
Adiba yang masih sibuk dengan ponselnya dikejutkan dengan kedatangan suaminya yang langsung mencengkram tangannya.
"Apa-apaan kenapa kamu ada disini Toni, lepaskan aku, aku tidak mau bersamamu lagi, aku sudah muak denganmu. Lihat rumah besar ini akan menjadi milikku lebih baik kita bercerai saja, aku muak dengan kamu yang tidak bisa memberikan aku apa-apa "
"Pulang jangan membuat ku malu,"teriak Toni.
Toni yang tadi sedang bekerja dikejutkan dengan tuannya yang menghampirinya dan menyuruhnya untuk menjemput Adiba yang membuat ulah.
Kenapa perempuan ini hanya membuat malu saja, kenapa harus dirinya mempunyai istri seperti ini. Sungguh dirinya tak pernah berharap mempunyai istri seperti ini.
"Aku tidak mau, ini rumahku lihatlah aku sudah mengemasi pakaianku "
"Jangan macam-macam apakah kamu tidak malu hah, pulang sekarang juga jangan membantahku aku ini masih suamimu. Tuan Lucas juga tak akan pernah mau dengan perempuan seperti mu. Tuan Lucas baru saja berduka tapi kamu malah membuat ulah disini ayo pulang "
Toni menarik tangan Adiba, bahkan kopernya didiamkan begitu saja tak peduli dengan koper itu yang ketinggalan.
Toni menyeretnya dan mendorong Adiba masuk kedalam mobil"Koperku, pakaianku yang mahal jangan ditinggalkan, aku tidak bisa meninggalkan mereka "
__ADS_1
Tapi Toni tak menggubrisnya langsung masuk dan melakukan mobilnya menjauhi rumah itu. Sangat memalukan sekali perempuan ini.
"Kamu ya, apakah mampu membelikan ku pakaian yang bagus, kamu telah meninggalkan barang-barang mahal ku " teriak Adiba dengan kesal.
"Diam, aku tidak peduli mau itu mahal atau tidak aku tidak peduli jangan membuatku malu, kamu ini apakah tidak punya harga diri sampai-sampai ingin menempati rumah orang lain. Sadar jangan terus bermimpi kamu ini "
"Aku tidak sedang bermimpi memang kenyataannya aku akan tinggal dirumah itu dan menjadi nyonya rumah "
"Terus saja menghayal yang ada kamu disana hanya akan menjadi pelayan saja. Jangan terlalu tinggi kalau bermimpi saat kamu tidak bisa menggapainya kamu bisa gila "
Adiba melipat tangannya dan enggan menatap suaminya yang menyebalkan. Dia menatap keluar jendela. Masih memikirkan bagaimana dengan pakainnya itu. Apalagi itu pakaian mahal yang harus dirinya beli dengan menabung dulu.
Pasti mereka akan membuang kopernya itu. Bagaimana ini apakah dirinya harus kembali lagi. Tapi lebih baik seperti itu saja. Masih tak rela kalau pakaiannya dibuang dengan begitu saja.
...----------------...
"Sudah dokter aku kenyang, terimakasih karena telah mengurusku "
__ADS_1
"Sama-sama nyonya, itu sudah pekerjaanku nyonya. Ada yang anda inginkan "
Kat mengelengkan kepalanya dirinya hanya menginginkan suaminya saja. Tak ada yang lain kemana suaminya ini, kenapa tidak ada kesini.
"Kapan suamiku akan kesini dokter kenapa dia tak datang-datang kemari "
"Sepertinya tuan sedang membereskan masalah nyonya"
"Masalah apa, "
"Anda nanti bisa langsung bertanya pada tuan saja nyonya, aku tidak berhak untuk menceritakan semuanya. Aku takut tuan marah bila langsung menceritakannya pada nyonya"
"Baiklah, nanti aku akan tanya sendiri saat dia datang kemari "
Kat membalikan badannya menjadi miring, masalah apa sebenarnya. Apa masalah tentang kecelakaannya ini. Apa mungkin kecelakaannya ini disengaja.
Bisa saja kan, bisa saja ada musuh suaminya yang sedang mengincar suaminya. Kat menjadi khawatir memikirkan itu semua takut terjadi apa-apa pada suaminya itu.
__ADS_1