Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 161 Kalau kalian akan memilih mana


__ADS_3

"sudah puas kamu Tamara "


"Hanya sedikit tidak terlalu puas, tapi itu lebih baik dari pada sama sekali tidak "


"Hemm benar "


Lucas mengaktifkan kembali ponselnya dan banyak sekali panggilan dari sang istrinya dan juga para pelayan serta anak buahnya.


"Ada apa ini " gumam Lucas


Lucas menghubungi istrinya tapi nihil tak diangkat "Sialan, ada apa "


"Kenapa Lucas "


"Aku pulang dulu Tamara "


Lucas langsung pergi dari rumah Tamara sambil menghubungi orang-orangnya. Mencari tahu apa yang terjadi.


"Seharusnya aku tak mematikan ponsel, sialan "


Lucas masuk kedalam mobil dan buru-buru menjalankannya. Sambungan terakhir akhirnya diangkat juga.


"Hallo tuan "


"Ada apa kenapa kalian semua meneleponku "


"Maaf tuan, nyonya masuk kerumah sakit"

__ADS_1


"Apa kenapa bisa "


"Perut nyonya sakit. Sekarang kami sedang ada dirumah sakit "


"Aku akan kesana "


"Baik tuan "


Lucas mempercepat laju mobilnya "Sialan kenapa aku harus melewatkan ini semua. Kenapa aku bodoh sekali"


Lucas terus saja mengumpat melampiaskan semua kekesalannya. Bagaimana sekarang dengan keadaan sang istri.


...----------------...


"Mau sampai kapan kamu berjaungan Sienna "


"Aku belum siap Stevan, aku belum siap aku tak ingin mati aku masih mau hidup. Kenapa malah seperti ini"


Stevan yang sudah lemas hanya bisa tersenyum, entah kenapa malah tersenyum. Aneh sekali kan dia ini. Tersenyum seperti itu saat sedang genting seperti ini.


"Stevan lakukan sesuatu aku tak bisa seperti ini. Aku ingin pergi dari sini, aku ingin bebas aku ingin hidup, hidupku ini masih panjang "


"Aku mau lakukan apa, lihat aku sebentar lagi mati, aku sebentar lagi akan menemui ajalku. Aku sudah digantung seperti ini dengan darah yang terus saja menetes "


Sienna menatap Stevan, dia malah makin menjadi-jadi saja menangisnya. Benar juga Stevan lebih parah darinya tapi tetap saja dirinya ingin keluar dari sini. Ingin pergi dari sini.


"Puas kamu Sienna melajukan ini padaku "

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan, kalau saja aku tahu istrimu seperti ini aku tak akan sudi mendekati kamu "


Pintu tiba-tiba dibuka ternyata Tamara membawa palu besar, palu itu digusur oleh Tamara. "Waw aku kecepatan ya, kalian ini sedang membicarakan masa lalu kalian "


"Oh ya aku akan memberi keringanan "


Sienna langsung tersenyum senang, masih ada kesempatan dirinya hidup "Apa"teriak Sienna.


"Semangat sekali kamu. Pertama aku akan melepaskan kalian tapi dengan keadaan fisik yang kurang, harta kamu Sienna menjadi milikku, semuanya menjadi atas namaku. Karena Stevan tak punya apa-apa maka dia harus merelakan yawanya aku habisi "


Sienna diam "Lalu kamu akan memberi kompensasi tidak atas mataku ini "


"Tidak untuk apa, itu adalah untuk pengingat dirimu. Jangan sampai kamu menjadi seorang pelakor "


"Tapi aku ingin sempurna lagi "


Tamara malah mengayunkan palu besar itu dan menghantamkannya kearah Sienna "Akhhh Tamara"


Sienna langsung muntah darah, dia juga batuk-batuk tak karuan. Baru juga Sienna bernafas dengan benar tapi Tamara sudah menghantamkan kembali palu itu.


Sienna sudah tak merasakan kembali punggungnya, punggungnya sudah retak sekali. Pasti sudah yakin dirinya akan cacat.


"Tamara ampun "gumam Sienna yang sudah lemas.


Badan Sienna langsung amburuk kesamping, Tamara tertawa dengan bahagia melihat itu. "Tamara sadar "


Tawa itu langsung berhenti dan tatapannya langsung mengarah pada Stevan "Kamu yang sadar " teriak Tamara dengan melengking.

__ADS_1


__ADS_2