
Selama perjalanan Vio dan juga Daniel diam, mereka bungkam tak ada yang membuka pembicaraan. Vio juga bingung mau bicara apa Vio menatap raut wajah Daniel yang begitu marah, tapi Daniel tidak mengatakan apa-apa Vio lebih baik Daniel meledak-ledak daripada mendiamkannya seperti ini.
Kalau sedang diam seperti ini Daniel begitu menakutkan sekali. Vio begitu was-was takut Daniel melakukan sesuatu padannya nanti. Meskipun mereka sudah kenal lama tapi tetap saja Vio takut.
Vio terus memainkan jari-jarinya, memikirkan kata apa yang cocok untuk dia ucapkan pada pacarnya ini. Benar kan baru saja mereka pacaran tapi sudah ada masalah saja, harusnya tadi juga Vio tidak mengikuti kata-kata dari Valeria mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi seharusnya Vio bicara dulu.
Kenapa Vio ini polos sekali, kenapa mau-mau saja disuruh oleh Valeria untuk tak menghubungi Daniel jadi begini kan.
"Aku minta maaf "akhirnya Vio mengeluarkan suaranya meski pada akhirnya Daniel tidak menjawabnya. Vio yang tidak mau membuat masalah lagi diam lagi. Entah harus bagaimana minta maaf pada Daniel. Sebelumnya Daniel tak pernah semarah ini pada dirinya.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumahnya Vio. Daniel langsung turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Vio keluar. Vio tanpa harus disuruh dua kali lagi langsung keluar. Vio menatap Daniel tapi dia malah menatap ke lain tempat.
"Aku benar-benar minta maaf Daniel tolong maafkan aku jangan diamkan aku seperti ini "
"Tidurlah dan istirahat "jawabannya sungguh sangat dingin. Bukan ini yang Vio inginkan.
"Baiklah aku masuk dulu ke rumah, kamu hati-hati di jalan ya" Vio akhirnya mengalah saja.
"Hemm" jawab Daniel dengan singkat.
Vio akhirnya masuk tidak mau membujuk Daniel, ini juga sudah cukup malam. Vio bingung harus bagaimana nantinya ya, semoga saja nanti Daniel tidak marah lagi padannya.
__ADS_1
Vio yang sudah ada di dalam kamar langsung membaringkan tubuhnya tanpa mengganti pakaiannya. Vio juga menyalakan ponselnya banyak panggilan tak terjawab dari Daniel dan juga pesan-pesan yang menanyakan dirinya di mana.
Vio menyimpan ponselnya dan mencoba untuk menutup matanya, tapi dia malah mendengar keributan di luar rumah. Ada apa lagi sih sudah lama Vio tak mendengar teriakan-teriakan yang melengking seperti ini.
Vio yang takut terjadi apa-apa segera keluar dan ternyata Valeria sedang dimarahi oleh Ayahnya. Vio hanya bisa melihat dari kejauhan saja teriakan Valeria begitu nyaring sekali. Valeria begitu berani pada Ayahnya.
"Ayah sudah bilang kan kamu jangan ke klub lagi, jangan samakan tempat tinggal kamu dan di sini. Untuk apa kamu datang ke tempat seperti itu. Jadi ini alasannya kamu menyuruh Ayah untuk pergi bersama Mamamu makan malam iya. Untung saja Ayah pulang tidak larut malam kalau sampai itu terjadi akan menjadi kebiasaan untuk kamu "
"Aku ini ingin bebas, aku ini ingin bisa menjalani hidupku dengan nyaman dan atas keinginanku sendiri. Yang terpenting aku sudah pulang kan akan bantu Ayah untuk mengelola perusahaan. Kenapa hanya masalah seperti itu saja dipermasalahkan. Aku muak sekali dengan semua ini "
"Tetap saja, kamu sudah membohongi kamu berdua, kamu tidak jujur karena akan pergi ke sana. Kenapa harus seperti itu. Ayah sudah bilangkan tidak suka kebohongan "
"Kamu ini kalau sedang diberitahu oleh orang tua pasti saja terus menjawab Valeria, bisa tidak kamu tidak terus menjawab dengarkan Ayahmu ini "
"Tidak bisa, aku tidak akan seperti Vio yang terus diam saat kalian marahin, nasehati. Aku bisa melawan aku sudah dewasa dan aku bisa mengatur hidup sendiri"
Plak
Valeria ditampar oleh Ayahnya. Vio sampai membekap mulutnya dia takut kelepasan dan malah berteriak. Vio juga tidak berani mendekati Ayahnya yang sedang marah pada Valeria, karena kalau sedang marah Ayahnya sangat menakutkan sekali. Dia tidak pandang bulu mau siapapun itu Ayahnya pasti akan menyakitinya.
"Lebih baik aku tidak pernah pulang kemari. Lebih baik aku tinggal di sana saja percuma aku pulang seperti ini tapi diperlakukan tidak baik, aku tidak akan pernah betah untuk tinggal dirumah ini lagi "
__ADS_1
Valeria langsung keluar dari dalam rumah. Vio yang takut terjadi apa-apa dengan Valeria segera mengejarnya, tapi langkahnya berhenti saat suara Ayahnya menghentikannya "Biarkan dia Vio. Jangan pernah kejar adikmu itu biarkan saja dia mau jadi apa dia itu. Jangan pernah bela dia dan masuk ke dalam kamar sekarang juga "
Vio langsung putar balik dan kembali ke dalam kamarnya. Vio tidak mau sampai harus bertengkar dengan Ayahnya atau membuat mamahnya sedih. Lihat saja Mamanya sudah menangis saat tadi Valeria ditampar oleh ayahnya dan pergi begitu saja.
...----------------...
Vio pagi-pagi sekali sudah siap untuk pergi ke butiknya. Ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Saat keluar Vio malah melihat Daniel yang sedang asyik mengobrol dengan ayahnya. Sejak kapan dia datang kemari.
Dengan langkah yang pelan Vio mendekati mereka berdua "Akhirnya kamu datang juga lihat Daniel dari tadi nungguin kamu, katanya mau berangkat bareng "ucap ayahnya dengan sangat lembut sekali, berbeda dengan kemarin malam yang menggebu-gebu dan juga marah.
"Emm, iya ayah. Ya sudah aku dan juga Daniel pergi sekarang ya harus ada sesuatu yang aku kerjakan di butik"
"Iya sayang selalu menjadi anak yang baik dan jangan pernah membantah kedua orang tua ya. Ayah ingin kamu tak sama dengan Valeria "
Vio hanya bisa menganggukan kepalanya setelah menyalami ayahnya dan Mamanya tidak ada di sini, entah ke mana Vio juga tadi sudah mencarinya tapi belum ketemu mungkin mamanya sedang marah pada ayahnya dan mengurung diri di suatu tempat memang seperti itu Mamanya.
Daniel seperti biasa membukakan pintu untuk Vio, tapi masih dengan mode bungkam dan tidak mau berbicara dengan Vio. Vio juga ya sudahlah masa bodoh Vio tidak pandai untuk membujuk seseorang, jadi kalaupun Daniel marah Vio akan banyak diam dan menunggu amarah orang itu untuk reda.
Vio tak pandai untuk berkata-kata. Apalagi kemarin mendapatkan respon seperti itu dari Daniel, jadi Vio takut kalau Daniel tiba-tiba tidak meresponnya lagi dan malah mengalihkan pembicaraan Vio belum siap.
Vio menatap Daniel sekilas dan kembali fokus menatap ponselnya sambil bertukar pesan dengan saudaranya. Vio sangat khawatir semalam dihubungi tidak aktif.
__ADS_1