Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 50 Ancaman


__ADS_3

Aku yang baru saja sampai disekolah mencari keberadaan Abang, tapi dia tak ada. Dian juga sama tak ada. Aku teringat kata-kata Abang tentang akan menjatuhkan Dian pasti dia ada di rooftop.


Aku berlari menaiki tangga, aku tak memikirkan lelah yang aku rasakan sekarang yang terpenting adalah keselamatan Dian.


Saat aku membuka pintu kosong dan kelap "Dimana kau Dian "


"Akhirnya kau datang juga "


Itu suara Abang, aku menjadi asal suaminya ternyata dia ada dipojokan dan Dian dia pingsan. Pisau sudah diarahkan ke leher Dian.


"Apa yang kau lakukan Abang, kenapa kau sangat konyol sekali"


"Konyol kau bilang "


Abang mendekati, aku hanya bisa menelan ludah dengan susah. Dia sudah ada di hadapanku, dia memojokan ku dan pisau itu sudah ada di pipiku, begitu dingin. Aku takut.


Pisau itu membelai pipiku sampai ke leher "Sekarang kau sudah tahu aku siapa. Kenapa kau takut padaku "


"Siapa yang tidak akan takut dengan seorang pembunuh, siapa saja akan takut meskipun kau orang terdekatku tetap saja aku takut"


Pisau itu menusuk leherku, hanya ujungnya saja tapi sangat perih sekali. "Bagaimana jawabanmu, kau sudah memikirkan jawaban mu kan ? "


Aku diam, aku masih takut dengan pisau itu. Takutnya pisau itu akan menembus leherku "Tapi kau harus melepaskan Dian, kau tak boleh menganggu keluargaku lagi"


"Tentu, aku tak akan mengangguk mereka asalkan kau mau menjadi pacarku "


"Ya aku mau " Akhirnya aku pasrah juga.


Abang memeluk tubuhku, dia sudah menyimpan pisaunya. "Baiklah sayang, mulai sekarang kau harus selalu menurut padaku. Jadilah perempuan patuh maka aku tak akan menyakitimu"


Aku diam, aku seperti tak mengenal Abang, kenapa Abang menjadi seperti ini. Dia adalah orang baik tapi kenapa tiba-tiba seperti ini.


"Jawab sayang jangan diam saja "


Abang sekarang mencengkram daguku. Dengan susah payah aku pun menjawab "Iya Abang "


"Sekarang kau harus mengubah panggilan mu itu, besok kita ketemu kau harus merubah sebutan mu itu. Aku sudah menyiapkan taksi untuk kau mengantarkan temanmu. Ingat jangan sampai ada yang tahu taruhannya adalah temanmu dan juga keluargamu. Sekarang kau tahu aku siapa, jadi jangan pernah membantah dan main-main denganku "


Abang melepaskan cengkeramannya dan pergi begitu saja. Aku yang lemas langsung terjatuh dan mengatur nafasku yang memburu.


Aku melihat Dian yang masih pingsan. Dengan langkah gontai aku mendekatinya dan membuka tali yang membelit tubuh Dian.


Ku tepuk pipinya Dian dengan perlahan "Dian bangun Dian "


Dian terbangun, dia langsung berdiri dan celingak-celinguk "Kenapa kita ada di rooftop, apa yang terjadi Kat "

__ADS_1


Aku binggung harus menjelaskan apa "Emm, bisakah kita pulang, biar aku antarkan kau pulang ya"


"Apa yang terjadi Kat, lalu ini kenapa lehermu berdarah "


Aku memegang leherku dan mengelengkan kepalaku "Tidak, ini bukan hal penting ayo lebih baik kita pulang, aku akan mengantarkan mu pulang"


Aku segera memapah Dian, agar dia tak banyak bicara lagi. Aku masih syok dengan kejadian tadi aku masih takut dengan perlakuan Abang padaku.


Aku masih tak menyangka kalau Abang akan sejahat itu, dan setega itu padaku. Kenapa Abang memaksaku kata dia, dia tak akan pernah memaksaku tapi ini kenyataan dia memaksaku.


Aku dan Dian segera masuk kedalam taksi seperti yang Abang katakan kalau dia sudah menyiapkan taksi untuk aku mengantarkan Dian.


Kami selama perjalan hanya diam saja. Dian pun dia hanya menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku mengusap rambutnya sambil merapikannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Baru saja kami sampai, sudah disambut Kak Tio, aku memapah Dian masuk kedalam rumah. Kak Tio yang melihat aku kesusahan segera mengendong Dian.


Aku tak ikut masuk kedalam kamar Dian aku hanya diam diruang tamu, apa yang harus aku lakukan sekarang. Kenapa aku selalu saja terjebak dengan orang-orang aneh.


"Kat kenapa kau melamun "


"Ehh, Kak aku tidak melamun, apakah Dian baik-baik saja"


"Dia hanya kelelahan apa yang terjadi "


"Apa kenapa bisa "


"Aku juga kurang tahu Kan. Kalau begitu aku pulang dulu ya Kak "


"Biar Kakak antarkan ya "


"Tidak usah Kak, aku pulang sendiri saja "


"Sudah ayo Kakak antarkan ini sudah malam "


Kak Tio langsung menarik tanganku dan membantuku masuk kedalam mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Terimakasih Kak "


"Sama-sama Kat. Orang yang bunuh itu ada neror kamu lagi ga "


Aku mengelengkan kepalaku "Bisakah kau memberikan sketsa wajah orang itu. Apakah kau melihat jelas wajahnya "

__ADS_1


Aku kembali mengelengkan kepalaku Abang sudah mengancamku, aku tidak mau orang-orang tersayang ku celaka gara-gara ucapanku.


"Baiklah Kat, tunggu dulu kenapa lehermu terluka "


"Ini hanya terkena kuku saja "


Kak Tio melihat kearah tanganku lalu kembali menatap mataku " Jangan berbohong pada Kakak, ini bukan bekas kuku ini bekas pisau. Apa yang terjadi"


Aku hanya bisa diam, Kak Tio juga masih menatapku, dia menunggu jawabanku.


"Kat "


Aku melihat kearah belakangku, ternyata itu Kak Chelsea untung saja ada Kak Chelsea "Kakak "


"Kau dari mana saja aku dari tadi menelponmu tapi kau tidak mengangkatnya. Kakak begitu khawatir dengan mu, apalagi pintu rumah kau tidak kunci. Bagaimana kalau ada orang yang masuk"


"Maaf Kak aku tadi dari sekolah, tak sengaja aku meninggalkan ponselku yang satu lagi. Tapi untungnya tak hilang "


Kembali aku berbohong untuk ketiga kalinya pada orang yang berbeda. Sungguh aku minta maaf.


"Kau Tio kan Kakaknya Dian, kenapa bisa bersama adikku"


"Aku hanya mengantarkannya saja. Ya sudah aku permisi"


Kak Tio langsung saja pergi begitu saja. Aku dibawa masuk oleh Kak Chelsea kedalam rumah. Kamu berdua sekarang sedang berhadap-hadapan. Aku melihat ada koper di pojok kursi.


"Kakak boleh kan tinggal di sini sementara "


"Kenapa sementara selamanya juga boleh. Aku tinggal sendiri Kak kenapa kau harus berbicara seperti itu. Ini kan sama juga rumahmu"


Kak Chelsea menghembuskan nafas lelahnya "Keluarga kita hancur Kat "


"Maaf Kak ini salahku "


"Bukan. Jangan menyalahkan dirimu karena ini bukan salahmu. Memang ibu dari awal sudah salah. Lalu Ayah sekarang di mana Kat "


"Ayah dia menginap dihotel, katanya akan lebih nyaman dihotel "


"Begitu ya ku kira Ayah ada disini "


"Tidak ada Kak. Kakak mau tidur di kamar depan atau di kamar tengah"


"Di mana saja Kat. Kakak bebas"


Aku segera menarik koper Kak Chelsea dan masuk kekamar depan yang memang ukurannya sangat besar. Disini ada 3 kamar dan aku kamar paling belakang.

__ADS_1


Aku tidak terlalu suka kamar yang terlalu luas. Aku lebih suka kamar yang sedang-sedang saja.


__ADS_2