Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 165 Mengigat kembali keluarga


__ADS_3

"Ini sayang teh nya "


Lucas mengambil gelasnya dan meminumnya, Lucas menarik tangan sang istri untuk duduk bersantai dengannya. Sudah lama kan mereka tak bersantai seperti ini.


Dirinya juga disibukan dengan urusannya di kantor, tapi saat sampai rumah rasa lelahnya hilang, menatap wajah sang istri yang selalu cerita ditambah lagi dengan Daniel anaknya.


"Dimana Daniel biasanya dengan mu sayang, apakah dia sedang tidur "


"Daniel sama mami, tadi Mami minta izin buat ajak jalan-jalan. Ya masa sih aku nggak izin Mami untuk bawa jalan-jalan cucunya. Aku ga akan tega juga kan, apalagi Daniel adalah cucu pertama Meraka "


"Jalan-jalan kemana sayang. Aku mengerti sayang mana tega kamu berbuat seperti itu pada mereka "


Lucas mengusap kepala istrinya dan mencium bibirnya, bahkan sampai **********. Kat dengan senang hati membalasnya, mereka saling ******* setelah mulai kehabisan nafas mereka memberhentikan ciuman meraka.


Lucas mengusap saliva dibibir istrinya dan menyatukan kening mereka "Aku sudah tak sabar untuk bisa menyentuhmu kembali sayang "


"Aku masih dalam masa nifas sayang, tunggu sebentar lagi ya. Maka kita akan menghabiskan waktu untuk bergulat ditempat tidur lagi sampai pagi" jawab Kat dengan suara tersengal-senggal karena masih mengatur nafasnya. Kat menjawab pertanyaan suaminya tadi "Mereka di taman belakang sayang, bersama Daisy juga "


Kat menjauhkan kepalanya dan menyeruput tehnya, rasanya haus sekali dan ingin cepat-cepat menyeruput teh ini.


Lucas mencuri satu kecupan dibibir istrinya, rasanya tak puas dengan apa yang mereka lakukan tadi. "Terimakasih karena kamu mau bertahan dengan aku, laki-laki yang penuh dengan kekurangan ini. Aku sangat beruntung mendapatkan mu sayang "


Kat menangkup wajah suaminya "Aku senang dan aku bahagia ada disamping kamu. Aku sangat bahagia sekali, aku tidak akan pernah menyesal karena sudah memilih untuk mencintai kamu. Aku bahagia hidup bersama kamu dan juga sekarang ada Daniel hidupku makin lengkap saja " Kat tersenyum tulus pada suaminya dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya.


Cup "Kamu udah bener-bener ambil hati aku Lucas, mungkin pada awalnya aku nggak suka sama kamu. Aku benci dengan kelakuan kamu, aku muak dengan kamu yang selalu saja menyakiti aku tapi setelah melihat perubahan kamu aku malah balik suka sama kamu. Aku malah tak mau meninggalkan kamu sampai kapan pun, aku mau terus ada disamping kamu "


Lucas pengecut bibir istrinya "Aku senang kamu membalas cintaku ini. Terima kasih karena telah melahirkan anakku. Terima kasih karena telah menjadi bagian hidupku. Aku bahagia ada di sampingmu dan aku bahagia hidup bersamamu Katherine, aku tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini "


Mereka berpelukan, Lucas juga beberapa kali mencium kening istrinya. Tak henti-hentinya kecupan itu Lucas berikan pada sang istri. Begitu bersyukur Lucas sekarang dengan kehidupannya ini.


Dirinya juga sudah jarang mencari pelampiasan untuk membunuh orang. Mungkin saja dirinya bisa sembuhkan. Bisa menjadi seperti orang lain tak seperti ini haus akan darah manusia.


...----------------...


"Ist bersik sekali sih, ini bayi nangis terus " teriak Adiba yang terganggu karena anaknya terus saja menangis. Tak ada henti-hentinya anak Adiba itu menangis.


"Diam, aku leleh mendengar suara mu itu, aku muak jangan terus menangis aku tidak suka mendengar suara mu itu, tolong biarkan aku tenang diam-diam lah, aku muak muak muak. Aku kesal"


Bukannya diam, malah main menjadi-jadi saja tangisan ieu, bahkan makin kuat Adiba sampai binggung harus melakukan apa selain berteriak pada anaknya ini.


Adiba keluar dari kamar, dia membiarkan anaknya sendiri yang menangis begitu saja, dia tidak peduli dengan anak itu rasanya mengganggu saja baru saja pulang mau istirahat malah diganggu dengan tangisnya yang begitu memekakan telinga nya.


"Mengganggu saja aku ini ingin istirahat. Aku baru pulang dia sudah menggangguku dengan tangisnya yang menyebalkan itu, aku muak sekali seharusnya aku tidak pulang kerumah ini. Kalau tahu bakal gini mending pulang aja kerumah ibu disana pasti akan sangat tenang sekali "


Adiba berjalan ke arah dapur dan mengambil makanan untuknya, dia menyantap makanan di situ agar tidak terdengar suara tangisan anaknya itu. Dia tidak memperdulikan anak yang lapar, kesakitan atau sedang merasakan apa pun itu dirinya tidak peduli.


Yang terpenting perutnya ini kenyang, dan tenaganya kembali pulih, karena nanti malam juga dirinya akan pergi. Bersenang-senang lagi.


"Adiba"


"Pasti dia pulang ngomel-ngomel"kesal Adiba yang harus memberhentikan acara makannya ini.


Adiba keluar dari dapur dan menatap suaminya yang baru pulang, anaknya sedang ditenangkan oleh suaminya itu "Kenapa kamu membiarkan anak kita menangis seperti ini, bukannya kamu diamkan dia dan beri susu atau cek popoknya, malah didiamkan di kamar seperti ini. Lihatlah popoknya penuh harus diganti dia sudah tidak nyaman"


"Ya udah sekarang kamu udah pulang kan, jadi kamu aja yang ganti popok Sela, aku nggak mau aku baru aja selesai makan nanti kalau aku harus ganti popoknya dan pupnya itu bau aku malah muntah nantinya. Udah sama kamu aja kamu udah pulang, sama ajakan aku sama kamu ga ada bedanya sama sekali "

__ADS_1


"Kamu bener-bener ya Adiba, kamu emang ibu yang ga baik, kenapa Sela harus lahir dari rahim kamu "


"Udah aku bilang kan ceraikan aku, udah kita sudahi saja pernikahan ini, karena aku juga nggak mau sama kamu. Aku juga nggak mau urus Sela kehidupanku masih panjang, panjang sekali sampai-sampai aku tak mau terganggu oleh siapa-siapa termasuk anak itu. Aku tidak mau intinya aku mau bebas aku masih muda dan aku berhak menikmati hidup ini "


Adiba melengos pergi masuk ke dalam kamar.


Bahkan dia sampai mengunci pintu kamar, tidak mau sampai diganggu oleh suaminya dan anaknya Sela yang terus saja membuatnya pusing.


Setiap hari membuatnya pusing terus, kapan Sela akan diam dan mengerti kalau ibunya ini masih ingin bersenang-senang. Mungkin nanti kalau sudah tua dia akan kembali pada anaknya.


"Sabar ya nak. Maafkan ibumu setelah ini kita akan berpisah dengannya ya. Ayah yang akan mengurusmu. Ayah yang akan menjagamu kamu tidak usah takut kurang kasih sayang. Ayah akan merangkap menjadi ibu juga untuk dirimu sayang. Ayah janji akan terus membuat kamu bahagia "


Toni segera mengganti popok anaknya, kasihan sudah penuh sekali dan sudah lengket, haruskah dirinya membawa anaknya ini pergi bekerja. Apakah boleh apakah Tuan Liam akan membolehkannya, tapi Toni yang tidak mau membiarkan anaknya menderita seperti ini akhirnya menelpon Tuan Liam juga untuk meminta keringan saat bekerja agar bisa membawa anaknya ini.


"Ada apa Toni"


"Maaf tuan telah mengganggu waktu anda, tapi ada yang ingin aku katakan. Apakah boleh aku bekerja sambil membawa Sela kasihan di rumah dia tidak ada yang menjaganya, bukannya ku tak mau menitipkan Sela pada orang lain. Hanya saja aku masih belum percaya dengan orang lain untuk mengasuh anakku"


"Memangnya istrimu ke mana, Adiba ke mana bukanya kuliah pun tak terlalu padat sekarang "tanya bosnya itu dengan suara yang lantang.


"Aku sudah bilang kan Tuan dia tidak akan menjadi istri yang baik, dia tidak akan berubah meskipun anak ini sudah lahir. Dia tidak akan menyayangi anak ini dan berubah mengurusku. Makanya dari awal aku sudah bilang pada Tuan kalau aku sudah tidak kuat dengannya" Toni diam sejenak dia ingin tahu tuannya akan bereaksi apa tapi belum ada jawaban, Toni segera melanjutkan kata-katanya tadi.


"Aku kasihan dengan keadaan Sela yang ditinggal olehku, meskipun ibunya ada dia tidak mau mengurusnya dia membiarkan Sela sendirian, aku takut terjadi apa-apa pada Sela. Apakah boleh aku membawanya bekerja aku janji Sela tidak akan mengganggu pekerjaanku Tuan ,aku janji akan mengurusnya dan juga mengurus pekerjaan di sana dengan baik. Aku tidak akan lalai tuan "


"Baiklah kamu bawa saja dulu anakmu itu bekerja nanti. Saat di sana biar kamu titipkan pada seorang pelayan nanti aku akan menyuruh satu pelayanan untuk menjaga anakmu. Aku tidak akan pernah menghalangimu lagi untuk berpisah dengan Adiba, jika itu memang sudah keputusanmu silakan kamu jangan pernah mendengarkan Airin lagi. Cukup pada pendirian kamu saja "


"Baik Tuan aku akan segera berbicara pada ibu mertuaku, agar dia tidak terlalu kaget dengan apa yang aku katakan ini nantinya. Aku ingin segera lepas dari perempuan itu. Aku sudah tidak kuat tuan maafkan aku menyerah "


"Iya keputusan semua ada di tanganmu. Aku hanya bisa mendukungmu saja, aku tidak akan memutuskan tentang masa depanmu kamu kan yang menjalani semaunya. Maafkan aku dulu karena telah membuatmu terjebak dengan Adiba "


"Jangan berkata seperti itu tuan. Terimakasih atas kebaikannya tuan "


"Kamu harus baik-baik ya saat ikut Ayah kerja. Sela jangan rewel nanti di sana, Sela harus jadi anak yang baik dan penurut ya, ayah akan selalu ada di samping kamu dan ayah yang akan mengurus kamu. Ingat ayah yang akan selalu ada untukmu "


Setelah mengganti semuanya Toni membawa Sela ke kamar sebelah, kamar yang memang dirinya tempati selama menikah dengan Adiba. Toni tidak pernah memegang Adiba atau melakukan hubungan suami istri dengan Adiba.


Bahkan kamar pun terpisah kadang sesekali tidur bersama, hanya untuk memperlihatkan pada mertuanya kalau mereka berdua itu baik-baik saja. Tak ada masalah dan rumah tangga mereka harmonis tapi pada kenyataanya tidak seperti itu.


Mereka berdua satu atap tapi seperti orang asing, melakukan apa-apa serba sendiri tak memperdulikan satu sama lain.


...---------------...


Sedangkan di kediaman Lucas sedang heboh dengan para nenek dan kakek juga adik-adiknya Lucas. Mereka begitu gemas dengan Daniel anak kecil itu selalu saja tertawa, tak henti-hentinya mereka mengelus pipi Daniel yang berisi.


"Lucas kamu pulang saja ya ke rumah, agar Mami bisa terus melihat cucu mami ini agar Mami juga tidak jauh dengan kalian berdua, mamih tidak mau berjauhan lagi dengan kalian "


Lukas diam cukup lama, dia menatap istrinya lalu menatap anaknya "Aku tidak yakin kalau anak istriku di sana akan baik-baik saja, apalagi tante Airin dan juga Adiba masih ada di sana kan. Mereka masih tinggal di lingkungan kita. Aku tidak percaya mereka akan baik-baik saja pada anak dan istriku. Lebih baik aku disini saja aku terlalu muak kalau harus tinggal satu lingkungan dengan perempuan seperti mereka, aku takut kelepasan nanti. Bukannya papih sangat melindungi merekakan. Tante Airin sudah seperti istri kedua papih "


"Kita kan punya penjagaan, kita per ketat saja penjagaan. Mami ingin dekat dengan kalian semua. Mami tidak mau berpisah lagi" Zeline terus saja membujuk anaknya supaya pulang lagi, ini sangat jauh rumah anaknya dan rumah dirinya sangat jauh sekali. Bahkan untuk menempuh ke rumah anaknya membutuhkan waktu 7 jam.


"Aku harus memikirkan dulu semuanya Mami, aku tidak bisa memutuskannya dengan cepat aku harus berdiskusi dulu dengan Kat istriku, aku tidak bisa mengambil keputusan sepihak tanpa berdiskusi dulu dengan Katherine. Apakah dia mau pulang atau tidak, karena kami juga di sini sudah nyaman kami di sini tidak ada masalah sedikitpun. Kami disini hidup dengan bahagia "


"Baiklah Mami akan tunggu keputusan kalian, semoga saja keputusan kalian itu bisa kembali ke sana. Mami ingin dekat dengan anak-anak Mami jangan sampai berjauhan seperti ini. Mamih tak mau berjauhan dengan kalian "


Lucas menganggukan kepalanya dan mempererat genggamannya pada tangan sang istri, semua tentang rumah tangganya tentang apapun yang terjadi harus didiskusikan dulu bersama istrinya.

__ADS_1


Karena itu adalah hal yang paling penting, dirinya tidak mau mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan istrinya dulu bagaimana kalau istrinya tidak mau, dirinya tidak mau egois dengan mengambil keputusan sendiri.


...---------------...


Lucas dan juga Kat sudah ada di dalam kamar Katherine tidur di dada suaminya " Sayang bagaimana menurutmu apa kita perlu kembali "sambil mengusap rambut Kat yang terurai.


"Aku bingung, aku ikut kamu saja keputusan semua ada di tanganmu. Aku tidak mau melarangmu untuk kembali ke rumah ibumu. Menurutmu lebih bagus kita seperti apa karena yang tahu tentang kondisi bagaimana di sana itu kamu, aku belum pernah tinggal lama di rumah kamu kan. Jadi aku bingung harus memutuskan apa. Aku akan percaya sama kamu dan ikut kemanapun kamu pergi "sambil menatap mata suaminya yang sepertinya masih kebingungan.


"Sebenarnya aku tidak mau mengecewakan Mami, tapi di sini kita sudah nyaman di sini kita tidak ada gangguan sedikitpun. Apalagi tidak ada Adiba yang merecoki terus rumah tangga kita, aku pusing kalau terus menerus mengurusnya. Aku lelah kalau harus berhadapan terus dengan perempuan ular seperti dia, apakah Mami tidak akan sakit hati kalau kita berdua menolaknya. Sungguh aku sudah nyaman disini, aku tidak mau pergi kemana-mana "


Kat mengusap dada suaminya dan mengecupnya beberapa kali "Sayang jangan pancing aku, sungguh aku tak akan bisa bertahan lama sayang "


"Aku sedang tidak memancingmu, aku hanya ingin membuatmu rileks saja. Memangnya kamu ikan sampai-sampai harus aku pancing "


"Tetapi saja kamu sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak bangu. Lihatlah ke bawah sayang harus dengan apa aku menidurkannya "


Kat tersenyum kecil, melihat apa yang suaminya sebut tadi memang sudah bangun tapi Kat malah makin menjadi-jadi mencium dada suaminya. Bahkan sampai menjilatnya dan mempermainkan ****** kecil suaminya yang selalu dirinya permainkan saat melakukan hubungan suami istri.


"Sayang kita belum saatnya melakukan, aku harus butuh beberapa minggu lagi untuk bisa merasakan dirimu lagi jangan memancingku ya "


"Baiklah baiklah maafkan aku "sambil meremas senjata suaminya.


"Kat "


"Iya iya maaf, kita bicara pelan-pelan saja pada mami pasti mami mengerti dengan keputusan kamu. Di sini kamu kan kepala keluarganya, aku akan mengikuti setiap yang kamu putuskan "


"Iya aku tahu aku kepala keluarganya. Tapi tetap saja aku harus mendengar keputusan kamu aku tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah tanpa mendengarkan pendapatmu dulu. Aku tidak mau membuatmu kecewa sayang "


Inilah yang Kat sangat suka dari suaminya, selalu melibatkan dirinya dalam hal apapun. Dalam masalah apapun maksudnya selalu berdiskusi dalam hal apapun suaminya akan berdiskusi dulu dengannya baru memutuskan.


Dirinya suka yang seperti itu. Jadi tidak ada sesuatu yang harus disembunyikan dan tidak ada keputusan yang memberatkan salah satunya.


"Ya sudah nanti kamu coba bicara sama mami, bicara pelan-pelan bukannya kita nggak mau pindah ke sana tapi banyak alasan yang harus kita pertimbangkan saat pulang lagi. Kalau mungkin nanti main dan menginap beberapa hari tak masalah kan "


"Iya kamu betul sangat betul sayang "Lucas mempererat pelukannya dan mencoba untuk menidurkan kembali senjatanya, tapi malah makin keras karena bersentuhan dengan istrinya.


"Sayang aku harus mandi"


"Malam seperti ini apa tidak kedinginan. Apa kamu tidak akan masuk angin, nanti saja pagi-pagi ya sayang "


"Ada sesuatu yang harus aku tidur kan. Makanya jangan terus memancing ku terus sayang, sudah tahu kelemahanku itu kamu aku mandi dulu ya "


Lucas membenarkan kepala istrinya dan mencium keningnya. Lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi, Kat hanya bisa tersenyum samar padahal hanya ciuman ciuman kecil saja tapi suaminya sudah tergoda seperti itu.


Kat selalu berdoa rumah tangganya selalu bahagia dan tidak ada masalah besar yang menghampiri mereka, mungkin dalam sebuah rumah tangga pasti ada saja masalah pasti itu, tapi jangan sampai masalah itu menghancurkan rumah tangganya dan masih bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan dibicarakan berdua.


Kat yang bosan menunggu suaminya yang pasti akan mandi sangat lama, akhirnya pergi ke kamar Daniel dia melihat anaknya sudah tertidur lelap Kat menatap Daniel dari jarak dekat, rasanya bahagia sekali mempunyai malaikat kecil.


Hidupnya sudah lengkap, hidupnya sudah sempurna dirinya berjanji tidak akan pernah bersikap seperti Ibu Lisa yang memperlakukan dirinya dengan tidak adil, memperlakukan dirinya seperti itu. Dirinya berjanji akan menjadi ibu terbaik untuk Daniel dan bisa membuat anaknya selalu bahagia.


Tapi kalau dipikir-pikir Kat malah jadi kepikiran dengan kedua orang tuanya lagi, sebenarnya ayahnya dan juga ibunya serta Kakak dan adiknya mereka ke mana. Kenapa mereka menghilang dengan cepat.


Apa mereka dihabisi oleh Lucas, tiba-tiba saja pikiran itu ada dalam kepalanya, Kat tiba-tiba berfikir kalau keluarganya dihabisi oleh Lucas. Kembali dia mengingat tentang keluarganya meski keluarganya tidak pernah menginginkannya untuk ada di dunia ini.


Tapi tetap saja dirinya selalu memikirkan mereka, selalu memikirkan bagaimana keadaan mereka di mana sedang apa. Apakah mereka kesusahan apakah mereka butuh bantuan, selalu saja itu yang dirinya pikirkan takut mereka kenapa-napa.

__ADS_1


Takut mereka tidak punya uang atau mungkin ada musibah yang menimpa mereka, tapi dirinya tidak pernah menanyakan hal itu pada Lucas lagi dirinya tidak mau mengganggu pikiran suaminya.


Mungkin untuk saat ini dirinya akan menyimpan semua pertanyaan itu lagi, menyimpan pertanyaan ke mana keluarganya sebenarnya dan apa yang terjadi pada keluarganya itu sampai-sampai sudah menghilang cukup lama.


__ADS_2