
aku yang baru saja selesai menelpon akan membaringkan badanku, tapi tiba-tiba saja aku mendengar pintu rumahku diketuk dengan was-was aku bangkit dan diam menunggu. Apakah dia akan berkata sesuatu atau tidak.
Tiba-tiba saja ada yang berbicara "Kat ini aku Arkan"
Mau apa laki-laki itu malam-malam seperti ini kerumah ku, tidak ada kerjaan tidak biasanya kan. Baru juga kenal masa sih malam-malam kayak gini mau main.
Aku yang memang penasaran segera membuka pintu, dan benar dia ada di depan pintu sambil tersenyum kepadaku. Dia membawa sebuah kresek dan aku juga tidak tahu isinya apa itu.
"Ini untukmu, tadi aku tak sengaja melewati rumahmu aku membelikan martabak manis untukmu, kau suka kan "
"Kenapa kau repot-repot sepertinya tidak usah"
"Tidak apa, aku mau membelikan ini untukmu boleh kita mengobrol sebentar Kat "
"Tapi kan ini sudah malam"
"Hanya sebentar, kita mengobrol ya sebentar saja tak akan lama "
"Baiklah "
Aku keluar dari dalam rumah dan duduk dikursi terasku, dia juga sama ikut duduk.
"Mau minum apa "
"Tidak usah Kat, aku kesini hanya ingin mengobrol saja agar kita lebih akrab "
"Baiklah "
"Jadi disini aku tinggal bersama siapa Kat "
"Emm, aku sendiri "
"Hemm, begitu ya apakah kau dan juga Barbara itu saudara"
"Tidak, aku tidak bersaudara bersamanya kami hanya teman dekat saja. Saat dikantor dialah orang paling dekat denganku. Ada apa kau bertanya itu "
"Hanya ingin tahu saja. Aku melihat pembunuhan itu"
Aku langsung menatap Akran "Maksudnya kamu melihat orang yang sudah membunuh Barbara "
"Iya aku lihat pembunuh itu"
"Kau sangat jelas melihat wajahnya. Kenapa kau tidak menolong Barbara saat itu"
"Iya aku dengan jelas melihat wajahnya. Bahkan mereka mondar-mandir. Mau bagaimana aku menolong Barbara sedangkan dia membawa senjata tajam. Aku yang baru saja pulang dari rumah temanku juga kaget saat melihat pembunuhan itu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan syok melihat kejadian itu"
"Kenapa kau menyebut mereka. Memangnya lebih dari satu "
"Kalau saat membunuh sih satu orang, dengan badan tinggi terus rambutnya agak panjang diikat juga dan setelah itu datang laki-laki yang lebih muda darinya. Dan mereka mengobrol, lalu aku juga lihat salah satunya berjalan ke arah rumahmu. Lalu tak lama kemudian disusul oleh laki-laki yang satunya"
"Begitu ya " aku masih binggung siapa yang ada dengan pembunuh gila itu. Apa dia punya kawan yang sama-sama suka membunuh.
__ADS_1
"Kat kau baik-baik saja "
"Iya aku baik-baik saja. Kenapa kau tak melaporkannya kekantor polisi "
"Aku tidak bawa ponsel dan aku juga tidak punya bukti, makannya aku tidak melaporkannya. Satu lagi aku takut pembunuh itu mengincarku. Meski yang aku baca diberita kalau dia hanya membunuh wanita saja tapi tetap saja kan suatu saat dia akan membunuhku"
"Iya juga sih, lalu apakah kau tak takut malam-malam begini keluar rumah"
"Emm, gimana ya " aku lihat Arkan mengaruk kepalanya. "Ya aku hanya ingin lebih dekat saja denganmu Kat. Aku ingin berteman denganmu"
Aku hanya tersenyum saja. Aku juga binggung harus menjawab apa. Aku belum bisa sepenuhnya percaya pada laki-laki.
"Oh ya besok aku akan pulang, mamahku menyuruhku pulang dulu. Apakah kau mau titip sesuatu "
Deg tiba-tiba saja aku kaget, apa ini membunuh gila itu. Apa dia sedang menyamar menjadi Arkan.
"Kat kenapa diam saja. Apakah ada yang ingin kau titip padaku misalnya oleh-oleh "
"Tidak terimakasih, aku masuk dulu"
Dengan terburu-buru aku segera masuk rumah. Aku sangat takut. Aku kan baru menelfon mamih Zeline dan dia akan menelfon anaknya untuk pulang. Lalu dengan tiba-tiba Arkan berkata akan pulang karena disuruh oleh mamahnya.
Mana mungkin ini sebuah kebetulan kan "Kat kenapa, ada apa dengan mu "
"Tidak apa-apa aku sudah mengantuk. Lebih baik kau pulang saja. Aku tidak mau menitip apa-apa aku besok harus bekerja. Terima kasih atas martabaknya"
"Yakin kau tidak apa-apa "
"Baik Kat aku pulang ya "
"Iya hati-hati "
Aku tidak mendengar lagi suara Arkan, kubuka sedikit gorden dan tidak ada dia sudah pergi. Tiba-tiba saja ponselku berdering.
Aku yang sedang ketakutan ini sampai kaget, kuambil ponselku ternyata itu dari Kak Abraham.
"Malam Kat "
"Malam Kak "
"Kat sepertinya Kakak besok tidak bisa menjemputmu, beberapa hari mungkin. Kakak akan pulang dulu, orang tua kakak menyuruh kakak untuk pulang kamu tidak apa-apa kan pergi sendiri"
Kenapa sama seperti Arkan. Siapa sebenarnya mereka berdua ini kenapa aku jadi binggung. Apa pembunuh gila itu menyamar jadi dua orang ?
"Kat kenapa kamu diam saja "
"Oh iya Kak tidak apa-apa aku nanti berangkat sendiri saja "
"Kalau tidak nanti kau tunggu di jalan depan. Biar bis yang jemput kamu ke sana ya. Kakak akan bilang sama sopirnya buat jemput kamu juga. Kakak cuma sebentar kok cuma beberapa hari aja, mungkin 3 harian lah nanti Kakak pulang lagi akan antar jemput kamu lagi ya"
"Iya Kak, kakak hati-hati ya nanti dijalannya "aku mencoba untuk tenang. Aku sekarang harus bisa tahu siapa pembunuh gila itu. Kenapa tujuan mereka berdua bisa sama seperti ini.
__ADS_1
"Iya aku pasti akan hati-hati. Kamu mau apa oleh-olehnya biar kakak berikan nanti"
"Tidak apa-apa Kak, Tidak usah kakak kan mau pulang ke rumah bukan jalan-jalan"
"Yaudah gimana kakak berarti ya mau beliin kamu apa, nanti kakak akan bawakan oleh-oleh buat kamu"
"Tapi Kak_"
"Udah kakak akan belikan untukmu, lebih baik sekarang kau tidur ya "
"Baik Kak "
"Selamat malam Kat "
"Malam Kak "
Sambungan langsung diakhiri, aku masih binggung, apa yang harus aku lakukan. Aku harus menjauhi mereka berdua atau aku harus menyelidiki mereka berdua.
Aku harus waspada pada mereka berdua kalau tidak aku akan mati. Pembunuh gila itu sudah membuat aku pusing. Dia sedang menyamar dan memakai topeng.
Aku harus pintar-pintar dan bisa jaga diri. "Apa aku harus pergi lagi. Tapi tabunganku belum cukup "
Aku duduk disofa dan memijat kepalaku. Rasanya sangat penting sekali.
...----------------...
Pagi-pagi sekali aku sudah di pinggir jalan dan bis berhenti. Itu adalah bis kantor ada logonya juga aku segera naik dan di sana juga sudah banyak teman-teman perempuanku.
"Hallo Kat "
"Hallo Kak Sindi "
"Ga pergi sama Kak Abraham "
"Engga Kak katanya dia mau pulang " Aku duduk disamping kak Sindi yang memang kebetulan kosong juga.
"Oh gitu pantesan"
"Iya Kak "
"Kalian berdua cocok loh "
"Ga mungkin Kak "
"Kenapa ga mungkin, semuanya bisa mungkin loh, anak-anak juga pada dukung kamu dan juga kak Abraham "
"Mana mungkin sih Kak, Kak Abraham suka sama aku"
"Semuanya bisa terjadi Kat, semangat ya buat dapetin Kak Abraham dia baik kok "
Aku hanya tersenyum saja. Aku masih takut dengan para laki-laki apalagi hidup ku ini sedang tak aman. Aku sedang diincar oleh pembunuh gila.
__ADS_1