
Benar saja Adiba malah berkeliling sendiri dan langsung bangkit dan meninggalkan Kat dan teman- temannya. Bahkan yang punya rumah saja masih ada di sana Kat menatap Daisy "Beneran dia emang kayak gitu, dari dulu dari kecil emang gak sopan ya, go langsung nyelonong aja ya, apakah dia ga malu ada kita disini. Kenapa dia langsung aja jalan kayak gitu ya "
"Ya makanya aku tuh nggak pernah mau bawa dia, karena kelakuan itu kayak gitu, nggak sopan banget. Di sekolah aja kita berdua difitnah dia itu bikin drama yang seolah-olah kita ini nggak bener, kita ini di benci sama semua teman-teman, katanya kalau kita ini suka suruh-suruh dia dirumah padahal kenyatannya ga kayak gitu, dia itu berbahaya loh Kat kamu jangan terlalu dekat ah "
"Terus gimana Daisy, aku biarin aja dia berkeliling gitu aja, aku kok jadi takut ya dia simpan sesuatu atau apa gitu. Soalnya dia tak mau ditemani mau sendiri. Logikanya kalau kita mau berkeliling dirumah orang lain pasti mau ditemani kan, ga kayak gitu mau sendiri aja "
"Di sini ada CCTV kan Kat, aku cuman ga mau ngikutin dia dan nanti malah nambah drama , dia itu ratu drama banget dramanya akan sangat heboh dan buat kita pusing beneran deh "
"Ada sih CCTV, tapi kalau di dalam kamar ya nggak mungkin dipasang CCTV juga. Nanti privasi orang ketahuan dong"
"Ya udah nanti kita lihat CCTV aja, takutnya dia masuk kamar kamu, kamar utama tapi dikunci kan Kat"
"Iya dikunci kok kamarnya, ini aku bawa kuncinya aku selalu kunci takutnya ada yang macem-macem aja " Kat memperlihatkan kuncinya pada Daisy dan juga Aruna.
"Nanti kalau misalnya kita nggak ke sini terus dia tiba-tiba datang ke sini, kamu jangan pernah terima dia. Intinya kamu nggak boleh bawa dia masuk ke dalam rumah. Dia itu ular kamu harus tahu dia itu perempuan yang nggak akan pernah malu saat melakukan sesuatu. Dia juga tadi nawarin suaminya untuk kerja di sini kan, itu buat dia leluasa tinggal di sini. Intinya kamu jangan pernah bilang sama Abang, ini rahasia kita "
"Ya aku juga nggak mau kalau kelakuannya kayak gitu, aku juga nggak akan bilang sama Abang. aku jadi ilfil malahan kalau dia terus bolak-balik ke dalam rumah kan aneh. Dia itu apakah tidak diajarkan sopan santun gitu, seharusnya kan kalau dirumah orang lain itu harus hormat "
"Ya makanya, awas aja dia bisa ngerebut apa yang kamu punya. Aku ga mau nanti kalau ketipu sama dia, makannya aku kasih tahu sekarang"
Kat menganggukan kepalanya, lalu segera belajar dengan Daisy dan juga Aruna, sedangkan Adiba masih berkeliling dia memang benar-benar tidak tahu malu. Dia memasuki satu persatu kamar menidurinya lalu mengelilingi kamar itu.
Semuanya dibuka dari lemari, kamar mandi semuanya tidak ada yang terlewat. Tapi saat akan masuk ke dalam pintu yang berbeda dari yang lain dia kesulitan, pintunya dikunci. Padahal ingin tahu ini ruangan apa kenapa pintunya berbeda sekali dan sepertinya kamarnya paling besar. Dirinya jadi ingin memiliki kamar ini.
"Apa pintu ini dikunci, kok dikunci sih padahal pengen masuk, pengen tahu ini kamar utamanya atau bukan, pasti bagus banget deh dalemnya. Aku pengen coba tidur disini, terus coba-coba pakean Kat pasti bagus deh diaku, mungkin aja akan lebih bagus diaku kan. Bisa aku bawa pulang nanti "
Adiba turun dan menatap Kat yang sedang belajar "Kat pintu yang dikunci kamar apa, kenapa dikunci, kamar yang lain ga dikunci tuh. Kamarnya juga lebih besar"
Katherine menyimpan pulpennya dan menatap Adiba "Itu kamarku. Memangnya mau apa, ada sesuatu yang kamu butuhkan baik aku ambilkan saja "
"Mau lihat dong kamarnya seperti ada, mana kuncinya biar aku saja yang masuk sendiri Kat, mana cepetan aku ga sabar pengen lihat kamarnya seperti apa "
Daisy langsung berdiri dan mendorong Adiba "Sadar diri dong itu rumah orang seharusnya lo itu nggak bisa masuk sana-sini. Untung aja tuan rumahnya baik sekarang pengen masuk ke kamar utama gila mau maling loh, sadar diri jangan malu-maluin lah jadi orang "
Adiba membalas mendorong Daisy "Dari tadi kamu tuh sewot banget sama aku. Emangnya ini punya kamu, bukan kan rumah punya Kat. Jadi bebas dong gimana yang punya dia izin atau enggak, aku masuk ke kamar utama mana Kat kuncinya cepet pelit banget sih Kat "
"Udah nggak usah berantem, aku nggak ngebolehin kamu buat masuk ke kamar aku. Itu kan privasi nggak boleh dimasukin sembarang orang, kamar itu aja aku yang beresin tolong hargain orang rumah Adiba. Kalau kamu emang mau main di sini ya main aja jangan sampai keliling-keliling dan nggak tahu diri kayak gini. Aku jadi malah ga mau temenan sama kamu, jangan terlalu seperti ini Adiba "
"Kalian semua ya emang bener-bener bukan temen yang baik, kalian tuh perhitungan apa karena aku ini anak bodyguard apa karena aku ini bukan orang kaya seperti kalian, makanya kalian menghina aku, iya makannya kalian itu seenaknya sama aku, kalian itu perlakukan aku seperti ini, kalian ini kenapa jahat banget sih "
"Kami bertiga tidak pernah membeda-bedakan siapa orang tua kamu, tapi kelakuan kamu yang seperti ini yang membuat kita semua nggak nyaman. Kelakuan kamu ini terlalu keterlaluan, kamu ini di sekolahin bahkan papi aku sekolahin kamu di tempat yang sama dengan aku, kuliah pun sama nggak di beda-bedain tapi sikap kamu ini terlalu nggak sopan. Buat apa kamu sekolah kalau masih nggak sopan kayak gini, nyebelin banget tahu ga sih"
Adiba mengambil tasnya dan dia langsung pergi dari rumah, tapi baru juga melangkah ke depan pintu dia langsung berteriak "Awas aja aku akan membalas kalian bertiga, kalau kalian main ke rumahku tidak akan aku terima, aku juga akan membeli rumah yang besar lebih besar dari ini, kalian tidak akan boleh masuk ke rumahku. Aku tak akan pernah mengundang kalian, kalian datang akan aku usir jauh-jauh "
"Ih dia stress ya " ucap Aruna yang dari tadi diam saja.
"Awas ya Kat hati-hati, kalau di rumah sendirian tiba-tiba dia datang jangan diterima, pokoknya kasih tahu deh pelayan-pelan kamu dan juga orang yang jaga di depan jangan terima perempuan itu, sekalian pajang aja tuh fotonya di depan pagar untuk peringatan dia itu orang berbahaya, dia ular yang kapan saja bisa masuk rumah kamu dan hancurkan semuanya "
"Iya nanti aku bilang, kamu emang betah ya sama orang kayak gitu satu lingkungan gitu. Kalau Aruna sih agak terlalu jauh ya nggak deket-deket banget gitu kamu satu lingkungan, kalau aku sih ga akan pernah betah dan ga mau mending kos aja "
"Aku juga nggak mau dekat sama dia, sebenarnya Papi itu usir dia dari paviliun, tapi mamanya masih ada di sana karena ya gimana lagi, dia itu istrinya Om Tora orang kepercayaan papi, jadi papi nggak bisa tiba-tiba usir semuanya anaknya aja sih yang diusir, makannya dia nikahi Adiba agar dia pergi dari rumah dia itu pengacau, bener-bener pengacau kalau dibiarin aja dia akan menjadi-jadi mungkin bisa saja jadi jahat sekali "
Akhirnya sekarang Kat mengerti kenapa keluarga Daisy begitu mempertahankan keluarganya Adiba, ternyata karena ini memang karena jasa-jasa orang tuanya tidak akan bisa terlepas, kalau misalnya ingkar janji juga susah sih ya.
__ADS_1
...---------------...
Kat dan juga Lucas sekarang sudah ada di dalam kamar, memang waktunya tidur sekarang Lucas membaringkan kepalanya di paha istrinya, sambil mengusap perut sang istri yang mulai kelihatan.
Rasanya tak sabar ingin melihat anaknya, apakah dia laki-lakia tau perempuan. Tak sabar rasannya ingin memeluk mereka segera nyata.
"Bagaimana harimu di kantor, apa menyenangkan "ucap Kat sambil mengusap rambut suaminya yang lebat.
"Lumayan menyenangkan sayang, ya tapi tidak se- menyenangkan saat bersamamu. Tapi saat aku bekerja lebih senang saja karena diberi bekal sama kamu, bekalnya juga enak banget, aku suka sekali sampai mau tambah aku "
"Kamu ini bisa aja, tadi Adiba datang ke sini, bener-bener parah banget ya, aku kira dia ga gitu orangnya tapi diluar dugaan aku. Aku sampai kaget liat dia yang kayak gitu "
Lucas langsung bangkit dan menatap istrinya" Adiba datang ke sini, tahu dari mana dia rumah kita kenapa dia bisa ke sini. Aku kan udah larang dia datang kemari. Bahkan aku sudah bilang pada bodyguard untuk tak memasukan perempuan itu kedalam rumah. Tapi kenapa bisa dia masuk ya, apa wajahnya sudah berubah sayang, ya siapa tahu wajahnya sudah seperti menjadi wajah Spongebob "
Kat tertawa mendengar ucapan suaminya itu"Mana bisa dia berubah kamu ini ah jangan mengada-ngada ah "
"Kat Daisy. Dia ikutin Daisy ke sini, aku juga nggak tahu kok dia nggak sopan banget ya dia cek semua ruangan. Untung aja pintu kamar aku kunci kalau nggak dia udah masuk kamar ini dan nggak tahu mau apa, saat aku mau temenin dia nggak mau malah mau jalan-jalan sendiri aku juga bingung, apa kalau ada dirumah kamu yang disana dia kayak gitu ga sopan ya, kayak baru pertama kali lihat rumah aja "
"Pokoknya kalau dia sampai ke sini lagi jangan pernah kamu terima dia, dia itu bukan perempuan baik-baik. dia itu licik sangat licik sekali. Intinya kamu jangan pernah dekat ngobrol boleh tapi jangan sampai ke hasut ataupun kamu ajak ke rumah atau misalnya kamu diajak ke mana sama dia jangan pernah mau, kasih alasan aja jangan sampai mau ikut aja dia itu liciknya minta ampun"
"Apakah dia bisa seberbahaya itu, yang aku lihat dia hanya seperti ingin tahu saja, tapi ternyata aku harus waspada ya padanya, dia itu sangat berbahaya sekali"
"Bahaya tidak, tapi dia licik dia bisa melakukan apa saja. Kamu tahu kan apa yang terjadi pada Daisy itu adalah ulah dia. Jadi jangan sampai dia juga menghancurkan kamu sayang. Aku bukannya nggak mau laporin dia ke kantor polisi atau gimana. Tapi gimana jasa-jasa ayahnya itu terlalu banyak buat keluarga kita, buat keluarga aku jadi kita sulit banget bener-bener ga bisa lakuin apa apa"
"Satu lagi, kenapa dia bisa seperti itu, itu sudah turunan dari neneknya, neneknya dulu lebih-lebih dari itu lebih parah intinya. Dia tukang mengadu domba seperti sekarang cucunya, papi sampai buang dia Om Tora juga buang dia, tapi ya gimana balik lagi balik lagi orangnya sampai dimasukin ke panti jompo, dia nyebelin banget. Sekarang turun sama cucunya sama-sama nyebelin"
"Bahkan tuh ya, dia tuh ngaku-ngaku kalau Papi aku itu suaminya anaknya tante Airin, ke semua orang yang ada di panti jompong juga sama orang-orang yang lewat, benar-benar dia bahkan nggak sopan sama Mami aku, pokoknya gangguannya tuh lebih parah banget ya ampun aku juga nggak habis pikir sih kenapa bisa kayak gitu. Aku takutnya cucunya akan lebih parah lagi dari ini. Nanti malah kamu lagi yang jadi sasarannya sayang "
"Ya udah tiduran lagi di sini, aku ga akan deketin dia, bahkan aku ga akan ngobrol sama dia. Aku udah tahu ceritanya dari kamu gimana dia. Aku jadi takut sendiri takut di apa-apain sama dia"
"Sayang rasanya aku sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran anak kita, aku sangat menunggu kelahirannya aku pasti akan sangat bahagia sekali kalau anak ini lahir, hidup kita pasti akan sangat lengkap. Lengkap sekali sayang "
"Aku juga sama tak sabar menunggu dia untuk datang di kehidupan kita, semoga saja dia menjadi anak yang selalu baik dan taat kepada kedua orang tua dan wajahnya sama sepertimu. Aku sangat suka wajah kamu sayang "
"Tapi sayang aku ingin anak kita tuh mirip sama kamu. Kamu kan cantik pasti anak kita lucu banget kalau mirip sama kamu, aku akan terus memeluknya dengan erat sekali"
"Tapi aku maunya anak kita mirip sama kamu aja"
"Ya udah kita bikin untuk yang pertama mirip sama aku, nanti yang kedua mirip sama kamu gimana adil kan sayang "
Cempaka lagi lagi tertawa mendengar ucapan suaminya" Memangnya bisa seperti itu memang kita bisa memilih anak kita akan mirip siapa nanti yang pertama dan kedua"
"Hehehe ya tidak bisa, tapi ya semoga saja anak kita mirip dengan kita jangan sampai mirip dengan orang lain nanti aku curiga dan aku cemburu "
"Mau curiga gimana, sedangkan aku aja di rumah terus nggak pernah keluar. Oh ya Lucas bolehin aku kuliah lagi ya, aku pengen banget kuliah kayak yang lain"
"Jangan dulu sayang, nanti aja setelah melahirkan dan beberapa bulan kamu melahirkan baru nanti kamu boleh kuliah lagi atau mau dosennya suruh ke sini aja, itu hal gampang buat aku nanti suruh mereka untuk kosongin beberapa jadwal, buat ngajar kamu di sini"
"Emangnya bisa kayak gitu ya Lucas, masa sih dosen yang suruh ke sini. Harusnya kita murid yang kesana aku ga mau ah "
"Bisa dong. Apa sih yang aku nggak bisa, aku bisa bayar mereka berapa aja. Kalau kamu mau kayak gitu nanti aku datangin mereka ke sini ya"
Kat yang gemas mencubit pipi suaminya "Kamu ini segala hal selalu di gampangkan, jangan seperti itu ah, aku lebih baik pergi ke kampus aja, aku lebih suka belajar banyak orang dari pada berdua dengan dosennya. Akan canggung sekali dan aku juga malu"
__ADS_1
"Ya memang seperti itu keadaannya sayang mau bagaimana lagi. Aku tidak akan menyusahkanmu untuk pergi ke kampus, kalau aku bisa mendatangkan dosennya kemari. Kenapa harus banyak teman sayang, tak usah canggung aku akan mencari dosen yang baik-baik atau kamu mau aku aja yang mengajarnya"sambil memainkan alisnya.
Kat tersenyum saja dan kembali mencubit kedua pipi suaminya, memang gemas segala pipinya oni enak sekali untuk dicubit-cubit "Aku ga mau diajar sama kamu, kamu galak dulu aja waktu SMA galak banget aku ga mau ah. Kapan-kapan aku boleh kan ketemu Dian, aku udah lama ga ketemu Dian"
"Sayang sakit nanti pipiku melar. Bagaimana aku tidak tampan lagi nanti. Baiklah nanti kita temui teman kamu itu, siapa namanya Dian ya kita kerumahnya nanti"
"Tidak kamu akan tetap tampan, baiklah terimakasih "Kat mencium bibir suaminya dan tersenyum kembali pada suaminya yang diam mematung sambil memegang bibirnya.
"Emm sayang, sudah sekarang kita tidur ya ini sudah sangat malam sekali sayang. Jangan terus begadang ingat kamu sedang mengandung"Lucas langsung saja bangkit tersenyum dengan apa yang istrinya lakukan manis sekali.
Lucas membenarkan tidurnya dan sekarang dia yang memeluk istrinya"Tidur yang nyenyak sayang, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu. Jangan pernah takut kalau aku akan meninggalkanmu, kita akan selalu bersama sampai kapanpun"
Lucas mencium kening, kedua pipi istrinya lalu bibirnya cukup lama bermain-main di bibir istrinya "Sayang apakah sekarang aku sudah boleh menyentuhmu, sudah lama kan kita tidak menengok Dede bayi "
Kat menatap suaminya" Aku juga tidak tahu nanti coba kamu tanya sama dokter. Apakah boleh atau tidak soalnya aku juga tidak tahu "
"Baiklah nanti saat pemeriksaan aku akan bertanya sini peluk aku, Aku sangat ingin dipeluk olehmu dengan erat sekali sayang "
"Nanti Dede bayinya sesak"
"Ya sudah peluk longgar saja"
Kat segera mengikuti kata-kata suaminya, dia memeluk suaminya dengan erat sekali seperti apa yang dia mau, tapi Lucas melonggarkan pelukan itu karena kata Kat nanti malah Dede bayinya sesak.
...----------------...
Brak
"Kamu ini di rumah tuh ngapain aja, nggak masak, nggak beres-beres rumah berantakan kayak gini, aku ini suami kamu tuh pulang kerja butuh makan, sediakan kopi, minum apa kek aku pulang bukannya main HP aja dari tadi"
Adiba langsung menatap suaminya, tapi dia langsung menundukkan kepalanya lagi dan memainkan ponselnya lagi "Aku mau rumah besar, aku tidak mau tinggal di sini lagi, teman-temanku sudah menikah tapi mereka mempunyai rumah yang besar. Aku juga ingin aku tidak mau terus tinggal di sini. Aku muak tinggal dirumah seperti ini. Aku ingin pindah rumah. Berbaik hatilah padaku jangan pelit sekali. Aku ingin merasakan hidup menjadi orang kaya "
Toni mengambil ponsel istrinya dan membantingnya dengan sangat keras ke lantai. Adiba yang melihat itu kaget dia sampai melongo, lalu menatap suaminya dengan galak.
"Apa yang kamu lakukan, aku mau beli ponsel itu sangat mahal dan kamu menghancurkannya begitu saja. Apakah kamu bisa menggantinya memberikan aku rumah saja kamu tidak akan pernah bisa. Bagaimana mengganti ponselku itu, mahal sekali itu malah sekali "
"Sudah menjadi istri yang benar belum, sebelum menuntut suami perbaiki dulu sikapmu, apakah pantas seorang istri saat suami pulang malah main ponsel, main ponsel setiap hari seperti itu, padahal jadwal kuliahmu dari pagi sampai siang. Dari siang sampai sore pekerjaanmu apa, main ponsel tidak menyediakan makanan sama sekali untuk suami mu, suami mu datang bukan disambut malah didiamkan beri kopi beri air minum hormati aku di sini, di sini aku adalah kepala keluarga"
"Sudah bicaranya sudah puas kamu hah "
Toni yang makin marah lagi langsung melempar vas bunga ke arah Adiba dan mengenai kakinya, kaki Adiba langsung berdarah Adiba menatap nanar kakinya yang baru saja di lulur itu sudah terluka dan pasti akan ada goresan. Kakinya tak akan cantik lagi kan.
"Kamu ya"bentak Adiba.
"Untung saja aku tidak melemparnya ke wajahmu, sampai aku melempar ke wajahmu, wajahmu itu akan rusak. aku tidak bisa memberikanmu rumah mewah, seperti apa yang temanmu rasakan. Aku tidak bisa memberikan apapun padamu, lebih baik kamu cari laki-laki saja yang lain yang mampu membahagiakanmu dan mampu membuat kamu bahagia. Membelikan rumah yang besar seperti apa yang kamu mau. Lebih baik aku menabung uang gajiku untuk masa depanku, daripada membelikan kamu rumah tapi istriku tidak sama sekali patuh padaku, malas sekali untuk apa "
Toni mencoba untuk meredakan amarahnya, dia tidak mau sampai mencekik atau membunuh perempuan yang ada di hadapannya ini. Bisa berabe nanti urusannya, bisa-bisa nanti berurusan dengan Tuan Liam dan akan panjang dan alot sekali nanti permasalahannya.
"Kalau terus begini aku tidak akan pernah memberikan uang bulanan lagi, percuma aku memberikan uang bulanan dan bekal, tapi nyatanya di rumah tidak ada apa-apa kosong suamimu datang tidak ada apa-apa"
Toni langsung keluar dari dalam rumah, melihat wajah istrinya yang hanya diam saja dan menjengkelkan bahkan wajahnya itu malah seperti tidak salah apa-apa sangat menyengkelkan sekali. Rasanya ingin meninju wajahnya itu. Kesal dirinya ini.
Sepertinya dirinya harus menelepon Tuan Liam untuk mundur menjadi suami dari perempuan ini, sungguh dirinya tidak tahan kalau harus terus menjadi suaminya dan satu atap bisa-bisa dirinya kelepasan.
__ADS_1
Bisa bisa dirinya membunuh Adiba, dirinya adalah anak buah tuan Liam, maka sudah biasa ikut membunuh orang. Jadi kadang rasa ingin membunuhnya timbul kalau melihat sikap istrinya itu.