
Setelah aku dan Dimas ada di rumah kami dikumpulkan. Ibu juga ada di sana dia menatapku dengan benci. Sudah biasa sih aku di tatap benci seperti ini oleh ibu.
"Jadi ini apa masalahnya, sampai-sampai anak ini ke sini lagi"
"Ini adalah rumah Kat juga, dia bisa datang kemari kapan saja. Kau tidak bisa mengaturnya Lisa. Dia anakku jadi kau tidak boleh semena-mena padanya. Ini tentang anakmu Dimas dia sudah sangat keterlaluan lagi pada anakku. Aku tidak akan pernah mentoleransi lagi mulai sekarang, mulai detik ini aku tidak akan pernah memberikan uang bekal lagi padanya kau saja yang menafkahi dia memberi uang dan yang lainnya. Satu lagi aku sudah menyiapkan surat cerai "
"Apa cuma gara-gara masalah Dimas dan Kat kau akan menceraikan ku ? "
Aku yang mendengar kata-kata Ayah sungguh kaget. Kenapa Ayah tiba-tiba mau cerai dari ibu Lisa, aku sampai melongo dan menatap Ayah dengan sangat lekat wajah Ayah begitu marah dan merah sekali.
"Aku sudah lama ingin bercerai denganmu. Bukan karena masalah Kat atau Dimas aku sudah tidak kuat dengan mu Lisa. Ternyata memang pilihanku salah. Aku salah telah memilihmu dan melepaskan Jovanka hanya untuk dirimu saja"
"Tidak aku tidak mau "
"Terserah dirimu saja, mau kau mau atau tidak itu tak ada urusannya dengan ku. Aku bertahan dulu hanya untuk anak-anak saja. Tapi setelah melihat bagaimana kau mendidik anakmu dan memperlakukan anak ku ini memang sudah keputusan benar aku melepas mu untuk selamanya Lisa. Kau bukan ibu yang baik, kau bukan ibu sambung yang baik. Kau membenci anakku tanpa alasan yang pasti "
"Aku tidak akan mau, aku tak akan menandatangani surat cerai itu " Ibu Lisa berteriak dengan sangat histeris bahkan dia memukuli dada Ayah.
Aku yang merasa serba salah hanya bisa diam saja, mau keluar pun tanganku dipegang oleh Ayah.
"Aku akan pergi sekarang dan surat cerai akan sampai disini dalam 1 Minggu "
Tanganku ditarik Ayah, tapi tiba-tiba Dimas berteriak "Aku tahu memang aku salah, tapi kau tidak pantas untuk menyalahkannya pada Ibuku, untuk menelantarkan ibuku dengan begini, hanya karena anak itu. Kau terlalu menyayanginya sedangkan aku kau tidak menyayangiku selama ini"
__ADS_1
Ayahku malah tertawa mendengar kata-kata Dimas "Kau bilang aku tak pernah menyayangimu. Lalu dengan fasilitas yang aku berikan dengan mainan yang selalu kau inginkan, dengan apapun yang kau inginkan aku selalu memberikannya. Apakah itu kau anggap bukan sebuah kasih sayang Dimas. Aku bahkan mengesampingkan kemauan Katherine. Aku membelikan apapun yang kau inginkan. Ternyata selama ini apa yang aku berikan tidak kau hargai. Mungkin mulai sekarang kau bisa lebih dewasa lagi dan mencari uang untuk ibumu dan juga Kakak mu. Aku sudah capek dijadikan sapi perah oleh ibumu. Kau tidak tahu tentang masa lalu kami dan kau tiba-tiba saja membenci Kakakmu gara-gara hasutan ibu mu saja"
Dimas tak menjawab dia diam, Ibu Lisa masih menangis dengan histeris, kembali tanganku ditarik oleh Ayah. Ayah tak bicara apa-apa saat melewati Kak Chelsea.
Aku juga yang ingin bicara dengan Kak Chelsea sulit, karena Ayah terus menarik tanganku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama diperjalan Ayah diam saja, aku mencoba untuk berbicara dengan Ayah, aku masih kaget dengan keputusan Ayah.
"Kenapa Ayah tiba-tiba mau berpisah dengan Ibu, apa semua ini gara-gara aku"
Ayahku menatapku sekilas lalu kembali fokus kejalan "Ini tidak ada urusannya denganmu, memang Ayah sudah tidak mau lagi dengan Lisa dari dulu Ayah memang ingin berpisah, tapi ayah memikirkan Chelsea, Dimas. Ayah memikirkan mereka bagaimana masa depan mereka nantinya"
Aku hanya bisa tersenyum kecut, Ayah hanya khawatir dengan mereka berdua. Mungkin Ayah mengambilku karena harta mamah saja.
Aku menatap Ayah sejenak dan kembali fokus melihat keluar jendela.
"Minta maaf untuk apa "
"Minta maaf untuk kelakuan Ayah pada dirimu dan juga Ibumu. Maafkan Ayah pada awalnya Ayah tidak jujur kenapa Ayah dan ibumu bercerai. Ayah hanya ingin kau tidak membenci Ayah itu saja"
"Sudahlah Ayah tidak usah saling minta maaf seperti ini, pada akhirnya juga Mamaku tidak akan bisa hidup lagi kan. Mamaku tidak akan bisa kembali lagi padaku"
__ADS_1
"Iya aku tahu semua itu tak akan bisa kembali lagi "
Aku mengusap air mataku, memang seperti ini aku kalau sudah membahas tentang Mamah pasti seperti ini aku menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku yang baru saja selesai mandi segera masuk kedalam kamar. Ayah tak tinggal bersamaku setelah mengantarkanku dia pergi lagi. Katanya lebih baik tinggal di hotel saja. Aku pun tidak melarang itu kemauan Ayah silahkan.
Saat aku melihat ponsel banyak sekali telepon dari Abang. Aku tak berani untuk mengangkatnya aku takut, takut dia tiba-tiba mengancamku dan membunuhku. Sekarang aku tahu siapa dia aku takut.
Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku ternyata itu dari operator kukira itu dari Abang dia mengancamku atau yang lainnya.
Lalu kembali terdengar ponselku berdering. Saat kulihat ini benar-benar dari Abang. Dia memberikanku sebuah pesan. Aku segera membuka pesan itu meski takut.
Abang
Aku sudah sabar Kat. Aku sudah sabar menunggu keputusanmu. Aku pernah bilang kan aku akan menunggu keputusanmu. Apakah kau mau menjadi pacarku tapi sampai sekarang kau belum memberikan jawaban. Aku mau jawabannya sekarang.
Aku tidak mau kau mengecewakanku. Aku ingin jawaban yang memang membuatku senang datang ke sekolah sekarang juga atau Dian temanmu akan mati. Aku tidak akan pernah main-main kau sudah tahu kan siapa aku. Datang kemari dan selamatkan temanmu.
Satu lagi jangan bawa-bawa Tio, jika kau sampai membawa Tio kemari aku akan melemparkan temanmu dan kalian berdua akan melihat mayatnya yang berlumuran dengan darah. Seorang psikopat tidak akan pernah berbohong dengan kata-katanya.
Aku gemetaran saat membaca pesan dari Abang, kenapa harus Dian, kenapa harus temanku yang menjadi sasaran. Harus bagaimana ini apalagi aku tidak boleh menelpon Kak Tio. Kenapa Dian bisa ada di sekolah.
__ADS_1
Aku yang tidak mau terjadi apa-apa dengan Dian akhirnya nekat pergi ke sekolah, tanpa memikirkan keselamatanku. Aku tidak mau teman sahabatku yang selalu ada untukku ini celaka cuman gara-gara aku. Cuman hanya karena aku belum menjawab apakah aku mau jadi pacar Abang atau tidak.
Aku segera mengambil jaketku dan berlari keluar dari rumah. Bahkan aku tidak mengunci rumah. Sekarang yang aku pikirkan adalah keselamatan Dian. Aku tidak peduli kalau nanti ada yang mencuri atau mengambil barang-barangku.