
"Kat apakah Ayah boleh masuk "
Aku yang sedang menatap ke arah luar jendela melihat Ayahku yang kepalanya melongok di depan pintu aku hanya menganggukan kepalaku saja dia membawa tas kerjanya.
"Bagaimana keadaanmu "
"Aku baik Ayah "
"Ayah sudah menyiapkan rumah untukmu. Apakah kau yakin tinggal sendirian di rumah itu. Apakah Ayah perlu mencarikan orang untuk menemanimu di sana"
"Tidak usah Ayah terima kasih, karena kau sudah menerima keputusanku itu dan terima kasih juga kau sudah memberikan aku tempat tinggal"
"Sebenarnya Ayah tidak rela kau keluar dari rumah, tapi karena sepertinya kau juga tidak mau tinggal lagi bersama keluargamu tidak apa. Ayah sudah menyiapkan semuanya ini. Di dalam tas ini ada sesuatu yang harus kau simpan dan jangan pernah ada orang yang tahu. Bahkan Ayah ke sini juga tanpa sepengetahuan ibu, kakak dan adikmu kau harus menyimpan ini baik-baik dan jangan sampai memberikannya pada siapa-siapa termasuk pada Lucas "
Ayu mengerutkan dahiku dan menerima tas yang Ayah berikan berat sekali. "Apa ini Ayah "
"Ini adalah hartamu, kau harus menyimpannya dengan baik-baik. Ayah minta maaf karena salah telah membuat kau tinggal dengan Lisa, seharusnya Ayah memisahkan kalian berdua Ayah tahu apa yang Lisa lakukan Dimas dan juga Chelsea. Ayah tahu semuanya tentang Lisa yang selalu menyakitimu. Ayah malah diam saja dan tidak membantumu"
Tak terasa air mataku mengalir. Aku kira selama ini Ayahku tidak mengetahui tentang aku yang selalu disakiti oleh ibu, tapi nyatanya dia tahu tapi diam saja.
__ADS_1
Kalau begini akhirnya kenapa tidak dari awal saja aku berbicara pada Ayah toh percuma juga sih kalau bicara ga akan pernah dibela dan ga akan pernah diberi keadilan juga semua percuma.
"Jangan menangis Ayah minta maaf, Ayah kira Lisa akan baik nantinya, tapi nyatanya dia terus saya bersikap tidak baik padamu Ayah minta maaf"
Aku mengusap air mataku, mencoba untuk baik-baik saja dihadapan Ayah.
"Begitu ya ternyata Ayah sudah tahu, tapi ya sudahlah itu hanya masa lalu dan tidak usah diungkit-ungkit lagi. Semua itu sudah terjadi dan waktu pun tidak bisa diputar mungkin itu sudah keputusan Ayah untuk diam saja dan tidak membantuku. Aku tahu aku bukanlah anak yang diinginkan oleh Ayah, aku tahu dari awal Ayah sudah memilih Ibu Lisa dan meninggalkan aku bersama mama aku mengerti keputusan Ayah "
"Tidak seperti itu "
"Sudah Ayah aku sudah dewasa dan aku mengerti dalam situasi ini. Aku bukan anak kecil lagi aku mengerti semuanya. Ibu Lisa segalanya untuk Ayah aku mengerti Ayah sangat mencintai Ibu Lisa, jadi sudahlah aku juga tidak mau mempermasalahkan ini "
"Ayah sungguh menyesal Kat, Ayah sangat menyesal "
Ayahku diam dia tak berbicara dia duduk disampingku dan mengusap kepala, tapi ini malah membuatku lebih sakit lagi. Saat kondisiku seperti ini Ayah baru ada.
Kenapa saat dulu aku disiksa, dicaci, dimaki Ayah tak ada, kenapa aku tak pernah dibela olehnya. Sebenarnya banyak yang ingin aku katakan padanya, tapi aku tidak mau sampai kembali membuka luka lama lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
1 Minggu kemudian aku sudah ada dirumah yang Ayah berikan, rumahnya minimalis tapi aku sangat suka cocok untuk aku tinggali sendiri.
Aku mengelilingi rumah ini, setelah puas masuk kembali kedalam rumah. Mengeluarkan semua barang-barangku yang dibawa dari rumah Ayahku dan juga Ibu Lisa. Yang pertama aku keluarkan adalah foto Mamaku. Aku pajang foto Mamaku di ruang tamu , lalu ku tata foto-foto lainnya saat-saat dulu aku bersama mama, kakek, nenek sama orang-orang terdekatku.
Aku memeluk foto Mamaku yang masih tersisa yang belum aku pajang, rasanya aku begitu ingin bertemu dengan mama. Selama ini aku merindukan mama, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa berdoa untuknya aku berdoa pada Tuhan agar bisa bertemu mama dalam mimpi saja itu tidak apa-apa tapi semua itu tidak terjadi tidak ada mama dalam mimpiku.
Hilangnya seorang ibu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, disaat umurku masih kecil dan sangat membutuhkan Mama aku ditinggalkan olehnya. Aku harus kehilangan orang yang paling menyayangiku dan orang yang paling aku sayangi juga. Aku tidak pernah menyangka kalau aku bisa kehilangan Mamaku secepat itu.
Aku bersamanya hanya tinggal berdua ,kakek dan nenek juga tinggal di rumahnya sendiri. Kami hidup bersama-sama bahagia tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi Mamaku dan mengambilnya, tapi aku disini merasa kesepian dan merasa kalau dunia ini tak adil sangat adil.
Kenapa harus aku yang kehilangan sosok Mama, kenapa harus aku kenapa tidak orang lain. Setelah tinggal bersama Ayah aku kira dia akan memberikan kasih sayang seperti mama memberikannya padaku, tapi itu hanyalah sebuah mimpi saja.
Aku datang ke rumah Ayah. Ibu Lisa awalnya sangat baik saat di hadapan Ayah, tapi setelah Ayah pergi dia mulai menyiksaku, menghukumku dalam hal apapun. Sekecil apapun masalah itu tapi ibu selalu membesarkan masalah itu. Apalagi dengan Dimas dan juga Kak Chelsea yang dulu juga seperti itu padaku.
Aku hanya punya tempat bersandar pada bibi saja, aku tidak punya siapa-siapa aku kehilangan arah saat Mama meninggalkanku. Aku seperti tidak punya tujuan hidup.
Aku sebenarnya tak sanggup untuk hidup di dunia ini tapi hidup berjalan tidak bisa berhenti dan tidak bisa mengikuti alur yang aku mau. Apakah aku akan mendapatkan sebuah kebahagiaan. Apakah aku akan bahagia seperti saat tinggal bersama mama nantinya ?
Apakah aku nanti akan mendapatkan suami yang mencintaiku, menyayangiku seperti mama. Aku tidak tahu aku takut jika nanti suamiku melakukan apa yang Ayahku lakukan seperti pada mama.
__ADS_1
Mungkin selama ini Mama tidak pernah berbicara tentang sakit hatinya, tapi setiap aku bertanya di mana Ayah, ke mana dia Mamah selalu menangis. Saat itu aku mengerti mungkin mama disakiti oleh Ayah tapi mama tidak pernah berbicara kalau dia disakiti oleh Ayah, dia mencoba untuk tegar di hadapanku.
Mamah adalah orang yang bisa membuat aku kuat. Kenapa Tuhan mengambil orang-orang tersayang ku, kenapa nenek, Mamah, kakek semuanya diambil. Kadang aku suka bertanya apa alasannya, sampai Tuhan mengambil semua keluargaku dengan cepat dan bersamaan. Sedangkan aku harus hidup tanpa mereka dan diperlakukan tidak baik seperti ini.