
Kembali pada sudut pandang Kat.
"Kat kenapa kau malah meninggalkan ku dan pergi ke kantin duluan "
"Aku sudah memesankan makanan untukmu Dian, sudah duduk saja"
"Huuff, kau tahu lagi-lagi aku dimarahi oleh Pak Lucas karena bukan dirimu yang mengantar buku itu. Dia juga menyuruhku untuk kau pergi ke ruangannya"
Uhuk uhuk aku langsung tersedak makanan yang sedang aku kunyah, "Ini minum dulu "
Dian memberikan aku minuman dan aku dengan cepat meraihnya dan meneguknya.
"Ada apa dengan mu ini, kau punya masalah ya bersama Pak Lucas "
"Tidak, aku tidak punya masalah aku ke kelas dulu ya "
"Kat kau akan meninggalkanku lagi"
"Aku ingin istirahat Dian"
Aku segera pergi meninggalkan Dian, apa yang diinginkan Abang, apakah dia ingin membunuhku karena telah mengetahui dia siapa yang sebenarnya ?
Aku menjadi takut, aku melihat sekeliling takut-takut Abang ada dihadapan ku dan membawaku jauh dari sekolah ini.
Aku terus celingak-celinguk sampai-sampai aku menabrak seseorang, bukan dia yang jatuh tapi aku. Aku segera bangkit dan meminta maaf padanya.
"Enak sekali langsung minta maaf setelah menabrak, kau sudah membuat aku tak dianggap oleh Ayah "
__ADS_1
Ternyata Dimas yang aku tabrak, kenapa harus dia, aku sungguh tak mau berurusan dengannya. Tanpa mendengar ucapannya aku langsung pergi tapi dia mengejarku dan menarik tanganku.
Bahkan dia menggenggam tanganku dengan sangat erat. "Kau harus memperbaiki semuanya Katherine "
"Kenapa harus aku kau kan yang membuat masalah. Aku sama sekali tidak salah tapi kau menyalahkanku. Maka itulah akibatnya. Memangnya kau saja anak Ayah aku juga anaknya, jadi kau jangan semena-mena ya mentang-mentang kau anak laki-laki dan bisa melakukan apa saja. Mau bagaimanapun aku ini saudaramu"
Dimas malah makin mempererat pegangannya pada tanganku, "Lepaskan sialan " teriakku
Murid-murid yang sedang lalu lalang langsung menatap ke arahku yang tadi berteriak, tapi itu tidak membuat Dimas melepaskan pegangan tangannya padaku.
Aku membenturkan kepalaku ke jidat Dimas dan dia langsung melepaskan pegangan tangannya yang begitu erat. Meskipun kepalaku sakit tapi yang terpenting aku lepas darinya.
Aku segera berlari dan Dimas dia malah mengejarku, akhirnya aku sekarang kejar-kejaran bersamanya. Tapi untunglah ada Bu Rini, aku segera mengumpat dipunggungnya.
"Ada apa ini "
Bu Rini segera melihat tanganku dan menatap Dimas "Apa yang kau lakukan Dimas, ada masalah apa sampai-sampai kau memperlakukan kakakmu seperti ini. Kalian ini bersaudara kan kenapa kau begitu kasar padanya. Jika ada masalah di rumah jangan dibawa ke sekolah dan jangan main fisik seperti ini"
Dimas diam dia, matanya masih menatapku dengan marah. "Aku sedang berbicara padamu Dimas, maka tatap mataku bukan menatap Katherine seperti itu"
Dimas mengalihkan pandanganya pada Bu Rini " Bukan masalah besar Bu aku hanya sedang kesal saja padanya"
"Bukan berarti kau akan main fisik kan padanya, dia itu seorang perempuan kalau kalian sama-sama laki-laki dan saling tonjok-tonyokan itu tak masalah buatku. Itu imbang artinya, tapi kau memperlakukan perempuan seperti ini. Aku akan memanggil Ayahmu kita bicarakan di sekolah. Apa masalahmu pada Kat, agar kau tak menyakiti Kat lagi. Di sekolah saja kau berani menyakiti Kat apalagi di luar sana. Kau pasti akan lebih dari ini"
"Jangan selalu membawa orang tuaku Bu, nanti juga di rumah kita akan selesaikan masalah ini"
"Kau siapa berani memerintah ku. Aku akan tetap memanggil Ayahmu agar masalah ini selesai dan tak ada korban jiwa. Kau ini sepertinya sangat tak suka pada Kakak mu Kat. Satu jam lagi aku akan memanggil kalian berdua "
__ADS_1
Dimas langsung pergi begitu saja,"Terimakasih Bu "
"Sama-sama Kat, kau tunggu di kelas ya jangan sampai kau sendirian. Aku akan menelpon Ayahmu dulu kita selesaikan masalah ini di sini ya agar Dimas nanti tidak seenaknya lagi padamu"
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku saja. Aku juga takut kalau Dimas nanti mengarang lagi, lebih baik Bu Rini yang menjelaskan pada Ayah agar dia percaya.
...----------------...
Aku sudah ada di ruangan bimbingan dan konseling di sini juga sudah ada Ayah, Bu Rini, Dimas dan Abang juga entah kenapa dia ada di sini.
"Ada masalah apa Bu sampai-sampai saya harus dipanggil ke sekolah ini"
"Baiklah biar saya yang menjelaskan. Saya mendengar dari Bu Rini kalau anak bapak yang laki-laki ini Dimas sudah melukai Katherine anak bapak juga. Mereka bersaudara kan, tapi sepertinya mereka bermusuhan. Kami di sini tidak mau sampai ada yang terluka, kami tidak mau ada murid yang melakukan sebuah kekerasan. Saya sebagai perwakilan dari Papi saya ingin meluruskan ini semua agar tidak terjadi sesuatu hal nanti di luar sana yang membahayakan murid saya. Memang Dimas juga murid saya tapi dia sudah sangat keterlaluan pada anak bapak yang perempuan."
Abang berhenti berbicara dia menatapku lekat lalu kembali menatap Ayahku "Dia sudah menyakiti Katherine dengan menggenggam tangannya sampai membiru. Anda bisa lihat sendiri kami di sini di sekolah tidak pernah mengajarkan anak-anak untuk menjadi kasar. Apalagi pada saudaranya sendiri. Bukannya kami ingin ikut campur tentang masalah keluarga anda, tapi sepertinya anda harus lebih memperhatikan lagi anak-anak anda dan memberikan sebuah nasihat yang baik agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi"
Ayah menatap Dimas dengan marah, lalu kembali menatap Abang "Ya kami sedang ada masalah, masalah keluarga mohon maaf tentang kesalahpahaman ini nanti saya di rumah akan berbicara pada Dimas dan juga Katherine. Terima kasih karena sekolah sudah peduli pada anak saya Katherine dan langsung menelpon kepada saya tentang kelakuan Dimas yang tidak baik pada kakaknya"
"Tentu itu sudah kewajiban kami, karena kami tidak mau ada kejadian seorang adik melukai seorang kakaknya sampai ke rumah sakit atau akan membunuhnya. Seharusnya Adik Kakak itu akur dan saling menyayangi ya"
Ayahku diam dia juga menatapku, memegang tanganku dengan erat "Kalau begitu apakah saya boleh membawa anak saya untuk pulang. Saya ingin membawa kedua anak saya untuk pulang dan membicarakan tentang masalah ini agar semuanya beres dan tidak kejadian lagi seperti ini"
"Baiklah, silakan selesaikan dulu masalah keluarga ini agar tidak ada korban nantinya. Saya mengizinkan Dimas dan Kat untuk pulang. Setelah bapak menasehati mereka berdua, lebih baik Bapak lebih mengawasi Dimas karena dia temperamennya sangat kacau"
"Baik terima kasih atas nasehatnya"
Tanganku dan juga tangan Dimas segera ditarik oleh Ayah. Kami hanya bisa mengikuti langkah Ayah yang lebar untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1