Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 133 Menunggu sampai traumanya sembuh


__ADS_3

Setelah sampai dirumah, Lucas langsung pergi ke kamar mandi dan mengisi bathtub sampai penuh dan juga memberikan sabun cair yang begitu wangi untuk sang istri agar dia rileks.


Lucas keluar dan melihat istrinya yang masih saja melamun "Sayang, kenapa melamun ayo kita kekamar mandi aku sudah menyiapkan semuanya untukmu "


Lucas membawa istrinya kekamar mandi dan membuka pakainya dengan perlahan. Kat juga tak keberatan suaminya melakukan itu.


Toh Lucas juga sudah tahu semuanya apalagi yang harus membuatnya malu tak ada kan. Kat masuk kedalam bathtub dan berendam.


Kat menatap suaminya yang masih setia menatapnya "Kamu masih kepikiran sayang "


"Sedikit, "


Lucas menggosok punggung istrinya, membersihkan tangannya. Baru saja Lucas akan mengusap wajah sang istri dibawah sudah berisik orang yang memangilnya.


"Tunggu dulu sayang, sepertinya ada tamu di bawah"


"Iya Lucas "


Kat merilekskan badannya dan memainkan busanya, senyum sedikit-sedikit terpancar dari bibirnya. Sangat manis sekali perlakukan Lucas padanya.


Kat menutup wajahnya karena malu, tak menyangka diperhatikan begitu intens oleh seorang laki-laki dan disayangi begitu besar olehnya.


...----------------...


"Kalian kenapa datang kemari "


"Lucas apakah kamu tidak mengharapkan Mami datang ke rumahmu dan menengok menantu Mami itu, kamu tidak memberitahu Mami ya kalau Kat sekarang sedang mengandung"


"Tahu dari mana mamih, pasti dari Nabil kan "


"Tentu saja, Nabil yang memberitahu. Mana menantu mamih yang cantik "


"Dia sedang mandi mih, biarkan dia merilekskan badannya. Kalian semua duduklah dulu kalau mau apa-apa ambil sendiri karena aku sedang meliburkan pekerja ku "


"Hah, Abang meliburkan pekerja. Abang tidak salah " tanya Daisy


"Tentu saja tidak, sudah aku akan melihat istriku dulu apakah dia sudah selesai mandinya"


Lucas langsung saja pergi kelantai atas tanpa mendengarkan jawaban dari mereka. Lucas takut istrinya terjatuh.


Takut licin kamar mandinya, tadi dirinya lupa tak menyimpan sandal untuk sang istri "Sayang kamu sudah selesai "


"Sudah Lucas aku sudah selesai "


Kat sudah memakai handuk, Lucas langsung mengendong Kat dan mendudukkan ditepi tempat tidur. Lucas sendiri yang memilihkan pakaian untuk sang istri.


"Ini sayang, pakai yang ini. Mau aku bantu "


"Tidak akan aku pakai sendiri. Siapa yang datang "


"Mamih, Daisy, papih, Aruna dan juga Nabil "


Kat hanya menganggukan kepalanya saja dan memakai pakaiannya "Sayang "


Lucas mendekati istrinya dan menyenderkan kepalanya di bahu istrinya yang sudah selesai berpakaian "Iya "


Lucas mendongakan kepalanya "Apakah kamu memiliki nama sayang untukku "


Kat mengigit bibir dalamnya, kenapa tiba-tiba Lucas menanyakan itu "Emm tapi kalau kamu belum punya juga tidak masalah, ayo kita kebawah sayang mamih sudah menunggumu. Pasti dia sangat merindukan kamu "


Kat mengikuti langsung suaminya saja, sambil memikirkan apa yang harus dirinya katakan pada suaminya.


Kat masih memikirkan sebutan apa yang bagus untuk suaminya yang baik dan perhatian ini. Binggung sekali rasanya.


Saat turun kebawah benar saja sudah datang, semuanya sudah ada disana. Kat langsung dipeluk oleh Zeline.


"Mamih senang banget dapet kabar ini sayang, mamih akan memiliki cucu"


Kat tersenyum dan memeluk Daisy dan juga Aruna yang dari tadi menunggunya. Lucas sendiri mendekati Nabil dan menarik tangannya.


"Ada apa bang "


"Kamu musnahkan saja topeng itu, topeng yang pernah aku pakaian "


"Untuk menjadi Abraham bosnya Kat "


"Pelan-pelan apakah kamu mau Kat mendengar ini semua. Dia bisa marah padaku "


"Sekarang jadi suami takut istri nih"ledek Nabil

__ADS_1


"Kamu juga nanti akan merasakannya saat nanti kamu menikah, nanti saat kamu sangat mencintai perempuan itu kamu juga akan ketakutan kehilangannya. Pokoknya hilangkan semua bukti kalau aku pernah menjadi bosnya dulu. Intinya tidak ada lagi yang bernama Abraham di kota itu"


"Baiklah, baiklah Abang kalau aku yang menikahi Daisy bagaimana "


"Jangan main-main"


"Aku tidak main-main aku tertarik pada adikmu "


"Kamu tahu apa yang pernah terjadi padanya? "


"Tentu saja aku tahu apa salahnya"


"Coba saja kamu dekati dia. Apakah dia mau didekati kamu dan apakah dia akan menerimamu. Dia masih trauma jangan terlalu memaksakan kehendak mu Nabil, jika memang kamu mencintai Daisy maka kejar perlahan dan jangan seperti aku. Biarkan dia untuk melupakan dulu traumanya "


"Baiklah aku akan mengejarnya, tenang saja aku akan menjaganya dan aku tak akan pernah menyinggung tentang pelecehan itu "


Nabil berlalu begitu saja dengan senyum yang mengembang dia duduk disamping Daisy. Kalau sudah izin dari abangnya kan enak deketin juga.


...----------------...


"Biarkan mamih yang memasak disini, kalian hanya perlu diam saja ya "


"Baik mamih " ucap mereka serempak.


Lucas dia tak henti-hentinya mengusap rambut sang istri, tatapan Lucas juga tak pernah berpindah.


"Dipandangi terus, perasaan ga akan hilang deh "


Lucas langsung mendelikan matanya pada Nabil "Diem dasar jomblo "


"Ets tenang aja sebentar lagi juga ga jomblo kok "


Lucas hanya mendengus kembali menatap sang istri dan memeluk tangan sebelah kanannya "Kat kamu kuliah kan "


"Ga Kat cuti kuliah dulu. Setelah dia beres melahirkan dan menyusui baru dia akan kuliah kembali seperti semula "


"Abang kalau gitu Kat akan ketinggalan pelajaran banyak banget. Emang Abang ga kasihan sama Kat nanti ngejar-ngejar pelajaran"


"Gampang Abang bisa ajarin dia kok"


"Ist nyebelin banget deh "kesal Daisy.


"Apa kak Nabil "


"Kita kencan yu "


Daisy memegang dahi Nabil "Kakak ga lagi sakit kan"


Nabil memanyunkan bibirnya "Kamu, aku beneran ajak kamu kencan "


"Aku beliin obat ya Kak, takut kakak sakitnya makin parah, sebentar aku ke warung sebelah dulu "


Daisy langsung berlari, dia pergi dengan cepat, orang-orang yang ada disana malah tertawa melihat Nabil yang dibilang sakit oleh Daisy.


"Rasain ga dianggap" ledek Lucas


Nabil hanya mendelikan matanya saja, kenapa respon Daisy malah seperti itu. Padahal kan dirinya ini ingin mengajak jalan-jalan gitu malah dibeliin obat.


"Kak ini obatnya minum dulu "


Nabil mendongakan kepalanya, ternyata benar Daisy membelikan obat untuknya "Kakak lagi ga sakit Daisy. Kakak emang bener-bener ajak kamu jalan-jalan gitu"


"Emangnya mau jalan-jalan ke mana sih. Aruna juga ikut kan Kak"


Nabil menepuk jidatnya, kenapa malah jadi bawa Aruna "Ga akan lah Aruna ga akan ikut, kita aja berdua. Mau ya kita jalan-jalan sama-sama kakak janji ga akan apa-apain kamu, kan kamu sama kakak udah kenal lama nih, kita jalan-jalan aja ga jadi dinner-dineran atau ngedate atau apapun itu pokoknya kita jalan-jalan seperti biasa aja"


"Boleh kak kapan "


"Nah gitu dong" Nabil tersenyum dan kembali melanjutkan kata-katanya "Besok ya pulang kamu kuliah kita jalan-jalan"


"Oke kak "


Nabil mengusap dadanya berhasil, dia menatap Lucas dengan songong kalau apa yang dirinya lakukan berhasil juga.


...----------------...


"Ini makanan kalian "


Lisa hanya menatap makanan itu, dia masih saja menangis dan melamun. Tatapannya tak henti melihat bekas eksekusi anaknya.

__ADS_1


Lisa menatap laki-laki yang masih ada dihadapannya "Bagaimana kalau ini terjadi pada keluargamu "


"Itu tidak akan pernah terjadi, keluargaku tidak akan mungkin gegabah atau melakukan kesalahan pada Tuan Lucas. Jadi aku tidak perlu berandai-andai kalau keluargaku yang ada di posisi ini, karena itu semua tidak akan pernah terjadi. Lebih baik makan saja daripada nanti makanan kalian aku tarik lagi dan kalian tidak makan"


Riyan menarik makanannya dan juga Dimas, sekarang Riyan yang menyuapi Dimas. Mereka masih butuh makan.


Lisa menatap anaknya yang disuapi lalu menatap kembali pada laki-laki tadi "Apakah anakku dimakamkan dengan layak"


"Apakah kamu tuli, tadi tidak mendengar kata-kata dari tuan Lucas kalau tubuh anakmu itu akan diberikan pada anjing peliharaannya dan bola matanya sudah disimpan di tempat yang tuan Lucas mau. Apakah kamu butuh sesuatu untuk mengorek telingamu agar pendengaran mu lebih jelas lagi ? "


Lisa menangis histeris, dirinya kita itu hanya untuk menakut-nakutinya saja. Lisa diperlihatkan bagaimana tubuh anaknya dikoyak oleh beberapa anjing dan juga bola matanya dikeluarkan begitu saja.


"Kenapa kalian begitu kejam, kenapa kalian tidak punya hati "


"Kami punya hati kalau orang itu baik, tapi kami tidak akan punya hati kalau orang itu jahat"


"Kalian sudah memperlakukan anakku seperti sampah"


"Kamu yang mengatakannya bukan aku "


Lisa malah menjedot-jedotkan kepalanya ke tembok yang ada disampingnya "Aku tak becus menjadi orang tua, aku tak becus menjadi ibu "


"Ibu sudah jangan sakiti dirimu " teriak Dimas yang khawatir dengan keadaan ibunya.


"Ayah lakukan sesuatu agar ibu tak menyakiti dirinya sendiri seperti itu "


Riyan melangkah kearah Lisa dan memeluknya dengan erat, tangis kembali pecah. "Lihatlah Riyan apa yang mereka lakukan pada anakku, mereka begitu kejam dan jahat mereka tak punya hati "


Riyan tak bisa mengatakan apa-apa hanya bisa menyatukan mantan istrinya itu. Dirinya juga sama sangat sedih dan kehilangan. Tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi dirinya juga tak bisa melakukan apa-apa.


Yang bisa menolong mereka hanya Katherine, Kat harus tahu tentang semua ini. Tapi bagaimana caranya. Pergi dari sini saja sulit bagaimana bisa menemui Katherine. Penjagaan mereka begitu ketat sekali.


...----------------...


Kedua orang tua Lucas sudah pulang bersama adiknya juga. Mereka sudah pulang bersama-sama karena memang Lucas menyuruh mereka pulang tidak boleh ada yang menginap di sini, yang ada neraka akan menganggu istrinya.


"Sayang besok aku akan ke kantor. Apakah kamu mau ikut"


"Memangnya aku boleh ya ikut ke kantor, maksudku apakah aku tidak akan merepotkan mu di sana, takutnya aku malah membuatmu repot saja. Belum kerjaan kamu, lalu aku ikut juga apakah tak akan merepotkan mu "


"Tidak masalah sayang. Aku hanya ingin selalu ada di sampingmu dan aku bisa terus melihatmu. Kamu mau ikut ya ke tempat kerja hanya sebentar hanya beberapa pekerjaan, setelah itu aku bereskan semuanya kita akan tinggal di rumah lagi "


Kat menggenggam tangan suaminya "Bila pekerjaan kamu banyak tidak masalah. Aku tinggal di rumah sendirian jangan membiarkan pekerjaan makin menumpuk dan makin banyak nanti kamu sendiri yang lelah mengerjakan semuanya. Jika kamu memang sibuk tidak usah temani aku di rumah. Aku tidak apa-apa sendirian atau aku bisa memanggil Daisy atau Aruna untuk datang kemari, aku tidak masalah kamu tinggalkan kerja nanti juga kamu pulang kembali kan"


Lucas yang dipegang seperti itu kaget, tapi dia segera merubah ekspresi kagetnya itu menjadi biasa-biasa saja "Aku hanya takut terjadi sesuatu saja padamu. Jika aku terus ada disampingmu aku akan bisa bergerak dengan cepat makanya aku ingin selalu ada di sampingmu"


"Baiklah aku akan ikut "


"Nah begitu sayang, ayo tidur ini sudah malam pasti kamu sudah sangat mengantuk"


Lucas membenarkan bantalnya agar lebih nyaman di tiduri istrinya, lalu membantu istrinya untuk berbaring dan saling berpelukan, Lucas merasakan nafas istrinya yang menggelitik di dadanya, tapi tidak masalah hangat dan sangat senang saja istrinya sekarang berani memeluknya.


...----------------...


Prang


"Apa kamu tidak bisa memasak, terus gunanya kamu di rumah itu apa hah "


"Aku ini bukan pembantumu ya, jadi kamu tidak berhak untuk terus memaksaku untuk membuat makanan. Aku juga menikah denganmu hanya karena paksaan Toni, kalau tidak aku juga tidak akan pernah mau menikah denganmu"


"Hei di sini seharusnya aku yang protes, aku juga tidak mau punya istri seperti mu pembangkang. Tidak bisa apa-apa, bisanya mengomel dan meminta uang saja. Kalau saja tuan Liam tidak menyuruhku untuk menikahimu mungkin aku tidak akan pernah mau sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau memakai barang bekas. Lalu masakan mu tak ada yang enak. Cepat buatkan aku makanan atau aku akan memukulmu "


Adiba menghentakkan kakinya dan berjalan lagi kedapur"Aku harus memasak apa lagi, setiap yang aku sajikan pasti dia berkata tidak enak dan melemparnya begitu saja"


Adiba membuka kulkasnya dan kosong sudah tidak ada apa-apa, bahan-bahan makannya sudah habis semua.


Adiba langsung menghampiri Toni yang sedang memainkan ponselnya "Bahan makanan sudah tidak ada ,kamu ingin saja terus berganti makanan makanya bahan makanan kita habis, semuanya habis seharusnya itu cukup untuk 1 Minggu"


"Tinggal belanja lagi apa salahnya, aku sudah memberikan uang ya jangan banyak alasan"


"Dasar laki-laki egois"


Adiba dengan malas-malasna keluar dari dalam rumah. Bukannya membeli bahan makanan Adiba malah membeli makanan untuk dirinya sendiri.


Dan memakannya langsung disana. "Biar saja dia kelaparan, enak saja dia terus saja menyuruhku dari tadi, sedangkan aku dari tadi belum makan karena dia terus saja menyuruhku memasak"


Adiba makan dengan sangat lahap sekali, tidak memperdulikan orang yang menatapnya. Yang terpenting perutnya kenyang.


"Akhirnya perutku kenyang juga. sepertinya aku tidak usah pergi ke rumah itu lagi. Aku tidak mau kalau disuruh-suruh terus, dari tadi pagi aku sudah membereskan rumah lalu memasak dan segalanya aku kerjakan. Memangnya aku ini pembantu, aku harus pulang pada ibu aku tidak mau tinggal bersama Toni lagi rasanya muak sekali aku"

__ADS_1


Benar saja Adiba memberhentikan taksi dan pulang ke rumah ibunya yang ada di kawasan Liam, maksudnya di dalam rumah Liam dia kembali lagi ke sana untuk menemui ibunya.


__ADS_2