Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 154 Sudah bulat keputusanku


__ADS_3

Lucas menatap istrinya yang sedang tertidur lelap, rasanya begitu hangat melihat sang istri kembali. Wajahnya sudah tak pucat lagi.


Lucas mengusap pipi sang istri dan sambil tersenyum bahagia. "Tuan maaf menganggu "ucap dokter Delia.


Lucas menatap dokter Delia dan mendekatinya menjauhi istrinya yang sedang tertidur "Ada apa"


"Nyonya sudah bisa pulang nyonya, sudah bisa dirawat dirumah "


"Baiklah akan aku bawa istriku sekarang. Sudah kamu mengeceknya kan semuanya "


"Sudah tuan, sudah aku cek dan semuanya aman "


"Baik "


Lucas mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu"Sudah aku kirim ke rekening mu, gajih untukmu karena telah merawat istriku dan menyelamatkan nyawamu istriku. Aku tanya sekali lagi apa yang kamu minta "


Dokter Delia masih mengecek ponselnya dan sudah ada transferan, dokter Delia sampai kaget dengan nominal yang dikirimkan "Ini tuan apa tidak salah"gugup dokter Delia.


"Masih kurang "


"Ini terlalu banyak tuan, sungguh ini banyak sekali "


"Tak masalah uang masih bisa aku cari tapi istri tidak akan pernah. Lepaskan infusnya aku akan membawa istriku pergi. Tawaranku bagaimana kenapa kamu tidak menjawab terus "


"Terimakasih Tuan untuk tawarannya, ini sudah lebih dari cukup untuk aku membeli segalanya. Aku menolong nyonya ikhlas tuan, jangan beri aku apa-apa lagi terimakasih untuk uangnya ini, ini sudah lebih dari cukup "


"Baiklah jika kamu punya masalah bisa menghubungiku, aku akan membantumu "


"Baik tuan " dokter Delia tersenyum senang.


Setelah itu dokter Delia segera membuka infusan dan yang lainnya. Tapi nyonya masih saja terlelap tidur. Seperti tak terjadi terganggu sama sekali.

__ADS_1


"Sudah tuan "


Lucas langsung membawa istrinya pergi dengan keadaan tidur, istrinya tidak terusik sama sekali. Lucas mengernyitkan dahinya melihat sang istri yang masih terlelap.


"Kalau ada orang jahat mungkin kamu akan terus tidur seperti ini sayang, aku baru tahu kalau tidur kamu seperti ini "


Mobil dibukakan oleh Nabil dan mereka melesat pergi, pergi ketempat yang sudah Lucas sediakan untuk sang istri dan juga dirinya. Akan pergi beberapa tahun sampai semuanya aman. Ya itu lebih baik dari pada harus tinggal ditempat ini dan penuh dengan ancaman.


"Abang apakah yakin "


"Yakin untuk apa "


"Meninggalkan keluarga dan tak memberitahu semua keluarga untuk ini "


"Ya aku yakin, kenapa aku harus ragu. Keputusanku sudah bulat, aku yakin masih banyak yang berkeliaran ingin membalaskan dendamnya padaku "


"Baiklah kalau sudah bulat, aku tidak bisa merubahnya. Aku akan mengantarmu "


Nabil begitu lesu dengan jawabannya, sepertinya dia tak mau jauh-jauh dari kakaknya ini. Dari dulu memang mereka selalu bersama tak pernah berpisah sekarang mereka akan berpisah.


Airin sudah berlinang air mata mendengar Toni akan menceraikan anaknya. Masih tak habis fikir kenapa harus seperti ini.


"Kenapa harus begitu Toni, ibu sudah senang kamu menjadi menantu ibu, kenapa harus bercerai. Ibu tahu Adiba bukan anak yang baik dia pembangkang dan tak pernah mau ikut aturan kamu. Tolong ibu minta tolong untuk kamu menjaganya dan jangan menceraikannya. Kamu tahu kan kamu berdua tak memiliki siapa-siapa apalagi sekarang Adiba sedang mengandung "


Toni menundukan kepalanya binggung, harus bagaimana ini melihat ibunya yang menangis menjadi tak tega. Kenapa harus seperti ini coba. Padahal keputusannya sudah sangat bulat kalau akan menceraikan Adiba.


Tapi sekarang malah di perlihatkan yang seperti ini "Tapi aku sudah tidak kuat dengan Adiba Bu, dia sungguh-sungguh selalu membuatku pusing, dia selalu saja membuat aku kehilangan kendali, aku takut khilaf dan malah menyakitinya. Satu yang perlu ibu tahu lagi dia datang kerumah tuan Lucas dan berbicara akan mengantikan nyonya Kat, dia berteriak-teriak disana ingin tinggal disana. Aku begitu malu Bu mendapati dia yang seperti itu "


Adiba malah makin menjadi-jadi saja menangisnya, dia tak henti-hentinya menangis. Dia tak mau anaknya sendirian dengan anak yang dia kandung bagaimana masa depan anaknya itu.


"Tolong bertahan selama anaknya belum lahir, setelah lahir kamu bebas melakukan apa saja, mau kamu ceraikan silahkan ibu sudah pasrah karena memang anak ibu seperti itu dari dulu sulit untuk merubah sikapnya itu "

__ADS_1


Toni diam, di diam cukup lama dan memikirkan semua itu. Bagaimana ini terima atau tidak ya tawarannya tapi kalau tidak diterima dirinya akan terus terjebak dengan perempuan bermasalah itu sampai kapan pun.


Perempuan itu akan terus menyelut emosinya akan terus membakar amarahnya. Lebih baik ikuti dulu saja permintaan ibunya tunggu sampai anaknya melahirkan lalu setelah itu ceraikan saja. Dirinya akan bebas dari segala hal macam.


"Aku terima, tapi aku akan menceraikannya saat anak itu lahir. Aku juga tidak mau ada namaku diakta kelahirannya. Kalau pergi setelah lahir kita lakukan tes DNA agar tahu itu anak siapa "


Dengan lemas Airin hanya bisa menganggukan kepalanya "Baiklah ibu menerima bagaimana kalau diam benar anakmu, kamu akan menceraikan Adiba dan membiarkan anak kamu itu "


"Aku akan tetap menceraikan Adiba dan mengambil anak itu, bila benar dia anakku ibu aku tidak akan lepas tanggung jawab kalau memang dia adalah anakku "


"Baiklah ibu tidak bisa melakukan apa-apa lagi semua keputusan ada ditanganmu, ibu akan ikuti apa maumu"


Dengan pasrah akhirnya Airin menganggukan kepalanya dan tak tahu harus melakukan apa lagi. Mungkin ini sudah jalannya untuk anaknya.


Sudahlah dirinya juga tahu anaknya memiliki sifat seperti ibunya sendiri, licik, tidak tahu diri, ingin menang sendiri. Bahkan sampai ibunya meninggal dia tak pernah meminta maaf pada orang-orang yang sudah dia sakiti.


Banyak sekali orang yang dia sakiti bahkan Daisy salah satu orang yang pernah ibunya jahati. Kenapa bisa sifat buruk itu menurun pada anaknya. Kenapa harus anaknya coba.


"Baiklah Bu aku akan pulang, tapi aku tak akan pulang kerumah aku tak akan serumah dengan Adiba, aku masih akan menafkahinya tapi tidak untuk tinggal bersamanya "


"Ibu sudah pasrah dengan apa yang akan kamu lakukan, karena ibu juga pusing harus bagaimana lagi. Ibu tahu ini semua kesalahan anak ibu "


"Baiklah aku pamit Bu, aku pamit dulu permisil "


Toni langsung saja pergi dari rumah Airin, sekarang dirinya pergi ke tempat tinggalnya dulu ya disini. Dirinya juga punya fasilitas disini. Tapi gara-gara menikahi perempuan itu dirinya harus membawanya pergi dan tak boleh ada disini.


"Hey Ton ada disini"


"Ya aku disini "


"Bagaimana dengan istri cantikmu apa kamu tinggalkan begitu saja"

__ADS_1


"Ya aku tak berminat dengannya silahkan kalau kamu mau menikahinya aku sudah tak mau menjadi suaminya. Aku malu menjadi suami perempuan itu "


Teman-temannya malah tertawa mendengar ucapan itu, sungguh mereka juga tidak mau menjadi suaminya Adiba. Mereka sudah tahu bagaimana Adiba yang begitu licik dari kecil sampai sekarang.


__ADS_2