Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 203 Kenapa wajahku mirip


__ADS_3

"Daniel ayo masuk ke rumah lihat panas sekali di sini. Nanti sore kita main lagi ya. Nenek juga bikin kue yu sekarang masuk dulu sayang "ajak Kat yang tadi melihat anaknya masih saja main sendiri belum ada Sela.


"Tapi mama aku masih menunggu Sela. Sampai sekarang Sela belum datang apakah dia baik-baik saja apa dia tidak sakit, makannya aku menunggu dulu disini "


"Ya sudah ayo kita kunjungi dia ke kamarnya, kita lihat apakah dia baik-baik saja. Ayo Mamah temani yu "


"Baiklah Mama ayo"


Daniel langsung menggandeng tangan Mamanya itu, mereka berjalan ke arah belakang ke kamar para pelayan. Kat sudah tahu di mana kamarnya karena tadi juga Kat sudah bertanya pada ibu mertuanya.


Tak lupa Kat juga mengetuk pintu kamar itu, ga mungkin kan langsung nyelonong masuk begitu saja tak sopan. "Siapa"


"Sela ini Tante mamanya Daniel kamu sakit, kamu baik-baik saja kan sayang "


"Tidak Tante, aku baik-baik saja hanya saja ibu melarangku untuk keluar dan menyuruhku untuk diam di kamar. Aku tak boleh kemana-mana oleh ibuku, aku tidak mungkin membantahnya Tante "


"Kenapa begitu lalu kenapa kamu dikunci dari dalam, apa ada masalah "


"Ya karena ibu tidak membolehkan aku untuk bermain dengan Daniel, aku tidak boleh berbicara dengan siapa-siapa tante. Aduh kenapa aku bicara bisa-bisa ibu marah "


"Sudah tak benar " gumam Kat


"Ya sudah tante sama Daniel pergi dulu ya. Nanti Tante akan berbicara dengan ibu kamu ya sayang"


Tidak ada jawaban, Kat kembali mengandeng tangan anaknya untuk pergi dari sana "Mama kenapa Sela tidak boleh main denganku ada apa. Memangnya Daniel waktu bermain galak ya sampai-sampai ibunya tidak membolehkan Sela untuk bermain lagi dengan Daniel, tapi Daniel benar-benar tak melakukan apa-apa Mamah Daniel mana mungkin galak pada Sela "


"Tidak, Daniel kan baik sudah ya lebih baik sekarang minum susu, makan dan tidur siang ya. Mamah akan temani kamu. Jangan memikirkan itu kamu anak baik dan kamu ga pernah nakal sama siapapun sayang "


"Iya mamah"


Kat melihat raut wajahnya anaknya yang kecewa. Kat hanya bisa mengusap kepalanya. Memang benar-benar Fia ini sudah tak benar. Masa melarang-larang Sela seperti itu.


Pasti nanti kalau sudah besar dan Sela masih dengan Fia bisa-bisa menjadi anak pembangkang. Sekarang saja Sela sudah dilarang-larang bisa-bisa nanti dia malah ga mau dilarang dan menjadi anak pembangkang.


...----------------...


"Kenapa sayang makannya tak habis, ayo habiskan biasannya juga habis dan minta tambah "


"Sudah Mama, aku sudah kenyang" jawab Daniel dengan lemas.


Kat melihat tempat makan anaknya yang masih penuh. Baru saja beberapa suap tapi anaknya sudah kenyang padahal tadi saat sarapan anaknya makan sedikit karena begitu semangat akan bermain bersama Sela.


Kat mengecek suhu tubuhnya, tapi tidak panas anaknya baik-baik saja "Kenapa tidak mau makan banyak, biasanya kamu makan banyak. Ayo bercerita pada mamah sayang "


Daniel hanya mengelengkan kepalanya saja "Ada apa ini dengan anak ayah, sepertinya sedang sedih. Ayo bicara dengan ayah "


Daniel langsung memeluk Lucas dengan erat "Aku sudah membuat janji dengan Sela tapi dia tidak menepati janjinya, karena ibunya tidak membolehkan dia untuk keluar kamar. Padahal aku ingin bermain dengannya seperti kemarin rasanya aku senang sekali saat ada teman ayah. Kenapa ibunya Sela tak membolehkan aku bermain dengannya "


"Baiklah Mari kita temui Sela dan kita bermain dengannya, biar ayah yang bujuk pasti Selanya mau"


"Tapi tadi kata ibunya tidak boleh, memang boleh kita memaksanya untuk bermain. Kalau misalnya dipaksa nanti Sela nangis "


"Nanti kalau ayah yang ajak pasti mau, tapi nanti kamu harus menyelesaikan makan mu ya. Kasihan Mama sudah masak masa kamu nggak makan nanti mama marah, adik kamu juga nanti marah "


Daniel menatap mamanya, lalu kembali menatap ayahnya "Mama tidak akan pernah marah kapan Mama marah. Mama tidak pernah marah padaku Ayah, kalau pada ayah mungkin sering, karena Ayah selalu membuat mamah kesal "


Lucas yang gemas mengacak-acak rambut anaknya, pintar sekali anaknya ini menjawab. Tak terasa anaknya sudah tumbuh besar sebentar lagi akan sekolah TK nanti SD SMP SMA kuliah.


"Ayo kita jemput Sela, pasti Sela akan senang sekali melihat kamu "


Lucas membawa anaknya keluar untuk menemui Sela, seperti apa yang tadi dia bicarakan. Sedangkan Kat membereskan dulu mainan-mainan anaknya dan juga menyimpan makanan yang tidak habis ini. Nanti biar Kat habiskan saja.


"Fia mana Sela keluarkan dia, anakku ingin bermain dengannya. Jangan larang Sela untuk bermain dengan anakku Daniel, kalau sampai terjadi lagi aku tidak akan segan-segan untuk mengusir kamu dari rumah ini. Mamih juga tak akan membelamu jangan macam-macam bila bekerja disini Fia "


"Maaf tuan, tapi Sela nya ingin sendiri di kamar, katanya dia ingin main boneka dia tidak mau bermain dengan tuan Daniel. Saya tidak mau memaksanya nanti yang ada Sela malah menangis kan "


"Benarkah begitu aku ingin bertemu dengan Sela sekarang juga, ayo cepat aku tak punya waktu banyak"


Lukas langsung berjalan ke arah belakang diikuti dengan Fia yang tergopoh-gopoh dia sangat ketakutan sekali, bagaimana kalau Sela berbicara yang sesungguhnya. Bisa habis dirinya ini, Sela itu susah untuk diajak berbohong dia pasti akan selalu jujur.


"Buka pintunya. Kenapa harus sampai dikunci dari luar, dia itu anak kecil kalau terjadi sesuatu bagaimana. Kamu ini bagaimana sih mengasuhnya tapi seperti ini kalau kamu memang tidak sanggup untuk mengasuhnya maka kembalikan saja pada ibunya atau tidak pada Ayahnya. Jangan malah seperti ini ibunya ada disini dan neneknya juga ada disini "


Fia tidak menjawab. Dia membuka pintunya dan Sela langsung berlari keluar, Daniel yang melihat Sela langsung menggenggam tangannya. Sela juga langsung tersenyum dengan senang "Daniel kamu kemari lagi, aku senang sekali pasti kamu mengajakku bermain kan. Aku menunggumu Daniel "

__ADS_1


"Iya bukannya kita akan bermain. Aku sudah menunggumu di taman bahkan aku sampai panas-panasan menunggumu. Aku sudah mengeluarkan robot-robot aku. Bahkan aku juga sudah meminta pada ayah untuk membelikan kamu boneka itu juga sudah ada, tapi kamu tidak datang. Kita kan sudah berjanji kemarin untuk bermain lagi Sela tapi kamu tak datang "


"Iya maafkan aku, aku juga ingin bermain lagi denganmu aku tidak sabar Daniel "


"Ya udah sana Daniel sama Sela main ya. Ayah mau ngobrol dulu dengan Ibu asuhnya Sela ya anak-anak "


"Baiklah Ayah"


Daniel menggandeng tangan Sela keluar dari rumah belakang, mereka berlari dengan riang bahkan sesekali mereka tertawa. Mereka seperti sudah kenal lama saja. Setelah melihat anaknya jauh Lucas kembali menatap Fia.


"Aku melakukan ini ada sebabnya Tuan. Aku tidak mau kalau Sela sampai jatuh ke tangannya Adiba, aku tahu dia ibunya tapi aku yang mengasuhnya selama ini aku yang mengurusnya. Aku tidak mau kalau hak asuhnya jatuh pada Adiba. Disini aku yang sudah bersamanya dari bayi "


"Tapi kamu di sini diperintahkan hanya untuk mengurusnya saja kan dan mendidiknya untuk menjadi lebih baik. Agar tidak seperti ibunya tapi kamu kenapa membuat dia harus dikurung di kamar dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan orang dewasa pada anak kecil. Seperti papih salah memilih kamu "


"Aku hanya tidak mau kehilangannya saja, itu yang aku mau. Aku ingin Sela selalu ada disampingku bersamaku terus menerus "


"Hanya itu alasannya, hanya takut kehilangan tapi kamu memberikan kata-kata yang tidak cocok kepada anak-anak untuk mengatakannya. Kalau dia orang jahat dia orang ini dia orang itu, apakah itu baik yang ada Sela akan buruk malahan akan nanti sama seperti ibunya, papih ku menyerahkan Sela padamu agar kamu mendidiknya menjadi lebih baik tapi nyatanya tidak lebih baik kan. Malah seperti ini lebih baik Sela bersama ibunya saja, kamu memang benar-benar Fia "


"Tolong jangan pisahkan aku dengan Sela, aku sangat menyayanginya aku tahu orang tuanya masih ada ibunya masih ada, tapi tolong aku tidak mau dia sampai jatuh ke tangan ibunya. Aku juga ingin Sela selalu menganggap ku sebagai ibunya aku tidak rela kalau Sela sampai menyebut ibu kandungnya dengan sebutan ibu "


"Memangnya kamu siapa, di sini kamu juga dibayarkan untuk mengurus Sela. Papi ku juga menambahkan gaji lebih untukmu. Jadi dia berhak untuk kembali pada ibunya ataupun mengenal siapa ibunya. Aku kecewa denganmu dulu aku berdiskusi dengan Papi siapa yang akan mengurus anak itu agar lebih baik nantinya dan tidak seperti ibunya, tapi ternyata pilihan kami berdua memang salah kamu sama saja dengan Adiba, kalian memang tak ada bedanya. Kamu benar-benar memakai topeng selama ini Fia"


Lucas langsung saja pergi meninggalkan Fia. Fia sudah sangat lemas sekali, kakinya lemas sekali saat mendengar kata-kata Lucas. Pasti Lucas akan melakukan apa yang menurutnya bagus.


Pasti Lucas akan memisahkannya dengan Sela. Tidak tidak Fia tidak mau, Sela harus selalu ada di sampingnya. Fia harus berbicara pada Toni, Toni adalah ayahnya dan Toni bisa mencegah ini semua Toni harus membelanya.


Toni kan sudah percaya padanya. Jadi akan ngampang kalau bicara dengan Toni. Fia tak boleh takut karena ini demi hak asuh Sela. Harus Fia yang mendapatkannya tidak boleh Adiba.


...----------------...


"Terima kasih Daniel boneka Barbie nya sangat cantik sekali, aku janji akan menyimpannya terus nanti saat kamu datang kemari lagi kamu akan lihat boneka ini ada bersamaku "


"Janji ya jangan sampai hilang bonekanya, aku akan selalu ingat kata-kata kamu Sela"


"Iya aku janji tidak akan hilang, aku akan menyimpannya dengan baik sekali. Aku akan menyayangi boneka Barbie ini Daniel "


Mereka berdua kembali melanjutkan bermain, mereka tertawa sama-sama sambil memamerkan mainan mereka.


"Ini Bibi bawakan jus, kalian minum jus dulu ya agar tubuhnya tak lemas dan segar"


"Terima kasih bibi " ucap mereka berbarengan.


"Sama-sama, ya sudah kalian bermain lagi ya kalau butuh sesuatu nanti panggil Bibi saja. Bibi akan kemari dan membawakan apa yang kalian mau"


"Iya bibi"


Adiba kembali lagi pergi ke dapur. Adiba menjadi semangat bekerjanya anaknya sudah tidak takut padanya perlahan namun pasti Adiba akan membuat anaknya bisa mengenalnya kalau dirinya ini adalah ibunya.


"Sela, ini pakaian boneka kamu. Boneka kamu harus ganti baju masa bajunya tetap yang itu "


"Makasih Daniel, kamu membeli dengan pakainnya juga. Banyak sekali ini "


"Iya agar dia bisa ganti baju juga kan. Nanti kapan-kapan kamu main ke rumahku ya pasti akan seru sekali kalau kamu di sana, aku pasti akan mengajak kamu untuk melihat mainanku "


"Boleh nanti aku akan bicara dengan ayahku dulu ya. Tapi nanti kalau Ayahku pekerjaannya sedang tidak banyak, karena Ayahku itu bekerja terus makannya A


Aku bersama ibu terus. Hanya dia yang terus menemaniku "


"Begitu ya sangat padat sekali ya seperti Ayahku, sama juga dia bekerja dan juga kadang pulang malam tapi itu pun kadang-kadang, tak terus begitu "


"Sama-sama kerja ya"


"Iya"


"Aduh anak mama ini kalau udah ada temennya lupa sama Mama sendiri. Ayo lanjutin makannya mama juga bawa makanan buat Sela sekalian ya makan ya, kalian harus makan dulu "


"Iya mah "jawab Daniel dengan semangat, sekarang sudah tak murung lagi.


Kat menyuapi mereka berdua. Lucu sekali ya kalau nanti adik Daniel sudah lahir, Kat akan menyuapi mereka seperti ini.


"Nanti Sela kalau mau main langsung saja ke kamar Daniel tidak masalah, jangan malu-malu ya. Tante tak akan marah malah akan senang "


"Iya Tante nanti aku akan main ke sana, terima kasih juga untuk bonekanya aku suka sekali. Ini sangat bagus sekali Tante "

__ADS_1


"Sama sama sayang"


"Tante kenapa ibu suka bilang kalau Bibi yang tadi, mengantarkan jus itu yang kemarin juga memelukku itu jahat kenapa. Apakah benar bibi itu jahat Tante"


Kat bingung harus menjawab apa. Masa harus berterus terang kalau Adiba itu Ibunya dan Fia itu cuman orang yang mengasuhnya saja dan berbohong mana mungkin kan Kat mengatakan itu pada anak kecil.


"Begini mungkin ibumu salah bicara saja, ibumu mengatakan kalau Bibi yang kemarin itu tegas itu saja sih seharusnya kamu jangan takut ya dengan Bibi yang kemarin, dia baik kok dia juga tidak akan mungkin melukai kamu Sela. Kamu kan mengemaskan mana mungkin sih ada orang yang mau melukai kamu sayang "


"Ya aku juga merasa seperti itu. Aku sudah salah menilainya tante ternyata dia terlihat sangat baik sekali ya, tadi saja sangat baik sekali membawakan kami jus ini "sambil menunjuknya.


"Iya, ibu kamu sering kurung kamu di dalam kamar Sela ? "


"Kadang-kadang sih, kadang juga kalau lagi kesel suka marah-marah sama aku, tapi aku nggak tahu marahnya kenapa. Padahal aku udah diem duduk tapi kadang-kadang suka marah juga aku binggung Tante"


"Tapi ga apa-apa aku tetap sayang sama ibu aku kok, tapi kenapa ya Tante ibu sama ayah aku nggak satu kamar aku lihat orang-orang di sini seperti nenek Zeline sama kakek Liam mereka masuk ke dalam kamar yang sama, tapi kenapa ayah dan ibuku tidak"


Kembali Kat diberi pertanyaan seperti itu, jelas saja mereka itu bukan suami istri. Di sini Fia hanyalah mengurus Sela bukan menjadi ibunya.


"Begini mereka itu tidak tidur bersama, jadi tidak masuk kamar yang sama juga"


"Kenapa ?"


"Ada sesuatu hal yang mengharuskan mereka untuk tidak melakukan itu. Apakah Ayah kamu pernah mengatakan sesuatu tentang ibu kamu ? "


"Ibu Fia kan ibuku"


"Baiklah sayang, lebih baik kita lanjutkan makannya sambil kalian bermain seperti ini. Nanti Tante akan bilang deh sama ayahnya Daniel buat bangunin di sini penghalang agar kalian nggak kepanasan"


"Kita juga bisa main di sana Tante, kalau di sana kita juga nggak kepanasan tapi Daniel pengennya main di sini katanya enak aja anget"


"Daniel ini ya"


"Tante nanti kapan-kapan boleh aku main ke rumah tante kan, kata Daniel tadi aku disuruh main ke sana"


"Tentu saja boleh, kenapa tidak kamu boleh main ke sana kapanpun itu kamu mau, tante pasti akan senang sekali apalagi Daniel dia kan sudah menawari mu untuk datang ke rumah"


"Baiklah tante, aku juga nanti akan bilang pada Ibuku semoga saja dia mau ya nanti datang ke sana"


"Tentu, nanti kamu bicara ya"


"Iya Tante"


"Sela"


Sela menatap orang yang memanggilnya ternyata ayahnya, dengan cepat Sela segera bangkit dan memeluk kaki ayahnya "Ayah kamu sudah selesai bekerjanya"


Toni langsung berjongkok dan menggelengkan kepalanya "Belum Ayah belum beres bekerja, nanti malam kamu tidur bersama ayah"


"Lalu ibu bagaimana"


"Tidak hanya Sela saja. Ayah ingin berbicara dengan Sela "


"Tentu ayah kita akan bicara"


"Ya sudah kamu main lagi ya. Ayah masih banyak pekerjaan nanti akan Ayah jemput ke kamar"


"Iya ayah aku tunggu ya "jawab Sela dengan semangat.


Toni mencium kening anaknya dan berpamitan juga pada Kat sebentar, lalu pergi lagi meninggalkan anaknya yang bermain dengan Daniel. Kat tak bertanya apa-apa pada Toni.


Biarkan saja itu urusan mereka berdua anak dan Ayah, semoga saja Toni sekarang mengatakan yang sesungguhnya kalau ibunya adalah Adiba, memang Kat sangat kasihan sekali melihat Adiba yang seperti itu.


Meskipun dulu kesalahannya sangat banyak dan sangat fatal. Tapi tetap saja kan semua orang itu bisa berubah dan bisa dimaafkan.


"Tante ada yang bilang kalau wajahku itu mirip dengan Bibi yang tadi membawakan jus yang bernama Bibi Adiba. Memangnya wajahku sama ya"


"Iya wajah kalian berdua itu sama, hampir sama sekali bedanya kamu masih kecil sedangkan Bibi Adiba sudah besar dan dewasa"


"Tapi kenapa aku tidak mirip dengan ibuku Fia. Seharusnya aku mirip dengan ibuku kan Tante"


"Iya, Jangan pikirkan itu. Nanti coba kamu tanyakan pada ayahmu kenapa wajahmu sangat mirip dengan wajah Bibi Adiba pasti Ayah punya jawabannya"


"Benarkah Tante, aku akan bicara dengan ayah nanti"

__ADS_1


"Tentu, kamu tanyakan ya pada ayahmu"


"Iya Tante"


__ADS_2