
Tiga bulan kemudian sejak kejadian itu
Daniel sedang tertidur miring dengan Arumi yang tertidur di sampingnya, Vio tersenyum melihat pemandangan ini, memang Arumi tidak bisa lepas dari ayahnya, Arumi selalu saja menangis kalau tiba-tiba Daniel beranjak Vio senang sekali melihat suaminya itu sangat dekat dengan Arumi.
Tapi kadang juga kesal, karena setiap Daniel bekerja pasti akan ditangisi dulu. Pasti suaminya akan lama untuk pergi kekantor bahkan sampai terlambat ya meskipun Daniel bosnya tetap saja dia harus mencerminkan hal yang baik pada karyawannya. Kalau mereka tak boleh telat.
Daniel akan bangun dari tidurnya kalau merasakan pergerakan dari Arumi, Daniel begitu posesif dengan anak perempuannya ini. Apalagi Arumi anak pertamanya kan.
Vio menatap Daniel yang bangun, lalu Vio berkaca pinggang "Kamu sepertinya lupa dengan mamanya, kamu hanya fokus dengan bayinya saja. Tapi Mamanya dibiarkan begitu saja "
"Aku harus selalu menjaga Arumi sayang, dia ini adalah anak perempuan. Aku tidak mau laki-laki mendekatinya, kamu juga selalu ada di sampingku kan aku tidak mendiamkan kamu sayang setiap malam aku selalu memelukmu, menciummu juga kan. Aku sama sekali tak lupa dengan kamu sayangku cintaku "
"Kan Arumi masih kecil belum ada laki-laki yang mendekatinya, siapa juga yang mau masuk kemari Daniel, mereka akan berfikir dua kali juga kan untuk masuk kemari "
"Ada Ayahku selalu mendekatinya, ayahku selalu menculik anak perempuan ku ini, Arumi suka tiba-tiba hilangkan "
"Ya itu beda lagi, dia itu kakeknya kamu ini bagaimana sih Daniel, masa kakeknya sendiri tidak boleh mendekati cucunya. Kamu ini benar-benar konyol Daniel tak membolehkan Kakeknya sendiri untuk mendekatinya. Kamu tak boleh pelit seperti itu"
"Ya juga, tapi ayah selalu saja membawa Arumi pergi. Lalu nanti pulang-pulang saat Arumi sudah tertidur aku kan tidak bisa bermain dengannya, aku kan mau bermain juga dengan Arumi "
"Iya aku tahu tapi kan Ayah baru mendapatkan cucu apalagi ada Arumi dan juga Karina, ayah suka bermain dengan mereka berdua. Jangan larang Ayahmu kasian dia "
"Hemm, kita pindah saja yu sayang kerumah baru kita. Disana aku akan bebas bermain dengan Arumi dan tak akan ada yang mengambil anakku yang cantik ini, kamu setuju kan sayang kalau kita pindah rumah"
"Kamu yakin tidak akan pernah berubah pikiran, sudah tiga kali loh kamu berubah pikiran kita sudah membereskan barang-barang tapi kamu tiba-tiba tidak jadi untuk pindah ke rumah baru itu, aku jadi malas kalau terus saja kamu mengundur-mundur lagi dan tidak jadi lagi tidak jadi lagi, kalau memang mau di sini ya sudah aku juga tak masalah, aku juga nyaman tinggal disini asalkan ada kamu dan juga Arumi saja"
"Iya juga sih tapi aku juga ingin mandiri sayang, tapi kadang juga aku tidak mau meninggalkan keluarga ini di sini lebih banyak orang dan banyak yang menjagamu juga. Aku takut ada yang mengintai kamu lagi sayang, aku tak mau lengah lagi seperti saat itu "
"Kalau aku yang diincar tak masalah, aku akan bisa melawan sedangkan kamu tak akan bisa sayang, kamu pasti akan mudah untuk mereka kalahkan"
Vio mengambil pakaian kotor dan menatap suaminya lagi " Memangnya apa sih yang terjadi sampai kamu berfikir seperti itu, aku yakin tak akan ada lagi yang jahat pada keluarga kita. Aku akan memberikan ini dulu pada Bibi, kamu jaga Arumi ya jangan pergi kemana-mana ingat diam saja disini ya "
Daniel hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia berbaring kembali dan menatap putrinya yang baru saja terbangun, kenapa putrinya ini begitu cantik sekali, Daniel begitu gemas dengan Arumi rasannya ingin mengigit pipinya tapi Daniel tak mau malah diusir dari kamar oleh ibunya.
"Halo Arumi kenapa sudah bangun. Seharusnya kamu masih tidur ini belum waktunya untuk bangun sayang, ayo ayo tidur lagi ya Arumi sayang, Ayah mu yang tampan kan ada disini jadi kamu jangan takut ya, ayah akan melindungi kamu "
Daniel menepuk pantat Arumi dan juga mengusap kening anaknya itu perlahan-lahan, Arumi menutup kedua bola matanya Daniel juga mengecup kening anaknya dengan perlahan, supaya dia tidur lebih nyenyak lagi dan berhasil Arumi kembali tertidur.
Arumi baru tidur 1 jam saja, itu kurang karena malam harinya Arumi selalu begadang dan tidak mau tidur. Seperti orang dewasa saja ini bayi terbangun saat malam hari dan sulit lagi untuk tidur.
Daniel selalu melihat istrinya yang menyusui Arumi jam 01.00 malam dan Arumi tidak bisa tidur lagi. Arumi akan membuka matanya sampai subuh dan akan tertidur lagi nanti sampai siang seperti itu setiap harinya.
...----------------...
Daniel melihat Tamara yang sepertinya memang sudah tidak tahan lagi untuk hidup, 3 bulan Daniel tidak melihat Tamara dan hanya membiarkan anak buahnya yang melakukan penyiksaan pada Tamara, ya lebih tepatnya Bara sih yang menghukumnya Daniel membebaskan Bara melakukan apapun pada Tamara asal jangan dibunuh itu saja.
Tubuh Tamara sudah sangat kecil sekali. Daniel mendekatinya dan mengangkat dagu Tamara, agar mereka bisa bertatapan. Daniel ingin melihat wajah perempuan yang awalnya berani padannya "Bagaimana sudah lelah bermain-main denganku atau mungkin kamu ingin melihat aku yang sesungguhnya, apa kamu ingin tahu aku seperti apa Tamara agar kamu tak salah menilai lagi orang "
__ADS_1
Tamara yang memang sudah sangat lemah sekali tidak bisa berkata-kata dengan lantang. Dia benar-benar diperlakukan tidak adil di sini. Tamara menangis dan menatap mata Daniel langsung, ada kemarahan dari tatapan Tamara itu.
"Aku hanya ingin balas dendam saja dengan apa yang dilakukan oleh ayahmu pada Ibuku, tapi kenapa aku malah diperlakukan seperti ini. Aku hanya ingin membalaskan segalanya apa salah, apakah yang aku lakukan itu salah hah "
"Mungkin kamu boleh balas dendam tapi caranya salah Tamara. Seharusnya kamu lebih tahu dulu cerita awalnya itu seperti apa, kamu hanya mendengarkan cerita dari satu orang saja tidak langsung mendengarkan cerita dari pelakunya sendiri. Kamu juga tidak tahu kan apa salah Ibumu itu sampai-sampai Ayahku melakukan ini Seharusnya kamu cari tahu dulu semuanya sebelum melakukan apa yang akan membuatmu seperti ini"
"Lepaskan aku, aku janji tidak akan mengganggu keluargamu lagi aku tidak akan mengusik mu lagi lepaskan aku, aku ingin pulang aku tidak akan melakukan hal ceroboh ini lagi aku janji padamu aku tidak akan melakukannya lagi, kamu bisa pegang kata-kataku itu "
"Tapi aku tidak percaya, aku tidak percaya dengan semua janji manismu itu, aku sudah kapok baik padamu tapi apa balasannya kamu malah membuat aku akan kehilangan anak dan istriku, tidak akan semudah itu kamu keluar dari genggaman tanganku Tamara, kamu ingin balas dendam kan maka langsung saja padaku, ayo lakukan padaku bukannya malah pada istriku dan juga anakku. Istriku waktu itu baru melahirkan dan kamu dengan pengecutnya ingin melukainya "
Tamara hanya bisa menangis saja tubuhnya sudah sangat lemah sekali. Daniel juga yang tadinya mau menghabisi Tamara tidak jadi melihat keadaan Tamara yang mengenaskan seperti ini, mau bagaimanapun Tamara itu pernah menjadi temannya, Tamara itu teman baiknya meskipun menyebalkan dan selalu membuat masalah.
Kalau Sela tahu Tamara ada dihadapan dirinya sekarang pasti dia akan sangat marah sekali dan memarahi Tamara. Sela memang dari dulu tak terlalu suka dengan Tamara, apalagi kalau diberi tahu tentang apa rencana busuk Tamara ini.
...----------------...
Vio menimang-nimang anaknya itu. Tapi tetap saja Arumi menangis bahkan disusui saja tidak mau. Ada apa dengan anaknya ini Vio baru pertama kali kan punya anak jadi dia tidak mengerti apa yang terjadi pada anaknya ini, bahkan sekarang sampai menjerit.
Vio jadi khawatir sekali, Vio mengambil tas dan perlengkapan bayi. Vio akan kerumah sakit saja mengecek keadaan anaknya takut Arumi kenapa-napa.
Baru saja Vio membuka pintu Daniel sudah ada dihadapannya, barulah anaknya tenang Arumi ini sangat ketergantungan sekali dengan ayahnya. Daniel mendekati putrinya lalu menimangnya "Arumi ada apa dengan anak Ayah ini, padahal Ayah baru saja meninggalkanmu beberapa jam tapi sudah menangis seperti ini jangan seperti ini ya Rumi kasihan Mama"
"Baru saja aku akan membawanya kedokter, aku begitu khawatir dengan tangisnya yang seperti itu. Daniel kamu harus mandi dulu kamu ini habis dari mana sih aku telepon tapi ga bisa, ga diangkat"
"Iya Maaf tadi aku lagi banyak kerjaan banget, aku udah bilang sama kamu kalau akan ada meeting. Dan aku susah buat pegang ponsel sayang. Biasanya juga kalau ada waktu aku akan kabarin kamu kan sayang, kalau tadi aku benar-benar tak bisa maafkan aku ya sayang "
"Baiklah jangan ulangi hal itu lagi, aku suka berfikir kemana-mana "
"Kamu istirahat saja sayang, aku tahu kamu pasti sangat lelah dan mengantuk apalagi kamu selalu begadang terus "
Vio hanya menganggukan kepalanya saja, benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Memang Vio sangat mengantuk sekali dan ingin beristirahat dan tidur sejenak saja.
Karena Vio juga tak bisa tidur siang, anaknya tak mau tidur terus saja membuka matanya. Mana mungkin Vio akan bisa tertidur kalau anaknya saja belum tidur.
Daniel membawa putrinya keluar dari dalam kamar, Daniel membawanya main keluar sepertinya anaknya ini memang tidak mau ditinggalkan olehnya. Tapi Daniel kan harus bekerja tak mungkin terus diam dirumah akan punya penghasilan dari mana kalau begitu.
Daniel melihat Karina yang sedang main dengan Alex. Dia mendekati adiknya dan duduk di sampingnya membiarkan Arumi untuk main bersama Karina. Alex juga membiarkan Karina untuk main dengan Arumi karena Alex juga sudah lelah dari tadi terus membawa main anaknya.
"Apakah nasib mu juga sama denganku Kak yang selalu saja di dicari oleh anak, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa Kak bahkan saat aku pergi bekerja Karina menangis dengan sangat histeris. Aku harus bagaimana ini masa iya aku harus kerja di rumah sama saja bohong aku tidak akan fokus, aku benar-benar binggung mau marah juga bagaimana Karina adalah anakku "
"Sama saja aku juga seperti itu. Arumi tidak mau lepas dariku, tapi mau bagaimana lagi mereka adalah anak kita kan. Darah daging kita itu sudah kewajiban kita sebagai orang tua, kita tak akan pernah bisa marah pada mereka "
"Memangnya kamu siap kalau sampai diusir dari dalam kamar, kamu mau terjadi akan hal, tak di bolehkan masuk ke dalam kamar. Mau kamu terjadi hal itu padamu "
Alex mengambil air minumnya dan menegaknya dengan cepat, lalu menyeka keningnya yang banyak dengan peluh, dari tadi terus bermain dengan anaknya itu lelah. Rasanya baru pulang bekerja langsung anaknya ingin dipangku.
"Iya kak tapi bisa kebetulan sekali ya kita berdua mempunyai anak perempuan, dan lahir di hari yang sama mereka seperti anak kembar. Oh ya kak apakah ini karma untukku mempunyai anak perempuan aku selalu menyakiti perempuan, makannya aku mendapatkan ini Kak"
__ADS_1
"Ya itu untukmu saja, kalau aku tidak kapan aku mempermainkan perempuan. Bahkan aku saja belum pernah berpacaran hanya dengan Vio saja istriku. Makanya aku pernah bilang kan padamu jangan pernah memainkan perempuan saat kamu punya anak perempuan, nantinya kamu akan sangat ketakutan, takut anakmu akan dipermainkan juga seperti kamu permainkan perempuan-perempuan di luar sana waktu itu"
"Ya sekarang aku baru terpikirkan aku kira anakku akan laki-laki, tapi aku juga bahagia mendapatkan Karina dia baik sekali ya meskipun kadang dia rewel, tapi ya mau bagaimana lagi namanya juga anak kecil kan namanya juga balita, tak akan ada balita yang tak menangis mereka pasti akan menangis "
Dua balita itu hanya tersenyum saling pandang, mereka dibaringkan berhadap-hadapan. Memang kalau orang yang tidak tahu menganggap kalau dua anak ini adalah anak kembar, ya karena mereka juga lahir di hari yang sama. Padahal hamilnya tidak barengan.
"Aku dengar Kakak sedang mengurung seorang perempuan siapa diam Kenapa harus sampai dikurung ada masalah apa, apakah Vio tahu "
"Dia itu Tamara, kamu pasti kenalkan dengan dia, dia itu dendam dengan ayah tapi ingin membalasnya padaku pada Vio juga, tentu saja Vio tidak tahu kalau dia tahu pasti Vio akan menyuruhku untuk melepaskan Tamara. Dia terlalu baik, aku hanya bilang pelakunya saja "
"Tamara anak perempuan yang agak lusuh itu kan yang selalu datang ke rumah"
"Iya yang selalu Mama buatkan bekal, bekalku selalu double ya untuk dia tapi apa balasannya padaku dia malah seperti itu, ingin membalaskan dendam. Aku tidak habis pikir saja dengan pikiran Tamara"
"Sepertinya kamu memang harus selalu hati-hati. Kenapa tidak dihabisi ini sudah 3 bulan kan lalu untuk apa kamu simpan lagi perempuan itu, tak akan ada gunanya juga kalau disimpan akan membuat tempat sempit saja "
"Entah kenapa aku sulit untuk menghabisinya, mau bagaimanapun dia temanku. Dia pernah menjadi orang penting dalam hidupku, aku tidak bisa langsung menembaknya atau mungkin menusuknya. Entahlah saat melihat wajahnya aku menjadi kasihan tapi kelakuannya itu sudah sangat membuat Vio berbahaya dia benar-benar ingin menghabisi Vio dan juga Arumi"
"Seharusnya orang sepertimu tidak punya hati nurani masih meneruskan berobat mu itu"
"Awalnya sih tidak, aku tidak mau tapi setelah melihat Arumi lahir aku berpikir kalau aku terus seperti itu bagaimana nanti dengan nasib anakku, aku takut suatu saat ada orang yang marah atau kesal padaku atas apa yang pernah aku lakukan pada keluarga mereka, lalu malah membalasnya pada Arumi seperti sekarang Ayah yang melakukannya tapi aku yang kena getahnya"
"Ya juga sih benar, kita memang harus menjaga Putri kita dengan ketat Kak. Tidak boleh membiarkan mereka terlalu bebas nanti"
"Ya begitulah kalau punya anak perempuan kita harus ekstra posesif pada mereka, bukan apa-apa demi kebaikan mereka juga masa lalu kita bukanlah masa lalu yang baik terlalu banyak permasalahan yang kita buat, sampai-sampai kita harus melindungi keluarga kita juga dengan benar"
Alex setuju dengan kata-kata kakaknya itu. Alex juga dulu tidak pernah berpikir kalau dia akan menikah dan serius dengan satu perempuan, jadi dia melakukan apapun dengan bebas dan sekarang saat dia sudah memang benar-benar serius dengan satu perempuan mempunyai satu Putri Alex menjadi takut kalau putrinya nanti yang akan menjadi sasaran atau mungkin mendapatkan karmanya, karena dirinya ini seorang penjahat dulunya pembunuh ya intinya Alex bukan orang baiklah, bersama Ayu dia bisa seperti ini. Bisa berubah.
...----------------...
Daniel yang masuk ke dalam kamar melihat istrinya yang sedang tertidur lelap. Daniel tak berani untuk membangunkannya tapi Daniel membaringkan Arumi yang sudah tertidur di samping Mamanya itu. Daniel membersihkan dulu tubuhnya, karena sudah lengket dari tadi mengobrol dengan Alex tak terasa waktu sudah berlalu dengan sangat cepat.
Daniel mandi dengan cepat, dia memakai pakaiannya dan berbaring di samping anak dan istrinya. Daniel memeluk kedua orang terpenting dalam hidupnya itu, rasanya Daniel tak akan pernah mau melepaskan pelukannya ini.
Vio yang merasakan ada pergerakan dia terbangun "Maaf aku tadi lelah sampai-sampai aku ketiduran seperti ini. Arumi juga sudah tertidur"
"Iya sayang Arumi sudah tertidur, dia tadi main bersama Karina. Iya sebenarnya sih mereka cuman aku baringkan saja, aku mengobrol dengan Alex dan mereka malah terlelap seperti ini, kamu teruskan lagi tidurnya. Aku tahu kamu lelah seharian terus-menerus mengurus Arumi, dia kan pasti sangat rewel kalau tidak ada aku ayo tidur lagi"
"Bagaimana dengan Tamara" tiba-tiba saja Vio bertanya hal itu pada suaminya.
"Tamara untuk apa kamu menanyakan dia, sudahlah lupakan Tamara "
"Aku ingin bicara dengan Tamara"
"Tidak ada, tidak ada Tamara "
"Maksudnya tidak ada apa, kamu waktu itu bilang Tamara sama kamu "
__ADS_1
"Iya maksudku setelah kejadian waktu itu, aku tidak tahu Tamara dikemanakan oleh orang-orang ku. Aku juga tidak mau terlalu mengurusinya Aku muak dengannya"
Sebenarnya Daniel sengaja berbicara seperti ini agar istrinya tidak mencari tahu keberadaan Tamara, karena Daniel tidak mau kalau Vio sampai melihat keadaan Tamara pasti akan panjang urusannya nanti.