
Aku sampai pulang sekolah tak membuka ponselku, bahkan sekarang aku sedang ada mall bersama teman-temanku ini.
Kami bertiga, nonton film, main di Timezone, makan ramen dan banyak lagi. "Kita mau kemana lagi nih " ucap Ale.
"Emm, kita cari baju couple yu " ajak Dian.
"Ayo seru juga ya kalau kita nanti pakai baju samaan bertiga. Apalagi nanti kita akan segera liburan "
"Yey sama liburan aja cepet "
"Seru tahu liburan itu "
"Yaudah ayo " Ajakku pada mereka berdua.
Baru saja kami melangkah, tanganku sudah ditarik sampai aku menubruk dada yang menarikku. Sakit sekali hidungku ini.
"Hei apa yang kau lakukan pada temanku " teriak Ale marah.
"Kenapa masalah untukmu"
Aku mendongak melihat orang yang menarikku, ternyata itu Abang. Aku menundukan kembali tatapanku. Bodoh kenapa aku tadi tak membalasnya dulu saja.
"Tentu saja masalah. Kau sudah melukai temanmu. Ada apa denganmu ini bukannya kau itu guru yang tadi di sekolah kan"
"Masalahnya apa dia adalah pacarku. Jadi apa masalahnya. Ayo kita pulang "
Tanganku ditarik dengan kasar oleh Abang, Ale memegang tanganku yang sebelah, jadi ini seperti tarik menarik "Kat benarkah ? "
"Ayo pulang "
Abang kembali menarikku dan membuat pegangan tangan Ale terlepas. Aku ditarik pergi dari dalam mall, orang-orang juga menatap kami.
Dian dan juga Ale mengejarku yang sudah pergi jauh, aku sesekali menatap kebelakang. Temanku masih berlari. Tapi Abang membawaku pergi, dia menarikku dan berjalan dengan sangat cepat.
Bahkan aku sampai mau jatuh, saking tak bisa mengimbangi langkah kakinya yang lebar dan jalan yang cepat.
Abang langsung memasukan ku kedalam mobil dan menutup pintu dengan keras juga. Abang masuk dan memakaikan sabuk pengaman padaku.
Mobil segera melaju dengan kencang, bahkan di area jalan seperti ini Abang menjalan mobil dengan sangat kencang. "Bisakah pelan-pelan aku takut "
Aku mencoba untuk berpegangan aku takut, Abang membawa mobil ini seperti sedang balapan saja, sana sini disalip.
"Aku sudah memberikan mu pesan, tapi kau tidak membacanya"
"Aku tidak tahu kalau kau menghubungiku "
"Jangan berbohong padaku Kat, kau tahu kalau aku mengirim pesan padamu "
Aku menelan ludahku, Abang menatapku dengan marah, dia masih saja menjalankan mobilnya dengan kencang. Aku menangis, aku ketakutan. Barulah Abang memelankan laju mobilnya.
__ADS_1
"Sudah aku bilang kan, kau harus selalu patuh padaku"
"Aku hanya pergi bersama temanku"
Abang melihat kearah tanganku dan menarik gelang yang tadi Ale berikan, lalu membuangnya keluar. Aku melihat tanganku berdarah.
"Kenapa kau membuangnya "
"Aku bisa membelikan gelang seperti itu, tidak usah kau mengambil barang yang diberikan orang lain"
"Tapi itu dari temanku "jeritku
Abang tidak menjawab hanya menatapku, lalu tersenyum miring, aku berhenti menangis saat melihat tatapannya itu. Apakah ada yang bisa menolongku.
Abang memberhentikan mobilnya disebuah pekarang rumah, rumah yang sama saat Abang menolongku. Abang keluar terlebih dahulu dan membuka pintu mobil dan menarikku keluar.
Aku tadi mau kabur tapi tak sempat, Abang berjalan dengan cepat. Aku ditarik dia masuk, aku sudah mencoba untuk menahan agar tak ikut masuk, tapi apa daya aku tak bisa menahan tarikan Abang.
Yang ada tanganku yang sakit. Abang melemparkan ku ketempat tidur. Dia membuka jasnya dan melipat kemejanya.
"Aku mau pulang "
"Ini sudah pulang"
"Aku mau pulang ke rumahku "
"Aku hanya pergi bersama temanku saja, aku tak selingkuh darimu "
"Jangan terus menjawab "
Abang lagi-lagi menarik tanganku, aku mengigit tangan Abang, tapi itu tak mempan, tanganku di direntangkan keatas dan diikat.
Kakiku berjingkit karena tanganku sakit, aku hanya bisa menangis, aku melihat Abang membawa cambukan. Apa yang akan dia lakukan.
"Lepaskan, "
"Kau harus menerima dahulu hukuman dariku "
Ctak Abang mencambukku, rasannya begitu perih "Akhh sakit, lepaskan aku, tolong lepaskan aku "
Ctak kembali Abang mencambukku, badanku sudah lemas. Aku tak bisa menahan tubuhku lagi. Abang segera melepaskan ikatan ditangan ku dan menggendongku kearah tempat tidur dia membaringkan ku.
Dia mengusap air mataku, lalu membuka satu persatu kancing pakaianku. Aku sudah menahannya tapi tanganku disingkirkan olehnya.
Rok ku juga dibuka, dia hanya menatap tubuhku yang sudah dicambuk olehnya, bahkan darah sudah keluar dari bekas cambukan itu.
Tanpa aku sangka, Abang menjilat luka cambukan itu, perih sekali aku mencoba menahannya agar tak berteriak. Aku mengigit bibir dalamku supaya tak berteriak. Aku takut dia membunuhku.
Aku menyudahi hal gila itu, lalu pergi begitu saja. Aku yang ingin bangun tak bisa. Karena ini sakitu sekali. Perih sekali.
__ADS_1
Aku mencoba untuk menggapai ponselku, aku harus menelfon Kakak. Aku mencari nomor Kak Chelsea dan menghubunginya.
"Kak "
"De ada apa "
"Tolong aku "
"Kau kenapa "
"Aku_"
Belum juga aku bicara pada Kak Chelsea, ponselku sudah direbut dan dibanting begitu saja "Siapa yang menyuruhmu untuk menggunakan ponselmu. Apakah kau ingin aku tambah hukumannya. Apakah ini belum cukup untukmu"
"Tolong jangan sakiti aku "
Abang menghembuskan nafasnya dan segera mengobati luka yang tadi dia buat. Dia memberikan semacam obat padaku lalu membungkusnya dengan kain kasa.
"Tidurlah jangan membuatku marah, aku akan menyiapkan makanan untukmu dan kita makan sama-sama"
Abang mengusap pipiku, aku memejamkan mataku, aku takut dia menyobek pipiku, tapi yang aku rasakan adalah bibir Abang menyentuh keningku.
Dia mencium ku cukup lama dan pergi begitu saja, bahkan dia menutup pintu dengan perlahan.
Aku menangis kembali, aku membekap mulutku agar tak terdengar oleh Abang, aku mencari sesuatu untuk membuatku bisa keluar dari sini.
Tapi disini tak ada alat untukku untuk melawan Abang, apalagi dengan luka yang sedang aku derita. Ini juga masih perih sekali.
Aku mencoba memejamkan mataku, aku mencoba untuk istirahat saja dulu. Kalau ini hari terakhirku hidup aku hanya bisa pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang bangunlah dulu, ayo makan dulu "
Aku terbangun, aku membuka mataku perlahan pertama yang aku lihat adalah Abang yang sedang tersenyum manis padaku. Apakah ini tak salah.
"Ayo bangun dulu, biar aku suapi dulu kau harus makan "
Abang membantuku duduk dan mengganjal kepalaku dengan bantal. Dia memberikanku air minum lalu menyuapiku sayur sop tak lupa pakai nasi..
"Enakkan sayang, aku membuatnya sendiri "
Aku dengan cepat menganggukan kepalaku "Yasudah habiskan ya, besok kita akan pergi "
"Pergi kemana "
"Nanti juga kau akan tahu, ayo makan lagi "
Abang kembali menyuapiku, apakah dia punya kepribadian ganda, tadi dia marah tapi sekarang dia perhatian.
__ADS_1